Pemuda Indonesia di Tahun Jahanam

deskha October 29, 2013 Comments Off on Pemuda Indonesia di Tahun Jahanam
Pemuda Indonesia di Tahun Jahanam

Pemuda Indonesia di Tahun Jahanam

Hari ini, 28 Oktober 2013, bangsa Indonesia menyambut HUT “Sumpah Pemuda” yang ke-85 dalam keadaan paling nista sepanjang sejarahnya. Inilah Annus Horribilis, Tahun Jahanam, bagi bangsa kita, tatkala hari-hari kita sarat dengan berita hitam penguasa berupa teror, korupsi, penyelewengan, perselingkuhan, pengibulan, bahkan pengkhianatan! Puncaknya terjadi pada hari Rabu petang, 2 Oktober 2013, saat Ketua MK (Mahkamah Konstitusi), tertangkap-basah melakukan korupsi di rumah-jabatannya. “MK sudah hancur” begitu ungkapan getir Ketua MK yang baru digantikan saat mendengar berita itu selang beberapa jam kemudian.

Adakah yang lebih nista, dan lebih khianat, bagi suatu bangsa dan negara, daripa runtuhnya wibawa lembaga penjamin UUD-nya?

Lantas, bagaimanakah gerangan pemuda Indonesia akan menyambut HUT “Sumpah Pemuda” kali ini? Apakah mereka akan diam-diam melewatkannya karena sudah muak dengan keadaan? Akan sibukkah mereka jorjoran menggunjingkannya di jagat maya media sosial mereka, seolah-olah tiada ancaman terjadap nasib mereka? Atau bakal bangkitkah mereka menjadikannya awal Dies Irae, Hari-hari Amarah, melanjutkan tradisi pemuda Indonesia yang pernah tampil menentukan nasib bangsanya pada saat-saat genting sejak 1928? Akan terulangkah, pada malam 28 Oktober ini, tekad bulat pemuda pada rapat terakhir mereka 85 tahun yang lalu di Indonesische Clubgebouw,Gedung Klub Indonesia, di Kramat Laan, Batavia, Jl. Kramat Raya 106, Jakarta, yang sekarang?

***

Tidak terlihat tanda-tanda yang bisa bantu menjawab rentetan pertanyaan tersebut barusan. Zaman sudah berubah. Sudah silam optimisme Arnold Toynbee tentang Challenges and Responses, Tantangan dan Jawaban, yang pernah mengilhami para pejuang kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Pada HUT Proklamasi ke-13, 17 Agustus 1958, Presiden Sukarno telah membuka babak terakhir tekornya optimisme semacam itu dengan pidatonya A Year of Challenge (Tahun Tantangan). Pidatonya pada HUT Proklamasi ke-19, 17 Agustus 1964, Tahun “Vivere Pericoloso”, Tahun Menyerempet Bahaya, hanya mewartakan malapetaka bangsa kita setahun kemudian.

Dalam sejarah Indonesia Merdeka, tiada yang lebih optimis daripada Presiden Suharto yang mencanangkan Akselerasi Pembangunan 25 Tahun  dan Membangun Manusia Indonesia Seutuhnya. Namun demikian, optimisme perkasa itu hanya mencampakkan Indonesia kembali ke comberan kemiskinan awal, seolah-olah Tujuh Pelita (Pembangunan Lima Tahun) yang diagung-agungkan itu tidak pernah menyala selama 32 tahun!

Menatap kembali hingga ke tahun 1920-an, tampak betapa gamblang terlihat oleh para pemuda serba tantangan besar mau pun jawaban satria, yang heroik, untuk menghadapinya. Pada awal Abad XX, Belanda, Sang Penjajah, tahu-tahu sudah memenuhi tiga prasyarat terbentuknya Pax Neerlandica, suatu bentuk kebangsaan di Hindia-Belanda: Kesatuan ekonomi, kesatuan politik, dan kesatuan budaya. Sementara itu para pemuda dan pejuang kebangsaan cera-berai dalam sejumlah Jong dan partai politik. Pemuda pun sadar, bahkan pemberotakan rakyat pun, 1926-7, gampang ditumpas karena perpecahan. Mereka melihat tantangan besar: Menggalang Persatuan! Jawabannya dirumuskan dengan jernih: Sumpah Pemuda!

Sejarah mencatat nama-nama mereka dengan tinta emas: Soegondo Djojopoespito, Moehammad Yamin, Sarmidi Mangoensarkoro, Wage Roedolf Soepratman, Dolly Salim, Kwee Thiam Hong (kelak Daud Budiman), Sigit, Ong Kay Siang, Poernamawoelan, Siti Soendari, Oemijati, Soesilo, Soeratmo, John Liauw Tjoan,  Ramelan, Theo Pangemanan, Tjio Jin Kwie. Usia mereka masih terbilang muda. Kemungkinan besar yang tertua ialah Wage Roedolf Soepratman (35 th 7 bulan), disusul dengan Moehammad Yamin (35 th 2 bulan), Sarmidi Mangoensarkoro (34 th), Soegondo Djojopoespito (33 th). Yang termuda kemungkin besar Dolly Salim (15 th).

***

Teladan besar buat mereka baru 20 tahun berlalu.  Menjelang 1908, dari kalangan generasi tua, yang umumnya penguasa bumiputra,tampillah dr Wahidin Sudirohusodo (50 th) dengan cita-cita mulia untuk membentuk suatu organisasi kebangsaan. Nyatanya dokter itu dianggap angin lalu. Melihat hal yang menyedihkan itu, sejumlah Eleves van STOVIA, para Siswa Sekolah Dokter Bumiputra di Batavia, merasa tergugah. Umur mereka masih lebih muda: 19-22 tahun.

Mereka mengumpulkan murid-murid tujuh sekolah menengah dari seluruh Jawa di aula sekolah mereka, lalu berdirilah Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Para penguasa bumiputra tetap saja bergeming. Lantas, Eleves van STOVIA itu jugalah yang ber-cantut tali wanda untuk menyelenggarakan kongres pertama Budi Utomo di Yogya, 5 Oktober 1908. Mereka terpaksa menyisihkan sebagian beasiswa mereka  yang tak seberapa itu, bahkan melego pakaian dan arloji milik sendiri. Para penguasa bumiputra tinggal terima jadi, lalu mengangkangi organisasi itu! Nama-nama mereka tertoreh dalam sejarah bangsa kita: Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, Soeradji, Moehammad Saleh, Soewarno, Moehammad Soelaiman, Goenawan Mangoenkoesoemo.

Pengorbanan para pemuda ini telah menjadi tradisi, tradisi yang makin redup ke masa belakangan ini. Segera setelah Proklamasi, partai-partai politik membentuk organisasi pemudanya masing-masing, demi menggalang kekuasaan sendiri. Belakangan para preman pun sudah ikut-ikutan membentuk organisasi pemuda. Bukan tidak ada usaha menyatukan organisasi pemuda. Pada awal kemerdekaan dibentuk BKPRI (Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia); di bawah Orde Lama dibentuk Front Pemuda; dan di bawah Orde Baru didirikan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Namun berbagai percobaan itu gagal menggalang semangat pemuda karena organisasi persatuan pemuda itu cenderung menjadi wahana meraih kedudukan bagi para pemimpin pemuda.

***

Kecenderungan itu jelas terasa. Pada 10 November 1945, misalnya, Chaerul Saleh menjadi Ketua Umum BKPRI, namun sebelum itu dia sudah merupakan tokoh pemuda pejuang kemerdekaan yang terkemuka. Tidak mengherankan dia kemudian jadi Ketua MPRS dan Waperdam III (Wakil Perdana Menteri). Pada 1962, A.M. Fatwa menjadi salah satu Ketua Front Pemuda, padahal dia hanya seorang pegawai pemerintah, lalu jadi anggota DPR dan Wakil Ketua DPR pada 2004 dan 2009. David Napitupulu dan Abdul Gafur masing-masing jadi Ketua Umum dan Ketua KNPI pada 23 Juli 1973. Sebelumnya mereka memang aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), tapi masih terbilang lini kedua atau ketiga. Mereka berdua kemudian jadi anggota DPR, sedang Abdul Gafur belakangan jadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Belakangan, Mahadi Sinambela dan Idrus Marham, misalnya, tautau menjadi Ketua KNPI, padahal umur mereka masing-masing sudah 37 tahun dan 40 tahun. Lewat jalur itu mereka berdua jadi anggota DPR, sedang Mahadi Sinambela belakangan menjadi Menteri Pemuda & Olahraga.

Merosotnya wibawa tradisi pemuda tampaknya sudah mencapai nadirnya di Tahun Jahanam ini. Tidak hanya tokoh pemuda yang rakus dengan kedudukan, kekuasaan, harta, dan nama, tapi juga sembarang pemuda. Samasekali tidak ada kaitannya dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, suku, agama, ras, dan asal-usul. Tampaknya, siapa saja bisa mendadak mencaplok kedudukan, kekuasaan dan sebagainya itu, asal ada kesempatan, tidak hanya sebagai koruptor, tapi juga sebagai teroris! Mereka nyaris tidak pernah dikenal: tidak jelas track records-nya, menurut istilah yang laris dewasa ini.

***

Naga-naganya, Tahun Jahanam ini menggugah kesadaran para pemuda, dan seluruh bangsa Indonesia, bahwa zaman benar-benar telah jauh berubah! Tantangan dan jawaban sudah lenyap! Bersamanya, lawan mau pun musuh sudah tidak ada. Koruptor bukan lagi lawan, karena kita sendiri membantu, bahkan memilihnya jadi pejabat. Korupsi pun bukan lagi musuh, karena begitu ada kesempatan, siapa saja bisa melakukannya. Pendidikan, moral, dan kesalehan, bukan lagi jawaban, karena para penyandangnya dengan gampang mencemarkannya.

Kita semua ibarat penumpang dalam kapal Titanic yang sedang tenggelam! Kepercayaan terhadap sesama sirna. Masing-masing hanya dapat memikirkan keselamatan diri sendiri. Jangankan lawan dan musuh, teman bahkan kekasih pun, bisa dikorbankan. Dan kapal Titanic yang  sedang tenggelam ini disebut Sensate Culture oleh Pitirim Alexandrovich Sorokin (1889–1968), yang tidak hanya mencengkeram seluruh dunia, tapi sudah berlangsung sekitar 500 tahun terakhir ini. Sensate Culture ini dikatakan sedang sekarat karena sudah hampir mencapai akhir siklus hidupnya. Kita semua tidak berdaya melawannya, sehingga kita hanya bisa cari selamat atau sirna bersamanya!

Sorokin ialah pelopor ilmu sosiologi termashur di Universitas Harvard begitu dia bermukim di AS setelah 1922 dia meninggalkan Revolusi Rusia 1917 yang sempat ikut dipimpinnya. Pemikirannya bertentangan dengan hampir seluruh sosiologi Amerika yang dinilainya terlalu mengagung-agungkan sensate, yang indrawi, yang bendawi, yang matre, dan meremehkan yang ideational, yang rohani, spritual, transenden. Sorokin memberi nama-nama yang norak pada sosiologi semacam itu, seperti  testocracy, mabuk uji, quantophrenia, mabuk angka, yang tidak lebih daripada fads and foibles, kekenesan dan remeh-temeh.

Tidak mengherankan bahwa dia menjadi sarjana yang kontroversial, lalu diabaikan dan dilupakan. Namun menyadari keadaan budaya dan peradaban dunia yang mengharubiru dan buntu belakangan ini, maka sejak 2004, para cendekiawan di AS menggugah kembali minat berbagai kelangan terhadap pemikiran Sorokin. Mereka menyadari, setiap kali membaca kembali karya Sorokin sekarang, mereka menilainya sebagai satu-satunya kritik sosial sekitar pertengahan Abad XX yang dengan jitu menakar sifat dan arah yang sarat bahaya dalam perkembangan masyarakat Amerika dan dunia dewasa ini, seolah-olah baru saja ditulis kemarin.

Dapatlah disebut sejumlah karyanya yang sangat jitu itu: The Crisis of Our Age: The Social and Cultural Outlook (1942); Society, Culture and Personality: Their Structure and Dynamics (1947); The Construction of Humanity (1948); Social Philosophy of An Age of Crisis (1950); dan The American Sex Revolution (1956). Sifat dan arah yang berbahaya itu, yang ketika ditulis dianggap mengada-ada, kini diakui  semakin nahas saja sebagai biangkeladi utama kemelut sosial yang bukan tidak tepat disebutnya Post Christian West, Barat Pasca Kristen.

Dalam karyanya yang tersebut terakhir, misalnya, diperikan dengan hidup-hidup turunnya tingkat kelahiran dan merosotnya keperdulian orangtua terhadap kesejahteraan anak; semakin naiknya gelombang erotisme dalam aneka produk budaya; meluasnya perceraian, seks bebas, penyia-nyiaan pasangan hidup, meningkatnya jumlah anak-anak haram, dan segala macam kekerasan. Amerika sudah gila perkelaminan, tulis Sorokin. Setiap bidang peradaban kita telah dirasukinya, sehingga muncrat di di segala pori kehidupan masyarakat.

***

Bukan tempatnya di sini menguraikan lebih rinci pemikiran Sorokin. Yang penting, jalan selamat yang ditunjukkannya bertolak dari wawasan sederhana berupa social integrality, integralitas, kesenyawaan sosial, yang merupakan percaturan tiga unsur: Masyarakat, Budaya, dan Kepribadian Individu. Masyarakat tumbuh demi mempertahankan hidup anggotanya. Masyarakat yang tumbuh itu merajut budaya, segala hal yang bisa diajarkan kepada setiap orang agar dapat hidup layak. Setiap anggota masyarakat mencapai kepribadian berkat belajar dari produk budaya dalam pergaulan masyarakat itu. Kesenyawaan sosial tercapai jika setiap orang setiap saat mengatasi semua yang dipelajarinya, produk budaya masyarakatnya, apakah itu pengetahuan, keterampilan, pemikiran, tradisi, agama. Tidak ada yang diabaikan, apalagi dirusak. Semua yang dipelajari ditingkatkan daya hidupnya.

Jadi, kesenyawaan sosial itu adalah produk budaya masyarakat yang transenden, yang terus-menerus diatasi oleh berkat dayacipta anggota masyarakat itu. Itulah budaya ideational. Kesenyawaan sosial terancam kalau anggota masyarakat mendewakan produk tertentu, seperti masyarakat Amerika atau Barat selama setengah milenium terakhir ini, yang mendewakan anggapan bahwa realitas itu adalah yang sensate, yang indrawi semata, seperti modal, sains dan teknologi. Realitas tidak dapat digapai dengan pancaindra semata; bahkan tidak juga cukup dengan selayatana, enam indra. Mutlak perlu kemampuan supraconcious, yang dicapai oleh orang per orang dengan mengolah kerohaniannya menuju Higher Self, yah supradiri!

***

Konsep supradiri tidak bisa tidak membuat Sorokin sangat menghargai capaian rohani agama-agama, seperti halnya Budhisme. Implikasinya adalah peran penting individu, orang per orang, dalam kesenyawaan sosial. Semua yang menyangkut seseorang adalah hasil pikirannya; berlandaskan pikirannya, dan terbuat dari pikirannya. Yang bertindak karena pikiran itu adalah seseorang, dan tindakannya itu jadi rahim kelahiran seseorang yang baru, dengan tindakannya seseorang diikat, dan dengan tindakannya seseorang dibebaskan.

Jalan selamat bagi pemuda Indonesia menjadi gamblang. Lewat sudah masanya pemuda merupakan istilah generik bagi sekelompok orang berusia dan bersemangat muda. Bersama itu silam juga masa jaya organisasi pemuda; tantang dan jawab organisasi itu. Yang nyata adalah setiap orang Indonesia berusia muda 15-29 tahun, konon 62.082.810 orang banyaknya, atau 83.393.253 orang yang berumur 15-34 tahun, sejauh hasil Sensus Penduduk 2010 bisa dipercaya.

Mereka termasuk dalam 238 juta orang penduduk Indonesia; dalam 169.038.063 orang tenaga kerja bangsa kita; dalam 107.724.894 orang angkatan kerja kita ; dalam 104.928.049 orang pekerja kita, yang hampir separonya hanya lulus SD atau kurang daripada itu; 70 persen hanya lulus SLTP atau kurang daripada itu; atau 90 persen hanya lulus SLTA atau kurang daripada itu. Jadi jelas, secara statistik pun mereka tidak bisa diperlalukan sama sebagai pemuda.

Jika jalan selamat sosial yang diajukan oleh Sorokin dan yang dibangkitkan lagi oleh para cendekiawan sekarang ini mengandung kebenaran, maka jelas juga bagi para pemuda Indonesia bahwa mereka sebagai orang per orang perlu meninjau kembali semua yang pernah mereka pelajari, ketahui, dan percayai, agar bisa mengatasinya untuk mencapai transendensi. Silam sudah masanya menyerahkan nasibnya kepada pada pemimpin pemuda, apalagi penguasa negeri. Mereka harus belajar mengadapi setiap orang seperti dirinya, menakar orang seperti dirinya, menghormati orang seperti dirinya.

Mereka tidak bisa lagi mengandalkan hasil pelajarannya di sekolah, di media, di kelompok tradisionalnya, yang ternyata sudah tidak berdaya selama ini. Setiap pemuda harus mulai mendidik diri sendiri berdasarkan akal sehat. Hanya sesudah itu mereka bisa bergaul dengan sehat dengan semua anggota bangsanya, dan juga anggota bangsa-bangsa lain. Dengan demikian, mau-tidak-mau, mereka harus mengolah kehidupan yang sedang dihadapinya dengan sebaik-baiknya, dan dengan itu mengembalikan martabat satuan masyarakat yang terkecil itu, keluarga yang terancam berantakan itu. Masing-masing harus menyelamatkan diri Tahun Jahanam ini, dari kapal Titanic yang sedang tenggelam! (Jakarta, Senin 28 Oktober 2013, Parakitri T. Simbolon).■

%d bloggers like this: