Semoga kebanggaan ini tak sia-sia

deskha August 5, 2009 0

Dari Redaksi:

Untuk pertama kali kita memuat tulisan yang berasal dari luar dalam majalah kebangsaan kita ini. Tulisan itu, “Semoga Kebangsaan Ini Tak Sia-sia”, sengaja kami minta dari penulisnya, Hasbi Maulana, wartawan Kontan. Artikel itu disiarkan dalam rubrik “Kopi Sabtu Pagi”, di harian Kontan, Sabtu 1 Agustus 2009, hlm. 1.

Kami berharap para pembaca akan dapat memahami alasan redaksi memuat artikel ini setelah membacanya. Atas kesediaan Hasbi Maulana menyerahkan tulisannya untuk dimuat dalam majalah kebangsaan kita, Zamrud Katulistiwa, marilah kita sama-sama mengucapkan terimakasih.

Semoga Kebanggaan Ini Tak Sia-Sia

Hasbi Maulana

Wartawan KONTAN

Seorang tetangga saya tiba-tiba mengaku bangga menjadi orang Indonesia. Dia tergolong warga negara yang apatis terhadap ide-ide kebangsaan, sehingga pengakuan itu cukup mengejutkan saya.

Ternyata, dia berkisah, kebanggaan itu menyelinap tiba-tiba dalam relung hati saat dia harus berdinas ke Norwegia dan mengunjungi sebuah lokasi pengeboran minyak di bagian paling utara negara itu. Di tengah kebekuan udara bersuhu di bawah nol derajat Celcius karena tak jauh dari Kutub Utara, dia bertemu dengan insinyur-insinyur asal Indonesia yang mengoperasikan pengeboran tersebut. “Orang Indonesia hebat-hebat!” kata dia.

Memang, rasa kebangsaan acap muncul secara tak terduga. Ada juga kerabat yang mengaku tiba-tiba bangga luar biasa pada negeri sendiri, justru saat berwisata ke pegunungan di Thailand Utara. “Gunung Bunder di Bogor jauh lebih yahud!” ujarnya.

Perasaan bangga terhadap negeri sendiri juga bisa menyelinap tiba-tiba tanpa kita pergi ke luar negeri. Beberapa teman merasa “diingatkan” sebagai warga bangsa usai menonton film King dan Garuda di Dadaku musim liburan lalu. Walau berbumbu prihatin, dua film itu mampu menyebabkan mata berlinang air mata haru.

Banyak momentum yang bisa memicu kemunculan rasa bangga kita sebagai warga bangsa. Pasca-peledakan bom di Hotel Marriott dan Ritz Carlton dua pekan lalu, muncul sebuah gerakan virtual yang menamakan diri #Indonesiaunite di situs jejaring sosial Twitter. Walau lebih suka memakai istilah asing untuk menamai diri, gerakan itu mengajak siapa pun orang Indonesia untuk menunjukkan sikap tak takut terhadap teroris dan bangga sebagai orang Indonesia.

Kini, di berbagai milis sedang berseliweran tulisan mengenai keberhasilan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menciptakan roket RX-420. Tanpa kontribusi tenaga ahli asing dan komponen impor, roket itu bisa terbang hingga jarak 190 kilometer. Rasa bangga makin menyembul karena informasi itu dibumbui kisah kekhawatiran negara-negara tetangga kalau-kalau roket itu dijadikan peluru kendali.

Di sisi lain, cukup banyak orang yang tak lagi percaya bahwa isu-isu kebangsaan masih relevan diembuskan saat ini. Umat manusia sedang menghadapi persoalan-persoalan global yang melintasi batas-batas negara. Global warming, penyusutan cadangan minyak, atau penyebaran virus berbahaya tak bisa diatasi dengan nasionalisme. Pemecahan atas masalah-masalah itu justru menuntut penanggalan aksesori kebangsaan seseorang.

Lepas dari setuju atau tidak atas anggapan yang terakhir ini, kebanggaan sebagai bangsa akan sia-sia kalau cuma berhenti di relung hati. Boleh saja kita bangga semakin banyak anak-anak Indonesia yang menjuarai olimpiade matematika atau fisika, tapi sayang sekali kalau kelak mereka harus jauh-jauh menimba minyak ke kutub utara padahal sumur-sumur minyak di negeri sendiri ditimba orang asing.

            Percaya atau tidak, saat KONTAN berdiri 13 tahun silam, penjaga jaringan komputer kami adalah seorang Doktor artificial intelligence! Dia rela mengerjakan tugas remeh itu sembari menanti pekerjaan di sini yang cocok dengan kapasitasnya. Tak kunjung ketemu, sudah lama si Doktor balik bekerja ke Jepang membuat otak robot.■

%d bloggers like this: