Mancapai Indonesia Merdeka

deskha July 1, 2009 0

Sukarno

“Mentjapai Indonesia Merdeka”

Ringkasan

 Ringkasan “visi-misi” Bung Karno ini berdasarkan “Mencapai Indonesia Merdeka” dalam Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi (Djakarta: Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1964), jilid pertama, cetakan ketiga, hlm. 257-324.

Seperti diungkapkan di bagian awal karya ini, Sukarno menuliskannya di Pangalengan pada 30 Maret 1933. Pangalengan, suatu kota kecil pegunungan di sebelah selatan kota Bandung. “[S]ekembali … dari … tournée … ke Jawa Tengah … membangkitkan Rakyat sedjumlah 89.000 orang,” Sukarno “berpakansi beberapa hari [di sana] melepaskan kelelahan badan.” Ia sendiri menyebut karyanya ini “risalah”, juga “vlugschrift”, yang dua-duanya berarti karangan ringkas, brosur, pamflet.

Risalah ini ditujukan kepada “orang yang baru mendjejakkan kaki di gelanggang perjoangan”. Agar tidak “terlalu tebal” dan “terlalu mahal”, “hanya garis-garis besar sahaja” yang dikemukakan. “Mitsalnya fatsal ‘Di Seberang Jembatan Emas’ kurang jelas, sehingga akan dipaparkan lebih rinci dalam karya lain.

Di luar pengantar yang tanpa sub-judul, risalah ini terdiri dari  10 sub-judul:

1.   Sebab-sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

2.   Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

3.   “Indonesia, Tanah Yang Mulya,

Tanah Kita Yang Kaya;

Disanalah kita Berada

Untuk Selama-lamanya” …

4.   “Di Timur Matahari Mulai Bercahaya,

Bangun dan Berdiri, Kawan Semua”…

5.   Gunanya Ada Partai

6.   Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

7.   Sana Mau ke Sana, Sini Mau ke Sini

8.   Machtsvorming, Radikalisme, Massa-Aksi

9.   Diseberangnya Jembatan Emas

10.Mencapai Indonesia-Merdeka!

1.   Sebab-sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

Risalah mulai dengan menolak tesis “Professor Veth”  bahwa Indonesia “tidak pernah merdeka […] dari zaman Hindu sampai sekarang […] Indonesia senantiasa menjadi negeri jajahan: mula-mula jajahan Hindu, kemudian jajahan Belanda.” Namun sejarah menunjukkan yang sebaliknya: “[K]aum yang kuasa di dalam zaman Hindu itu […] tidak terutama sekali kaum penjajah […]. Mereka bukanlah kaum yang merebut kerajaan, tetapi mereka sendirilah yang mendirikan kerajaan di Indonesia! Mereka menyusun staat Indonesia, yang tahadinya tidak ada staat Indonesia!” Hubungan kerajaan Indonesia itu dengan Hindustan “bukanlah perhubungan kekuasaan, […] tetapi ialah perhubungan peradaban, perhubungan cultuur.”

[…]

“Negeri Indonesia ketika itu merdeka, – tetapi penduduk Indonesia, Rakyat-jelata Indonesia, Marhaen Indonesia … tidak pernah merdeka.”  Namun begitulah nasib semua rakyat jelata di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Mereka “diperintah oleh raja-rajanya secara feodalisme: Mereka hanyalah menjadi perkakas sahaja dari raja-raja itu dengan segala bala-keningratannya …”.

Karena itu sebab-sebabnya Indonesia dijajah, tidak merdeka, harus dicari dalam masa “[t]iga empat ratus tahun yang lalu, di dalam abad keenambelas ketujuhbelas … ketika “feodalisme Eropah” surut dan diganti dengan “vroeg-kapitalisme”, kapitalisme tua, yaitu timbulnya kelas “pertukangan dan perdagangan, yang giat sekali berniaga di seluruh benua Eropa-Barat.” Kelas kapitalis ini semakin kuat sampai dapat mencapai “kedudukan kecakrawartian”, kuasa pemerintahan. Segera Eropa menjadi sempit bagi kapitalisme tua itu, sehingga “timbullah suatu nafsu, suatu stelsel” untuk menguasai “benua-benua lain, – terutama sekali di benua Timur, di benua Azia!” Itulah “imperialisme”.

Sementara itu “… masyarakat Indonesia khususnya, masyarakat Azia umumnya, pada waktu itu kebetulan sakit”, maksudnya “suatu masyarakat ‘in transformatie’ …, yang sedang asyik ‘berganti bulu’: “[dari] feodalisme-kuno” atau “feodalisme Brahmanisme” ke “feodalisme-baru, feodalismenya ke-Islam-an, yang sedikit lebih demokratis …”.  Masa ‘berganti bulu” itu tercermin antara lain dalam “pertempuran antar Demak dan Majapahit, atau Banten dan Pajajaran”. Pertempuran-pertempuran itu “membikin badan masyarakat menjadi ‘demam’ dan menjadi ‘kurang-tenaga’, dan lambat-laun dikalahkan oleh  kapitalisme-tua Eropa melalui nafsu imperialismenya.

2.   Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

“Tahukah pembaca bagaimana mekarnya imperialisme itu, … dari imperialisme-kecil menjadi imperialisme raksasa […,] dari imperialisme-tua menjadi imperialisme modern?” Untuk itu pembaca perlu tahu lebih dulu bahwa “[i]mperialisme adalah anaknya kapitalisme. Imperialisme-tua dilahirkan oleh kapitalisme-tua, imperialisme-modern dilahirkan oleh kaitalisme-modern. [Namun] [w]ataknya kapitalisme-tua adalah berbeda besar dengan wataknya kapitalisme-modern. […] Maka imperialisme-tua yang dilahirkan oleh kapitalisme-tua itu, – imperialismenya [VOC] dan … [Tanam Paksa] – … niscayalah satu watak dengan ‘ibunya’, yakni watak-tua, watak-kolot, watak-kuno.”

Watak kuno imperialisme-tua itu “menghantam ke kanan dan ke kiri, [menjalankan] stelsel monopoli dengan kekerasan dan kekejaman … mengadakan sistim paksa …, membinasakan ribuan jiwa manusia, menghancurkan kerajaan-kerajaan …, membasmi milliunan tanaman cengkeh dan pala …. Ia melahirkan aturan contingenten [pajak berupa hasil bumi] dan leverantien [hak monopoli beli hasil bumi] yang sangat berat dipikulnya oleh Rakyat […].”

“Tetapi lambat-laun di Eropah modern-kapitalisme mengganti vroeg-kapitalisme yang sudah tua-bangka. Paberik-paberik, bingkil-bingkil, bank-bank, pelabuhan-pelabuhan , kota-kota industri timbullah seakan-akan jamur di musim dingin, dan tatkala modern-kapitalisme ini sudah dewasa, maka modal-kelebihannya alias surpluskapital-nya lalu ingin dimasukkan di Indonesia …”. Mereka tidak sabar menunggu di pintu gerbang Indonesia. Mereka memekik dengan semboyan-semboyan seperti kebebasan buruh, kebebasan menyewa tanah, persaingan bebas. “Dan akhirnya, pada kira-kira tahun 1870, dibukalah pintu gerbang itu!” Maka masuklah “modal-partikelir di Indonesia, – mengadakan paberik-paberik gula di mana-mana, kebon-kebon teh di mana-mana, onderneming-onderneming tembakau di mana-mana, dan lain sebagainya …”.

“Cara pengambilan [rezeki dengan jalan monopoli] berobah, sistimnya berobah, wataknya berobah, tetapi banyakkah perobahan bagi Rakyat Indonesia? Banjir harta yang keluar dari Indonesia bukan semakin surut, tetapi malahan makin besar, drainage Indonesia malahan makin [besar].” Maka sejak “adanya opendeur politiek [politik pintu terbuka]  di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda sahaja, tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain, sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa ‘biasa yang dulu … kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh!”

Drainase itu digambarkan dengan perbandingan antara ekspor dan impor untuk 1924-1930.  Rata-rata jumlah ekspor/tahun f 1.527.799.571, sedang rata-rata jumlah impor/tahun f 875.917.143. Jadi rata-rata rasio ekspor dan impor adalah 174/100, sedang rasio tertinggi  226/100 dan terendah 135/100.  “Sedang bandingannya ekspor/impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada ‘mendingan’, [dan] bandingan itu di dalam tahun 1924: Afrika Selatan 119/100; Filipina 123/100; India 123/100; Mesir 129/100, Sri Lanka 133/100. “[M]aka buat Indonesia, ia menjadi yang paling celaka […]”. Sebanyak 75 persen nilai ekspor itu berasal dari “delapan macam hatsil onderneming landbouw” atau hasil pertanian yang sangat dekat dengan kepentingan rakyat.

Untung bersih bagi semua onderneming itu rata-rata f 515.000.000/tahun, “lima ratus limabelas milliun rupiah setahun, dan ini adalah 9% á 10% dari mereka punya modal-induk!”, sedang “bagi Marhaen, yang membanting tulang dan berkeluh-kesah mandi keringat bekerja membikinkan untung sebesar itu, rata-rata di dalam zaman ‘normal’ [sebelum meleset] ta’ lebih dari delapan sen seorang sehari …”

3. “Indonesia, Tanah yang Mulya …”

Marhaen dapat “ta’ lebih dari delapan sen seorang sehari. Dan ini pun bukan hisapan-jempol kaum pembohong, bukan hasutannya kaum penghasut, bukan agitasinya pemimpin-agitator. […] Memang hanya orang munafik dan durhaka sahajalah yang tak’ berhenti-henti berkemak-kemik: ‘Indonesia sejahtera. Rakyatnya kenyang-senang.” […]. Kenyataan ini “ta’ dapat dibantah lagi. Dr Huender telah mengumpulkan angka-angka[nya]. […] Ia membagi pendapatan Kang Marhaen itu dalam tiga bagian: … dari padinya, … dari palawijanya, … dari perkuliannya bilamana Marhaen tengan ‘vrij’”.

[…]

“En toch, barangkali risalah ini dibaca oleh fihak ‘twijvelaars’ alias fihak ‘ragu-ragu’ di kalangan kita punya intellectuelen yang karena terlampau kenyang ‘cekokan kolonial’ tidak percaya bahwa Marhaen papa-sengsara?” Cara manjur melenyapkan keraguan mereka itu adalah menganjurkan mereka pergi ke kalangan Marhaen sendiri, lalu melihat dengan mata kepala sendiri. Boleh juga periksa “perkataan Professor Boeke yang berbunyi, bahwa hidupnya bapak tani adalah hidup ‘ellendig’, hidup yang sengsara keliwat sengsara’”. Boleh juga buka “surar-surat chabar […] dan mengumpulkan ‘syair megatruh’ […] yang melagukan betapa hidupnya Kang Marhaen yang … sudah ‘sekarang makan besok tidak’ itu”.

[…]

“O, Marhaen, hidupmu sehari-hari morat-marit” tapi “kamu boleh menyanyi: Indonesia,Tanah Yang Mulya/ Tanah Kita Yang Kaya/ Disanalah kita Berada/ Untuk Selama-lamanya.”

4.   “Di Timur Matahari Mulai Bercahaya,”

“Tetapi hal-hal yang saya ceritakan di atas ini hanyalah kerusakan lahir sahaja. Kerusakan bathin pun ternyata [timbul] di mana-mana. Stelsel imperialisme yang butuh pada kaum buruh itu, sudah [menyelewengkan] semangat kita menjadi semangat perburuhan … yang hanya senang jikalau bisa menghamba. Rakyat Indonesia sediakala terkenal sebagai Rakyat yang gaga-berani …, yang perahu-perahunya melintasi lautan dan samodra …, kini terkenal sebagai ‘het zachtste volk der aarde’, ‘Rakyat yang paling lemah-budi di seluruh muka bumi’. Rakya Indonesia itu kini menjadi Rakyat yang hilang kepercayaannya pada diri sendiri, hilang keperibadiannya […]”.

Itu pun “belum bencana bathin yang paling besar! Bencana bathin yang paling besar ialah bahwa Rakyat Indonesia itu percaya bahwa ia memang adalah ‘Rakyat-kambing’ yang selamanya harus dipimpin dan dituntun”. Rakyat seperti itu percaya saja semboyan imperialisme bahwa mereka datang di Indonesia bukan untuk cari rezeki, malainkan datang membawa “’maksud suci’ … ‘mission-cacrée’ [untuk mencapai] ‘beschaving’ dan ‘orde en rust’, – ‘[peradaban]’ dan ‘[ketertiban] umum’.”

Namun semua itu “hanyalah omong-kosong belaka”, dan kita akan binasa kalau terus percaya omong-kosong tersebut, ‘dan pantas binasa di dalam lumpur penghinaan dan nerakanya kegelapan. […] Tetapi … Alhamdulillah, di Timur matahari mulai bercahaya, fajar mulai menyingsing! Obat tidur imperialisme yang berabad-abad kita minum … perlahan-lahan mlai kurang dayanya. […] Berabad-abad kita sudah lembek hingga seperti kapuk dan agar-agar. Yang [kita] butuhkan kini ialah otot-otot yang kerasnya sebagai baja, urat-urat-syaraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu-hitam … dan jika perlu, berani terjun ke dasarnya samodra!”

Fajar menyingsing itu adalah pergerakan kebangsaan kita. “Pergerakan memang bukan tergantung [pada] seorang pemimpin …, pergerakan adalah bikinannya nasib kita yang sengsara. [Pergerakan] pada hakekatnya adalah usaha masyarakat sakit yang mengobati diri sendiri. […] Oleh karena itulah kita harus mempunyai […] pergerakan yang … cocok dan sesuai dengan hukum-hukumnya masyarakat dan terus menuju ke arah doelnya masyarakat, ya’ni masyarakat yang selamat dan sempurna. […]. Haibatkanlah pergerakanmu menjadi pergerakan yang bewust dan insyaf, yang karenanya akan menjadi haibat sebagai tenaganya gempa. Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melhat matahari terbit.”

5.   Gunanya Ada Partai

“Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja … [tapi] karena ingin perbaikan nasib [di segala bidang].” Namun, perbaikan nasib “hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. […] Oleh karena itu … pergerakan kita itu … yang ingin merobah samasekali sifatnya masyarakat … yang samasekali ingin menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme. Pergerakan kita janganlah hanya … ingin rendahnya pajak, … tambahnya upah, janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil yang bisa tercapai hari sekarang …”.

Perubahan yang begitu besar harus “dibarengi dengan gemuruhnya banjir pergerakan Rakyat-Jelata. […]. Kita pun harus menggerakkan Rakyat-jelata di dalam suatu pergerakan radikal yang bergelombangan sebagai banjir, menjelmakan pergerakan massa yang tahadinya onbewust dan hanya raba-raba itu menjadi suatu pergerakan massa yang bewust dan radikal, ya’ni massa-aksi yang insyaf akan jalan dan maksud-maksudnya.”

“Welnu, bagaimanakah kita bisa menjelmakan pergerakan … yang bewust dan radikal? Dengan suatu partai! Dengan suatu partai yang mendidik Rakyat-jelata itu ke dalam ke-bewest-an dan keradikalan.” […]. Partai yang demikian … bukan partai burjuis, bukan partai ningrat, bukan ‘partai-Marhaen’ yang reformistis, bukan pun ‘partai radikal’ yang hanya amuk-amukan sahaja, – tetapi partai-Marhaen yang radikal yang tahu saat menjatuhkan pukulan-pukulannya.”

6.   Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

Dengan partai seperti itulah pergerakan kebangsaan mencapai maksudnya: “suatu masyarakat yang adil dan sempurna, yang tidak ada tindasan dan hisapan, yang tidak ada kapitalisme dan imperialisme. […]. Dan syarat yang pertama untuk menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme … ialah: k i t a  h a r u s  m e r d e k a. Kita harus merdeka, agar supaya kita bisa leluasa bercancut-tali-wanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus merdeka, supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat-baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. […]. Dapatkah Ramawijaja mengalahkan Rahwana Dasamuka, jikalau Ramawijaya itu [masih] terikat kaki dan tangannya …?”

Syarat kedua, “mengikhtiarkan kemerdekaan nasional”, kaum Marhaen “j u g a  h a r u s  m e n j a g a   j a n g  d i  d a l a m  k e m e r d e k a a n – n a s i o n a l  i t u    k a u m  M a r h a e n l a h   j a n g  m e m e g a n g  k e k u a s a a n, – bukan kaum burjuis Indonesia, bukan kaum ningrat Indonesia, bukan musuh kaum-Marhaen. […].

Adakah dus saya kini  mengutamakan klassenstrijd [pertentangan kelas]? Saya belum mengutamakan klassenstrijd antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia, walau pun tiap-tiap nafsu kemodalan di kalangan bangsa sendiri kini sudah saya musuhi. Saya seorang nasionalis … selamanya menganjurkan supaya semua tenaga nasional yang bisa dipakai menghantam musuh untuk mendatangkan kemerdekaan-nasional itu, haruslah dihantamkan pula.”

“‘De sociale tegenstellingen worden in onvrije landen in nationale vormen uitgevochten’, ‘pertentangan sosial di negeri-negeri yang ta’ merdeka diperjoangkan secara nasional’, begitulah juga Henriette Roland Holst berkata. Tetapi kemerdekaan-nasional hanyalah suatu jembatan, suatu syarat, suatu strijdmoment. Di belakang Indonesia Merdeka itu kita kaum Marhaen masih harus mendirikan kita punya Gedung Keselamatan, bebas dari tiap-tiap macam kapitalisme.” Jadi, syarat ketiga adalah: kesadaran bahwa kemerdekaan nasisonal hanyalah jembatan emas.

7.   Sana Mau ke Sana, Sini Mau ke Sini

“Tapi sekarang timbul pertanyaan: bagaimana kita [memenuhi] … tiga [syarat] itu?”

“[K]ita lebih dulu harus mengetahui hakekatnya kedudukan antara imperialisme dan kita, hakekat kedudukan antara s a n a  dan  s i n i.” Inilah yang menentukan “azas-azas perjoangan kita, … strategi kita, … taktik kita … ‘houding’ [sikap] kita terhadap … kaum sana itu …”

Hakekat “kedudukan” itu “boleh kita gambarkan dengan satu perkataan sahaja: p e r  t e n t a n g a n. Pertentangan di dalam segala hal. […] Tidak ada persesuaian antara sana dan sini. Antara sana dan sini ada pertentangan sebagai api dan air, sebagai serigala dan rusa, sebagai kejahatan dan kebenaran.” Inilah “yang oleh kaum Marxis disebutkan  d i a l e k t i k-nya sesuatu keadaan …” Pertentang sana dan sini berada dalam dialektik itu, yang disebut “ber-antitese”.

Dialektik ini “menyuruh kita selamanya … t i d a k   b e k e r j a  [s a m a] terhadap … kaum sana itu, – s a m p a i  kepada saat keunggulan dan kemenangan. […] kemenangan hanyalah bisa kita capai dengan kebiasaan  s e n d i r i, tenaga  s e n d i r i, usaha s e n d i r i. […]. Inilah yang biasanya kita sebutkan politik ‘p e r c a y a  p a d a  k e k u a t a n  s e n d i r i’, politik ‘s e l f – h e l p dan  n o n – c o o p e r a t i o n’.”

8.   Machtsvorming, Radikalisme, Massa-Aksi

Selain membawa kita ke “politik selfhelp dan non-cooperation”, dialektika tadi juga membawa kita “ke dalam kawah candradimukanya politik machtsvorming, radikalisme dan massa-aksi.” Machtsvorming “adalah … pembikinan kuasa … jalan satu-satunya untuk memaksa kaum sana tunduk kepada kita.” Jalan satu-satunya, karena “’nooit heeft een klasse vrijwillig van haar bevoorrechte positie afstand gedaan”, begitulah Karl Marx berkata … ‘Ta’ pernahlah sesuatu kelas suka melepaskan hak-haknya dengan ridlanya kemauan sendiri’.”

“Radikalisme” berarti menggunakan “machtsvorming” kita, bukan “kepandaian putar lidah, bukan kepandaian menggerutu dengan hati dendam terhadap kaum sana.” Dengan kata lain, “[t]iap-tiap kemenangan kita, dari yang besar-besar sampai yang kecil-kecil, adalah hatsilnya  d e s a k a n dengan kita punya tenaga. Oleh karena itu ‘teori’ dan ‘prinsip’ sahaja buat saya belum cukup. Tia-tiap orang bisa menutup dirinya di dalam kamar, dan menggerutu ‘ini tidak menurut teori’, ‘itu tidak menurut prinsip’. Saya tidak banyak menghargakan orang yang demikian itu. Tetapi yang paling sukar ialah, di muka musuh yang kuat dan membuta-tuli ini, menyusun suatu  m a c h t  yang terpikul oleh suatu prinsip. Keprinsipiilan dan keradikalan zonder machtsvorming yang bisa menundukkan musuh di dalam perjoangan yang haibat, bolehlah kita buang ke dalam sungai Gangga. Keprinsipiilan dan keradikalan yang menjelmakan kekuasaan, itulah kemauan Ibu!”

9.   Diseberangnya Jembatan Emas

“Adakah Indonesia-Merdeka bagi Marhaen menentukan hidup-kemanusiaan yang [leluasa dan sempurna, … yang secara manusia dan selayak manusia]? Indonesia-Merdeka sebagai saya katakan di atas, adalah menjanjikan tetapi belum pasti menentukan bagi Marhaen hidup kemanusiaan yang demikian itu.”  Yang menjanjikan itu “barulah menjadi ketentuan, kalau Marhaen sedari sekarang sudah insyaf seinsyaf-insyafnya bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah suatu jembatan, – sekali pun suatu jembatan emas!– yang harus dilalui dengan segala keawasan dan keprajinaan, jangan sampai di atas jembatan itu Kereta-Kemenangan dikusiri oleh lain orang selainnya Marhaen.”

Satu calon kusir ialah “kaum ningrat” dengan “nasionalisme-keningratan” mereka. “Mereka masih hidup dalam keadaan feodalisme […] yang biasanya setia sekali pada kaum yang di atas … Tetapi menurut cita-citanya di dalam Indonesia-Merdeka itu merekalah yang harus menjadi ‘kepala’ … yang sejak zaman purbakala, sejak feodalisme Hindu dan sejak feodalisme ke-Islam-an toch sudah menjadi ‘pohon beringin’ yang melindungi kaum ‘kawulo’”. Calon kusir lain ialah “nasionalisme-keborjuisan” milik kaum modal, industri, kaum berpunya. Dua-duanya memuja individualisme, yang menjerumuskan Marhaen ke lembah demokrasi politik belaka.

Terhadap mereka ini  Marhaen mengajukan demokrasi berdasarkan “gotong royong”, dalam bentuk “sosio-demokrasi” dan “sosio-nasionalisme”. “Dengungkanlah sampai melintasi tanah-datar dan gunung dan samodra, bahwa Marhaen di seberangnya jembatan-emas akan mendirikan suatu masyarakat yang tiada keningratan dan tiada keborjuisan, tiada kelas-kelasan dan tiada kapitalisme.”

“Bagahialah partai-pelopor yang demikian itu!

“Bahagialah massa yang dipelopori partai yang demikian itu!

“Hiduplah sosio-nasionalisme dan soio-demokrasi!”

10.Mencapai Indonesia-Merdeka!

“Sekarang, kampiun-kampiun kemerdekaan, majulah ke muka, susunlah pergerakanmu menurut garis-garis yang saya guratkan di dalam risalah ini. Haibatkanlah partainya Marhaen, agar supaya menjadi partai pelopornya massa. Haibatkanlah semua semangat yang ada di dalam dadamu, haibatkanlah semua kecakapan-mengrorganisasi yang ada di dalam tubuhmu, haibatkanlah semua keberanian banteng yang ada di dalam nyawamu […].”

“Hidupkanlah massa-aksi, untuk mencapai Indonesia-Merdeka!”■ (Parakitri T. Simbolon. Rebo, 1 Juli 2009).

%d bloggers like this: