Redupnya Kesadaran tentang Persatuan

deskha January 21, 2009 0
Redupnya Kesadaran tentang Persatuan

Redupnya Kesadaran tentang Persatuan

Perpecahan dalam Budi Utomo maupun Sarekat Islam, sebagaimana masing-masing sudah diungkapkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, menunjukkan pola umum perkembangan badan-badan pergerakan kebangsaan kita. Pola umum itu, ibarat menari, pergerakan nasional cenderung menuruti irama gendang pemerintah jajahan. Jangankan melawannya, menganggapnya sebagai hambatan pun hanya timbul di kalangan pergerakan nasional pada masa-masa awal. Tidak lama kemudian, irama gendang tersebut malah diperlakukan sebagai hal yang wajar atau yang seharusnya, sehingga nyaris semua organisasi pergerakan menjadikannya sebagai patokan kerja.

Kesadaran bahwa irama gendang pemerintah itu sebenarnya politik “divide et impera” baru muncul sesudah Perang Dunia I sebagai hasil pemeriksaan yang bersifat nalar, intelektual, dan sedikit-banyak ilmiah oleh beberapa pegiat pergerakan. Sayang, ketika para pelajar Hindia-Belanda sepenuhnya menyadari hal itu, dan menjadikan kesadaran itu sebagai dasar perlawanan sejak awal 1923, perpecahan dalam pergerakan nasional rupanya sudah begitu rupa sehingga tidak mampu lagi menyerapnya. Redupnya kesadaran tentang persatuan tidak berubah sampai Indonesia merdeka.

***

Muhammadiyah dan Roekoen Minahassa bolehlah dianggap merupakan dua contoh organisasi pergerakan yang tidak mau menghadapi kesulitan yang berasal dari sikap pemerintah jajahan. Jadi, berbeda dengan Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij, kedua organisasi tersebut sengaja menghindari lapangan politik. Didirikan di Yogyakarta, 8 Zulhijah 1330 H (18 November 1912), dan di Semarang, 12 Desember 1912, kedua organisasi itu memilih pengajaran sebagai lapangan kegiatan. Muhammadiyah pengajaran Islam modern yang diilhami oleh pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan  Rasyid Rida; Rukun Minahasa pengajaran budaya Minahasa yang diilhami oleh pemikiran Budi Utomo.

Menghindari politik dan memilih pengajaran sebagai lapangan kegiatan ternyata tidak menjamin lenyapnya hambatan dari pihak pemerintah jajahan. Muhammadiyah sudah mengajukan permohonan kepada pemerintah jajahan pada 20 Desember 1912 agar diakui sebagai badan hukum, tapi gagal. Baru pada 22 Agustus 1914 pemerintah mengabulkan permohonan itu, namun dengan status yang serupa dengan Sarekat Islam. Selama berada dalam ketakpastian itu, Muhammadiyah memperkhusus kegiatannya ke bidang persekolahan dan kesehatan.

Permohonan Rukun Minahasa memang segera dikabulkan, tapi nasibnya tidak lebih baik daripada Budi Utomo. Menyadari lesunya perkembangan di lapangan politik, Budi Utomo memperkhusus kegiatannya dengan mendirikan organisasi dana pengajaran, Darmo Woro, 25 Oktober 1913. Tidak lama kemudian, beberapa tokoh masyarakat Minahasa, seperti F. Laoh dan W.J.M. Ratulangi, juga mendirikan Studiefonsvereeniging Minahassa (Perhimpunan Beasiswa Minahasa) pada 9 Desember 1913.

***

Segera saja teladan Darmo Woro dan Perhimpunan Beasiswa Minahasa ramai-ramai diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat di berbagai kota. Masyarakat Ambon di Semarang mendirikan Mena Moeria segera setelah Perhimpunan Beasiswa Minahasa terbentuk. Pada September 1914, masyarakat Sunda mendirikan Pagoejoeban Pasoendan di Batavia. Awal 1918, masyarakat Sumatra mendirikan Sarekat Soematra juga di Batavia; 1920 Persarekatan Madoera di Surabaya dan Sarekat Ambon di Semarang; 1921 Timorsch Verbond (Persatuan Timor) di Makassar; pada 1923 Kaoem Betawi di Batavia.

Tidak hanya itu. Masing-masing organisasi yang bersifat kedaerahan atau kesukuan ini segera membentuk organisasi pemuda. Pada 7 Maret 1915, beberapa tokoh Budi Utomo mendirikan Tri Koro Dharmo di Batavia. Sarekat Sumatra agaknya tidak mau ketinggalan. Pada 9 Desember 1917 berdirilah organisasi pemuda Sarekat Sumatra. Mungkin karena sulit menandingi Tri Koro Darmo dengan nama yang khas Sumatra, organisasi pemuda itu disebut Jong-Sumatranen Bond (JSB).

Ternyata nama dengan embel-embel “Jong” segera menjadi mode. Mungkin karena para pemuda Madura dan Sunda enggan bergabung ke dalam Tri Koro Darmo yang sangat berbau suku Jawa, maka pada Juni 1918 organisasi pemuda itu mengubah nama agar lebih bersifat seluruh pulau menjadi Jong-Java. Demikianlah muncul pula Jong-CelebesJong Ambon.

Tidak hanya itu. Dalam satu dasawarsa, beberapa di antara organisasi tersebut pecah lebih kecil lagi. Pemuda Batak membentuk Jong-Batak, pisah sebagai organisasi dari JSB. Menyusul kemudian, pada 1925, pemuda yang beragama Islam membentuk Jong- Islamieten Bond, pisah sebagai organisasi dari Jong-Java. Sesudah itu muncul Hatopan Christen Batak berdasarkan agama Kristen, sebagai organisasi pisah dari Jong-Batak. ■(Parakitri T. Simbolon, 21 Januari 2009).

%d bloggers like this: