Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam – Lahirnya Sarekat Islam (Bag. 2)

deskha November 30, 2011 0
Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam – Lahirnya Sarekat Islam (Bag. 2)

Page 2 of 4

Berkat bantuan Tirto Adi Suryo, pada akhir Januari 1912 Rekso Rumekso mendapatkan status badan hukum sebagai organisasi Sarekat Islam (disebut SI), tapi dengan tanggal yang lebih dini pada akte notaris, 9 November 1911. Dalam dokumen itu, SI   disebutkan bertujuan untuk mengejar kemajuan bagi seluruh rakyat Hindia-Belanda, tujuan yang dianggap merupakan kewajiban kaum Muslim untuk menyumbang ke arah kemajuan, karena Islam merupakan pengikat rakyat Hindia-Belanda, sebagaimana Konfusianisme bagi Tiongkok, serta  Kristen bagi Belanda.

Karena Sarekat Islam ada beberapa, yakni di Batavia, Bogor, dan Surakarta, Tirto Adi Suryo sekalian saja menjadikan SI Surakarta sebagai Badan Kordinasi Pusat (Centrale Commissie). Ketuanya H. Samanhudi, sekretaris Djojomargoso, sedang Tirto Adi Suryo hanya sebagai penasehat. Namun kerjasama Samanhudi dan Tirto Adi Suryo tidak berhenti sampai di sini. Mereka membentuk usaha baru, yaitu menerbitkan suratkabar SI, Sarotomo (panah Arjuna), yang penyelenggaraannya praktis tergantung penuh pada Tirto Adi Suryo. Segera timbul pertengkaran di antara keduanya tentang sejumlah perkara, termasuk ricuhnya pengeluaran uang oleh Tirto Adi Suryo, dan juga sikapnya yang membuat Samanhudi merasa seolah-olah bawahannya. Samanhudi memutus kerjasama itu dan memindahkan kantor redaksi Sarotomo ke Surakarta.

Peristiwa semacam ini menjadi pola pokok perpecahan di dalam Sarekat Islam sepanjang sejarahnya. Itulah yang terjadi bahkan dengan Umar Said Cokroaminoto, anggota SI Surabaya sejak Mei 1912. Jebolan OSVIA dan pangrehpraja, lalu anggota pertunjukan wayang keliling berlidah tajam dan teknisi pabrik gula, Cokroaminoto diundang oleh Samanhudi untuk mencari jalan keluar dari larangan residen Surakarta atas kegiatan SI.

%d bloggers like this: