Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam

deskha December 23, 2008 0
Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam

 Perpecahan demi Perpecahan: Sarekat Islam

 

Hubungan para pendirinya dan Sarekat Islam ibarat pepatah (yang dipelesetkan): “Pucuk tak dicita, malah ulam tiba”. Betapa tidak. Keempat tokoh pendiri Sarekat Islam, yakni Haji Samanhudi,  Tirto Adi Suryo, Martodarsono, dan  Joyomargoso, tidak pernah bercita-cita membentuk Sarekat Islam, sebagaimana Wahidin Sudirohusodo dan para siswa Sekolah Dokter Pribumi dengan Budi Utomo. Mereka berempat boleh dikata hanya terjebak ke dalam peristiwa, yang dilihat dari segi cita-cita, tidak berkaitan dengan pembentukannya. Boleh jadi karena itu Sarekat Islam sejak awal sudah mengandung benih perpecahan yang lebih rawan daripada organisasi-organisasi pergerakan lain.

Peristiwa itu adalah perkelahian antara dua perkumpulan sosial, yaitu Kong Sing dan Rekso Rumekso. Kong Sing merupakan perkumpulan tolong-menolong untuk penguburan milik orang Tionghoa, sedang Rekso Rumekso perkumpulan jagamalam milik para pengusaha batik Pribumi di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Lawean, Surakarta.

Semula, Samanhudi anggota Budi Utomo, hal yang rupanya membuat para pengusaha batik Tionghoa cemas jangan-jangan Budi Utomo mendirikan organisasi pengusaha batik di bawah pimpinan Samanhudi. Segera mereka mengajak Samanhudi bergabung ke dalam Kong Sing. Samanhudi setuju, dan dengan dia ikut-serta banyak pengusaha batik Pribumi, konon jumlahnya melebihi pengusaha batik Tionghoa.

Namun, bulan madu mereka tidak berlangsung lama. Akhir 1911, bentrokan antara kedua perkumpulan mulai pecah dan seterusnya makin gawat. Mungkin gara-garanya adalah kemenangan Revolusi Tiongkok terhadap penguasa Dinasti Qing, 10 Oktober 1911. Segera setelah kemenangan tersebut, rasa kebangsaan Tionghoa memuncak dan bagi orang Pribumi mungkin terkesan berlebihan. Samanhudi dan pengikutnya keluar dari Kong Sing, dan Rekso Rumekso segera dibentuk.

Polisi campur-tangan. Samanhudi merasa terpojok karena dimintai  bukti status badan hukum Rekso Rumekso. Jangankan bukti, Samanhudi dan semua pengikutnya samasekali tidak paham mengenai seluk-beluk status badan hukum tersebut. Ia pun minta tolong kepada temannya, Joyomargoso, pegawai di Kepatihan. Giliran Joyomargoso minta tolong pada temannya, Martodarsono, bekas anggota redaksi suratkabar Medan Prijaji, dan akhirnya Martodarsono minta tolong kapada Tirto Adi Suryo, pemilik suratkabar itu dan pendiri beberapa organisasi berstatus badan hukum di Batavia dan Bogor, seperti Sarekat PrijajiSarekat Dagang Islamijah, dan Sarekat Dagang Islam.

Berkat bantuan Tirto Adi Suryo, pada akhir Januari 1912 Rekso Rumekso mendapatkan status badan hukum sebagai organisasi Sarekat Islam (disebut SI), tapi dengan tanggal yang lebih dini pada akte notaris, 9 November 1911. Dalam dokumen itu, SI   disebutkan bertujuan untuk mengejar kemajuan bagi seluruh rakyat Hindia-Belanda, tujuan yang dianggap merupakan kewajiban kaum Muslim untuk menyumbang ke arah kemajuan, karena Islam merupakan pengikat rakyat Hindia-Belanda, sebagaimana Konfusianisme bagi Tiongkok, serta  Kristen bagi Belanda.

Karena Sarekat Islam ada beberapa, yakni di Batavia, Bogor, dan Surakarta, Tirto Adi Suryo sekalian saja menjadikan SI Surakarta sebagai Badan Kordinasi Pusat (Centrale  Commissie). Ketuanya H. Samanhudi, sekretaris Djojomargoso, sedang Tirto Adi Suryo hanya sebagai penasehat. Namun kerjasama Samanhudi dan Tirto Adi Suryo tidak berhenti sampai di sini. Mereka membentuk usaha baru, yaitu menerbitkan suratkabar SI, Sarotomo (panah Arjuna), yang penyelenggaraannya praktis tergantung penuh pada Tirto Adi Suryo. Segera timbul pertengkaran di antara keduanya tentang sejumlah perkara, termasuk ricuhnya pengeluaran uang oleh Tirto Adi Suryo, dan juga sikapnya yang membuat Samanhudi merasa seolah-olah bawahannya. Samanhudi memutus kerjasama itu dan memindahkan kantor redaksi Sarotomo ke Surakarta.

Peristiwa semacam ini menjadi pola pokok perpecahan di dalam Sarekat Islam sepanjang sejarahnya. Itulah yang terjadi bahkan dengan Umar Said Cokroaminoto, anggota SI Surabaya sejak Mei 1912. Jebolan OSVIA dan pangrehpraja, lalu anggota pertunjukan wayang keliling berlidah tajam dan teknisi pabrik gula, Cokroaminoto diundang oleh Samanhudi untuk mencari jalan keluar dari larangan residen Surakarta atas kegiatan SI.

Karir Cokroaminoto dalam SI melesat. Ia cepat melihat celah hukum bahwa SI di daerah lain tidak dilarang. Lalu ia membenahi SI Surabaya dan daerah lain dengan anggaran dasar baru yang jauh lebih rapi, sehingga ia ditunjuk oleh Samanhudi sebagai komisaris di Centrale  Commissie khusus untuk menyusun anggaran dasar yang baru juga. Dalam kongres SI pertama di Surakarta, 25 Maret 1913, Cokroaminoto terpilih jadi Wakil Ketua Centrale  Commissie.

Kebetulan pemerintah tidak mengakui SI sebagai satu kesatuan di bawah Centrale  Commissie, tapi masing-masing cabangnya sebagai SI lokal. Untuk menghubungkan SI lokal itu, dibentuklah semacam badan kordinasi bernama CSI (Centrale Sarekat Islam) dalam kongres kedua di Yogyakarta, April 1914. Ternyata dalam kongres kedua itu, Cokroaminoto sendiri berhasil jadi ketua CSI, Raden Gunawan sebagai wakil ketua, sedang Samanhudi “jatuh ke atas” sebagai ketua kehormatan.

Jadi, hanya dalam setahun, Cokroaminoto tidak hanya berhasil konsolidasi, tapi juga membawa SI jadi organisasi besar sehingga sempat membuat pemerintah jajahan cemas, serta membuat dirinya sangat masyhur sehingga digelari Ratu Adil. Namun keberhasilan itu bukan tanpa korban. Pusat kegiatan SI bergeser dari Surakarta ke Surabaya, sehingga Samanhudi praktis tersisih. Di Surabaya ia mengambil-alih suratkabar Oetoesan Hindia dari tangan Hasan Ali Surati, seorang pedagang Arab.

Suratkabar itu dibiayai oleh NV Setia Oesaha, milik gabungan pengusaha Arab dan Pribumi, yang dipimpin oleh Hasan Ali Surati. Yang tidak kurang pentingnya, Hasan Ali Surati disingkirkan dengan bantuan saingannya, Hasan bin Semit, juga pengusaha Arab. Perpecahan  ini mengakibatkan sumbangan anggota SI keturunan Arab merosot deras, sehingga kelangsungan hidup SI terancam.

Selain itu, meski besar, SI bergerak dengan kaki pincang.  Selama karirnya yang melesat itu, Cokroaminoto bekerja dekat dengan wakil Penasehat Urusan Pribumi, D.A. Rinkes. Di satu pihak SI menggalang semangat rakyat, tapi di pihak lain bersikap lunak terhadap pemerintah jajahan. Sikap mendua ini jelas tampak pada garis Cokroaminoto ketika ia menolak tegas desakan dr Cipto Mangunkusumo agar syarat agama dihilangkan  dalam penerimaan anggota, sehingga SI (Sarekat Islam) dapat menjadi SI atau Sarekat (H)India saja. Cokroaminoto lantas menegaskan bahwa SI bukan partai politik, tidak menghendaki revolusi, dan memilih setia kepada pemerintah.

Berkurangnya sumbangan dana untuk SI membuka pertikaian yang sengit antara Cokroaminoto dengan SI Batavia yang dipimpin oleh Gunawan. Pengaruh Gunawan besar terhadap SI lokal di seluruh Sumatra yang kini menjadi sumber dana utama, tapi yang merasa kurang terwakili dalam CSI. Sejak kongres SI di Surabaya Juli 1915, Gunawan dan Samanhudi rajin mengajak SI lokal tersebut untuk membentuk CSI buat Jawa Barat dan Sumatra. Cokroaminoto  membalas dengan mengumumkan bahwa Gunawan korupsi dana organisasi sebanyak 60.000 gulden dan menyebutnya “Satria Maling”. Akhirnya, tidak lama kemudian, awal 1916, Gunawan dan Samanhudi membentuk CSI untuk SI se-Sumatra dan Jawa Barat.

Kemudian, tiba giliran kesan hebatnya SI mengundang masuknya tokoh baru, yaitu Haji Agus Salim, dan juga masuknya aliran baru, yaitu modernisme Islam. Juga pada awal 1915 sudah marak desas-desus bahwa SI akan berontak dengan bantuan senjata dari Jerman. Dalam Perang Dunia I, Jerman bergabung dengan Austria-Hongaria, Bulgaria, dan Turki, sedang SI cenderung mendukung gabungan itu karena Turki. Pemerintah segera meminta Agus Salim masuk SI untuk memeriksa desas-desus itu. Hasil penyelidikannya, desas-desus tersebut tidak betul. SI tetap mengikuti garis Cokroaminoto, yaitu tidak menghendaki revolusi, dan tetap bekerjasama dengan pemerintah.

Garis SI ini segera menjadi sumber perpecahan yang berlangsung sangat lama. Perpecahan itu terdiri dalam dua bagian pokok yang bergerak lebih-kurang serentak. Yang pertama akibat pasang-naiknya kekuatan sayap kiri SI yang revolusioner, yang bermuara pada maraknya SI-Merah yang bergabung dengan PKI. Yang kedua akibat pasang-naiknya pengaruh modernisme dalam Islam, yang terwujud dengan makin besarnya pengaruh Muhammadiyah, penerapan disiplin partai (melarang keanggotaan rangkap), dan timbulnya PSI (Partai Sarekat Islam). Namun, begitu besarnya sifat pribadi perpecahan itu sehingga setiap usaha merebut kekuasaan dari seseorang disebut “men-Cokro”.■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: