Perpecahan demi Perpecahan: Budi Utomo

deskha December 4, 2008 0
Perpecahan demi Perpecahan: Budi Utomo

Perpecahan demi Perpecahan: Budi Utomo

 

Pendapat umum selama ini cenderung memandang pergerakan kebangsaan kita melulu sebagai perjuangan luhur yang sarat pengorbanan, kearifan, dan kebijaksanaan. Namun, pemeriksaan yang cukup teliti atas sejarah pergerakan tersebut akan menunjukkan rangkaian perpecahan demi perpecahan. Jarang sekali perpecahan itu timbul karena perbedaan prinsip. Yang sering adalah karena ambisi dan kepicikan pribadi maupun golongan di kalangan para pemimpin.

Juga perpecahan timbul bukan setelah pergerakan berlangsung beberapa lama atau sesudah mencapai hasil sekedarnya, tapi sejak awal. Malah ada masanya, perpecahan tidak dianggap lagi sebagai perpecahan, tapi sudah berubah jadi alasan yang realistis untuk membentuk organisasi baru. Berikut ini uraian singkat saja mengenai rangkaian perpecahan itu. Kita  mulai saja dengan organisasi pergerakan yang dianggap terbentuk paling awal, yakni Budi Utomo.

Budi Utomo

Semua murid sekolah tahu bahwa pendiri Budi Utomo (BO) ialah dr Wahidin Sudirohusodo (1853-1917). Sesungguhnya ini hanya benar separo saja. Memang benar Wahidin-lah yang sudah lama bercita-cita ke arah bangkitnya “bangsa Jawa” dalam peradaban baru Abad XX, dan yang juga rela berkorban untuk mewujudkannya.

Namun, para pembesar bangsanya tidak menyambut usahanya itu. Maklum, ia hanya priayi biasa dari Mlati, Yogyakarta, dan lulusan Sekolah Dokter Jawa lagi. Para pembesar itu merasa terancam dengan kemajuan “bangsa Jawa”, dan lulusan Sekolah Dokter Jawa dianggap sebagai ujung tombak ancaman itu.

Memang, ternyata hanya siswa-siwa Sekolah Dokter Jawa di Batavia yang menyambut cita-cita Wahidin, yang sejak 1902 sudah ditingkatkan menjadi Sekolah Dokter Bumiputra. Mereka-lah yang memilih nama organisasi untuk memperjuangkan cita-cita tersebut: Budi Utomo. Mereka juga menghendaki agar tujuan organisasi itu tidak terbatas pada “bangsa Jawa” tapi mencakup seluruh “Hindia-Belanda”, tapi akhirnya mereka sadar bahwa yang paling jauh bisa diterima oleh Wahidin adalah mengubah tujuannya semula sekedar untuk mengumpulkan dana pendidikan menjadi upaya menyadarkan masyarakat Jawa tentang kekuatan sosial dan kebudayaan mereka.

Dengan dukungan para siswa dari beberapa sekolah menengah  di Jawa, BO resmi dibentuk di aula Sekolah Dokter Pribumi, Batavia, tepat hari Minggu, 20 Mei 1908. Dewan pengurusnya pun dipilih dari mereka juga. Mereka pun menyiarkan peristiwa itu lewat suratkabar, hal yang membanggakan waktu itu. Lagipula, dalam siaran itu dinyatakan terus-terang bahwa tujuan BO adalah “kemajuan bagi Hindia”, bukan sekedar “kemajuan bagi Jawa”. Siaran ini tentu berpengaruh besar pada para bangsawan.

Sadar sebagai siswa sekolah dokter tidak punya waktu mengurus BO, para pemimpin itu sepakat hendak menyerahkan organisasi itu ke tangan para pembesar juga. Untuk itu mereka mempersiapkan kongres pertama di Yogyakarta, 3-5 Oktober 1908. Mereka harus menanggung dana kongres dan menemui serta membujuk para pembesar itu. Itu berarti pengorbanan besar karena mereka terpaksa menyisihkan uang dari beasiswa yang pas-pasan atau menjual barang berharga seperti arloji dan pakaian.

Para bangsawan tinggi menerima kepengurusan organisasi itu dengan senang hati, tapi menolak usul dr. Cipto Mangunkusumo agar BO tidak terbatas sebagai organisasi sosial bagi orang Jawa saja, tapi agar menjadi partai politik berdasarkan “persaudaraan nasional tanpa pandang bangsa, kelamin, atau kepercayaan.” Mereka hanya bisa berjanji akan mempertimbangkan usul itu kelak.

Ternyata anggaran dasar BO yang diresmikan sepuluh bulan kemudian tegas-tegas mencantumkan BO untuk “penduduk Bumiputra Jawa dan Madura.” Kontan saja dr. Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Suryodiputro, melancarkan protes keras. Inilah benih perpecahan yang mendorong dr. Cipto dan Suwardi bergabung dengan Douwes Dekker untuk membentuk Indische Partij (Partai Hindia).■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: