Tenggelamnya Bahasa Indonesia dalam rawa-rawa sok ber-Inggris-ria

deskha October 28, 2012 0
Tenggelamnya Bahasa Indonesia dalam rawa-rawa sok ber-Inggris-ria

Tenggelamnya Bahasa Indonesia dalam rawa-rawa sok ber-Inggris-ria

 

Hari ini 28 Oktober 2012 delapan puluh empat tahun yang lalu, “Poetra dan Poetri Indonesia” bersumpah untuk: 1. “Mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia”; 2. “Mengaku bebangsa yang satu, Bangsa Indonesia”; 3. “Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Bayangkan, tidak memenuhi janji saja sudah merupakan kesalahan besar; melanggar sumpah benar-benar merupakan dosa besar! Inilah yang terjadi sekarang di persada Tanahair kita!

Lantas pada hari ini, sehubungan dengan Tiga Sumpah Suci ini, masih ingatkah peristiwa nahas dan memalukan dalam acara kenegaraan di gedung DPR, Jumat 14 Agustus 2009? Ketika itu Lagu Kebangsaan kita Indonesia Raya lupa dinyanyikan, padahal saat itu berlangsung Sidang Paripurna DPR, yang khusus untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-64, dan yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla!

Anda kira peristiwa nahas dan memalukan itu membuat para pemimpin negara kita kapok, lantas bertobat dan menjadi lebih baik?

Sama sekali tidak! Peristiwa nahas itu malah berubah lebih buruk lagi jadi kebiasaan nahas yang melanda tidak hanya para pemimpin, tapi juga sebagian besar orang Indonesia!!! Tumpah Darah Yang Satu itu telah habis digerogoti, bahkan dijarah sampai ludes oleh koruptor, perambah hutan, penggali tambang, dan pembuang sampah. Kebangsaan yang satu itu dibuat compang-camping dengan kepicikan golongan, keuntungan pribadi, dan tiadanya kemudi kepimpinan. Bahasa persatuan itu dibenamkan ke dalam rawa-rawa sok ber-Inggris-ria!!!

Tahu kan bahwa pidato-pidato Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), biasa berlepotan bahasa Inggris, tapi pupus ungkapan-ungkapan jiwa bangsa sendiri seperti yang biasa menyemarakkan pidato-pidato Bung Karno? Dengar kan pidato terbaru Presiden SBY sebagaimana disiarkan lewat televisi ketika “ground breaking” proyek MP3EI (Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu 24 Oktober 2012? Begini kan kata Presiden kita itu?: “Ketika saya [dulu] berkunjung [ke daerah ini] dalam kapasitas saya sebagai Presiden, saya pernah mengatakan, dengan potensi besar ini, jangan sampai Kalimantan Timur terus dipandang sebagai ‘the sleeping giant’.”

Senang atau kecutkah hati Anda?

Senang, karena Presiden RI ternyata pintar berbahasa Inggris? Dalam acara resmi lagi? Jika senang, Anda sebaiknya ingat-ingat juga dengan pidato-pidato lain Presiden SBY yang sama belepotan bahasa Inggris. Ambil misalnya pidatonya dalam sidang kabinet, Jumat 26 November 2010, yang menimbulkan heboh tentang “monarki” di Yogyakarta itu.

Begini kan berlepotannya? Sidang kabinet tersebut hendak “memfinalkan RUU ini dan kemudian akan kita serahkan kepada DPR RI untuk dilakukan pembahasan secara bersama.” Lalu: “Ada urgency untuk melakukan revisi atas undang-undang itu.” Setelah mengatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi, Presiden menyatakan: “Oleh karena itu nilai-nilai demokrasi, democratic values, tidak boleh diabaikan.” Lantas setelah timbul heboh, Presiden memberi penjelasan pada 2 Desember 2010. Terhadap adanya anggapan seolah-olah Presiden mau menghalang-halangi Sultan menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Presiden menjawab: “Kalau menyimak statement seperti ini nampaknya ada pencampuradukan antara fakta dengan perkiraan.” Lalu dikatakan: “Seingat saya persoalan suksesi di Pakualaman belum manifest.”

Ground breaking”! Duh, ini istilah Sekretariat Kabinet, padahal Bahasa Indonesia punya istilah yang lebih bagus: “Peletakan Batu Pertama”! Lebih bagus, karena tidak punya makna memecah (breaking), tapi “meletakkan”, “mengukuhkan”. “Masterplan”, aih, apakah turun derajat kalau menyebut “Rencana Induk”? “The sleeping giant”, nah ini istilah Presiden SBY dalam pidatonya, padahal Bahasa Indonesia menyediakan istilah yang jauh lebih bagus: “Harta Terpendam”! Jauh lebih bagus, karena dalam kebudayaan bangsa kita, “giant” saja, raksasa saja, sudah melambangkan sifat jahat, angkaramurka, apalagi yang “sleeping”, yang tidur, malas-malasan. Si Angkaramurka yang malas-malasan! Bota yang abulia! Kan Presiden SBY bukan Ratu Britania atau Presiden Amerika Serikat yang kaya kisah karya agung manusia raksasa, para titans seperti Promoteus atau  kisah kepahlawanan raksasa Gulliver, dan tradisi penghargaan atas jasa orang yang terkandung dalam ungkapan “on the shoulders of giants”?

Memfinalkan”, alangkah janggalnya istilah ini di mulut siapa pun! Kenapa tidak “menuntaskan”? Tidakkah jauh lebih baik lagi? Lantas untuk apa menambahkan bahasa Inggris “democratic values” setelah menyebut “nilai-nilai demokrasi”? Supaya makin jelas atau malah karena keliru mengira akan bergengsi seperti dicurigai oleh sasterawan kita Aji Rosidi, yang tulisannya juga kita siarkan dalam kesempatan ini? Dan “statement” lagi diselipkan dalam penjelasan atas pidato yang menghebohkan itu. Kenapa tidak “pernyataan”? Apa karena “pernyataan” itu membuat pemakainya merasa hina, kikis kakas, atau sebaliknya pemakai “statement” membuat pemakainya merasa mulia, sarat aulia? Dan “Persoalan suksesi di Pakualaman belum manifest”! Amboi, genitnya, atau lagaknya! Sebut saja belum “tampak” kek!

Apakah Presiden itu seorang manusia luarbiasa, seorang raksasa, bota, giant dalam pengertian baik sehingga mendorong hampir semua pembantunya, lembaga-lembaga negara, dan lembaga-lembaga masyarakat ikut ber-Inggris-ria, atau sebaliknya para pembantunya, lembaga-lembaga-lembaga negara, dan lembaga-lembaga masyarakat itulah yang membuat Presiden merasa jadi giant?

Jawabannya masih perlu secara khusus diperiksa. Namun salah satu yang pasti, sekurang-kurangnya terdapat tiga masa Kepresiden RI yang menimbulkan tiga tahap ancaman tenggelamnya Bahasa Indonesia dalam rawa-rawa: Rawa-rawa indoktrinasi Orde Lama sejak 1959; rawa-rawa otoriterisme dan indoktrinasi Orde Baru sejak 1967; serta rawa-rawa sok ber-Inggris-ria Reformasi sejak 1998. Tiga tahap ancaman itu menyudutkan para penjunjung bahasa persatuan kita ke pojok kehidupan bangsa laksana orang asing di negeri sendiri. Berkat semangat dan daya cipta merekalah maka ada masanya bahasa persatuan kita itu mekar semarak laksana bunga matahari, dan mampu mengungkapkan pikiran rumit dan perasaan halus kita sebagai bangsa sehingga menggugah perhatian dunia.

Maka rawa-rawa indoktrinasi Orde Lama telah membuat Bahasa Indonesia sarat dengan akronim mirip mantera yang miskin makna: Manipol-Usdek (manifesto politik – UUD 1945, sosialisme Indonesia, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, kepribadian Indonesia); Resopim (revolusi Indonesia, sosialisme Indonesia, pimpinan nasional).

Rawa-rawa otoriterisme dan indoktrinasi Orde Baru menjadikan Bahasa Indonesia timbunan istilah dan akronim mirip mantera yang jauh lebih miskin makna lagi: Tinggal landas (emang pesawat terbang!); akselerasi (kayak mobil! saja); Repelita (rencana pembangunan lima tahun, yang ternyata gampang rontoknya); Pangkopkamtib (panglima komando operasi keamanan dan ketertiban, yang ternyata tidak aman, dan tidak tertib).

Rawa-rawa sok ber-Inggris-ria Reformasi itu mengubah Bahasa Indonesia jadi tumpukan gombal kata-kata tanpa tatabahasa dan tanpa logika sehingga kosong makna. Gombal, karena jangankan bahasa asing itu, bahasa Indonesia sendiri sering kacau tatabahasanya di tangan penggunanya. Gombal lagi, karena pengguna itu mencakup segala lapisan masyarakat (dari rakyat banyak sampai para pemimpin); mencakup segala bidang mata pencaharian (dari pembantu rumahtangga sampai kegiatan industri);  mencakup segala jenjang pendidikan (dari TK sampai S3);  mencakup segala tingkat jabatan (dari pesuruh sampai presiden). Dan lagi-lagi gombal, karena ber-Inggris-ria itu merasuki semua media: Suratkabar, majalah, buku, radio, televisi, internet,percakapan, pidato, kotbah, gedung pertokoan, gedung sekolah, gedung perguruan tinggi, dinding tembok, dsb.

Tentang media massa kita yang berlepotan kata-kata Inggris, agaknya sudah terlalu biasa sehingga tidak perlu lagi ditunjukkan dalam kesempatan ini. Yang mungkin kurang diperhatikan adalah hilangnya tatabahasa dan logika dalam kalimat-kalimat yang diutarakan, utamanya selama masa Reformasi. Ketiadaantata bahasa  yang paling parah adalah hilangnya pokok kalimat. Hilangnya logika terjadi utamanya karena adulterasi dan ekuivokasi.

Yang berikut ini hanyalah salah satu contoh hilangnya pokok kalimat yang dipetik secara acak dari suatu suratkabar. “Bila investor saham bersedia menanamkan dananya di perusahaan sekuritas tersebut, akan mendapat hasil menggiurkan.” Siapa yang “akan mendapat hasil menggiurkan”? Kita tidak tahu karena tidak ada pokok kalimat. Pembetulan sesungguhnya gampang sekali. Begini: “Bila bersedia menanamkan dananya di perusahaan sekuritas tersebut, investor saham akan mendapat hasil menggiurkan.” Anak SD yang menghargai basaha persatuannya pasti bisa melakukan itu. Rahasianya adalah melihat kedudukan berganda pokok kalimat dalam kalimat majemuk.

Hilangnya logika dalam bahasa kita sekarang ini juga tidak kekurangan contoh. Yang pernah sangat menghebohkan adalah soal “over kuota BBM” , awal Maret 2012, yang timbul karena adulterasi atau penggunaan bahasa asing yang kurang dimengerti. Inti ceritanya: Menteri ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) menyatakan bahwa kuota BBM bersubsidi untuk 2011 dipatok pada jumlah 40,49 juta kiloliter senilai Rp129,7 triliun, padahal  nyatanya pemakaian BBM bersubsidi itu sudah mencapai 41,7 juta kiloliter senilai Rp164,7 triliun. Lantas menteri ESDM mengusulkan agar “over kuota BBM” ini dimasukkan ke dalam APBN-P 2012 [P – Perubahan). Langsung seorang anggota Komisi VII DPR bersikeras menolak “over kuota BBM” tersebut masuk ke dalam APBN-P  2012. Serta-merta media massa penuh dengan “Headline News”: “OVER KUOTA BBM, ESDM KLAIM TIDAK MELANGGAR”.

Pembaca yang nalarnya masih tetap sehat tentu terperangah. Dia tahu bahwa yang terjadi adalah tekornya kuota BBM yang sudah disediakan. Jadi, masalahnya samasekali bukan “OVER QUOTA”, melainkan “UNDER QUOTA”.

Hilangnya logika karena ekuivokasi lebih mengherankan lagi. Tiap hari kita membaca atau mendengar “Satu contoh-contoh”, “Kejadian yang terjadi”, “Mengerjakan pekerjaan”, dan semacamnya di suratkabat atau di media elektronik. Tampak bahwa tiada kejelasan di benak penulis atau pembicara apakah satu itu bersifat tunggal, sedangkan contoh-contoh itu bersifat jamak. Sama tidak jelas rupanya bagi mereka bahwa “Kejadian yang terjadi” atau “Mengerjakan pekerjaan” mengulang kata yang sama. “Kejadian yang timbul” dan “Melakukan pekerjaan” tentu akan lebih jelas, dan lebih bagus.

Lupakanlah media massa kita yang sarat dengan “Hotline News”, “Breaking News”, “Save the Nation”, bukannya “Berita Utama”, “Berita Hangat”, “Selamatkan Bangsa”. Betapa lebih dalamnya nasfu “Sok ber-Inggris-ria” telah merasuk ke sukma masyarakat kita, bila suatu KBU (Kelompok Besar Usaha) yang pernah puluhan tahun dihormati sebagai penjunjung Bahasa Persatuan kita, mendadak berubah jadi kekuatan yang menenggelamkan Bahasa Indonesia ke dalam rawa-rawa “Sok ber-Inggris-ria” itu.

Awal Oktober tahun lalu, suatu suratkabar bisnis Jakarta berbahasa Indonesia menyiarkan iklan berwarna sehalaman penuh dalam bahasa Inggris berjudul “[RPS (Rangkaian Perusahaan Sejenis) – nama kita samarkan]: Delivering Ideas”. Gambar dalam iklan itu berupa tali-temali kabel yang terhubung dengan bahan bacaan, peta jalan pengendara mobil, pengguna komputer meja, komputer jinjing, mau pun komputer genggam. Di bawah gambar ada tertulis: “[RPS] provides more than 90 GREAT channels to suit your message and improve your brand penetration.”

Iklan tersebut disiarkan atas nama serangkaian anak usaha  sejenis yang merupakan bagian suatu KBU yang  selama puluhan tahun sebelumnya terkenal setia menjunjung Bahasa Indonesia dalam semua produknya. Pembaca iklan yang tidak tahu perubahan mutakhir yang terjadi dalam KBU itu tentu tak akan habis heran, kok ada suratkabar berbahasa Indonesia, yang tentunya dibaca oleh pembaca berbahasa Indonesia, menyiarkan iklan berbahasa Inggris, atas nama anak-anak usaha sejenis bagian KBU yang didirikan dan diasuh oleh orang Indonesia!

Sesungguhnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, KBU tersebut sudah ber-Inggris-ria di dalam organisasinya, sebagaimana terlihat dalam MKUKS (majalah khusus untuk kalangan sendiri), terbitan November 2009. Majalah ini ditujukan kepada para karyawan KBU sendiri yang tentunya semua orang Indonesia dan semuanya berbahasa Indonesia. Namun demikian pada sampul depannya terpampang gambar 27 petinggi perusahaan itu yang berdiri membelakangi baliho bertuliskan: “KBU TRANSFORMING INTO DIGITAL WORLD: PERFORMANCE CONTRACT 2010. Jakarta 5 Desember 2009.”

Di bawahnya tertulis: “Performance Contract 2010 & Celebration of MDP 4 & MMDP 5”. Lalu menyusul keterangan: “19 Business Unit dan 7 Functional Unit” [tanpa “s”]  “sudah melakukan Performance Contract 2010”. Keterangan ditutup dengan nama-nama puluhan satuan usaha yang nyaris semuanya dalam bahasa Inggris pula, seperti “Group of Regional Newspaper” [tanpa “s”], “Group of  Magazine” [juga tanpa “s”], “Sport and Health Media”, “Group of Book Publishing”, “Group of Retail Business” [tanpa “s”], “Group of Printing”  [tanpa “s”],  “Group of Hotel and Resort” [tanpa “s”], “Corporate Circulation”, “Corporate Advertising”, “Corporate Human Resources”, “Corporate Communications”, “Corporate Facility Management”, “Corporate Information Technology and Information System”, “Corporate Finance”, “Corporate Comptroller”, “Business Process Management”.

Begitu merasuknya nafsu ber-Inggris-ria dalam dada putera-puteri bangsa Indonesia, tampak juga dari iklan yang disiarkan lewat suatu suratkabat pada 22 Oktober 2012 atas nama Ditjen Pajak yang berjudul “Peduli Pajak Sejak Dini”. Salinan iklan ini kita tampilkan tersendiri dalam kesempatan ini, disusul dengan tulisan Ajip Rosidi, “Bagaimana Masa Depan Bahasa Indonésia?”.■ (Redaksi zamrudkatulistiwa.com , Jakarta 27 Oktober 2012).

%d bloggers like this: