Tiada Mayoritas-Minoritas

deskha February 16, 2009 0

TIADA MAYORITAS-MINORITAS

ITULAH PERSATUAN BANGSA INDONESIA!

 Rumusan Presiden Sukarno mengenai Persatuan Indonesia yang tanpa mayoritas atau minoritas mengambil tamsil “luwing” (kaki seribu). Rumusan itu ia kemukakan sendiri dalam pidatonya untuk pembukaan Kongres Nasional ke-VIII Baperki di Istana Olahraga Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 14 Maret 1963. Pidato ini, yang waktu itu disebut “amanat”, dimuat antara lain dalam buku Assimilasi dalam Rangka Pembinaan Kesatuan Bangsa: Satu Tahun Amanat Assimilasi 15 Djuli dan Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (Djakarta: Departemen Penerangan RI, 1964).

Berikut ini kutipannya, tapi dengan ejaan yang disesuaikan, diambil dari buku tersebut, halaman 74-76:

Kalau Saudara ingin mengetahui terjadinya minority, yang dinamakan minority Peranakan Tionghoa, minority Tionghoa di Indonesia ini, pemuda-pemuda, bacalah kitabnya Prof. de Haan. Prof. de Haan menulis kitab tebal, tiga jilid, titelnya yaitu Priangan…Di situ Prof. de Haan menerangkan bahwa pihak Belanda dari zaman Jan Pieterszoon Coen [telah] membentuk satu minority untuk kepentingan mereka itu. Satu minority yang terdiri daripada orang-orang Tionghoa dan Peranakan Tionghoa.

Dengan sengaja [mereka] dipisahkan dari majority. Dengan sengaja [mereka] dipergunakan untuk kepentingan pihak Belanda sendiri. Dan ini merembes terus-menerus sampai zaman yang akhir-akhir ini, rasa tidak senang antara minority dan majority, majority terhadap kepada minority. Sampai-sampai yang … Thiam Nio itu tadi tidak bisa kawin dengan Bung Karno! […].

Saudara-saudara, bagaimana pun juga ini adalah akibat daripada kolonialisme, akibat daripada imperialisme. Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, kita di dalam Republik Indonesia, di dalam alam baru ini kita harus sama sekali tinggalkan dasar yang salah ini. Kita membentuk Indonesia yang baru […].

Terus terang saja, Saudara-saudara, saya pernah bicara dengan, bukan saja bicara, saya pernah berada di beberapa negara sosialis. […]. Malah saya di negara-negara itu  berkata, hh, Republik Indonesia lebih jauh daripada kamu di sini.

Pernah di kota Hanoi, ibukota negara Vietnam Utara, saya dengan Pak Ho, Paman Ho, Ho Chi Minh. Datanglah suatu delegasi, Saudara-saudara, satu delegasi daripada satu golongan minority. Dan kelihatan, memang ini tidak sama dengan rakyat Vietnam  yang lain. Ini kelihatannya agak kemelayu-melayuan, potongan badannya, roman mukanya, pakaiannya dan lain-lainnya kelihatan benar, ini adalah beda daripada rakyat Vietnam Utara yang lain-lain.

 

Pak Ho, Ho Chi Minh, Paman Ho, dengan bangga berkata kepada saya: “Bung Karno, ini adalah delegasi daripada minority, ingin bertemu muka dengan Bung Karno.” Saya berkata kepada delegasi itu, dan kepada Pak Ho saya berkata, sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minority. Dan saya tidak mau mengenal minority di Indonesia. Di Indonesia kita hanya mengenal suku-suku. Saya tidak akan berkata, suku ini adalah minority, suku itu adalah minority, suku Dayak adalah minority, suku Irian Barat adalah minority, suku yang di Sumatera Selatan itu – suku Kubu – adalah minority, suku Tionghoa adalah minority, tidak! Tidak ada minority, hanya ada suku-suku, sebab manakala ada minority, ada majority. Dan biasanya kalau ada majority, dia lantas exploitation de la minorité par la majorité, exploitatie daripada minoriteit oleh majoriteit.

Saya tidak mau apa yang dinamakan golongan Tionghoa, Peranakan Tionghoa itu di-exploitation oleh golongan yang terbesar daripada rakyat Indonesia ini, tidak! Tidak! Engkau adalah bangsa Indonesia, engkau adalah bangsa Indonesia, engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa Indonesia.

Itu, yang duduk di sana, jenggot ganteng ubel-ubel itu … Bung dari mana, Bung? Dari Medan? Dari mana? … Coba sini! Siapa namanya? Jawabnya, Amar Singh, katanya. Anggota Baperki. Warga Indonesia. Haa, Indonesia! For me you are not a minority, you are just an Indonesian. Haa, ini orang Indonesia, Saudara-saudara, bukan minoriteit!

Saya kata sama Paman Ho, di Indonesia itu paling-paling ada suku-suku. Suku itu apa artinya? Suku itu artinya sikil, kaki. Ya, suku artinya kaki. Jadi bangsa Indonesia itu banyak kakinya, seperti luwing, Saudara-saudara. Ada kaki Jawa, kaki Sunda, kaki Sumatera, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki Peranakan Tionghoa, kaki Peranakan. Kaki daripada satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia.■ (Disalin oleh Parakitri T. Simbolon, 16 Februari 2009).

 


%d bloggers like this: