Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam – Lahirnya Sarekat Islam (Bag. 3)

deskha November 30, 2011 0
Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam – Lahirnya Sarekat Islam (Bag. 3)

Page 3 of 4

Karir Cokroaminoto dalam SI melesat. Ia cepat melihat celah hukum bahwa SI di daerah lain tidak dilarang. Lalu ia membenahi SI Surabaya dan daerah lain dengan anggaran dasar baru yang jauh lebih rapi, sehingga ia ditunjuk oleh Samanhudi sebagai komisaris di Centrale  Commissie khusus untuk menyusun anggaran dasar yang baru juga. Dalam kongres SI pertama di Surakarta, 25 Maret 1913, Cokroaminoto terpilih jadi Wakil KetuaCentrale  Commissie.

Kebetulan pemerintah tidak mengakui SI sebagai satu kesatuan di bawah Centrale  Commissie, tapi masing-masing cabangnya sebagai SI lokal. Untuk menghubungkan SI lokal itu, dibentuklah semacam badan kordinasi bernama CSI (Centrale Sarekat Islam) dalam kongres kedua di Yogyakarta, April 1914. Ternyata dalam kongres kedua itu, Cokroaminoto sendiri berhasil jadi ketua CSI, Raden Gunawan sebagai wakil ketua, sedang Samanhudi “jatuh ke atas” sebagai ketua kehormatan.

Jadi, hanya dalam setahun, Cokroaminoto tidak hanya berhasil konsolidasi, tapi juga membawa SI jadi organisasi besar sehingga sempat membuat pemerintah jajahan cemas, serta membuat dirinya sangat masyhur sehingga digelari Ratu Adil. Namun keberhasilan itu bukan tanpa korban. Pusat kegiatan SI bergeser dari Surakarta ke Surabaya, sehingga Samanhudi praktis tersisih. Di Surabaya ia mengambil-alih suratkabarOetoesan Hindia dari tangan Hasan Ali Surati, seorang pedagang Arab.

Suratkabar itu dibiayai oleh NV Setia Oesaha, milik gabungan pengusaha Arab dan Pribumi, yang dipimpin oleh Hasan Ali Surati. Yang tidak kurang pentingnya, Hasan Ali Surati disingkirkan dengan bantuan saingannya, Hasan bin Semit, juga pengusaha Arab. Perpecahan  ini mengakibatkan sumbangan anggota SI keturunan Arab merosot deras, sehingga kelangsungan hidup SI terancam.

Selain itu, meski besar, SI bergerak dengan kaki pincang.  Selama karirnya yang melesat itu, Cokroaminoto bekerja dekat dengan wakil Penasehat Urusan Pribumi, D.A. Rinkes. Di satu pihak SI menggalang semangat rakyat, tapi di pihak lain bersikap lunak terhadap pemerintah jajahan. Sikap mendua ini jelas tampak pada garis Cokroaminoto ketika ia menolak tegas desakan dr Cipto Mangunkusumo agar syarat agama dihilangkan  dalam penerimaan anggota, sehingga SI (Sarekat Islam) dapat menjadi SI atau Sarekat (H)India saja. Cokroaminoto lantas menegaskan bahwa SI bukan partai politik, tidak menghendaki revolusi, dan memilih setia kepada pemerintah.

%d bloggers like this: