Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution Selama Studi Di Belanda

deskha September 30, 2015 Comments Off on Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution Selama Studi Di Belanda
Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution Selama Studi Di Belanda

Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution Selama Studi Di Belanda

Marak siang hari Rebo, 23 September 2015, Adnan Buyung Nasution (ABN), yang lebih dikenal dengan Bang Buyung, pergi untuk selamanya pada pukul 10.15 WIB di RS Pondok Indah, Jakarta, setelah seminggu dirawat karena menderita gangguan ginjal. Lahir pada 20 Juli 1934, di Jakarta, ABN genaplah berusia 81 tahun dua bulan tiga hari pada saat meninggal, 11 tahun lebih panjang umur daripada rata-rata usia rakyat Indonesia yang dicintainya. Ditinggalkannya sang istri, Ibu Sabariah Sabarudin, dengan tiga anak, 11 cucu, dan lima cicit.

ABN ternyata diberkahi tidak hanya usia panjang, tapi juga kehidupan yang tumpat pengabdian, nama harum, dan rejeki. Beruntunglah yang pernah mengenalnya, sebagai kerabat,  sahabat, dan sejawat pada masa jayanya. Namun jika dipikir-pikir, tidak kalah beruntung mereka yang mengenalnya pada masa sulit, seperti halnya puluhan sesama tahanan selama 22 bulan di penjara (1974-5), atau sesama pelajar Indonesia di Belanda (1986-92), seperti halnya saya. Bukankah pada masa prihatin orang cenderung tampil sejati?

Selama studi di Belanda, memang ABN benar-benar hidup prihatin. Rezim Suharto membatalkan rencana promosi doktornya di UI yang tadinya akan dilaksanakan berdasarkan penelitian di Belanda, sesuai dengan kesepakatan pada 1983. Segera sesudah itu izin praktek firma hukumnya dicabut sampai semua pintu rejeki baginya ditutup, sementara utang-utang firma harus dilunasi dan pesangon puluhan sejawat dan karyawannya harus dibayar. Kesewenangan ini ditimpakan kepadanya hanya karena ABN memimpin pembelaan Jenderal (Pur) Hartono Rekso Dharsono yang diadili di Jakarta pada 1986. H.R. Dharsono sendiri sudah lebih dulu dituduh dengan sewenang-wenang merongrong rezim Suharto hanya karena dia minta penjelasan tentang Peristiwa Tanjung Priok 1984.

Bisa diduga dari wataknya, ABN tidak sudi menyerah. Lewat sahabat lamanya dalam KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), Paul Moedikdo Mulyono, dosen di Universitas Negeri Utrecht, ABN berhasil mendapatkan promotor, Prof. Mr. Dr. A.A.G. Peters, di universitas tersebut. KASI termasuk salah satu  organisasi pertama yang mendukung Orde Baru Suharto. Promosi di Universitas Utrecht berarti ABN harus tinggal selama lima tahun lagi di Belanda. Untuk itu dia terpaksa menjual semua sisa hartanya yang diperoleh selama karirnya sebagai lawyer papan atas di Indonesia, bahkan konon sampai menggadaikan rumah mertuanya di Bandung.

 

Awal perkenalan

Di Belanda saya ketemu ABN pertamakali dalam suatu diskusi yang dilaksanakan oleh kalangan mahasiswa Indonesia di Leiden, kalau tak salah menjelang Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1986. Penceramahnya Prof. Dr. Bernhard Dahm, penulis biografi politik Bung Karno yang banyak dipuji, Sukarno and the Struggle for Indonesian Independence (1969). Kita pada menyalami ABN memberi semangat karena waktu itu  sedang gencar-gencarnya berita perseteruan ABN dengan rezim Suharto, khususnya Menteri Kehakiman Ismail Saleh. Menteri ini seenaknya saja mencabut izin praktek firma hukum ABN, sebagai buntut pengadilan Jenderal (Pur) Hartono Rekso Dharsono akhir tahun 1985.

Seingat saya paparan Bernhard Dahm masih berkisar pada kekuasaan politik di Indonesia yang memanfaatkan sentimen-sentimen dan pemikiran tradisional. Ini pulalah yang merupakan tema besar dalam karyanya tsb. di atas. Dahm berpendapat, hal yang sama sekarang dilakukan oleh Suharto, tapi dengan cara yang rada semaunya. Cara seperti itu berbahaya, katanya, karena masyarakat akan dengan gampang melihat jurang yang menganga antara pemikiran tradisional yang dianggap adiluhung itu dan sepak-terjang penguasa Orde Baru.

Mendengar hal itu, peserta langsung ramai dengan komentar berbisik: Jurang itu sudah lama diketahui oleh rakyat, tapi mengapa Orde Baru masih tetap bertahan? Apa rahasianya dong?

Begitu acara tanya-jawab dibuka, pertanyaan itu bergaung di seluruh ruangan. Lagi-lagi kalau tak salah, Dahm bertindak cerdik dengan tidak langsung menjawab, tapi memberi kesempatan luas kepada peserta untuk mencobanya. “Orang Indonesia sendiri pasti lebih tahu jawabannya”, kata Dahm.

Aneh bin ajaib, tidak ada yang coba menjawab. Semua diam. Suasana sepi itu dipecahkan oleh penceramah dengan baik juga. Dahm bilang soal rahasia ini agak berada di luar tema paparannya. Jawabannya bisa macam-macam, tapi jawaban yang sungguh berarti pasti tidak gampang. Soal ini baik dipikirkan sungguh-sungguh, dan suatu waktu nanti bisa dibicarakan dalam acara yang serupa.

 

Rahasia sukses Suharto

Pada saat peserta meninggalkan tempat diskusi, iseng-iseng saya tanya ABN apa rahasia sukses Suharto. “Abang pasti tahu jawabannya,” kata saya setengah mendesak. ABN tertawa saja, agak sumbang, dan saya dapat kesan pikirannya jauh melayang entah ke mana, mungkin ke Jakarta bersama istrinya yang kami sebut “Kak Ria”, seluruh keluarga, sejawat, dan pegawai kantornya. Tampaknya urusan pencabutan izin praktek kantornya itu membebani pikirannya. Saya dan kebanyakan teman-teman, seperti Th. Sumartana (dipanggil Tono), tidak punya bayangan, apalagi informasi, betapa serius persoalan itu bagi ABN. Soalnya, saya, dan banyak teman lain, yakin harta kekayaan ABN begitu banyak sehingga penutupan itu hanya soal kecil baginya.

“Coba, yang tahu rahasia sukses Orde Baru, tolong bilang sama Abanglah!” ABN tiba-tiba berkata, terdengar serius.

Saya merasa ABN bukannya mau tahu rahasia itu, tapi ingin dengar pendapat yang agak menghibur hatinya yang gundah, semacam jawaban polos tapi nyaris tak terduga, seperti biasa terdapat dalam cerita. Jelek-jelek saya kan bekas penulis cerita, yah, pernah coba jadi sastrawanlah. Saya teringat cerita bagus yang bisa sekaligus jadi jawaban. Benar-tidaknya, samasekali soal lain.

“Percuma cari jawabannya dalam teori,” kata saya. “Jawabannya ada dalam Sam Kok!”

“Sam Kok ???” ABN dan semua teman lain serentak menanggapi dengan kaget.

“Ya, Sam Kok!” Saya menegaskan. “Pasti sudah baca kan? Cerita silat sih!”

Ramai teman-teman bilang tentu sudah baca, tapi isinya sudah lupa. Ada juga yang kritis meski pun ungkapannya halus: “Roman sejarah atau cerita silat, sama ya.”

“Anggaplah sama,” seseorang lain menimpali sambil tertawa.

Maka saya pun terpaksa coba menyarikan cerita Sam Kok (Tiga Kerajaan) itu, padahal cerita itu paling rumit di dunia dengan ratusan pemeran dan ribuan peristiwa. Sudah lupa juga saya bahkan peristiwanya yang pokok-pokok. Untunglah saya masih ingat inti ceritanya. Ratusan pemeran dalam cerita itu bolehlah dibedakan dalam tiga golongan watak: Golongan watak luhur; golongan watak licik; golongan watak kejam. Yang menang dalam pertarungan tiga kerajaan itu adalah golongan watak licik yang dipimpin oleh tokoh paling licik, Cao Cao. Berkat Cao Cao, anaknya, Cao Pei, jadi pewaris kerajaan Han. Sesungguhnya Cao Cao yang licik itu berhasil tampil sebagai tokoh luhur, cerdas, dan bijaksana sepanjang cerita sampai pada saat kematiannya. Saat itulah topengnya tersibak sehingga pembaca pun jadi sadar betapa liciknya dia.

“Lantas mana rahasia suksesnya?” salah seorang teman sertamerta bertanya.

“Kemahirannya memanfaatkan kelemahan rakyatnya dan sejawatnya,” jawab saya.

“Apa saja kelemahan mereka itu?”

“Macam-macam: Gampang percaya; gampang curiga; rakus; benci; palsu. Pokoknya sarat pamrih kerdil. Penuh udang di balik batu.”

“Jika betul demikian, mestinya tokoh luhur bisa menang dong. Dia tinggal mengandalkan kekuatan rakyatnya dan sejawatnya.”

“Mestinya,” kata saya. “Sayang, orang baik jauh lebih sedikit jumlahnya. Lagipula, lebih gampang memanfaatkan kelemahan karena tak perlu repot membina kekuatan mereka.”

“Wah, tokoh licik bakal berkuasa terus dong”

“Mustahil,” jawab saya, “karena tokoh licik akan mati juga seperti semua yang namanya manusia. Kalau belum mati, tapi sudah tua bangka, bawahan yang licik akan merebut kekuasaannya.”

Akhirnya ABN tanya: “Di mana bisa beli buku Sam Kok?”

Semua kami tertawa. Ada yang bilang terdapat beberapa versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hanya saja bakal tak cukup waktu buat ABN untuk baca cerita itu, karena versi mana pun yang dipilih, tebalnya bisa sampai puluhan jilid.

 

Disertasi “gila”

Saya tidak pernah tanya apakah ABN jadi beli atau baca cerita Sam Kok itu, tidak juga ketika saya dan Sumartana untuk pertamakali mengunjunginya di Utrecht kira-kira akhir 1986 atau awal 1987. Saya yakin, kalau tidak betul-betul penting buat penulisan disertasinya, ABN mustahil mau buang satu menit pun untuk membacanya. Kunjungan kami yang pertama itu pun adalah untuk tahu barang sedikit mengenai disertasi ABN.

Menulis disertasi di Belanda unik sifatnya waktu itu. Promovendus (penulis disertasi) tidak kuliah tapi kerja sendiri di ruang pribadinya. Promotor dan pembimbing lainnya baru campur tangan setelah disodori bagian-bagian disertasi yang sudah ditulis. Belum tentu komentar mereka cepat datang. Bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Sungguh kesepian si promovendus, tegang, dan tertekan.

Suasana sepi itulah yang terasa bergayut di apartemen kecil tempat ABN ketika kami ketemu. Dia kebetulan sedang tinggal sendirian. Kak Ria sedang ke Indonesia. Anak-anak mereka memang tetap tinggal di Indonesia. Kami berdua bisa merasakan gigitan rasa sepi itu, karena saya dan Sumartana memang didampingi oleh keluarga kami masing-masing, lengkap dengan anak-anak kami.

ABN terlihat girang menerima kami, bukan terutama karena rasa sepi lenyap sejenak dengan kedatangan kami, tapi karena dia pun tahu betul tidak mudah soal kunjung-mengunjungi itu. Soalnya bukan jarak tempat kami masing-masing atau alat transportasi. Dalam urusan transportasi, Belanda  susah dicari tandingannya. Saya, misalnya, tinggal di Amstelveen dekat Amsterdam, Sumartana di Oegstgeest dekat Leiden. Amsterdam-Leiden-Utrecht membentuk segitiga hampir sama sisi di bagian sebelah barat Nederland. Satu sisinya paling sekitar  30 km saja. Jadi, sulitnya kunjung-mengunjungi ini bukan soal jarak, juga bukan soal alat transportasi, tapi soal tanggapan para pembimbing yang belum datang-datang. Kita menunggu terus, membuat kita malas keluar rumah.

Pokok disertasi ABN ternyata adalah memeriksa apa betul demokrasi konstitusional tidak cocok buat Indonesia. Sukarno tegas-tegas bilang tidak cocok. Itulah alasannya membubarkan lembaga Konstituante (Dewan Pembentuk UUD) yang sudah bersidang selama hampir tiga tahun (10 November 1956 – 2 Juni 1959). Jika bisa menunjukkan hasil-hasil perdebatan di Konstituante itu demokratis sifatnya, disertasi ABN ini kan menjadi sangat penting bagi masa depan demokrasi di negara kita. ABN mengaku hasil perdebatan Konstituante yang sudah disiapkan tebalnya 10.000 halaman. Target meringkaskannya jadi 3.000 halaman pun sudah tercapai, makanya dia lega. Ternyata pembimbingnya bilang harus jauh lebih sedikit.

Berbeda dengan kami berdua, ABN mungkin tidak tahu bahwa nilai disertasi di Belanda berbanding terbalik dengan ketebalannya. Makin tebal makin rendah nilainya. Ketebalan standar kira-kira 200 halaman. Sekarang ABN sudah berhasil mencapai 3.000 dan terlanjur lega. Saya dan Sumartana saling melirik. Saya bilang dalam hati, ini disertasi “gila” karena urusannya tinggal menekan jumlah halaman. Itu sangat sulit! Ternyata Sumartana setuju dengan penilaian saya itu, karena soal yang kami hadapi rasanya jauh lebih mudah, yakni soal menemukan garis teoretik dan datanya yang memadai.

Belakangan, mungkin sudah tahun 1989, ABN bilang sudah berhasil menekan jumlah halaman disertasinya menjadi 1.000. Dia merasa tidak mungkin maju lagi, padahal dia sudah tahu waktu itu bahwa ketebalan standar tidak boleh lewat daripada 200 halaman. Ternyata lagi-lagi ABN pantang menyerah. Akhirnya ABN berhasil mempertahankan disertasinya yang hanya 600 halaman tebalnya  di Universitas Utrecht lepas tengah hari Rebo, 4 November 1992. Disertasi itu berjudul The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: a socio-legal study of Indonesian Kunstituante 1956-1959. Sayang, saya mau pun Sumartana tidak bisa ikut menyaksikan ujian disertasi itu. Saya sudah duluan selesai dan sudah pulang ke Indonesia 1 Februari 1991, sedang Sumartana empat bulan kemudian.

 

Mengaku salah

Ingat betul saya pertemuan Minggu, 2 April 1989, di rumah yang baru ditempati oleh ABN di Nieuwegein, barang 10 km ke arah selatan kota Utrecht. Kenapa? Karena malam Minggu 2 April 1989 saya mendapat telepon dari tempat  itu, tapi bukan dari ABN, melainkan dari Soebadio Sastrosatomo, ketua PSI (Partai Sosialis Indonesia). Katanya saya jangan sampai lupa datang Minggu siang. Tentu saja saya tidak lupa. Beberapa hari sebelumnya ABN sudah lebih dulu memberitahu bahwa Pak Soebadio akan singgah di rumahnya dalam rangka perjalanannya ke Eropa bersama mantan direktur utama Garuda, Wiweko Soepono. Katanya sejumlah teman akan datang juga.

Selain itu, saya agak gembira hari Minggu itu. Pagi-pagi saya mengantar Gorga, anak bungsu saya, bertanding yudo di Amsterdam. Dia baru tujuh setengah tahun. Sejak umur enam tahun dia sudah jadi anggota JBN (Judo Bond Nederland) atau Perhimpunan Judo Belanda dari ranting terdekat De Bonte Kraai (Gagak Berjambul?). Eh pagi itu dia menang juara satu, padahal lawan-lawannya anak-anak Belanda yang tinggi-tinggi besar. Wajar saya rada girang menuju Nieuwegein, dan lebih girang lagi karena rumah ABN waktu itu ternyata rumah betulan, bukan lagi apartemen. Keadaannya jauh lebih ceria daripada dulu di apartemen.

Pak Soebadio sudah menanti saya di pintu rumah. Usianya 70 waktu itu, tapi kelihatan masih segar bugar dengan gigi putih rapi (mungkin gigi palsu). Di dalam rumah, ABN besama tamu-tamu sedang mau makan. Dia dan Kak Ria juga tampak segar bugar. Saya langsung bergabung makan. Yang hadir barang 15 orang. Yang saya kenal a.l. Th. Sumartana, Niko Kana, Abuprijadi Santoso alias Tossi dengan istri dan anaknya, Hadidjoyo, Ratna Saptari, Yanto Mangundap, Siswa Santoso, Lily.

Habis makan, ya, mendengarkan Pak Soebadio. Inti pembicaraannya adalah sejumlah nasehat berdasarkan pengalamannya sebagai pejuang kemerdekaan dan kemudian ketua PSI. Beberapa yang ditekankan: Menjadikan negara Indonesia sebagai pelindung seluruh bangsa Indonesia, “tidak seperti sekarang”; kemauan mempersiapkan diri menghadapi perubahan di Indonesia yang “naga-naganya sedang berlangsung sekarang.”

Rupanya sebelum saya datang sudah ramai pembicaraan tentang perubahan yang “naga-naganya sedang berlangsung sekarang” di Indonesia. Konon penduduk makin berani mengemukakan pendapat, termasuk yang menyangkut pergantian presiden, sesuatu yang sangat tabu. Makanya, ketika kesempatan tanya-jawab dibuka, saya perhatikan semua pandangan tertuju kepada dua orang itu, Soebadio Sastrosatomo dan ABN. Entah siapa yang bertanya saya lupa, tapi pertanyaannya: “’Pak Qio’ dan Bang Buyung, tolong dijelaskan kepada kita yang muda-muda, bagaimana awal mula sikap golongan sipil tatkala meletakkan dasar-dasar Orde Baru. Konon peranan PSI dan Bang Buyung termasuk menentukan waktu itu.”

“Pak Qio” atau Pak Soebadio terus-terang mengakui peran besar tokoh-tokoh “bergaris pikiran PSI”, seperti Sarbini Sumawinata, Soemitro Djojohadikoesoemo, Soedjatmoko, Soewarto, dalam meletakkan dasar-dasar Orde Baru, khususnya yang menyangkut penanaman modal asing. Pak Soebadio melirik ABN dan bilang “dia juga ikut menentukan”. Mereka, katanya, tampil sebagai pemikir, lalu menyumbangkan rumusan-rumusan  besar dan indah. Jadi pihak sipil sudah kalah sejak mula,  “termasuk Buyung” karena mereka lupa memperhatikan soal-soal praktis, misalnya, akibat penanaman modal asing terhadap perusahaan-perusahaan nasional yang sudah sempat terbina sejak 1950-an. Benar-benar “blunder” di pihak mereka!

Pak Soebadio menunjuk ke arah ABN. Katanya ABN paling garang memperingatkan Pak Soebadio dan orang-orang segenerasinya: “Sudah pak, bapak-bapak sebaiknya minggir saja. Serahkan saja sama kami yang lebih muda soal-soal mendatang ini.” Saya perhatikan ABN agak gelagapan juga mendengar keterangan itu. Yang tak kalah mengagetkan ABN terus-terang mengakui “blunder” tersebut, meski tak lupa memberi alasan panjang-lebar sekitar “situasi konkret” masa itu yang memaksa mereka bersikap demikian. Pegangan pokok mereka, katanya, tetaplah “Partnership Sipil-Militer”. Belakangan saya tahu, “blunder” itu tidak hanya menyangkut pikiran-pikiran besar nan indah, tapi juga soal-soal praktis. Soal praktis terpenting waktu itu adalah siapa yang jadi presiden menggantikan Bung Karno. Ternyata ABN sendiri yang pertama mengusulkan Suharto jadi presiden.

Saya dan beberapa teman mengemukakan bahwa “kesalahan” generasi Pak Soebadio tidak kalah besar. Sesama bekas pejuang saling jegal, saling sikat, bahkan saling bunuh. Agaknya generasi Pak Soebadio kurang berhasil membangun akhlak dasar berpolitik di Indonesia. Kekurangan inilah yang kemudian membuat ABN dan orang-orang segenerasinya diperlakukan sewenang-wenang oleh Orde Baru. Yang tidak saya kemukakan, kekurangan itu pula yang merusak aktivis mahasiswa generasi kami tahun 1970-an.

Banyak yang jadi aktivis hanya untuk menaikkan posisi tawar-menawar di hadapan penguasa atau malah mengkhianati sesama aktivis kemudian. Hampir setiap rencana demo yang kami siapkan sudah sejak dini disampaikan ke pihak tentara. Sehabis demo sudah tersedia “mie instant”, barang yang baru dikenal waktu itu, di rumah salah seorang pemimpin demo untuk semua peserta demo. Kita mengira pemimpin demo yang keluar duit. Baru agak lama kemudian kita tahu dananya didapat dari tentara.

 

Bertemu Wiweko Soepono

Sebelum saya meninggalkan Nieuwegein, Pak Soebadio minta agar saya besok Senin datang lagi jemput dia untuk ketemu Wiweko Soepono di hotel Hilton, bandara Schiphol. Saya membawa mobil tua saya, dan kami berdua langsung menuju bandara. Sepanjang jalan kami mengobrol tentang sejarah perjuangan kemerdekaan. Banyak cerita yang saya dapat tentang sifat tokoh-tokoh perjuangan, mulai dari Cokroaminoto, Tan Malaka, Hatta, Sukarno, Syahrir, sampai ke Wiweko Soepono.

“Wiweko itu orang yang ‘no-nonsense’,” begitu kata Soebadio. “Dalam sikap kerja sebagai manajer termasuk langka di Indonesia. Pada 1968, dia jadi direktur utama Garuda berkat saran Sarbini Soemawinata kepada Suharto.” Saya ingat, hal yang sama mengenai “no-nonsense” itu berkali-kali ditulis di suratkabar Kompas, khususnya oleh Sumarkoco Sudiro, kepala desk ekonominya. “Wiweko ibarat burung garuda terbang tinggi sendiri, tidak ramai-ramai seperti burung pipit.” Tamsil itu mengutip Ortega y Gasset (1883-1955), filsuf Spanyol yang mengilhami kebangkitan cendekiawan dan timbulnya pemerintahan republik Spanyol. Ortega y Gasset mengecam peradaban modern karena mengumbar semangat massa, bukan menghargai pribadi-pribadi yang berakhlak. Orang pun jadi hilang kepercayaan  terhadap akhlak, juga terhadap cendekiawan dan para pemimpin.

Media internasional pun memuji-muji sukses Wiweko memimpin Garuda dari perusahaan rongsokan yang terlilit utang menjadi “Raksasa Belahan Selatan” (The Southern Giant). Konon, sukses itu sulit dipahami oleh para dirut maskapai penerbangan dunia. Habis, Wiweko-lah pelopor peralatan simulator pada semua jenis pesawat Garuda. Depresiasi Garuda dibuat antara 7-9 tahun, padahal rata-rata 15 tahun di dunia. Beli pesawat pantang dari agen, tapi langsung ke pabrik, itu pun bukan bayar kontan, melainkan teken surat utang (bank promissory notes). Dia juga pelopor penghematan biaya pesawat dengan sistem FFCC  (forward-facing crew cockpit) dan penambahan kursi penumpang tanpa mengganggu keamanan penerbangan.  Anti korupsi jadi disiplin perusahaan, termasuk mencegah campurtangan pihak luar dan mengganti hampir semua pilot asing.

Saat saya ketemu langsung dengan Wiweko di Hilton, saya rasakan bahwa semua yang dikatakan barusan tampak nyata pada seluruh sosok, gerak-gerik, perkataan, dan pikirannya. Sosoknya tinggi ramping padahal usia sudah 66, dan pakaiannya sederhana, kemejanya lengan pendek. Gerak-geriknya cekatan dan terukur, baik di hadapan petugas Hilton yang tampak sangat menghormatinya, mau pun saat berdiri dan jalan menyalami saya. Kalimat-kalimatnya pendek-pendek. Pikirannya seperti meloncat seolah ada bagian yang tertelan atau hilang.

Namun demikian, saya teringat juga mogok besar-besaran para pilot Garuda kira-kira tahun 1980. Para pilot konon takut terbang dengan hanya dua awak di cockpit dan dengan simulator  pula. Lagipula gaji dianggap rendah. Lantas Wiweko dijadikan bulan-bulanan. Dia sedih campur berang karena menurut dia para pilot yang mogok dikipasi oleh maskapai dan pilot-pilot asing yang iri dan terancam kedudukan mereka. Kompas pun kena getahnya. Wiweko marah. Garuda menolak mengangkut koran tersebut, dan pemimpinnya, Jakob Oetama, dimusuhinya.

Apakah tokoh sehebat Wiweko masih bisa kena penyakit kekuasaan dan kemashuran? Saya ingat nasehat ayah saya, bekas prajurit Singamangaraja dan konon mencapai usia 100 tahun: Hati-hati dengan kekuasaan dan kemashuran. Dua-duanya ibarat api bagi laron. Eh, belum sempat saya menjawab keraguan saya, Wiweko mengambil sesuatu dari balik kursinya dan menyerahkannya kepada saya. Isinya tiga buku tebal-tebal yang saya tak mampu beli karena mahal. Salah satu buku itu berjudul In het Land van de Overheerser (1986) dua jilid. Jilid pertama menceritakan nasib orang-orang Indonesia yang menginjak Nederland sepanjang masa tiga setengah abad (1600-1950). Yang satu lagi, The Rise and Fall of the Great Powers (1988), bestseller sedunia, karya Paul Kennedy.

Tidak hanya itu. Sebentar kemudian datang seorang Belanda menjemput Wiweko untuk meninjau perkembangan pabrik Fokker. Ternyata jabatan orang itu tidak sembarangan. Dia Dick Wezel, manajer Program Office Fokker 50. Eh, kami diajak juga. Saya menyaksikan bagaimana hormatnya Wezel kepada Wiweko sepanjang perjalanan itu. Setelah Wezel pisah, kami masih diajak oleh Wiweko makan di restoran Jasmijn, restoran Tionghoa yang terkenal di bilangan Amstelveen. Semua itu dilakukan wajar seperti menarik napas saja, tiada sedikit pun gaya meninggi.

Apakah kehebatan berpikir dan bekerja cukup untuk jadi pemimpin di Indonesia? Rupanya tidak cukup, karena Wiweko diberhentikan oleh Suharto dari Garuda pada 1984 tanpa alasan yang masuk akal. Garuda sukses, begitu sukses sehingga dunia penerbangan kaget mendengar Garuda punya uang kontan US$118 juta di bank dan dengan 79 pesawat baru, padahal bertolak dari enam pesawat gaek.

Jelaslah, kehebatan berpikir dan bekerja tidak cukup untuk jadi pemimpin di Indonesia! Lantas apa kekurangan Wiweko? Sungguh saya sudah mau tanya sendiri kepadanya mengenai hal itu kalau tidak teringat komentar Marsillam Simanjuntak tentang paman istrinya ini. Wiweko katanya “fixed and one dimensional man”. Tegasnya, kaku dan picik. Saya mau tanya Soebadio, tapi saya ragu apa dia tahu, sebab sepanjang jalan hanya puji-pujian yang dikemukakannya. Seandainya pun dia tahu, agaknya karena satu dan lain hal tidak mau mengatakannya.

Lalu saya teringat ABN! Ya, ABN. Saya ingat berita sekitar pemogokan para pilot Garuda dulu itu. Bukankah ABN pembela para pilot yang mogok itu? Konon pecah pertengkaran antara Wiweko dan ABN. Sangkin sengitnya, perdebatan itu hanya berakhir dengan sikap “take it or leave it” (EGP, emang gue pikirin). Mungkin sejak itu Wiweko musuhan sama ABN, seperti dengan Jakob Oetama. Mungkin itulah sebabnya yang diajak ketemu Wiweko justru saya, bukan ABN, yang mestinya ikut diajak.

Ketika hal ini saya tanyakan, Soebadio hanya diam seperti tertidur. Di dalam mobil tua saya saat kembali pulang menuju Nieuwegein, kami berdua diam saja, tapi setiba di rumah ABN saya jadi usil. Di hadapan tuan dan nyonya rumah serta Pak Soebadio sendiri, saya bilang: “Kak Ria dan Bang  Buyung bersama saya akan diajak oleh Pak Soebadio ketemu Pak Wiweko besok Selasa sore, 4 April 1989.” Lantas, saya minta diri. Menurut saya, bagaimana Indonesia bisa punya masa depan yang baik jika para pemimpin seperti mereka tidak bisa berlapang dada terhadap satu sama lain.

Aneh juga bahwa Pak Soebadio bersikap tenang saja dengan ulah saya. Baru esoknya, ketika saya datang lagi menjemput, Soebadio mengaku, sebenarnya Wiweko sampai dua kali minta ikut ke rumah ABN. Soebadio tidak menanggapi. Dia ingat perseteruan kedua orang itu lalu pikir lebih baik mereka tidak ketemu dulu. Dia menukangi alasan: Akan ada dua orang yang bermaksud mewawancari dirinya. Tentu bakal tak enak kalau mereka ketemu dengan Wiweko yang mereka tidak kenal. Tadi malam dia berubah pikiran.

Jadi sore hari Selasa 4 April 1989 itu, ketika saya datang menjemput, sudah siap pula ABN dan Kak Ria, bahkan dengan seorang lagi yang membantu penelitian ABN, yakni Yanto Mangundap. Di hotel Hilton lagi-lagi Wiweko sudah menunggu kami di lobby hotel. Lagi-lagi kami diajak makan malam, dan lagi-lagi makan malamnya di restoran Tionghoa Jasmijn. Mobil tua saya yang sudah aus pegasnya dijejali enam orang dewasa, empat di antaranya  dari generasi pemimpin bangsa Indonesia. Pembicaraan berjalan lancar, meski terasa sedikit suasana saling sungkan.

 

Deklarasi Oegstgeet

Tembok Berlin diruntuhkan oleh warga biasa pada 9 November 1989. Satu setengah bulan kemudian, 22 Desember, presiden Rumania, Nicolae Ceauşescu, dan istrinya, lari dari Bucharest karena takut ditangkap oleh warganegaranya. Tepat di hari Natal, 25 Desember, keduanya tertangkap, lalu ditembak mati. Seluruh Eropa Timur bergolak. Rezim-rezim komunis goyah. Dunia guncang, kecuali Indonesia.

Tergerak oleh keadaan ini, pada 15 Desember terjadi pembicaraan telepon segitiga antara saya, Sumartana, dan ABN. Kami bertiga sepakat untuk mengadakan pertemuan sesama mahasiswa di Belanda untuk mengeluarkan semacam deklarasi, manifesto, pernyataan, sekitar perubahan kemasyarakatan Indonesia seirama dengan perubahan kemasyarakatan dunia. Tempat dan hari pertemuan juga disepakati: Oegstgeest (tempat Sumartana) pada 29 Desember.

Pada 23 Desember, saya dengan seorang teman mahasiswa, dr. Sutaryo, pergi menjenguk Rama Mangunwijaya, sekaligus untuk membicarakan rencana Deklarasi Oegstgeest tersebut. Rama Mangun sedang dirawat di RS Bronovo, Den Haag, karena serangan jantung pada awal Desember. Mendengar rencana itu dan siapa saja yang bakal datang, Rama Mangun tampak sangat bersemangat. Dia bilang malah, pernyataan seperti itu mestinya sudah dilakukan jauh lebih dini ketika kegoncangan Eropa Timur baru memperlihatkan gelagat-gelagatnya.

Rupanya usul yang serupa sudah pernah diajukan oleh Rama Mangun kepada sejumlah mahasiswa di Indonesia. Katanya, harus  ada rumusan pandangan mahasiswa tentang  masa depan Indonesia. Percuma protes pejabat ini dan itu, padahal masalah yang dihadapi belum jelas betul dipahami. Konon jawaban mahasiswa: “Yang penting Suharto jatuh!” Rama Mangun: “Kalau Suharto sudah jatuh lantas apa? Suharto tokh hanya bagian kecil masalah Indonesia, apalagi masalah masa depannya.” Mahasiswa: “Merumus-rumuskan itu urusan para cendekiawan. Kami urusan menjatuhkan Suharto. Setelah itu perubahan akan terjadi dengan sendirinya.” Rama Mangun mengaku sangat kecewa. Dunia sedang berubah hebat. Ilmu pengetahuan juga berderap maju. Indonesia, sementara itu tidak memahami ujung-pangkalnya.

Memang, pertemuan di Oegstgeest, 29 Desember, jadi juga dilaksanakan. Namun, sejak awal sudah tampak gejala-gejala kurang lancar. Pertemuan direncanakan mulai pada pukul 15. Saya, Batara Simatupang dan istrinya, sedini mungkin sudah berangkat dari Amsterdam dengan mobil tua saya. Jiwa Batara tetap orang Indonesia, meski dia sudah warganegara Belanda.  Istrinya juga rela menyediakan dua panci lauk ayam dan sayur lodeh untuk pertemuan tersebut. Namun saat kami sampai di tempat Sumartana di Oegstgeest pada jam yang ditentukan, kebanyakan teman yang sudah janji akan hadir belum kelihatan.

Yang bukakan pintu ruang pertemuan juga bukan Sumartana, melainkan Hadidjoyo. Katanya Tono sedang keluar belanja. Di dapur sedang sibuk dua orang meracik gado-gado: Elga Sarapung dan Viva Pasaribu. Untung sebentar kemudian tiba ABN, tapi tanpa istri. Maka pertemuan baru bisa mulai pukul 16.  Yang hadir, selain yang sudah berada di tempat tadi, adalah Tono, Prajarta, Zakaria Ngelow, Chumaidi Syarif Romas, Wilarsa Budiharga, Albert Roring, Rafendi Djamin, Abuprijadi Santoso, dan  Siswa Santoso. Yang tak bisa hadir tapi bersedia ikut menandatangani ialah Agust Rumansara, Mahasin, dan Rama Mangunwijaya.

Sebelumnya sudah disepakagi, setiap peserta mempersiapkan rancangan deklarasi. Namun demikian ketika pertemuan mulai dan rancangan diminta, tidak ada yang menyerahkan. Sebenarnya, diam-diam kita mengharapkan dari ABN, tapi ternyata dia tidak menyerahkan apa-apa. Apa yang terjadi dengan ABN? Bukankah urusan beginian, membuat rumusan bagus dan indah adalah ibarat sarapan pagi baginya? Saya perhatikan sosok ABN. Kesan yang saya dapat mirip dengan waktu yang pertamakali saya ketemu di di Belanda: ABN sedang banyak pikiran!

Saya jadi sempat menduga jangan-jangan saya yang bego menganggap serius urusan ini sehingga mempersiapkan rancangan deklarasi dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak menyerahkannya, daripada awak dianggap menonjolkan diri atau malah membuat teman-teman merasa buruk. Suasana pun berubah sunyi senyap karena tak seorang di antara kami yang coba bergerak. Batuk kek, bersin kek, tidak ada.

Akhirnya Tono coba memimpin pertemuan, tapi topiknya bukan deklarasi, melainkan kabarangin politik dari Indonesia. Pembicaraan mendadak jadi ramai, dan makin ramai saja, makin bersemangat sampai pukul 20. Perut sudah kroncongan, habis musim dingin. Saya pikir, daripada terus begini, mendingan saya serahkan naskah saya kepada Prajarto. Kebetulan dia tetangga Tono. Saya bisikkan kepadanya: Ini naskah kasar. Hanya jika  tidak ada naskah lain sampai saat mau makan, dia boleh menyodorkan naskah saya itu kepada Tono.

Rupanya tidak ada rancangan lain. Prajarto diam-diam bikin fotocopy untuk semua peserta. Sehabis makan, peserta mulai baca. Reaksi beragam, kebanyakan bisa terima dengan perbaikan, tapi ada satu-dua orang yang bilang terlalu mengambang dan kurang konkrit, seperti penggusuran lahan di proyek-proyek pemerintah, termasuk bendungan. Mereka ini tidak perduli meski sudah dikasi  ingat deklarasi tidak untuk protes, tapi untuk menjelaskan perubahan Indonesia di masa dekat dalam pergolakan dunia yang sedang memuncak.

Ada juga usul agar yang dikecam ketakadilan dunia saja, khususnya kesenjangan utara-selatan, bukan ketakadilan dalamnegeri. Saya bilang, jika demikian sifatnya akan sama saja dengan ketakadilan dalamnegeri, yaknik protes. Kita kan tidak sedang protes, tapi sedang memahami pergolakan dunia dan arah yang sebaiknya ditempuh oleh Indonesia. Dalam hati saya pikir, sebagai aktivis atau bekas aktivis, kita tahu apa itu protes. Kita protes, sebenarnya lebih banyak karena ketakbecusan kita sendiri. Lain halnya jika kita belajar mengolah kehidupan diri sendiri agar makin layak menghadapi dunia sekeliling. Perbaikan akan timbul tanpa protes.

Sudah hampir tengah malam di musim dingin. Rupanya sebagian peserta lambat laun sadar, bakal memalukan bila pulang tanpa hasil. Maka dikerjakanlah perbaikan pada naskah rancangan deklarasi satu-satunya yang ada itu. Naskah itu secepatnya diketik langsung di komputer lalu dicetak, kemudian dbuatkan fotocopy dan dibagikan kepada semua peserta. Deklarasi Oegstgeest (terlampir) akhirnya ditandatangai oleh 16 orang, termasuk tiga orang yang tidak bisa hadir (Rama Mangunwijaya, Agust Rumansara, Mahasin), dan kecuali Batara Simatupang yang sudah jadi warganegara asing serta seorang lagi (Chumaidi Syarif Romas) yang terpaksa lebih dini meninggalkan pertemuan.

Naskah Deklarasi Oegstgeest diserahkan kepada Siswa Santoso agar disebarkan ke berbagai media di Indonesia. Belakangan ternyata tidak ada satu pun media yang memuat. Ada yang bilang mungkin saja naskah tersebut tidak disebarkan. Yah, mungkin saja, tapi saya pikir lebih mungkin karena semua media takut memuatnya. Soalnya, saya sendiri mengirim ke suatu media, tapi sekembali di Indonesia saya periksa, media tersebut tidak tahu-menahu tentang naskah tersebut.

ABN masuk rumahsakit

Suatu hari di musim semi tahun 1990 saya dapat kabar ABN terpaksa masuk rumahsakit untuk pelebaran pembuluh darah ke jantung. Sayang, saya tidak ingat lagi apa nama rumahsakit tempat ABN dirawat. Yang jelas, saya teringat pertemuan di Oegstgeest 29 Desember 1989. Waktu itu saya dapat kesan ABN kurang bersemangat, meski bertahan sampai jauh malam untuk merumuskan deklarasi. Mungkinkah sudah ada keluhan waktu itu sehingga bertambah serius karena capek?

Saya segera mengunjunginya di rumahsakit, walau pun waktu itu penulisan disertasi saya sudah mendesak. Ternyata saya menemui ABN segar sekali, kendati  ada pembuluh darah ke jantungnya yang diperlebar. Dia bilang kesehatannya terasa pulih penuh. Saya pun tidak jadi lagi tanya-tanya tentang keluhannya yang mungkin berkaitan dengan pertemuan kami di Oegstgeest, 29 Desember 1989.

 

Bang Buyung di suatu rumahsakit (lupa nama dan alamat) di Amsterdam, mungkin di musim semi 1990. Saya duduk di antara Bang Buyung dan Kak Ria. Berdiri di belakang, Rosita Hasibuan (Ita) dan temannya, yang bantu Bang Buyung dalam menyelesaikan disertasinya.

Bang Buyung di suatu rumahsakit (lupa nama dan alamat) di Amsterdam, mungkin di musim semi 1990. Saya duduk di antara Bang Buyung dan Kak Ria. Berdiri di belakang, Rosita Hasibuan (Ita) dan temannya, yang bantu Bang Buyung dalam menyelesaikan disertasinya.

Yang penting sehat. Kalau orang sehat, tak ada kesulitan yang tak bisa diatasi, sekali pun hidup di negeri asing. Kalau orang tidak sehat, kesulitan beranak pinak, sekali pun hidup di negeri sendiri

Namun tidak urung seperti diperolok nasib rasanya bahwa kami, saya dan ABN, baru berkenalan justru in het land van de overheerser (di negeri penjajah). Ini sekedar menukil judul buku karya Harry A. Poeze yang tersebut di atas. Seperti sudah saya katakan, jilid pertama buku itu khusus menceritakan nasib orang-orang Indonesia yang menginjak Nederland sepanjang masa tiga setengah abad (1600-1950). Di negeri penjajah itulah mereka mencari kebebasan dan kemajuan, termasuk dirawat baik kalau sakit, karena mustahil mendapatkannya di negeri mereka sendiri yang dicengkeram oleh kekuasaan buta dan picik. Mestinya kurun panjang yang ironis itu direntang sampai ke masa rezim Suharto.

Sebenarnya saya ingin juga cerita sedikit kepada ABN mengapa saya baru mengenalnya di negeri orang, tidak semasa di Indonesia. Tapi untuk itu saya musti lebih dulu cerita betapa buruknya pengalaman saya sebagai mahasiswa aktivis. Perlawanan kami terhadap penguasa nyaris jadi barter untuk segelintir dan permainan yang asyik bagi selebihnya. Namun demikian tidak urung aktivis yang serius seperti saya sedikit-banyak tergores juga oleh taring beracun rezim tersebut.

Sekedar contoh: Setelah lulus, pencalonan saya jadi dosen dibatalkan oleh fakultas, konon atas desakan Kopkamtib.  Begitu pindah ke Jakarta, bergabung dengan Grup Diskusi U.I., tautau “Peristiwa Malari” meletus. Samasekali saya tidak paham ujung-pangkalnya. Kebetulan saya sudah dapat beasiswa ke Prancis dan akan berangkat akhir Januari 1974. Karena “Peristiwa Malari” pecah pada 15 Januari, keberangkatan ditunda. Giliran boleh berangkat pada bulan Maret, saya dicekal saat mau naik pesawat sehingga hanya bagasi saya yang sampai ke Le Bourget.  Sebulan saya di-“verhoor” di Jl. Tanah Abang, tidak ditahan sehingga saya harus keluarkan biaya sendiri untuk transportasi dan makan. Giliran berangkat April, lalu berhasil tiba di Paris, empat bulan kemudian saya ditangkap lagi lalu dibawa kembali ke Jakarta.  Giliran September saya kembali ke Paris, rencana studi saya sudah kocar-kacir! Yang konyol, saya dapat banyak petunjuk, keadaan saya berkat laporan palsu teman-teman aktivis.

Semangat perlawanan saya terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang tidak pernah kendor karena semua itu. Yang kendor adalah semangat memelihara hubungan dengan sesama aktivis. Sementara saya belum dapat jalan melaksanakan perlawanan sesuai dengan yang saya yakini, saya menumpahkan perhatian pada belajar, belajar, dan belajar. Kalau belajar dan terus belajar, kapan saya punya kesempatan berkenalan dengan aktivis yang mungkin lebih serius aktivitasnya seperti ABN?

Demikianlah saya memanfaatkan masa belajar saya yang kocar-kacir di Paris untuk memahami serba masalah perubahan sosial di luar program beasiswa. Lamat-lamat saya mulai menyadari bahwa apa yang saya alami bukan kesalahan aktivis orang per orang, tapi akibat masih maraknya jiwa jajahan, jiwa budak, di kalangan masyarakat kita.  Jiwa budak berarti mimpi-mimpi seseorang untuk bisa hidup seperti penguasanya, bahkan penindasnya. Sebaliknya jiwa bebas berarti dorongan besar mengolah kemampuan diri sendiri. Namun setelah timbul kemampuannya, kehadiran orang lain di sekelilingnya merupakan kebutuhan mutlak.  Susahnya, bagaimana kepercayaan tumbuh lagi terhadap orang yang hadir di sekelilingnya itu?

Terus-terang, saya tidak tahu. Belum tahu. Mungkin ABN tahu, tapi kepercayaan saya belum pulih untuk mengenalnya lebih jauh. Mungkin dia bisa menolong, tapi bagaimana bisa saya tahu? Di rumahsakit pun, di tengah ABN dan Kak Ria, saya hanya bisa girang menyaksikan kesembuhannya!

Inilah yang semula hendak saya ceritakan kepada ABN di rumahsakit, tapi tak jadi. Saya sangsi hal itu berguna buat ABN, makanya lebih baik saya simpan sendiri saja. Begitulah saya meninggalkan rumahsakit dengan perasaan campur-baur. Perasaan itu sebagian masih bertahan setelah saya meninggalkan Belanda seusai menyelesaikan disertasi saya. Saya sesekali bertemu dengan ABN, tapi hanya begitu-begitu saja. Mendadak, pagi hari Rebo, 23 September 2015 anak sulung saya memberitahu saya bahwa ABN sudah meninggalkan kita. Berita itu dia lihat di TV, lalu diteruskan kepada saya karena  dia tahu saya sudah lama membunuh TV.

 

Tentang ICMI

Kira-kira minggu kedua Desember 1990, malam hari, saya dapat telepon dari ABN. Dia tanya apa sudah dengar berita tentang berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Saya jawab sudah. Dia tanya bagimana pendapat saya mengenai hal itu. Ah, pikir saya, ini bakal keluar monyet dari lengan bajunya. Dengan rasa siaga saya menjawab, tapi tokh saya bicara dari hati juga, bagus kalau cendekiawan Muslim terbukti bisa kumpul. Hal itu akan mengubah arah sejarah. Maksudnya? Tanya ABN. Saya jawab, karena belum pernah dalam sejarah cendekiawan bisa kumpul sebagai cendekiawan. Mereka tidak pernah kumpul kecuali dalam seminar atau konperensi. Mereka tersebar, sekaligus terhubung rapi dalam jejaring profesi saja.

O begitu. Kalau Abang, tidak setuju dengan adanya ICMI, kata ABN. Lalu  ditambahkannya, namun demikian Abang tidak anti.

Maksudnya? Tanya saya setengah jahil.

Maksudnya, kapan-kapan Abang jelaskan.

Kapan-kapan itu tidak pernah kesampaian sampai ABM meninggalkan kita. Itulah sebabnya, yang  pertama-tama saya cari begitu saya melihat otobiografinya yang tiga jilid, Perjuangan Tanpa Henti (2004), adalah mengenai sikapnya terhadap ICMI. Tentang ini saya uraikan di bawah ini.

 

Epilog

Begitu saya mendengar berita meninggalnya ABN, saya langsung memeriksa apa saja yang bisa menghubungkan saya dengan ABN. Saya buka berkas-berkas di rak dokumen. Saya temukan surat ABN dari Jakarta, 24 November 1992, jadi 20 hari setelah promosi doktornya di Universitas Utrecht. Saya sudah lupa pernah baca surat itu, tapi tidak lupa bahwa saya dan istri saya, Jenny Martina, pergi mengunjungi ABN sekeluarga di tempat mereka tinggal, konon untuk sementara, di suatu rumah di bilangan Cipete, dekat Jl. Antasari sekarang, pada akhir tahun 1992. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa, tapi membaca surat itu saya sangat terharu.

 

deklarasi

Saya periksa rak buku. Sungguh mati saya kaget menemukan buku riwayat hidup ABN yang berjudul Pergulatan Tanpa Henti (Jakarta: Aksara Karuna, 2004) tiga jilid yang dibantu tulis oleh Ramadhan KH dan Nina Pane. Lagi-lagi saya kaget sekaligus sangat menyesal karena tidak pernah membaca buku itu, bukan karena sengaja, tapi karena samasekali tidak menyentuh mandala perhatian saya. Itu berarti saya bahkan tidak pernah memenuhi tuntutan sopan-santun dengan menyatakan terimakasih atas kiriman buku yang ternyata sangat memukau itu, padahal sekali-sekali kami ketemu.

Salah satu yang sangat memukau adalah cerita ABN tentang sikapnya terhadap ICMI, khususnya jilid dua halaman 249-256.  Sejumlah tokoh datang kepadanya di Eropa untuk membujuknya agar mau masuk ICMI, seperti Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Imaduddin, Muslimin Nasution, Bintoro (dubes di Belanda 1990-3), dan Emil Salim.

Mengenai Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Imaduddin, Muslimin Nasution, komentar ABN bersifat umum saja. Mereka semua, katanya, pernah bersama-sama dengannya sebagai aktivis pro-demokrasi dan HAM (Hak Asasi Manusia). Selama itu ABN tidak pernah membeda-bedakan orang menurut golongan mau pun agama, tapi setelah dia tinggal di Belanda, terjadi perpecahan di Indonesia, antara golongan Islam dan non-Islam yang ditandai a.l. dengan berdirinya ICMI.

Setiap kali anggota ICMI mengajaknya bergabung, bahkan sampai menawarkan jabatan pemimpin wilayah (Korwil), ABN selalu bilang “tidak setuju dengan pikiran kalian,” walau pun setuju bekerjasama “menjatuhkan Suharto”. Namun, “dengan sikap kalian yang sektarian, hanya menyatu dengan kelompok agama begini, dengan tema agama, saya tidak setuju.”

Menurut kata-kata ABN kepada saya Desember 1990 itu, dia tidak setuju dengan ICMI, tapi juga tidak anti ICMI! Sikap yang seperti mendua ini kata ABN sesuai dengan ajaran ayahnya, tidak boleh memutus silaturahmi dengan sesama. “Tidak boleh kita memusuhi mereka. Kita berbeda, tidak apa-apa.”

Dubes Bintoro secara khusus mengundang ABN ke kedutaan. Ternyata maksudnya membujuk ABN agar masuk ICMI. Inti bujukan Bintoro: “Kita kan ingin Indonesia maju, tapi bagaimana kalau Islam yang terbesar di Indonesia, yag mayoritas, hidupnya paling miskin.” Inti jawaban ABN: “Pak Bintoro, beginilah ya, coba saya tanya Pak Bintoro, coba tanya hati nurani Pak Bintoro. Kalau saya terima, saya masuk ICMI  dan jadi pimpinan ICMI di Eropa dan strategi itu saya terima bahwa yang kita utamakan adalah golongan Islam yang miskin, yang tertindas, yang teraniaya, lalu saya pulang ke Jakarta, saya umumkan, mulai hari ini LBH/YLBHI saya ubah fungsinya, kita akan terima rakyat Indonesia yang tertindas, yang miskin, teraniaya, tapi hanya yang beragama Islam. Bagaiman Coba?”. Konon Bintoro langsung diam, lalu akhirnya mengatakan: “ Wah, sudah Bang Buyung, saya nyerah deh. Bang Buyung benar, hati saya sama dengan Bang Buyung juga, tapi saya kan pejabat pemerintah, terikat perintah atasan.”

Sebelumnya Emil Salim datang membujuknya, dan sambil bercanda bilang: “ Saya mau bai’at kamu, Buyung, jadi Ketua Korwil seluruh Eropa.” ABN menolak baik-baik dengan alasan yang mirip seperti yang dikatakan  kemudian kepada Bintoro. Nah, Emil Salim menukas keras: “Yung, kalau kau mau menegakkan demokrasi, … memberantas kemiskinan … siapa yang  harus kita utamakan? Siapa sekarang … yang paling miskin? Siapa yang paling terbelakang? Siapa yang paling tertindas? Golongan Islam. “Lantas ABN menjawab tidak kalah keras: “Salah, kau melihatnya hanya satu pihak sih. Aku ini di LBH sudah puluhan tahun Mil. Aku tahu golongan Kristen, Katolik, China, banyak yang menderita juga. Tidak betul, saya tidak setuju. Itu sektarian.”

Membaca semua yang barusan saya nukil menyadarkan saya bahwa kemungkinan besar itulah semua yang hendak dijelaskan oleh ABN kepada saya seandainya saya berani lebih jauh mengenal ABN di Belanda. Ternyata saya tidak bisa melakukannya karena sudah begitu mendalamlah rupanya prasangka saya kepada orang yang berkaitan dengan kekuasaan dan kemashuran. Betul saya boleh sangsi dan curiga terhadap orang-orang seperti itu, tapi tidak harus memutus hubungan dengan mereka.

Namun demikian, sampai sekarang saya tidak yakin kemampuan seperti itu bisa timbul hanya karena nasehat seorang ayah. Nasehat ayah saya juga mirip dengan nasehat ayah ABN. Di atas sudah saya kemukakan nasehata ayah saya: “Hati-hati dengan kekuasaan dan kemashuran. Dua-duanya ibarat api bagi laron.” Jadi ayah saya pun tidak menganjurkan memutus hubungan, tapi hanya hati-hati. Namun, alangkah pedihnya, sikap hati-hati itu baru sampai membuat saya ragu-ragu, bahkan sangsi. Oleh karena itu pasti ada alasan etis yang lebih mendasar daripada nasehat untuk menimbulkan kemampuan seperti itu.

Saya, setiap orang, masih harus mendalami alasan etis yang lebih mendasar itu, tapi untuk sementara ini cukuplah bila saya dapat menaruh perhatian pada pelajaran yang diberikan oleh ABN dengan kepergiannya. Pelajaran itu, yang berupa “sumber inspirasi”, tertera dalam otografnya pada bukunya yang berbunyi sbb.:

tandatangan

Saya lalu memeriksa album-album foto karena saya ingat betul ada foto ABN dan Kak Ria saat mengunjungi kami sekeluarga di Hospitium, Uilenstede, Amstelveen. Saya juga ingat kami sempat makan siang juga waktu itu, karena saya sesumbar bahwa istri saya pintar juga masak seperti Kak Ria. Ternyata foto itu tidak ketemu, mungkin terselip entah di mana karena album-album itu sudah bulukan sehingga foto-foto dicopoti oleh anak perempuan saya tapi belum sempat ditaruh ke album baru. Yang ketemu justru foto saya mengunjungi ABN di rumahsakit, seperti yang sudah ditaruh di atas.

Kembali di rak dokumen, saya juga menemukan salinan naskah resensi yang saya tulis untuk disertasi ABN yang diterbitkan ulang sebagai buku oleh Penerbit Sinar Harapan yang dibubuhi tahun 1992 juga, tetap seperti aslinya dalam bahasa Inggris. Resensi saya itu diterbitkan di Kompas, 7 Maret 1993, halaman 12, dengan judul “Indonesia Menuju Pemerintahan Berkonstitusi: Adnan Buyung Nasution menggugat mitos politik Indonesia”. Saya menulis resensi itu atas permintaan Aristides Katoppo, yang saya lakukan dengan sangat senang hati.

Sesungguhnya saya makin terdorong menuliskan sepercik kenangan ini setelah membaca otograf ABN dalam buku otobiografinya, Perjuangan Tanpa Henti. Saya sadar umur saya pun sudah tidak muda lagi, sudah hampir 70. Kalau saya tidak menuliskan sepercik kenangan ini, apa yang bisa saya tinggalkan guna meneruskan pesan ABN kepada kalangan yang lebih muda agar membaca bukunya supaya dapat “salah satu sumber inspirasi”?

Selamat jalan Bang Buyung, tokoh yang berjuang tanpa henti. Sampai ketemu suatu saat! (Kampung Bulak Timur, Parakitri T. Simbolon, Senin 28 September 2015).■

%d bloggers like this: