Ke Arah Kebangunan Kembali Prakarsa Bangsa Indonesia – Lampiran Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution

deskha September 30, 2015 Comments Off on Ke Arah Kebangunan Kembali Prakarsa Bangsa Indonesia – Lampiran Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution
Ke Arah Kebangunan Kembali Prakarsa Bangsa Indonesia – Lampiran Sepercik Kenangan Bersama Adnan Buyung Nasution

Ke Arah Kebangunan Kembali Prakarsa Bangsa Indonesia

Menjelang peralihan Abad XX ke Abad XXI ini, dunia sedang menghadapi rentetan peristiwa menggoncangkan, yang nampaknya tidak saja merupakan tonggak sejarah dasawarsa 1980-an, tetapi juga ikut menentukan corak seluruh pergulatan hidup manusia abad mendatang. Rentetan peristiwa itu meliputi hampir seluruh bidang kehidupan, sejak dari teknologi sebagai alat mengolah budi-daya alam berdasarkan ilmu pengetahuan sampai ke pranata kemasyarakatan sebagai upaya menggalang prakarsa manusia berdasarkan cita-cita.

Termasuk cakupan bidang tersebut pertama, ilmu pengetahuan dan teknologi telah sempat mengantar manusia ke tingkat kemampuan untuk mewujudkan “apa saja yang mungkin”, yang pada dasarnya menyiratkan semangat tinggi dan harapan besar kemanusiaan. Dengan kaidah ini, pengolahan alam besar dan kecil telah berlangsung dengan sangat menakjubkan. Manusia telah mulai menjelajahi ruang-waktu semesta yang sulit dibayangkan. Pada saat yang hampir bersamaan, manusia telah mulai juga menyingkap rahasia sumber hayati pada satuan maha kecil yang sama sulitnya diterakan.

Namun demikian, hasil-hasil yang mengagumkan itu justru telah menyadarkan manusia terhadap sisi-sisi gelap ilmu dan teknologi. Penjelajahan angkasa dengan sangat jelas telah menyaksikan betapa rapuhnya sebenarnya dunia kita ini, yang tidak lebih dari “kelepon kecil berwarna di tengah ruang semesta tak berbatas” yang setiap saat bisa pecah oleh keteledoran manusia sendiri. Dalam peri yang serupa, penyingkapan rahasia hidup pada satuan maha kecil juga telah menunjukkan betapa rumitnya susunan inti hayati kita, sehingga sedikit saja keliru menjamahnya akan menimbulkan malapetaka.

Termasuk cakupan bidang tersebut kedua, cita-cita luhur dan bermacam cetak biru pencapaiannya telah sempat mengantar pranata kemasyarakatan ke tingkat kekuasaan yang memaksa jutaan manusia untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum ciptaannya sendiri, yang pada dasarnya menyiratkan optimisme yang berlebihan atas kemaslahatan umum. Dengan cita-cita ini, kekuasaan negara atas suatu bangsa telah tersusun dengan kecanggihan luar biasa. Kekuasaan itu telah mampu membina tradisi bangsa dan kelompok, yang menjadi acuan makna dan harapan hidup bersama. Kekuasaan itu juga sudah mencipta cetak biru menyeluruh yang menyangka bisa mencapai cita-cita luhur suatu bangsa atau masyarakat, seolah-olah perjalanan sejarah harus tunduk pada tahap dan arah yang telah ditetapkannya. Bersamaan dengan itu kekuasaan tersebut telah coba menata alokasi besar-besaran atas pikiran, tenaga, dan dana masyarakat.

Namun demikian, hasil-hasil yang mengagumkan itu justru telah menyingkapkan sisi yang berbahaya dalam hubungan antara segala bentuk kekuasaan dengan kemaslahatan umum. Semakin “dipermulia” dan didewakan kekuasaan, semakin mudah terlupa kemaslahatan umum. Semakin totaliter dan bersifat mutlak cetak biru dari alokasi masyarakat untuk mencapai cita-cita luhur, semakin merosot kemaslahatan umum. Semakin besar dan terpusat kekuasaan, semakin terancam kemaslahatan umum.

Sekali pun demikian, bukanlah berarti bahwa upaya-upaya ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya dihentikan; atau cita-cita, perencanaan, dan kekuasaan kemasyarakatan menjadi tak perlu. Sekali pun ada pikiran dan sikap yang mencela bahkan memusuhi upaya-upaya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam abad ini, sikap semacam itu ternyata hanya bisa bertahan dengan menggunakan hasil-hasil ilmu dan teknologi itu. Demikian juga halnya dengan cita-cita besar. Sekali pun cita-cita baru muncul, kekuatannya ternyata hanya bisa bertahan bila diperhadapkan dengan cita-cita lama. Yang menjadi pokok soal adalah bagaimana manusia bisa tetap waspada bahwa dirinyalah yang jadi patokan dalam seluruh perkembangan itu, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, mau pun cita-cita besar; jadi bukan sebaliknya.

Manusia hanya bisa bertahan kalau kebebasannya terjaga untuk menimba pelajaran dan teladan dari suka-duka kehidupan. Baik sebagai pribadi, warga kelompok masyarakat, mau pun warga negara atau bangsa, manusia tidak boleh tidak menatap seluruh peristiwa ini, dan melakukan pengkajian ulang atas budi pikiran, prakarsa, dan harapan yang sudah ada. Pada saat seperti, manusia tidak lagi cukup sekedar mengecam mudarat-mudarat zamannya, akan tetapi terlebih penting lagi untuk menjadikannya sebagai khazanah kekayaan insani bagi timbulnya harapan, pengertian, dan prakarsa-prakarsa baru.

Sebagai pribadi dan warga bangsa Indonesia, yang mencakup jumlah kelima paling banyak dari warga dunia, kami merasa ikut terpanggil untuk menyumbangkan sebanyak mungkin pikiran, harapan dan tenaga pada perkembangan yang lebih baik kehidupan manusia sekarang dan di masa yang akan datang. Demikian kami mencanangkan seruan:

Menuju Prakarsa Bangsa Indonesia Sebagai Warga Dunia

Lahir dari haribaan pergulatan hidup Abad XX, bangsa Indonesia sedikit banyak telah ikut mewarnai pilihan-pilihan sulit yang harus dibuat oleh umat manusia sedunia untuk memahami masalah-masalah mendasar serta upaya-upaya mengatasinya. Keyakinan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Pengasih, dan Penyayang; harapan pada kemanusiaan yang adil dan beradab; kepercayaan akan usaha bersama dalam kebhinekaan sumber daya; kebajikan prakarsa rakyat; serta keharusan memperbaiki peri kehidupan bersama; kelima hal ini merupakan kaidah pokok pilihan-pilihan tersebut.

Sebagaimana bangsa-bangsa lain, Indonesia kadang-kadang berhasil dan kadang-kadang gagal dalam melakukan pilihan yang tepat mau pun dalam mengatasi soal-soal yang dihadapi. Namun demikian, haruslah diakui bahwa dalam keberhasilan, Indonesia baru dapat menyumbang sedikit bagi kemaslahatan dunia; sebaliknya, dalam kegagalan, Indonesia mengandung banyak persamaan dengan kerawanan-kerawanan dasar di dunia.

Sehubungan dengan itu Bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah dari perkembangan zaman, dan layaklah kiranya jika Indonesia membuka diri terhadap hal-hal berikut:

  1. Setiap prakarsa yang timbul dewasa ini di mana pun juga langsung menimbulkan pengaruh yang melintasi batas-batas pengelompokan masyarakat macam apa pun yang pernah ada selama ini di dunia. Dunia telah menjadi ruang yang terbatas dan rapuh, sehingga kelangsungan hidupnya pun sudah menjadi tanggungjawab setiap insan. Tanggungjawab itu terutama berkaitan dengan bangunnya kesadaran bahwa tidak bisa lagi mengambil prakarsa berdasarkan prinsip “apa saja yang mungkin”, tetapi harus berdasarkan “apa saja yang patut” untuk kelestarian hidup bersama.
  2. Semua yang pernah dicapai oleh umat manusia sampai saat ini adalah rangkaian percobaan berharga yang terus menerus untuk memahami, dan mengatasi, masalah-masalah kehidupan. Oleh karena itu, semuanya harus diperlakukan sebagai kekayaan tradisi umat manusia, lepas dari pembatasan-pembatasan kelompok.
  3. Upaya manusia untuk memahami, dan mengatasi, masalah-masalah kehidupan bisa keliru dan gagal. Oleh karena itu, tidak seorang pun dapat menuntut nilai kebenaran mutlak bagi upaya macam apa pun. Sebaliknya semua upaya merupakan khazanah kekayaan yang terbuka bagi semua orang untuk dinilai dan digunakan menuju bangunnya pengertian, harapan, dan prakarsa baru.
  4. Salah satu hambatan utama terhadap bangunnya pengertian, harapan, dan prakarsa baru itu adalah anggapan yang keliru bahwa kekuasaan merupakan keharusan hidup, bukan sekedar sarana yang seperlunya saja, sebagaimana sesungguhnya.
  5. Tidak ada yang lebih berhak menentukan keperluan itu daripada semua orang yang tercakup dalam suatu kekuasaan. Itulah sebabnya maka pada awal dan akhir, hak hidup bangsa dan negara, dengan segala kekuasaannya, bertumpu pada kedaulatan rakyatnya, hak-hak serta kewajibannya yang mendasar dan sama.
  6. Kekuasaan kemasyarakatan, apa pun bentuknya, selalu cenderung menyeleweng dari yang seperlunya saja. Semakin besar dan terpusat kekuasaan itu, semakin besar kecenderungannya untuk menyeleweng. Salah satu wujud penyelewengan itu adalah ketimpangan dalam pembagian sumber daya nasional dan internasional.
  7. Cita-cita paling luhur, dan tokoh paling baik hati sekali pun, bukanlah jaminan bahwa kekuasaan tidak akan menyeleweng. Oleh karena itu, yang paling jauh bisa dilakukan adalah mencegah sekeras-kerasnya penyelewengan kekuasaan dan mengurangi sebanyak-banyaknya dampak penyelewengan itu dengan membuka kemungkinan seluas-luasnya bagi berkemebangnya pranata-pranata kemasyarakatan yang mandiri.
  8. Mustahil menciptakan pranata kemasyarakatan yang sempurna. Oleh karena itu, yang paling jauh bisa dilakukan adalah memelihara kepekaan pranata terhadap kekeliruannya, dan keterbukaannya terhadap perbaikan. Salah satu wujud memelihara kepekaan dan keterbukaan itu adalah mengisi pranata dengan tenaga-tenaga yang berwatak dan cakap, serta melengkapinya dengan tata kerja yang menunjang prakarsanya.
  9. Memahami dan mengatasi masalah-masalah nyata jauh lebih menentukan daripada rajutan cita-cita luhur terhadap kemampuan pranata kemasyarakatan untuk berprakarsa. Oleh karena itu, keterbukaan terhadap masalah dan cara mengatasinya merupakan etika dasar kekuasaan dalam pranata kemasyarakatan itu.
  10. Manusia pribadi dan pranata kemasyarakatan merupakan sumber tradisi pemahaman masalah dan cara mengatasinya. Oleh karena itu, ruang gerak yang seluas-luasnya bagi pribadi dan pranata yang diciptakannya menjadi prasyarat menuju bangunnya prakarsa-prakarsa baru.

Oegstgeest, 29 Desember 1989.

1.     Wilarsa Budiharga

2.     Hadidjoyo

3.     Rafendi Djamin

4.     Mahasin

5.     Y.B. Mangunwijaya

6.     Adnan Buyung Nasution

7.     Zakaria Ngelow

8.     Parakitri T. Simbolon

9.     Viva Pasaribu

10.   Pradjarta

11.   Albert Roring

12.   Agust Rumansara

13.   Elga Sarapung

14.   Aboeprijadi Santoso

15.   Siswa Santoso

16.   Th. Sumartana

%d bloggers like this: