Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam (Bag. 4) – Pertikaian sengit

deskha November 30, 2011 0
Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam (Bag. 4) – Pertikaian sengit

Page 4 of 4

Berkurangnya sumbangan dana untuk SI membuka pertikaian yang sengit antara Cokroaminoto dengan SI Batavia yang dipimpin oleh Gunawan. Pengaruh Gunawan besar terhadap SI lokal di seluruh Sumatra yang kini menjadi sumber dana utama, tapi yang merasa kurang terwakili dalam CSI. Sejak kongres SI di Surabaya Juli 1915, Gunawan dan Samanhudi rajin mengajak SI lokal tersebut untuk membentuk CSI buat Jawa Barat dan Sumatra. Cokroaminoto  membalas dengan mengumumkan bahwa Gunawan korupsi dana organisasi sebanyak 60.000 gulden dan menyebutnya “Satria Maling”. Akhirnya, tidak lama kemudian, awal 1916, Gunawan dan Samanhudi membentuk CSI untuk SI se-Sumatra dan Jawa Barat.

Kemudian, tiba giliran kesan hebatnya SI mengundang masuknya tokoh baru, yaitu Haji Agus Salim, dan juga masuknya aliran baru, yaitu modernisme Islam. Juga pada awal 1915 sudah marak desas-desus bahwa SI akan berontak dengan bantuan senjata dari Jerman. Dalam Perang Dunia I, Jerman bergabung dengan Austria-Hongaria, Bulgaria, dan Turki, sedang SI cenderung mendukung gabungan itu karena Turki. Pemerintah segera meminta Agus Salim masuk SI untuk memeriksa desas-desus itu. Hasil penyelidikannya, desas-desus tersebut tidak betul. SI tetap mengikuti garis Cokroaminoto, yaitu tidak menghendaki revolusi, dan tetap bekerjasama dengan pemerintah.

Garis SI ini segera menjadi sumber perpecahan yang berlangsung sangat lama. Perpecahan itu terdiri dalam dua bagian pokok yang bergerak lebih-kurang serentak. Yang pertama akibat pasang-naiknya kekuatan sayap kiri SI yang revolusioner, yang bermuara pada maraknya SI-Merah yang bergabung dengan PKI. Yang kedua akibat pasang-naiknya pengaruh modernisme dalam Islam, yang terwujud dengan makin besarnya pengaruh Muhammadiyah, penerapan disiplin partai (melarang keanggotaan rangkap), dan timbulnya PSI (Partai Sarekat Islam). Namun, begitu besarnya sifat pribadi perpecahan itu sehingga setiap usaha merebut kekuasaan dari seseorang disebut “men-Cokro”.■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: