Sumpah Pemuda Puncak Gerakan Kebangsaan Indonesia

deskha December 1, 2008 0
Sumpah Pemuda Puncak Gerakan Kebangsaan Indonesia

Sumpah Pemuda

Puncak Gerakan Kebangsaan Indonesia

Sambutan media massa terhadap 80 tahun Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan juga terhadap Hari Pahlawan 10 November, jauh kurang meriah dibandingkan dengan 100 tahun pergerakan kebangsaan. Kecuali pidato presiden dan satu dua artikel, nyaris tidak ada siaran yang langsung membicarakan peristiwa 80 tahun lalu itu. Sebagai gantinya dikemukakan berbagai karya anak bangsa akhir-akhir ini yang dianggap sebagai perwujudan cita-cita Sumpah Pemuda, seperti forum dan pendidikan lintas-suku-agama.

Pidato presiden dan juga satu-dua artikel lain itu pun lebih mengedepankan apa yang dianggap makna Sumpah Pemuda sekarang ini daripada menghidupkan kembali peristiwa tersebut secara berdaya-cipta. Presiden sendiri, misalnya, hanya mengatakan bahwa dengan memperingati Sumpah Pemuda, kita menyadari bahwa “semangat kedaerahan dan ikatan primordial yang berlebihan menjadi tantangan bagi persatuan seluruh rakyat Indonesia sebagai bangsa.”

Kuat kesan, peringatan Sumpah Pemuda kali ini hanya merupakan kegiatan rutin belaka; peristiwanya mungkin dinilai jauh kurang penting dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain dalam sejarah pergerakan kebangsaan kita. Bukannya kita menghendaki perayaan gagah-gagahan seperti yang diadakan oleh pemerintahan Suharto pada 1988. Lewat penerbitan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia, Kongres Nasional Sumpah Pemuda dengan banyak perserta asing, serta upacara khidmat di sekolah-sekolah dan kantor pemerintah di seluruh Indonesia, pemerintah masa itu mencanangkan makna Sumpah Pemuda sebagai upaya nasional untuk mengikis warisan penjajah di segala bidang kehidupan bangsa Indonesia.

Bukan juga kita menghendaki hujan kecaman sejumlah orang, seperti yang dengan luarbiasa pedas dikemukakan oleh Hendrik M. Maier terhadap acara peringatan 28 Oktober 1988 itu. Dalam salah satu karya-tulisnya yang disiarkan pada awal 2005, Maier, sarjana Belanda yang kemudian bekerja di Universitas California, Riverside, AS, menegaskan  bahwa banyak yang salah dengan Republik Indonesia, dan peringatan Sumpah Pemuda hanyalah satu gejala yang mencerminkan segala kesalahan itu. Makna Sumpah Pemuda, katanya, sengaja dilebih-lebihkan demi kepentingan indoktrinasi Orde Baru, padahal kenyataannya peristiwa itu cuma riak kecil dalam gelombang revolusi Indonesia.

***

Akan lain halnya kalau kita benar-benar meninjau kembali peristiwa itu dalam rangkaian pergerakan kebangsaan kita dari awal hingga Indonesia merdeka. Kekeliruan Suharto dan Maier akan tampak menyolok. Sumpah Pemuda memang bukan upaya mengikis warisan penjajah di segala bidang kehidupan bangsa kita. Namun, samasekali tidak betul bahwa Sumpah Pemuda hanya riak kecil dalam gelombang revolusi Indonesia, melainkan suatu langkah piawai, a veritable masterstroke, dalam rangkaian gerakan kebangsaan kita, bahkan puncaknya.

***

Cobalah bayangkan. Selama dua dasawarsa pertama, para pemimpin pergerakan kebangsaan kita berjuang mati-matian untuk mencapai persatuan, tapi yang mereka dapat hanyalah perpecahan habis-habisan. Para pemimpin itu tidak hanya gagal menggalang persatuan antarorganisasi pergerakan kebangsaan, tapi terlebih telah menimbulkan perpecahan di dalam organisasi masing-masing. Lebih parah lagi, perpecahan itu lambat-laun tidak lagi dianggap sebagai kegagalan, tapi malah sebagai alasan yang lebih realistis untuk membentuk organisasi baru menurut garis suku, agama, usia, dan bidang kehidupan.

Dalam keadaan kalut itulah beberapa pelajar tampil memperjuangkan persatuan pemuda. Mereka bertekad untuk membentuk suatu organisasi tunggal bagi pemuda, yakni Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Dengan dukungan mereka, terselenggaralah kongres pemuda yang pertama di Batavia, 30 April sampai 2 Mei 1926. Tujuan kongres adalah untuk “menjadikan semua organisasi pemuda sebagai pelopor bagi tercapainya cita-cita besar mengenai Persatuan Indonesia.” Semua organisasi pemuda yang namanya biasa mulai dengan “Jong” ikut serta, tapi kongres gagal mencapai tujuannya. Di bawah pengaruh Jong Java, hampir semua organisasi pemuda itu tidak mau bergabung dalam suatu organisasi tunggal (fusie), tapi hanya dalam suatu perserikatan (federatie).

Para pelajar yang berhaluan fusie jadi juga mendirikan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi baru ini berhasil mengadakan rapat kembali bersama organisasi-organisasi pelajar yang berhaluanfederatie pada awal 1927. Lagi-lagi upaya membentuk organisasi tunggal gagal, tapi dalam rapat selanjutnya dua bulan kemudian berhasil dirumuskan cita-cita bersama: menuju Indonesia yang merdeka, dan persatuan pemuda sebagai upaya mencapainya.

Lalu tibalah saatnya rapat berikutnya pada 27-28 Oktober 1928. Suasananya jauh lebih meriah dan bersemangat daripada rapat-rapat sebelumnya. Di sudut-sudut Batavia ditempeli plakat yang mengajak semua pemuda dan pemudi agar hadir. Ajakan dari mulut ke mulut juga ramai sekali. Benar juga, pemuda yang hadir diperkirakan sampai seribu orang, belum lagi tokoh-tokoh terkemuka partai politik, bahkan pejabat tinggi pemerintah jajahan. Polisi rahasia pun bukan main sibuknya. Tidak jelas bagaimana caranya, tahu-tahu rapat tersebut disebut sebagai Kongres Pemuda yang kedua.

Tentu banyak penjelasan yang dapat dikemukakan mengapa bisa demikian, tapi ada satu hal yang tidak mungkin diabaikan, yaitu kemenangan Mohammad Hatta dan kawan-kawan dalam pengadilan di Den Haag, 22 Maret 1928. Setelah ditahan hampir selama enam bulan atas tuduhan melawan pemerintah dengan cara menimbulkan keonaran, Hatta dan kawan-kawan dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Kemenangan itu disambut hangat di Indonesia selama berbulan-bulan.

Seolah-olah merupakan simpul semangat yang meluap itu, timbul dua acara yang samasekali tidak dipersiapkan, yaitu mendengar lagu ciptaan seorang pemuda, Wage Rudolf Supratman, dan pengumuman keputusan kongres. Acara dengar lagu itu langsung bikin heboh karena polisi rahasia melarang Supratman membawakan lirik berjudul “Indonesia Raja” yang mengandung kata “merdeka”. Ketua kongres mengambil jalan tengah: Supratman hanya memperdengarkan melodi dengan gesekan biola diiringi piano. Walau pun demikian, acara itu memukau seluruh hadirin dengan rasa khidmat dan khusuk.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah acara pembacaan keputusan kongres. Ketua kongres sempat bingung karena tidak ada persiapan. Mendadak Muhammad Yamin menyodorkan secarik kertas berisi rencana keputusan kepada ketua, Sugondo Joyopuspito. Membaca naskah itu, ketua sangat tertegun karena tiga hal. Pertama, di sana tercantum semangat persatuan, padahal datangnya dari Muhammad Yamin yang terkenal menolak fusie.Kedua, naskah digubah dengan indah. Ketiga, dirumuskan dengan singkat dan jernih sehingga dianggap sangat cocok sebagai keputusan penting.

Maka dibacakanlah hasil kongres yang terdiri dari tiga butir, masing-masing didahului dengan kata-kata yang sama, yaitu “Kami putera dan puteri Indonesia”: mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia; mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia; menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Semua yang hadir menyambut keputusan itu dengan meriah, dan mendadak saja menyebutnya “Sumpah Pemuda”.

***

Dengan tiga butir keputusan itu, tersarikanlah dengan bening segala rumusan panjang-lebar dan berliku tentang tujuan, cita-cita, dan jeritan sukma organisasi-organisasi pergerakan selama dua dasawarsa. Sari yang bening itu bukan hasil rumusan tokoh-tokoh terkemuka organisasi politik pergerakan, melainkan oleh sejumlah pemuda yang bahkan tidak sempat mempersiapkannya. Apa yang disebut “Sumpah Pemuda” benar-benar merupakan hasil kristalisasi sejarah alias hasil jerih-payah tak terbilang pihak yang sudah berlangsung puluhan tahun. Tidak berlebihan bila peristiwa tersebut dianggap sebagai Puncak Gerakan Kebangsaan Indonesia. Terlebih lagi karena sesudah itu gerakan kebangsaan tersebut merosot menjadi suam-suam kuku, sedikitnya di mata penjajah, sampai tiba saatnya sejarah dunia memberi kesempatan tercapainya Indonesia Merdeka.■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: