Quo vadis Keindonesiaan

deskha May 26, 2011 0
Quo vadis Keindonesiaan

Dari Redaksi:

Dalam artikel sebelum ini, “Seandainya Presiden Indonesia Malaikat”,disinggung beberapa teori mutahkir seperti fractal, chaos, complexity. Berikut ini adalah tulisan dari 22 September 1998, jadi tepat pada awal kemelut multi-dimensi yang menimpa bangsa kita. Dalam tulisan ini dicoba menerapkan salah satu teori mutakhir itu, yakni memetics atau memetika, untuk memahami masalah keindonesiaan. Sayang hampir tidak ada tanggapan dari pendengar waktu itu, mungkin karena teorinya masih baru.

Selamat membaca. 

 

 

 

QUO VADIS KEINDONESIAAN: SUATU PENJELASAN MEMETIKA

Oleh Parakitri T. Simbolon

Pengantar Diskusi FIM (Forum Indonesia Muda)

22 September 1998, Gedung Kompas-Gramedia, Jl. Palmerah Selatan, Jakarta

Hubungan antara orang (national)

dan kebangsaan (nationhood)-nya

adalah ibarat pertalian antara kucing dan kutunya.

 

“Kutuku” kata sang Kucing.

“Kucingku” kata sang Kutu.

 

Manakah dari keduanya yang lebih betul?

 

Biasanya, yang pertama dianggap lebih betul.

Aku sendiri cenderung menganggap dua-duanya betul.

 

Namun kali ini, kuberi kesempatan pada yang terakhir.

 

For everything is imagining after all!

 

 

Pengantar

 

Dalam tulisan ini, pertama-tama saya akan coba memperjelas masalah yang diajukan oleh panitia untuk saya bahas, yaitu sekitar “Keindonesiaan: Antara Keragaman dan Keseragaman”.  Masalah ini perlu diperjelas karena bukankah sering dikatakan bahwa separo jawaban sebenarnya sudah tersedia dalam rumusan persoalan yang jelas?

 

 

Dengan penjelasan tersebut kita semua akan melihat bahwa persoalan yang diajukan oleh panitia memang berubah di tangan saya. Berbeda dengan rumusan panitia, saya berpendapat, dulu pun, “ide keindonesiaan”  tidak “mendorong seluruh etnis” di Nusantara untuk “meng-identifikasikan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia”. Masa dulu di sini saya batasi antara 15 Oktober 1813 sampai 17 Agustus 1950 karena menurut saya, “ide keindonesiaan” sudah timbul sejak pemerintahan Raffles menegaskan bahwa kepentingan rakyat jajahan harus menjadi pertimbangan utama dalam pemerintahan. Ide tersebut mencapai puncak perwujudannya setelah negara kesatuan Republik Indonesia dikukuhkan dengan pengakuan kedaulatan lalu kembali jadi negara kesatuan pada 17 Agustus 1950. Selama masa 137 tahun itu, tidak terhitung jumlah penyelewengan dari, bahkan perlawanan terhadap, ide kebangsaan tersebut dari pihak rakyat Nusantara sendiri. Penyelewengan tersebut begitu banyak, dan perlawanan begitu kuat, sehingga “ide keindonesiaan” boleh disebut lulus seleksi budaya yang sangat ketat.

Dengana alasan yang sama Anda sekalian tentu bisa menduga jawaban saya terhadap pertanyaan panitia, “[M]engapa belakangan ini … di beberapa daerah muncul keinginan untuk menafikan keindonesiaan?” Gejala ini tidak harus berarti bahwa “ide keindonesiaan” sedang pudar, tetapi sangat boleh jadi sebaliknya, justru semakin kuat mencekam.

Dirumuskan lain, saya sampai pada pendapat bahwa perlawanan, bahkan penolakan, terhadap kesatuan bangsa Indonesia, justru sangat boleh jadi merupakan pertanda bahwa “ide keindonesiaan” sama kuat dengan dulu, kalau bukan lebih kuat. Mengapa bisa demikian, dan apa yang terjadi sebenarnya akan jelas nanti. Yang perlu saya katakan sekarang, persoalan yang diajukan oleh panitia itu saya coba jelaskan dengan pendekatan yang berbeda samasekali daripada yang pernah kita tahu. Pendekatan itu dikenal sebagai memetika (memetics). Intinya tersirat dalam epigram yang mengawali tulisan ini.

 

Masalah kita

 

“Faktor-faktor apa yang [menyebabkan] munculnya ide keindonesiaan …? Mengapa wacana itu pada masa lalu memiliki daya pikat yang cukup kuat … mendorong seluruh etnis di seluruh … Nusantara secara sukarela mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia? Sebaliknya … mengapa belakangan ini … di beberapa daerah muncul keinginan untuk menafikan keindonesiaan? … [B]agaimana merefleksikan konsep keindonesiaan dalam konteks kehidupan yang akan datang [ketika] faktor-faktor internasional semakin memainkan peranan penting?”

Demikianlah masalah keindonesiaan diuraikan oleh teman-teman dari Panitia Pelaksana Diskusi FIM atau Forum Indonesia Muda (E. Shobirin Nadj, Abdul Mun’im DZ, Rahadi T. Wiratama) untuk kita bahas dan jawab bersama-sama. Dengan senang hati saya terima tugas ikut membahas dan menjawabnya, karena rangkaian pertanyaan tersebut menurut saya sangat menantang.

Betapa tidak. Kalau menjawabnya dengan penjelasan-penjelasan klasik, kita akan segera merasakan kesulitan-kesulitan mendasar. Dengan penjelasan klasik tentu kita sedikitnya harus merujuk Otto Bauer atau Ernest Renan. Kita tahu, Otto Bauer menjelaskan bangsa sebagai suatu persamaan tabiat yang tumbuh karena rasa senasib sepenanggungan (“eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft”. Jadi, keindonesiaan muncul karena rakyat Hindia-Belanda dulu merasa senasib sepenanggungan di bawah penjajahan. Jika sekarang muncul keinginan di beberapa daerah yang menafikan “ide” tersebut, maka hal itu tentulah karena kita sekarang tidak lagi merasa senasib sepenanggungan. Kita cenderung semakin mengabdi kepentingan sendiri dengan rakus, lebih sibuk mencemaskan nasib masing-masing.

 

Demikian juga halnya dengan penjelasan Ernest Renan. Menurut dia, suatu bangsa tidak lain tidak bukan adalah hasrat untuk hidup bersama (“le désir d’être ensemble”). Nah, ide kebangsaan Indonesia muncul ketika di kalangan penduduk Hindia Belanda berkobar hasrat untuk hidup bersama. Sekarang, jika benar anggapan bahwa keindonesiaan sedang mulai ditolak, tentu karena hasrat untuk hidup bersama di antara kita sudah mulai padam.

Jawaban ini memang sederhana, sesederhana persoalannya, akan tetapi justru oleh sebab itu kita tahu dengan jelas bahwa jawaban tersebut tidak memuaskan. Jawaban itu bersifat melingkar (tautologis). Di dalam jawabannya terkandung pertanyaan yang pada dasarnya sama dengan yang seharusnya dijawab. Berkaitan dengan penjelasan Otto Bauer, misalnya, timbul pertanyaan baru, bagaimana bisa suatu bangsa, yang merupakan persamaan watak sebagai akibat rasa senasib sepenanggungan itu, lantas kehilangan rasa tersebut? Bukankah hal ini yang justru merupakan masalah sejak awal? Dengan jawaban berdasarkan teori Ernest Renan, kesulitan yang timbul setali tiga uang. Mengapa “le désir d’être ensemble” pudar sekarang ini? Apakah proses ini merupakan kodrat masyarakat, mirip siklus ekonomi menurut paham para ekonom, atau terjadi karena sebab-sebab yang tidak terduga?

Akan tetapi lebih daripada jawaban yang tidak memadai ini, masalah itu sendiri, sebagaimana yang diajukan oleh panitia, bisa juga kurang memadai. Apakah betul, misalnya, bahwa dulu rasa kebangsaan pada masa lalu “memiliki daya pikat yang cukup kuat … mendorong seluruh etnis di seluruh … Nusantara secara sukarela mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia”?

Sejak “ide keindonesiaan” muncul pada 15 Oktober 1813 sebagai benih kecil dalam bentuk pengakuan atas pentingnya kesejahteraan rakyat jajahan sampai politik etis dicanangkan pada 17 September 1901, sedikitnya lima kali “ide” tersebut memar sebelum mekar. Inti gagasan itu adalah pemerintahan langsung demi kemakmuran rakyat.

Pertama-tama, Raffles sendiri gagal melaksanakan gagasan itu karena pejabat-pejabat Eropa dan Bumiputra ternyata hanya mampu memerintah dengan sewenang-wenang (memanipulasi pajak). Sesudah itu, Nusantara resmi berada langsung di bawah kerajaan Belanda, lalu mulai resmi disebut Hindia-Belanda (Nederlandsch Indië) dengan keluarnyaRegeringsreglement (RR) pada 3 Januari 1815. Dengan RR tersebut, raja Belanda, Willem I, hendak meneruskan gagasan Raffles. Namun,  Komisi Jenderal (utusan Raja Willem) yang dipimpin oleh Cornelis Theodore Elout berpendapat lain. Komisi menganggap kondisi yang dihadapi oleh Raffles belum berubah. Oleh karena itu pada 22 Desember 1818, Komisi mengeluarkan RR baru yang mengukuhkan sistem pemerintahan tidak langsung, jadi tetap membiarkan penguasa Bumiputra bebas menghisap darah rakyat mereka sendiri.

Ternyata di tangan gubernur jenderal Van der Capellen yang menggantikan Komisi Jenderal, bukan hanya darah rakyat yang dihisap, tetapi juga darah penguasa Bumiputra, sehingga pecahlah pemberontakan Pangeran Diponegoro (20 Juli 1825-23 Maret 1830). Pengganti van der Capelleh, Du Bus de Gisignies, berencana membentuk pemerintahan yang mementingkan kesejahteraan rakyat dengan RR baru yang resmi diumumkan pada 30 Agustus 1827. Namun, rencana ini tidak direstui oleh Raja Belanda. Sebaliknya Raja bertekad menjadikan Nusantara, khususnya Jawa, sebagai kebun pribadi yang harus diperas habis di bawah Van den Bosch. Rencana Bosch diresmikan lewat RR 19 Januari 1830, dan segera terkenal dengan Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem penghisapan yang luar biasa ini coba dipoles dengan RR 2 September 1854 yang liberal, akan tetapi karena tidak punya UU pelaksanaan, sistem lama terus berlaku sedikitnya sampai pada 1870. Sayang sistem yang liberal pun kemudian ternyata tidak lebih baik bagi rakyat jajahan.

 

“Ide keindonesiaan” ala Politik Etis ditolak mentah-mentah oleh pelopor pergerakan kemerdekaan ketika Indonesische Vereeniging mencanangkan prinsip perjuangannya yang baru pada 3 Maret 1923 di Nederland. Prinsip perjuangan itu, “Masa depan Bangsa Indonesia (het volk van Indonesië) sepenuhnya tergantung pada susunan pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat” yang harus dicapai “door eigen kracht en eigen kunnen”, dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Pada tahap ini, “ide keindonesiaan” merupakan varian baru yang memadukan “bangsa” dan “negara”. Varian ini mencapai puncak perwujudannya dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, akan tetapi ini pun tidak serta-merta diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada 25 Maret 1947, dengan Perjanjian Linggajati, Belanda berhasil melahirkan varian baru lagi, yaitu paduan antara “bangsa” dan “negara”, tetapi negara yang berdampingan dengan kekuasaan penjajah dalam bentuk federasi dan uni.

Pendek cerita, “ide keindonesiaan” telah melahirkan tiga varian pokok selama 137 tahun; suatu bangsa yang sepenuhnya ciptaan Belanda; paduan antara bangsa dan negara yang berdampingan dengan Belanda;  dan paduan antara bangsa dan negara yang sepenuhnya berdaulat. Dirumuskan lain, jangan-jangan “ide keindonesiaan” tidak sama dengan “bangsa Indonesia”, dan “bangsa Indonesia” tidak sama dengan “negara-bangsa Indonesia”. Jangan-jangan ketiganya bukan sekedar aspek dari satu fenomenon, melainkan tiga fenomena yang berbeda. Jangan-jangan yang dinafikan belakangan ini bukan dua fenomena tersebut lebih dulu, melainkan cuma yang tersebut terakhir. Namun demikian, seandainya ketiga fenomena yang tersebut barusan memang berbeda satu sama lain, bagaimana membedakannya? Apakah perbedaan itu sedemikian penting sehingga menolak salah satu tidak dengan sendirinya berarti menolak yang lain?

Anda lihat, masalah kita sudah jauh lebih rumit. Pengertian lama sudah tidak cukup kuat untuk menjawabnya. Oleh karena itu, sebelum kita memasuki penjelasan berdasarkanmemetika (memetics), ada baiknya kita beralih lebih dulu pada upaya lain yang sangat brilian untuk menejelaskan masalah kebangsaan ini.

 

Imagined Communities

 

Keindonesiaan memang sudah sejak dulu coba ditolak oleh berbagai pihak, dan kalau hal yang serupa terjadi sekarang, itu bukan cerita baru, juga bukan serta-merta berarti makin lemahnya keindonesiaan, akan tetapi boleh jadi sebaliknya! Argumen bahwa rasa kebangsaan tetap kuat ketika banyak yang menyatakan sebaliknya, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, dapat kita baca dalam telaah yang sangat bagus oleh Benedict Anderson,Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso, 1983/87).

Anderson menulis kajian itu dengan tujuan “to offer some tentative suggestions for a more satisfactory interpretation of the ‘anomaly’ of nationalism.” (Hlm. 13). Kejanggalan (anomaly) ide kebangsaan (nationalism, nationness) muncul antara lain ketika Cina, Vietnam, dan Kamboja berperang satu sama lain pada 1978 dan 1979. Pemerintahan di ketiga negeri itu sama-sama berdasarkan Marxisme yang mengabaikan kebangsaan, namun perang tersebut dilancarkan bukan dengan dalih-dalih berbau Marxisme, melainkan semata-mata berdasarkan kepentingan nasional.

Titik tolak interpretasi Anderson adalah bahwa “nation-ness, as well as nationalism, are cultural artefacts of a particular kind.” Itu berarti, nation-ness bukan kata benda konkrit semisalAge, atau Ideology, jadi  lebih mirip dengan kinship atau religion daripada liberalism ataufascism. Dirumuskan secara antropologis, “it is an imagined political community — and imagined as both inherently limited and sovereign.”  Walau pun demikian, imagined bukan berarti dibuat-buat, direka-reka, yang sebenarnya tidak ada, akan tetapi ada karena dibentuk, dibina, dan dihidupkan dalam khayal, hati, serta pikiran. Untuk memahaminya, perlu diperiksa bagaimana gejala tersebut timbul dalam sejarah, bagaimana maknanya berubah-ubah sepanjang masa, dan mengapa dewasa ini mampu menjadi dasar legitimasi emosional yang sangat mendalam. (Hlm. 13).

 

Masuk akal bahwa Anderson mengusut asal-usul ide kebangsaan sampai jauh ke akar-akar budaya. Sifat ide kebangsaan yang khayali (imagining) itu digambarkan antara lain dengan perlambang agung kebangsaan, yaitu makam pahlawan tak dikenal. Tidak saja orang tidak tahu siapa yang dikubur di sana, tetapi terlebih bahwa makam itu memang kosong, dan seharusnya kosong. Dengan demikian dasarnya hanyalah kepercayaan umum, bukan tidak mirip dengan agama. Kepercayaan ini, ide kebangsaan ini, menyebar semakin luas ketika hasil lain kebudayaan dapat berfungsi sebagai sarana penyebarannya. Menjadi sarana inilah yang terjadi dengan peranan teknologi percetakan pada Abad XV. Buku-buku yang dicetak kala itu berbahasa lokal (vernacular) seperti Prancis, Italia, Inggeris, setelah lebih dulu didominasi oleh bahasa “kebenaran” dan “religius” (sacred, truth language) seperti Ibrani, Latin, atau Arab, yang semuanya bersifat umum. Bahasa lokal, bahasa percakapan sehari-hari (vernacular) menjadi ramuan inti dalam rasa kebangsaan.

 

As already noted, at least 20,000,000, books had already been printed by 1500, signalling the onset of Benjamin’s ‘age of mechanical reproduction.’ […] If, […]possibly as many as 200,000,000 volumes had been manufactured by 1600, it is no wonder that Francis Bacon believed that print had changed ‘the appearance and state of the world.” (Anderson, 1983/87: hlm 41).

 

Aneh, tapi nyata, uraian, argumen, dan istilah-istilah, yang digunakan oleh Anderson sangat berbau teori evolusi Darwin (evolusi lewat seleksi alam), khususnya memetika. Pastilah telaah Anderson ini akan diterima sebagai risalah memetika, seandainya ia tidak menyangkal hal itu. Anderson menegaskan, misalnya, bahwa “[t]he great weakness of all evolutionary … styles of thought, […] is that such questions [the contingency of life] are answered with impatient silence.” (Hlm. 18). Maksudnya saya kira, teori evolusi tidak mengandung perasaan religius, sehingga tidak cocok menjelaskan gejala kebangsaan. Persangkaan ini tentu jelas keliru terlebih jika dihubungkan dengan tahap perkembangan teori evolusi Darwin sekarang. Anggapan bahwa perasaan religius harus hilang manakala orang bersedia mempertimbangkan teori evolusi Darwin sudah sering dibantah oleh hasil penelitian mutakhir mengenai teori Darwin. Dalam konteks perkembangan teori evolusi Darwin juga keliru saya kira apa yang kemudian dikatakan oleh Anderson bahwa “[a]gain, the disadvantage of evolutionary […] thought is an almost Heraclitean hostility to any idea of continuity.” (Hlm. 19).

Namun yang menjadi masalah dengan telaah Anderson ini bukanlah penyangkalan tersebut, melainkan anggapan dasar bahwa imagining merupakan ciri khusus gejala kebangsaan. Nyatanya tidak demikian, sedikitnya menurut penegasan di dalam teori evolusi sosial-budaya (memetics). Semua perasaan, gagasan, pikiran, dan pengertian tentang semesta dan kehidupan ini adalah imagining pada dasarnya. Bahkan dugaan, hipotesis, dan teori ilmiah adalah imagining. Apa yang disebut benda padat (solid) dalam fisika kemudian ternyata cuma terdiri dari ruang kosong.  Terlebih imagining lagi segala teori dan perhitungan mengenai fisika modern yang bernama fisika kuantum. Jadi, everything is imagining after all, sehingga kita patut lebih terbuka terhadap uraian berikut ini.

 

Jika keindonesiaan adalah suatu meme

 

 

Jika Anderson betul bahwa “kebangsaan” seperti “ide keindonesiaan” adalah ciptaan kebudayaan (cultural artefact), yang dibentuk dan dihidupkan dalam hati, khayal, dan pikiran (imagining), maka itulah persis yang dalam teori memetika (memetics) disebut mem (meme). Teori-teori mengenai mem berkembang dengan pesat selama 1990-an, sekali pun pemicunya sudah muncul pada 1976, ketika  biolog Universitas Oxford, Richard Dawkins, memperkenalkan konsep mem dalam bukunya The Selfish Gene. Sebagai penafsir terkemuka teori evolusi Darwin, Dawkins menganggap teori tersebut terlalu luas untuk dibatasi hanya pada peranan gen(gene). Menurut dia, proses evolusi sudah berlangsung begitu jauh sehingga teori Darwin sudah harus juga mencakup evolusi di luar biologi, seperti sosial-budaya umumnya, bahasa khususnya. Sebagaimana gen dalam evolusi biologi, demikian jugalah mem berperanan di dalam evolusi sosial-budaya. Dua-duanya sama-sama berfungsi sebagai pengganda diri sendiri (replicator), akan tetapi dibandingkan dengan gen, mem baru muncul jauh belakangan. Kendati demikian, kecepatan penggandaan mem jauh melampui gen.

Kendati pada mulanya mem muncul dan berkembang-biak di dalam otak manusia, dan otak manusia adalah hasil evolusi gen, mem tidak harus dijelaskan dengan teori-teori genetika. Alasannya, dalam proses evolusi diketahui, sekali memperoleh lingkungan biologis yang cocok untuk berkembang, suatu replicator serta-merta akan berevolusi sendiri sesuai dengan kepentingannya, lepas dari keperluan lingkungannya itu. Demikian juga halnya denganreplicator yang jelas sudah berbeda, seperti meme dan gen. Dalam lingkungan sosial-budaya, maka mem menciptakan evolusinya sendiri lepas dari evolusi lain, dan juga lepas dari kepentingan lingkungan sosial-budayanya  itu.

Walau pun berbeda jenis, sifat-sifat dasar gen dan mem tetaplah serupa sebagaireplicator. Keduanya sama-sama mementingkan diri sendiri (selfish). Sebagaimana gen adalah unit perubahan biologis, maka mem sebagai unit perubahan sosial-budaya bergerak “mengejar” suksesnya sendiri, tidak perduli dengan kepentingan jaringan tubuh atau orang per orang atau masyarakat tempatnya berada (host). Jika perlu,  host itu dirusak demi sukses mem, sebagaimana halnya dengan gen. Sukes mem sama dengan sukses gen, terdiri dari tiga macam, yaitu usia sepanjang-panjangnya (longevity), tersebar seluas-luasnya (fecundity), dan keturunan seasli-aslinya (copying fidelity).

Jika gen mengambil bentuk zat dalam molekul asam amino yang semuanya terbungkus oleh sel, lantas bagaimanakah bentuk mem? Dawkins menyebut beberapa contoh mem: lagu, ungkapan, pakaian, mode, cara membuat gerabah, gagasan, kepercayaan, keyakinan, dsb. Ingat penggalan lagu Si Gembala Sapi (Dawkins: Auld Lang Syne)? Nah, penggalan lagu itu adalah suatu mem. Ingat seluruh lagu itu, nah, seluruh lagu itu juga mem. Kepercayaan kepada Tuhan YME, juga mem. Gagasan bahwa setiap orang dilahirkan sederajat, juga adalah mem. Keyakinan bahwa wanita harus tunduk kepada lelaki, juga mem. “Ide keindonesiaan” atau kebangsaan atau nasionalisme juga adalah meme. Pendeknya, mem adalah unit informasi yang dapat pindah dari satu benak ke benak lain, lalu mempengaruhi sikap dan perbuatan pemilik benak itu. Teori-teori lanjutan, seperti yang dikembangkan oleh Durham, Boyd, Richerson, Daniel Dennett, Richard Brodie, Glenn Grant, Agner Fog, dsb., memperkenalkan kompleksitas mem, seperti  co-meme, auto-toxic, exo-toxic, bait, belief-space, censorship, host, ideosphere, dsb.

Berbeda dari gen, mem adalah ciptaan manusia. Richard Brodie (The Virus of the Mind: The New Science of the Meme, 1996) misalnya, membagi semua mem dalam tiga jenis:distinction meme, strategy meme, dan association meme. Bangsa Indonesia amat ramah-tamah atau Orde Baru berhasil membangun atau si A orang kaya tetapi si B orang miskin, nah itu semua merupakan distinction meme. “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”, atau jika kerja keras engkau akan sukses, atau kalau mau selamat di jalan raya perhatikan lampu lalulintas, itulah strategy meme. Dengar nama Datuk Meringgih teringat lelaki tua hidung belang, menyaksikan pegunungan dengan pohon pinus Anda jadi terharu, terdengar nama “Soeharto” tergambar KKN, nah itulah association meme.

 

Bagaimana segala macam mem beranak-pinak di kepala setiap orang, lalu menyebar ke kepala orang lain dan mempengaruhi sikap serta tindakan sosial-budaya orang itu merupakan salah satu pokok uraian memetics. Tidak mungkin menguraikannya dengan memadai di sini. Namun demikian, garis besar peranan mem itu dapat dikatakan sbb.

Mem berkembang untuk mencapai tri-suksesnya sendiri (longevity, fecundity, dancopying fidelity), tanpa menghiraukan kepentingan manusia yang benaknya dimanfaatkan. Inilah yang dapat menjelaskan mengapa film berisi kekerasan, misalnya, terus saja diproduksi dan dinikmati, kendati setiap orang mengakui bahayanya; atau penguasa tidak mencapai maksudnya kendati dia sendiri yang mengendalikan informasi; atau “ide keindonesiaan” tetap berkobar justru ketika makin nyaring suara menentangnya.

Di pandang dari sudut gen atau mem, manusia (baca: otaknya) sebenarnya berfungsi sama dengan tanaman dan hewan (host), yakni cuma sekedar mesin penopang hidup (survival machine) bagi replicator bernama gen dan mem. Gen memanfaatkan host (tanaman, hewan, manusia) demi kepentingannya sendiri, sekali pun harus menimbulkan penyakit buat host itu. Demikian juga halnya dengan mem.

Ada tiga jalur utama yang digunakan oleh mem menulari benak kita: pengulangan (repetition), kesenjangan (cognitive dissonance), dan pemboncengan (free riding). Indoktrinasi dan iklan, misalnya, termasuk repetition. Ketegangan dan pertentangan nilai, lain di mulut lain di hati, ketidak-adilan, pokoknya segala yang mengganggu ketenangan hati, termasukcognitive dissonance.  Segala gagasan  yang menunggangi (bait) naluri kita tergolong ke dalam free riding. Naluri kita itu, yang perkembangannya masih pada tahap evolusi biologis, ada empat. Agar gampang diingat, sebut saja empat f, yaitu: feeding, fucking, fighting, danfleeing. Keempat naluri itu sebenarnya berfungsi khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup (survival) sang replicator, gen mau pun mem. Hanya dalam fungsi itulah sesungguhnya kelangsungan hidup host diperlukan.

Karena semua mem menggunakan tiga jalur utama ini, maka praktis semua mem bersaing untuk meraih fitness atau trisukses (longevity, fecundity, copying fidelity). Persaingan tidak terhindarkan juga karena kemampuan host untuk menampung mem (belief space) terbatas. Bagi gen, persaingan itu disebut natural selection. Bagi mem, cultural selection.

Salah satu teori mengenai cultural selection diajukan oleh Agner Fog, yang disebutnyaCultural r/k Selection.  Teori ini merupakan analogi seleksi biologis. Dalam evolusi biologis, seleksi r terjadi berdasarkan laju reproduksi, sedang seleksi k terjadi berdasarkan tingkat daya dukung lingkungan (carrying capacity). Jika sejenis hewan hidup di suatu tempat dengan sumberdaya yang melimpah sehingga sangat mungkin untuk berkembang biak, akan tetapi sekaligus dikelilingi bahaya pemangsa (predator), maka hewan itu cenderung akan beranak-pinak sebanyak-banyaknya. Jika anaknya mati seribu, masih bisa tinggal satu, alias seleksi r. Sebaliknya jika hewan itu hidup di suatu tempat dengan sumber-daya yang terbatas, maka sang hewan akan cenderung mengutamakan mutu turunannya. Biar sedikit anak tetapi semua fit, alias seleksi k.

Dalam seleksi sosial budaya r/k, jika ruang gagasan (belief space) di tempat suatu mem berkiprah (host) cukup longgar dan menunjang, tetapi lingkungan yang lebih luas (ideosphere) mengandung banyak mem saingan atau ancaman,  maka masuk akal jika mem itu akan cenderung  mengutamakan fecundity dengan meningkatkan laju reproduksi (r). Agner Fog menyebutnya regal selection. Saya membayangkan “ide keindonesiaan” selama masa penjajahan berkembang dengan kondisi seperti ini.

 

Sebaliknya, jika belief space pada suatu host sudah sesak, maka mem akan mengutamakan mutu sehingga ruang sesak itu tetap mampu menunjang perkembangannya. Agner Fog menyebutnya kalyptic selection. Mutu tentu menyangkut kemampuan adaptasi mem. Jika persoalan yang dominan adalah merebut ruang hidup di dalam belief space, maka kemungkinan besar mem akan meningkatkan daya adaptasi dalam relung (niche) kecil yang ada di sana. Jika persoalan yang dominan adalah menghadapi lingkungan luar, maka yang digenjot tentulah kemampuan adaptasi umum (general adaptability). Saya pikir kedua kondisi inilah yang dihadapi oleh “ide keindonesiaan” dewasa ini.

Jenis mutu mana pun yang dipilih dalam kalyptic selection, tingkat mutu itu akan tercermin dalam dua kemampuan utama mem untuk berkembang, yaitu menemukan arah (fitness determinant) dan mencapai kecepatan (fitness mechanism). Agner Fog memberi contoh. Di dalam dunia bisnis, suatu kali timbul mem yakni bahwa persaingan terjadi di bidang harga produksi. Ini berarti bahwa arah persaingan tertuju pada produksi yang semurah-murahnya. Produksi paling murah merupakan fitness determinant. Nah, suatu perusahaan bisa menguasai sumber-daya murah, tetapi perusahaan lain memilih manajemen kreatif dengan sumber-daya yang sama murahnya. Pengusaha tersebut belakangan ini akan berkembang lebih cepat. Pilihan atas kombinasi manajemen kreatif dan sumber-daya murah merupakan fitness mechanism.

Sebelum uraian singkat ini diakhiri, perlu kita ingatkan bahwa meski berbeda, evolusi sosial-budaya dan evolusi biologis tidaklah terpisah. Adam Westoby memberi contoh yang bagus, yaitu jeruk manis. Karena persaingan yang ketat di dunia, kemasan jeruk manis harus bermutu tinggi, dan jeruk manis yang ditaruh di dalamnya harus dipilih berdasarkan ukuran yang ketat. Proses ini termasuk seleksi sosial-budaya. Namun demikian, pengusaha yang hendak memenuhi standar mutu ini akan bangkrut jika jeruk itu sendiri kurang bermutu, misalnya kebanyakan biji. Untuk menghasilkan jeruk tanpa biji, tentu perlu rekayasa biologis. Di sini terjadi seleksi biologis.

Contoh lain, dari Agner Fog lagi, tentang peredaran tembakau. Dengan segala kemasan dan iklan besar-besaran kebiasaan merokok tersebar luas (seleksi sosial-budaya). Namun demikian, pencandu tembakau diketahui sering menderita kelemahan reproduksi, sehingga peluang menurunkan anak yang sehat rendah. Ini berarti, seleksi biologis menghambat penyebaran kebiasaan merokok dengan caranya sendiri.

Ada lagi hal teramat penting yang tidak boleh dilupakan. Walau pun gen dan mem mementingkan diri sendiri, sehingga host (tumbuhan, hewan, manusia) dijadikan mesin penopang hidupnya belaka, manusia dalam hal ini menempati kedudukan yang istimewa. Berbeda dengan tanaman dan hewan, manusia telah sampai pada tahap evolusi yang begitu jauh sehingga dia mampu menyadari diri sendiri maupun perasaan dan pikiran sendiri (self reflectiondan self awareness). Dengan kemampuan seperti itu manusia dapat merasakan, menyadari, mengetahui, dan karena itu mengatasi mem. Manusia dapat membedakan mana mem yang merusak mau pun yang meningkatkan maslahat diri sendiri. Dengan demikian manusia juga dapat membentuk dan mengembangkan mem yang sesuai dengan kesejahteraannya, dan mengendalikan mem yang merugikannya.

Inilah sosok memetics selayang pandang. Berdasarkan itulah saya hendak menjelaskan masalah kita di dalam diskusi FIM ini. Saya seolah-olah melihat masalah persatuan Indonesia dari sudut pandang dan kepentingan mem yang bernama “ide keindonesiaan”.

 

 

 

Quo Vadis Kebangsaan Indonesia

 

Saya pikir, “ide keindonesiaan” telah menjadi mem yang sangat kompleks dewasa ini. Kompleks berarti berkembang sudah sangat jauh dari gagasan “ide keindonesiaan” versi Indonesische Vereeniging, 3 Maret 1923. Sangat jauh karena dalam perkembangannya, mem tersebut tidak hanya telah menurunkan banyak varian, tapi terlebih sudah berkali-kali mengubahfitness determinant dan fitness mechanism.

 

Seperti sudah disinggung di atas, dalam rumusan “ide keindonesiaan” Indonesische Vereeniging dulu, “eigen kracht en eigen kunnen” ditetapkan sebagai fitness determinant untuk mencapai “Bangsa Indonesia dengan susunan pemerintahan berdasarkan kedaulatan rakyat”. Hal ini masuk akal jika diingat bahwa para pelajar Indonesia di Belanda waktu itu memang tidak punya apa-apa selain eigen kracht en kunnen. Keadaan itu digambarkan secara mengharukan oleh Ahmad Soebardjo Djoyoadiuryo (Peranan Ide-ide dalam Gerakan Kemerdekaan Indonesia, 1977).

 

“Hidup di tengah-tengah masyarakat asing dan sebagai pelajar bujangan berdiam di suatu kamar dalam ruangan kecil tanpa pekarangan yang disewa bulanan tanpa makan, menimbulkan perasaan rindu kepada Tanahair, merasa berada dalam kekosongan. Makan pagi, siang dan waktu malam ia harus mencari sendiri, duduk dalam restoran sendiri, kalau ditegor baru menjawab. […] Kalau pulang malam-malam ia berada dalam kesepian lagi. […] Untuk mengisi rasa kekosongan itu ia mencari kontak dengan orang-orang Indonesia. (Hlm. 21).

 

Alangkah tandas fitness determinant “ide keindonesisaan” ini, sehingga saya pikir sebagai mem, gagasan tersebut akan sukar sekali kalah dalam bursa ide-ide masa itu, sekali pun semata-mata karena keadaan nothing to lose. Saya pikir, tombol-tombol naluri (empat f), khususnya fighting, langsung ditekan ketika para pelajar kita itu merumuskan gagasan tersebut. Dengan kata lain, gen ikut berperanan penting dalam “ide keindonesiaan” versi Indonesische Vereeniging.

Ide tentang bangsa yang siap berjuang (fighting) dengan pemerintahan berdasarkan kedaulatan rakyat, jadilah merupakan fitness determinant yang telah menentukan arah atau nasib mem ‘keindonesiaan” sampai pada 17 Agustus 1945.  Selain terkait langsung dengan naluri biologis, determinan ini juga menancapkan akar dalam seluruh ideosphere Nusantara, tempat persemaian mem tersebut selama ratusan tahun.

Pelajar dari Nusantara di Belanda waktu itu tentu sudah terbiasa membaca sejarah Nusantara, hasil karya sarjana-sarjana Belanda, baik ketika masih di Hindia Belanda mau pun setelah di Nederland. Benak mereka tentu sudah diisi dengan mem mengenai pemujaan kekuasaan yang dominan di Nusantara sejak dari Kerajaan Kutai sampai Majapahit. Akan tetapi mereka tahu juga bahwa Nusantara dengan susunan kekuasaan yang seperti itulah yang dengan sangat mudah dikalahkan oleh Belanda, negeri mini yang pemerintahannya lebih kerakyatan. Selain itu, belajar di Nederland  ternyata memberi pengalaman hidup yang luar biasa. Di sana, pelajar Nusantara diperlakukan secara lebih manusiawi dan lebih sederajat daripada di negeri mereka sendiri. Keanehan ini menurut mereka hanya bisa dijelaskan dengan bercokolnya penjajahan. Penjajahan Belanda, pengagungan kekuasaan Nusantara, dua-duanya pada dasarnya sama saja, dua-duanya harus dibasmi. Untuk itu Indonesia harus menjadi bangsa dan negara merdeka, berdasarkan kedaulatan rakyat.

Termasuk dalam suasana fighting tersebut adalah peristiwa pemakaian nama Indonesia secara politik untuk pertama kalinya. Kejadian itu berlangsung pada 14 April 1917 malam di salah satu ruangan Hotel Paulenz, Den Haag. Malam itu Indische Vereeniging mengadakan perjamuan menyambut anggota-anggota Komite Pertahanan Hindia-Belanda (Comité Indië Weerbaar) dari Batavia, antara lain Abdoel Moeis. Mereka datang menuntut agar rakyat Hindia-Belanda dipersenjatai supaya bisa membela diri jika perang pecah, tidak seperti yang terjadi ketika Perang Dunia I pecah. Malam itu mereka merasa dorongan hebat untuk menggunakan nama “Indonesia” bagi Hindia-Belanda, tetapi belum ada yang berani. Akhirnya nama itu diucapkan oleh Soerjo Poetro, paman Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara kemudian). Beberapa tahun sebelumnya istilah itu sudah sering didiskusikan di sekolah dalam pelajaran etnologi. Istilah itu sudah digunakan oleh etnolog Jerman, Adolf Bastian, sejak 1884.

 

Fitness mechanism yang pertama berfungsi dalam perkembangan “ide keindonesiaan” adalah Serikat Pelajar Indonesia (Indonensische Verbond van Studeerenden) yang terbentuk pada 12 Januari 1918. Pengurusnya kebanyakan pelajar bangsa Belanda atau Indo-Belanda. Ketua dan sekretaris merangkap bendahara ialah J.A. Jonkman dan H.J. van Mook. Termasuk dalam dewan pimpinan adalah B.D. Abdoellah, S.H. Teng, dan T.T. Han. Badan baru ini menggabungkan 14 organisasi pelajar yang mencakup golongan Bumiputra, Tionghoa, dan Eropa, seluruhnya terdiri dari 200 anggota.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sistem parlementer merupakan fitness mechanism lain yang muncul kemudian. Mekanisme ini merupakan hasil seleksi keras baik dari RI 1945 yang presidensial, mau pun dari RI Serikat yang parlementer sebelum 17 Agustus 1950. Selama 19 tahun mekanisme itu bertahan, sebagian besar dengan mencoba tetap mengutamakan fitness determinant yang asli yaitu  fighting “door eigen kracht en kunnen”.

Anda sekarang bisa melihat, bahwa sebagai mem, “ide keindonesiaan” maju terus demi tri-suksesnya sendiri, kendati bangsa Indonesia waktu itu hampir tidak memiliki kracht en kunnen yang berarti. Kalau perlu, seperti semboyan Bung Karno waktu itu, rakyat makan batu asal revolusi berjalan terus. Cengkeraman “keindonesiaan” tidak mengendor sekali pun Bung Karno jatuh, digantikan oleh Soeharto. Sebaliknya, cengkeraman itu makin menguat. Persatuan nasional diperkuat dengan serangkaian co-meme seperti pembangunan, stabilitas yang dinamis, kepribadian bangsa, Demokrasi Pancasila. Teknologi dikerahkan untuk memperkukuh “keindonesiaan” itu, seperti satelit Palapa, industri pesawat terbang, pemusatan kekuasaan, indoktrinasi Pancasila dan Ketahanan Nasional, serta modal asing dan hutang.

Cukup saya memberi beberapa angka untuk menegaskan bahwa “ide keindonesiaan” menjadi sangat mencekam lewat pemusatan kekuasaan selama Orde Baru. Tiga propinsi penghasil devisa besar, yaitu Irian Jaya, Kalimantan Timur, dan Aceh, masing-masing hanya menerima (APBD 98/99) Rp278 milyar, Rp291,06 milyar, dan Rp153 milyar; sementara penghasilan masing-masing bernilai Rp6,5 trilyun, Rp27,43 trilyun dan Rp33 trilyun, atau empat persen, satu persen, dan setengah persen. (Kompas, 9, 16, dan 18 September 98).

Lalu muncullah krisis itu sejak 14 Agustus 1997. Soeharto turun dari jabatannya pada 21 Mei 1998, dan Orde Baru pun berakhir. Fakta demi fakta terungkap betapa kejam dan kotornya kekuasaan itu digunakan atas nama “keindonesiaan”.

Salahkah “ide keindonesiaan”? Samasekali tidak, sebab bukankah sebagai mem, gagasan itu hanya mengejar suksesnya sendiri, tidak perduli dengan kemaslahatan rakyat Indonesia? Bukankah mem itu memang sukses, kendati dengan kerugian dan penderitaan kita? Mestinya rakyat Indonesia harus sadar bahwa mem tersebut sedemikian kompleks sehingga bisa saja sampai mengorbankan host, yaitu rakyat Indonesia. Dalam istilah memetika, “ide keindonesiaan” bisa menimbulkan racunnya sendiri (auto-toxic).

Saya berpendapat, kalau kita hendak meningkatkan kemaslahatan bangsa kita, fitness determinant yang asli dulu masih merupakan kebutuhan pokok hingga hari ini, bahkan sampai ke Abad XXI. Namun demikian, sebagian besar fitness mechanisms yang sempat muncul dan berfungsi selama ini harus dibongkar, lalu dibangun kembali. Saya pikir, jika reformasi benar-benar serius, platform-nya tidak bisa lain daripada ini.

Dirumuskan lain, sumber kesulitan kita sejak 1959 sebagian terletak pada serangkaianfitness mechanisms, bukan pada fitness determinants yang terkandung dalam “ide keindonesiaan”. Sebagian lagi masalah itu terletak pada belief space kita yang makin sesak, terutama akibat globalisasi. Dalam keadaan seperti itu, saya pikir kalyptic selection akan lebih dominan dibanding dengan regal selection dalam arah perkembangan “ide keindonesiaan” di masa mendatang. Mutu gagasan-gagasan, rencana kerja, dinamika lembaga-lembaga, dan komunikasi yang lancar merupakan keharusan mendesak.

Saya menyimpulkan, bila betul demikian, sumber kemaslahatan rakyat Indonesia di masa mendatang akan terletak dalam kemauan kita untuk menerjemahkan semangat “bangsa dan negara Indonesia yang bertarung berdasarkan kekuatan dan kemampuan sendiri” ke dalam “mekanisme-mekanisme” yang menghasilkan mutu.


%d bloggers like this: