Kurang Sepadan

deskha October 5, 2008 0

Seabad Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Sambutan meriah dan siaran media yang kurang sepadan

Sumber Gambar: Kompas/Agus Susanto

Sumber Gambar: Kompas/Agus Susanto

Berikut ini sekedar contoh kurang memadainya kemeriahan media massa menyambut seabad Pergerakan Kebangsaan Indonesia 20 Mei 2008 dan bobot sajian-sajiannya.


Media massaIndonesia menyambut 100 tahun Pergerakan Kebangsaan kita seolah-olah lebih terpukau dengan pesona angka daripada prihatin dengan sejumlah masalah pokok. Pesona angka itu sangat jelas terlihat dari upaya mengaitkan seabad Pergerakan Kebangsaan Indonesia dengan satu dasawarsa demokratisasi dan 63 tahun Indonesia merdeka, namun sangat kurang memberi perspektif sejarah pada ketiga tonggak waktu yang penting itu.

Mungkin salah satu yang bisa sangat menarik perihal perspektif sejarah tersebut adalah perbandingan antara Indonesia dengan beberapa negara yang bertolak dari nasib dan perjuangan yang lebih-kurang sama sejak seabad, enam dasawarsa, dan satu dasawarsa yang lalu. Perbandingan itu bisa dilakukan tidak hanya dengan China, India, Korea, Vietnam, Khmer, Laos, dan Birma, tapi juga dengan Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Majalah Tempo mungkin termasuk media yang paling serius sambutannya, karena berusaha memberi perspektif sejarah itu. Namun demikian, yang sempat dilakukannya hanyalah tinjauan sepintas atas “Indonesia yang Kuimpikan” sejauh bisa dipetik dari tulisan-tulisan para tokoh, bahkan peta. Demikianlah maka disebut serangkaian buku mulai dari The History of Java dan Max Havelaar, masing-masing karya Thomas Stamford Raffles dan Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker, hingga Catatan Harian Ahmad Wahib.

Tentu sajian sepintas itu tak terhindarkan karena sempitnya ruang sajian dan waktu, tapi ketelitian mestinya bisa tidak dikorbankan. Tak apalah bahwa yang pertama ditampilkan di antara beberapa karya Mohammad Hatta misalnya adalah Demokrasi Kita (1966), bukan yang lain seperti Indonesië Vrij, yang disinggung pun tidak. Maklum tulisan tersebut pertama jauh lebih pendek daripada yang tersebut kedua.

Meski pun demikian, judul sajian Tempo mengenai tulisan Hatta itu bukan nukilan utama Hatta dari karya Goethe dalam Demokrasi Kita, melainkan “Padi yang Tumbuh Tak Terdengar”. Ungkapan ini terjemahan Tempo buat “onhoorbaar groeit de padi” (seharusnya “padie” dengan “ie”), kutipan yang tidak terdapat dalam Demokrasi Kita, tapi dalamMohammad Hatta: Memoir (1979), yang juga tidak disebut-sebut dalam sajian Tempo. Lagipula, dalam Mohammad Hatta: Memoir,Hatta sendiri tidak mengatakan dengan jelas sumber kutipan “onhoorbaar groeit de padi”. Hatta hanya “menyebutkan ucapan Multatuli”.

Masih ada lagi. Konsep yang terkandung dalam “onhorbaar groeit de padi” pastilah sangat penting dalam perjuangan kebangsaan kita. Sayang, sajian Tempo malah menafsirkan ungkapan itu sebagai “Hatta adalah padi yang tak terdengar itu”, bukan pergerakan kebangsaan, sebagaimana ditegaskan oleh Hatta sendiri dalam Mohammad Hatta: Memoir (halaman 166).

Mestinya sajian mengenai “onhorbaar groeit de padie” bisa lebih seru lagi, dan berguna, kalau diungkap bahwa kutipan yang sangat terkenal ini sebenarnya tidak jelas berasal dari mana. Kebetulan karena diminta ikut menulis dalam terbitan Tempo waktu itu, saya terpaksa membaca-ulang dengan teliti beberapa buku karya orang asing mengenai Pergerakan Kebangsaan kita. Saya menandai kutipan itu dengan stabilo dalam kata pengantar W.F. Wertheim untuk buku J.M. Pluvier, Overzicht van de Ontwikkeling der Nationalistische Beweging in Indonesië (1953, hlm. VII). Ia menyebut ungkapan tersebut berasal dari Jan Romein. Namun, dalam artikelnya di majalah Bijdragen 143 (1987) no. 4 yang saya baca di internet (http://www.kitlv.journals.nl), J. Erkelens mengatakan bahwa Wertheim kemudian meralatnya dan merujuk kepada Hatta. Juga menurut Erkelens, C. Fasseur terkesan merujuk ungkapan itu kepada Multatuli dalam Max Havelaar sebagaimana terlihat dalam pidatonya di Leiden, 19 Februari 1987, yang berjudul “Onhoorbaar groeit de padie; Max Havelaar en de publieke zaak”. Rujukan yang serupa disebutnya juga dilakukan oleh K.S. Depari dalam tulisannya di Suara Pembaruan 12 Maret 1987, konon karena sering dikutip oleh Presiden Sukarno, lagi-lagi dari Max Havelaar.

Penasaran dengan simpang-siur tersebut, saya membaca Max Havelaar (1949) lagi dengan teliti hanya untuk menemukan kutipan yang mashur itu. Sia-sia. Saya memeriksa lebih teliti lagi teks eletronik buku itu di internet, juga sia-sia. Dalam buku itu samasekali tidak terdapat kata “onhoorbaar”, apalagi seluruh ungkapan itu. Saya juga telah melakukan permeriksaan yang serupa dalam teks elektronik karya lain Multatuli, de Ideën, hasilnya setali tiga uang.

Namun demikian, dengan simpang-siur itu menjadi jelaslah bagi kita bahwa ungkapan “onhorbaar groeit de padie” sudah merupakan salah satu ciri sangat penting perkembangan kebangsaan, yakni sering tak jelas asal-usul gagasan pokoknya. Demikianlah “tak terdengar tumbuhnya padi” telah dipilih oleh W.F. Wertheim, meski tidak jelas sumbernya, untuk mengukuhkan tesis Pluvier bahwa pemerintah Belanda keliru mengira kurun 1930-42 sebagai masa malese bagi Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Keliru, karena sebenarnya Pergerakan Kebangsaan kita selama masa itu ia nilai tetap kukuh menjelang kemerdekaan, sama dengan masa sebelumnya, kendati tanpa hingar-bingar, benar-benar tak terdengar bagai padi tumbuh.

Lagi-lagi ungkapan itu menunjukkan bahwa berbeda dari anggapan umum, Perjuangan Kebangsaan kita berkembang dalam perspektif sejarah sebagai evolusi sosial, di mana terlibat tak terhitung tindakan, karya, sikap, pemikiran, cita-cita, bahkan ucapan orang. Bagi generasi sekarang dan mendatang, itu berarti bahwa nasib kebangsaan kita sangat tergantung pada kesadaran kita mengenai manfaat dan mudarat segala hal yang tersebut barusan, yang betapa kecil pun jangan pernah dianggap remeh.

 

(Parakitri T. Simbolon)

%d bloggers like this: