Tiga Masalah Pokok Kita Sebagai Bangsa

deskha May 20, 2009 0
Tiga Masalah Pokok Kita Sebagai Bangsa

HUT Ke-101 Pergerakan Kebangsaan Indonesia:

Tiga Masalah Pokok Kita sebagai Bangsa

 

Tiga masalah pokok kita sebagai bangsa dapat dirumuskan sbb.: (1) Negeri sangat kaya dengan penduduk amat miskin; (2) Penduduk sangat ramah dengan perilaku amat berdarah; (3) Penduduk sangat beragama dengan kehidupan sarat dusta.

Tiga masalah ini terasa bukan hanya sekarang, tapi sudah sejak lama. Sayup-sayup tiga-tiganya sudah terlihat dalam paparan kita di majalah kita ini. Ingat sajalah namanya yang kita pilih, Zamrud Katulistiwa, yang berasal dari pemerian Nusantara oleh Multatuli dalam Max Havelaar. Sejak dulu zamrud dianggap tidak hanya indah tapi juga berkhasiat menyembuhkan sakit mata. Batu pelikan yang berwarna hijau cerah itu sangat langka dan bisa lebih mahal daripada intan.

Di mata dunia yang terwakili oleh Multatuli, Nusantara yang kemudian jadi Indonesia itu ibarat zamrud yang melilit di katulistiwa, indah dan kaya, tapi puluhan juta rakyatnya (1850-an) miskin-papa ditindas oleh segelintir penguasanya yang pemalas, penjilat, pendusta, dan pencoleng alias koruptor.

Puluhan juta rakyat yang tertindas itu tidak bodoh, apalagi malas, menurut keyakinan Multatuli. Kisah hidup Saijah dan Adinda yang mewakili rakyat yang ramah-lembut, cerdas dan rajin itu, digubah begitu puitisnya oleh Multatuli sehingga sering dinukil lepas dari Max Havelaar menjadi cerita tersendiri yang tak jarang pula memeras airmata penonton lakonnya, pendengar atau pembaca kisahnya. Namun, Saijah dan Adinda tidak sendiri melainkan bagian tigapuluh juta jiwa penduduk Jawa yang ramah,  pulau yang terpadat penduduknya di dunia, sehingga Multatuli menegaskan “jika sampai orang Jawa meludah ke tanah, maka tenggelamlah Belanda!”

Pendek kata, tiga masalah pokok itu tidak memerlukan keterangan tambahan lagi agar diakui sebagai kenyataan dari dulu, jauh lebih dulu daripada Max Havelaar, hingga hari ini, detik ini! Yang perlu adalah penjelasan mengapa bisa demikian. Yang juga perlu adalah bagaimana cara mengatasinya. Dalam hal ini, menjadi sangat penting bagi setiap generasi bangsa Indonesia menarik pelajaran dari sejarah pergerakan kebangsaan kita, khususnya sekarang pada HUT-nya yang ke-101, ketika lagi-lagi hanya beberapa orang bisa menjadi calon presiden-wakil presiden  tanpa pemilihan pendahuluan.

***

Harus diakui, melihat pergerakan kebangsaan kita sepanjang sejarahnya, nyaris tidak ada organisasi atau partai politik di dalamnya yang memahami masalah bangsa kita sekental dan sekontradiktif rumusan di atas, apalagi secara terencana berjuang menjelaskan dan mengatasinya. Sampai 3 Maret 1923, ketika Indonesische Vereeniging (kemudian Perhimpoenan Indonesia) di Nederland mencanangkan asas perjuangannya (beginselverklaring), hampir semua organisasi pergerakan yakin bahwa masalah kita adalah kurangnya kemauan pemerintah jajahan memenuhi kewajiban-moralnya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Perjuangan mereka pun baru berada pada tataran upaya untuk menyadarkan, paling menuntut, agar pemerintah jajahan mengakui, lalu memenuhi kewajiban moral tersebut.

Baru ketika asas perjuangan tersebut dicanangkan tampak jelas bahwa pemahaman pergerakan kebangsaan kita sudah berubah. Sebagaimana kita tahu, asas perjuangan itu terdiri dari tiga kaidah, yaitu kemerdekaan, kekuatan sendiri, dan kedaulatan rakyat. Sebelum itu, hanya Indische Partij yang sejak awal, 1912, yang berani menuntut kemerdekaan bagi Hindia lepas dari Belanda. Tuntutan itu rupanya terdengar bagai petir di siang bolong, begitu mengejutkan bagi pemerintah jajahan sehingga tiga pemimpin partai itu langsung dibuang ke Nederland.

Tuntutan yang tiba-tiba seperti itu memang terasa lebih merupakan “hasil wacana” dalam istilah sekarang, atau sekedar “daftar keinginan” berdasarkan kesimpulan logis, daripada hasil “mengupas keadaan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia”, apalagi hasil “pengalaman dan penderitaan” organisasi pergerakan. Inilah serangkaian istilah yang digunakan dengan penuh penekanan oleh Tan Malaka dua tahun kemudian dalam risalahnya yang terkenal Naar de Republiek Indonesia (Canton: April 1925).

***

Sungguh patut kita renungkan sekarang bahwa hanya ada empat pemimpin pergerakan kebangsaan kita yang melahirkan program pergerakannya setelah “mengupas keadaan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia”, dan tragisnya, semua mereka tersingkir dengan cara-cara yang lebih-kurang tidak wajar dari kesempatan memimpin bangsa dan negara Indonesia yang merdeka. Empat pemimpin itu ialah Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sukarno, dan Sutan Syahrir, dengan karya masing-masing Naar de Republiek Indonesia (1925), Indonesië Vrij (1928), Indonesië klaagt aan atau Indonesia Menggugat  (1930), dan Perdjoeangan Kita (1945).

Tan Malaka dan Sutan Syahrir mungkin yang paling buruk nasibnya. Mereka berdua tidak hanya tersingkir dari kekuasaan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara-cara yang tidak wajar, tapi juga dari masyarakat, dan dari kehidupan. Tan Malaka dipenjarakan lalu ditembak mati oleh tentara negaranya sendiri pada 1949, bahkan jasadnya pun tidak jelas dikubur entah di mana hingga detik ini. Sutan Syahrir lama dipenjarakan oleh pemerintah negara yang ia ikut tegakkan, lalu meninggal karena sakit di negeri orang, 1966. Namun demikian, mereka berdua jugalah yang memberikan penjelasan paling singkat dan jernih mengenai masalah pokok dan jalan keluar bangsanya berkat “mengupas keadaan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia”.

Pada dasarnya keempat pemimpin itu sampai pada kupasan yang serupa mengenai susunan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia, melahirkan program organisasi dan juga kegagalan yang mirip juga dalam pelaksanaannya. Perbedaan di antara mereka terletak lebih pada penekanan, taktik, dan strategi pergerakan. Seperti sudah dikatakan, yang paling singkat dan jernih adalah kupasan Tan Malaka dan Sutan Syahrir, Naar de Republiek Indonesia dan Perdjoeangan Kita. Keempat kupasan tersebut akan kita sajikan satu per satu dengan lebih singkat lagi, tapi karena Naar de Republiek Indonesia yang paling tua, baiklah kita mulai dengan risalah ini, lalu menyusul Perdjoeangan Kita,  Indonesië Vrij, dan  Indonesië klaagt aan atau Indonesia Menggugat.■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: