Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam (Bag. 1)

deskha November 30, 2011 0
Perpecahan demi perpecahan: Sarekat Islam (Bag. 1)

Page 1 of 4

 Perpecahan demi Perpecahan: Sarekat Islam

 

Hubungan para pendirinya dan Sarekat Islam ibarat pepatah (yang dipelesetkan): “Pucuk tak dicita, malah ulam tiba”. Betapa tidak. Keempat tokoh pendiri Sarekat Islam, yakni Haji Samanhudi,  Tirto Adi Suryo, Martodarsono, dan  Joyomargoso, tidak pernah bercita-cita membentuk Sarekat Islam, sebagaimana Wahidin Sudirohusodo dan para siswa Sekolah Dokter Pribumi dengan Budi Utomo. Mereka berempat boleh dikata hanya terjebak ke dalam peristiwa, yang dilihat dari segi cita-cita, tidak berkaitan dengan pembentukannya. Boleh jadi karena itu Sarekat Islam sejak awal sudah mengandung benih perpecahan yang lebih rawan daripada organisasi-organisasi pergerakan lain.

Peristiwa itu adalah perkelahian antara dua perkumpulan sosial, yaitu Kong Sing dan Rekso Rumekso. Kong Sing merupakan perkumpulan tolong-menolong untuk penguburan milik orang Tionghoa, sedang Rekso Rumekso perkumpulan jagamalam milik para pengusaha batik Pribumi di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Lawean, Surakarta.

Semula, Samanhudi anggota Budi Utomo, hal yang rupanya membuat para pengusaha batik Tionghoa cemas jangan-jangan Budi Utomo mendirikan organisasi pengusaha batik di bawah pimpinan Samanhudi. Segera mereka mengajak Samanhudi bergabung ke dalam Kong Sing. Samanhudi setuju, dan dengan dia ikut-serta banyak pengusaha batik Pribumi, konon jumlahnya melebihi pengusaha batik Tionghoa.

Namun, bulan madu mereka tidak berlangsung lama. Akhir 1911, bentrokan antara kedua perkumpulan mulai pecah dan seterusnya makin gawat. Mungkin gara-garanya adalah kemenangan Revolusi Tiongkok terhadap penguasa Dinasti Qing, 10 Oktober 1911. Segera setelah kemenangan tersebut, rasa kebangsaan Tionghoa memuncak dan bagi orang Pribumi mungkin terkesan berlebihan. Samanhudi dan pengikutnya keluar dari Kong Sing, dan Rekso Rumekso segera dibentuk.

Polisi campur-tangan. Samanhudi merasa terpojok karena dimintai  bukti status badan hukum Rekso Rumekso. Jangankan bukti, Samanhudi dan semua pengikutnya samasekali tidak paham mengenai seluk-beluk status badan hukum tersebut. Ia pun minta tolong kepada temannya, Joyomargoso, pegawai di Kepatihan. Giliran Joyomargoso minta tolong pada temannya, Martodarsono, bekas anggota redaksi suratkabar Medan Prijaji, dan akhirnya Martodarsono minta tolong kapada Tirto Adi Suryo, pemilik suratkabar itu dan pendiri beberapa organisasi berstatus badan hukum di Batavia dan Bogor, seperti Sarekat PrijajiSarekat Dagang Islamijah, dan Sarekat Dagang Islam.

%d bloggers like this: