Negara Tanpa Rakyat

deskha September 30, 2008 0
Negara Tanpa Rakyat

Page 1 of 6

TIDAK SULIT membicarakan pergerakan kebangsaan kita menurut kajian sarjana asing. Pilihan sangat banyak, baik dalam bentuk, cakupan kurun waktu, maupun sudut-pandang. Yang sulit adalah menemukan satu-dua perkara yang terus mengusik rasa ingin-tahu setelah selesai membaca sejumlah kajian, sendiri-sendiri maupun serangkaian, ibarat seutas benang merah yang menjelujuri permasalahan gerakan kebangsaan kita selama ini. Ini sulit, karena benang merah menuntut kesinambungan sejumlah kajian, padahal satu kajian lebih sering menolak atau mengubah kajian lain.

Petrus BlumbergerPetrus Blumberger

Itulah yang terjadi dengan kajian-kajian sarjana asing tentang pergerakan kebangsaan kita, yang dimulai dengan trilogi J. Th. Petrus Blumberger. Ke-tiga kajian Blumberger itu: De Communistische Beweging in Nederlandsch-Indië (1928); De Nationalistische Beweging in Nederlandsch-Indië (1931), dan De Indo-Europeesche Beweging in Nederlandsch-Indië (1939).

 

Seperti tampak pada ketiga judul itu, Blumberger memahami pergerakan kebangsaan kita terdiri dari berbagai aliran (“stroomingen”), dan Pergerakan Nasional dianggapnyha hanya salah satu aliran saja yang terdiri dari beberapa organisasi seperti Perhimpunan Indonesia, “studieclub”, PNI, dan PPPKI. Aliran lain terdiri dari pergerakan ras dan etnis, agama, ekonomi, dan kepentingan umum lain (“moderne geestesstromingen”), yang mencakup Budi Utomo, Sarekat Islam, Paguyuban Pasundan, organisasi komunis, gerakan kepanduan, dll.
Blumberger mengambil bahan-bahan kajiannya dari sumber-sumber resmi pemerintah Hindia-Belanda. Itulah ikhtisar-ikhtisar politik dalam maklumat-malumat pemerintah seperti Laporan Kolonial (Koloniale Verslagen), ikhtisar pers dari Balai Pustaka, dan risalah-risalah parelemen Belanda (Kamer) serta Hindia-Belanda (Volksraad). Maklum, ia bekas asisten residen.

Negara Tanpa Rakyat – Trilogi Blumberger

Page 2 of 6

Trilogi Blumberger pada dasarnya hanya mengolah secara sistematis sumber-sumber sejarah resmi yang ada waktu itu mengenai proses evolusi sosial Hindia-Belanda. Ia memaparkan timbul dan berkembangnya cara-cara baru menghadapi pemerintah, yakni organisasi-organisasi perhimpunan dan partai, serta sikap pemerintah jajahan menghadapi semua itu. Namun demikian terkesan juga rasa yakin Blumberger bahwa cara-cara baru itu bermaksud menimbulkan kesulitan-kesulitan besar (“groote problemen”) bagi pemerintah jajahan untuk menentukan politik masa depan.

Dari 1946 sampai 1952, terbit sedikitnya empat buku, dua di antaranya tetap mengandalkan sumber-sumber yang sedikit-banyak sama dengan yang digunakan oleh Blumberger, yang dalam semangat dan pandangan bertentangan dengan Blumberger. Keempat buku itu: J. H. François, 37 Jaar Indonesische Vrijheidsbeweging (1946); Alexandre von Arx, l’Évolution Politique en Indonésie (1949); D.M.G. Koch, Om de Vrijheid. De Nationalistische Beweging in Indonesië(1951); dan George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (1952).

Dengan caranya masing-masing keempat kajian mengemukakan bahwa pergerakan kebangsaan kita sesuai dengan semangat zaman bahkan kewajiban moral. Itulah hak setiap bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Malah von Arx menganggap negara-negara penjajah memikul tanggungjawab moral untuk membantu dan mendorong pergerakan kebangsaan mencapai kemerdekaan. Hanya dengan memenuhi kewajiban moral itu perdamaian dunia bisa ditegakkan. Yang terjadi di Indonesia adalah karena penjajah melanggar kewajiban moral tersebut.

Kahin berpendirian bahwa sebagai kewajiban moral, mencapai kemerdekaan bisa dilakukan dengan revolusi bila perlu. Ini berarti, bukannya organisasi pergerakan yang menimbulkan kesulitan bagi pemerintah jajahan, sebagaimana menurut Blumberger, melainkan sebaliknya.

Pada 1953 terbitlah kajian J.M. Pluvier, Overzicht van de Ontwikkeling der Nationalistische Beweging in Indonesië in de Jaren 1930 tot 1942. Kajian ini sebagian besar merupakan hasil pemeriksaan silang antara bahan-bahan Ikhtisar Pers Pribumi dan Cina-Melayu terbitan Balai Pustaka (Overzicht van de Inlandsche en Maleisch-Chineesche Pers) di satu pihak, dan siaran rahasia bagi kalangan terbatas mengenai politik keamanan (Politiek-Politioneele Overzichten) oleh Kejaksaan Agung Hindia-Belanda.

Negara Tanpa Rakyat – Pergerakan Kebangsaan 1930-42

Page 3 of 6

Dengan demikian, Pluvier berhasil antara lain mengubah anggapan keliru mengenai pergerakan kebangsaan kita 1930-42 sebagai masa lesu, tidak berdaya, terhadap kekuasaan penjajahan yang sedang jaya-jayanya. Dengan argumen yang ketat, Pluvier mengukuhkan bahwa pergerakan 1930-42 sama jayanya dengan pergerakan kemerdekaan 1908-1929. Dua-duanya sama-sama merupakan ungkapan Kebangkitan Timur, “het Oosters Reveil”, hasil persentuhan Timur dan Barat selama 400 tahun.

Salah satu implikasi kajian Pluvier ini adalah bahwa anggapan Belanda mengenai kemerdekaan Indonesia sebagai hadiah Jepang samasekali tidak berdasar. Implikasi lain yang tak kalah penting adalah menyangkut rahasia keberdayaan itu. Jika pada masa yang paling mematikan seperti 1930-42 pergerakan kebangsaan kita memang betul tidak kurang berdaya daripada masa-masa sebelumnya, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan sekitar sumber atau letak keberdayaan itu, siapa yang berperan di dalamnya, dan bagaimana keberdayaan itu tetap terpelihara sekalipun dalam masa sulit.

Pengertian dan pertanyaan yang sama rupanya timbul juga pada sarjana lain, di tempat lain, dan dalam waktu yang berdekatan. Contoh, Robert van Niel dari Russell Sage College, AS, The Emergence of the Modern Indonesian Elite (1954/60). Jawaban van Niel, keberdayaan itu terletak pada ” the leader group of Indonesian society”, sedang “the Indonesian society” itu hanyalah satu di antara empat kelompok dalam “the East Indian society” di samping kelompok Eropa (Belanda), Tionghoa, dan Arab. Untuk memahami keberdayaan ini, van Niel mengupas “social change” selama 25 tahun pertama Abad XX, khusus di kalangan “the leader group of Indonesian society”.

Negara Tanpa Rakyat – Hidup di bawah penjajahan

Page 4 of 6

Hidup di bawah penjajahan, perkembangan “Indonesian society” dan “the leader group”-nya juga sangat dipengaruhi oleh “colonial policies, practices and attitudes”. Dinamika “Indonesian society” dan serba perubahan pola kepemimpinannya dalam menghadapi pengaruh itu selama 25 tahun membentuk landasan sosial Indonesia merdeka kemudian.

Jawaban van Niel ini menjadi kurang meyakinkan dengan terbitnya pada 1976 kajian Susan Abeyasekere, One Hand Clapping: Indonesian Nationalists and the Dutch 1939-1942. Setelah para pemimpin yang berhaluan non-koperasi habis ditangkap dan dibuang, tampillah pemimpin yang berhaluan koperasi. Namun tuntutan mereka yang paling lunak pun, seperti Indonesia berparlemen, samasekali dianggap sepi oleh Belanda, padahal Belanda sedang berada dalam keadaan perang.

Menyedihkan bahwa para pemimpin yang berhaluan koperasi itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sikap Belanda yang tak masuk akal itu, sampai Jepang masuk. Nasib yang sama lagi-lagi menimpa para pemimpin yang berhaluan non-koperasi di bawah kekuasaan Jepang. Jadi semua pemimpin pergerakan tidak berhasil mencapai apa-apa dengan kekuatan sendiri, hanya dapat menyerahkan nasib pada kekuatan luar. Benar-benar bagai “one hand clapping”, tangan bertepuk sebelah.

Negara Tanpa Rakyat – Asas Perjuangan Indonesische Vereeniging

Page 5 of 6

Sikap para pemimpin ini sangat bertentangan dengan asas perjuangan Indonesische Vereeniging (kemudian Perhimpunan Indonesia) di Nederland yang dicanangkan pada 3 Maret 1923. Asas perjuangan itu menegaskan bahwa masa depan rakyat Indonesia (“het volk van Indonesië”) hanya dan semata-mata tergantung pada penyelenggaraan pemerintahan yang bertanggungjawab kepada Rakyat itu sendiri (“dat Volk zelf”). Setiap orang Indonesia (“Indonesiër”) wajib sesuai kemampuan dan bakatnya untuk berjuang mencapai hal ini dengan kekuatan sendiri (“eigen kracht en eigen kunnen”), tidak tergantung pada bantuan orang lain (‘onafhankelijk van de “hulp” van vreemden’). Asas perjuangan ini dapat dibaca oleh masyarakat luas berkat jasa Harry A. Poeze dkk. yang menyusun buku tentang kehidupan orang-orang Indonesia di negeri penjajah, In het Land van de Overheerser I: Indonesiërs in Nederland 1600-1950 dan terbit pada 1986.

Lalu muncullah kajian yang lain daripada yang lain, karya Takashi Shiraishi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 (1990). Kajian ini lain daripada yang lain karena dua hal. Pertama, rakyat-lah yang lebih penting dan jadi sumber keberdayaan, bukan golongan pemimpin atau elit. Kedua, kenyataan ini baru terlihat setelah Shiraishi menolak cara-pandang lama melihat pergerakan kebangsaan kita sebagai “orthodox historiography”.

Yang ortodok melihat pergerakan sebagai garis yang bergerak lurus dari suatu bangsa yang belum bernama (“the yet-nameless nation”) ke pencarian nama, “Indonesia”, dan cita-cita kebangsaannya, “Indonesia Merdeka”: dari surat-surat Kartini dan Boedi Oetomo ke Perhimpoenan Indonesia, PNI, dan “sumpah pemuda“. Cara-pandang ini merupakan anak kandung perkawinan antara cara-pandang dokumen-dokumen resmi Hindia-Belanda dan cara-pandang pasca kemerdekaan yang berpusat pada Indonesia. Dasarnya adalah cara-pandang J. Th. Petrus Blumberger dengan dua sistem penggolongannya, yang rasial dan organisasional. Maklum, pemerintah jajahan lebih takut kepada golongan dan organisasi daripada orang per orang.

Historiografi baru ala Shiraishi menganggap orang, rakyat, “people” yang lebih penting, dan melihat pergerakan sebagai gelombang gerak rakyat ketika memperoleh kesadaran baru tentang dunia ini, dan merasa dapat mengubah dunia, serta mengungkapkan kesadaran itu dengan wahana dan bahasa modern. Pendeknya pergerakan adalah gelombang gerak rakyat, yang lintas-golongan dan lintas-organisasi. Namun ia menutup kajiannya dengan kehancuran gelombang gerak rakyat itu dalam perlawanan bersenjata 1926.

Negara Tanpa Rakyat – Benarkah ada rakyat Indonesia?

Page 6 of 6Rakyat. Tapi benarkah ada rakyat Indonesia? Siapakah mereka? Di mana kedudukan mereka dalam pergerakan kebangsaan dan kemudian dalam kebangsaan Indonesia Merdeka?

%d bloggers like this: