Kecaman Hendrik M. Maier Terhadap Sumpah Pemuda

deskha December 1, 2008 0

Sumpah Pemuda dan Kecaman Hendrik M. Maier

Sumber Gambar: http://complitforlang.ucr.edu

Sumber Gambar: http://complitforlang.ucr.edu

Kecaman pedas Hendrik M. Maier terhadap Sumpah Pemuda terdapat dalam makalahnya berjudul “A Hidden Language – Dutch in Indonesia” yang disiarkan pada 8 Februari 2005 dalam http://repositories.cdlib.org/ies/050208. Makalah ini ditampilkan dalam format PDF ukuran 316,19 KB, 19 halaman (8,5 x 11 inci) termasuk halaman judul dan ringkasan (abstract). Ketika itu Maier bekerja di Institute of European Studies, University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Ringkasan (abstract) menyebutkan bahwa  makalah ini membicarkan dampak politik bahasa Indonesia terhadap pembentukan dan pengokohan kepribadian bangsa Indonesia, sebagaimana tampak dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1988. Maier bilang bahwa Indonesia mendaku telah mengikis habis bahasa penjajah dalam Indonesia yang merdeka. Hujah pokok yang diajukan oleh Maier adalah bahwa pendakuan tersebut hanyalah mitos. Yang benar, katanya, semangat yang berkobar untuk membentuk bahasa baru dan kebudayaan nasional di Indonesia telah menindas bahasa Belanda yang masih bertahan hidup di dalamnya.

Memang, katanya, para pemimpin Indonesia sejak mulai merdeka telah berusaha mengabaikan warisan kenegaraan dan kebahasaan Belanda dalam kehidupan bangsa dan negara baru itu. Orang Indonesia luarbiasa sungkan mengakui bahwa dasar-dasar bahasa Indonesia modern diletakkan oleh para sarjana Belanda. Nyatanya bahasa Belanda, katanya, berperan dalam susunan tatabahasa dan kosakata bahasa Indonesia. Tidak kurang daripada 20 persen kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Belanda. Lagipula, katanya, bahasa Melayu bisa dijadikan bahasa persatuan Indonesia adalah berkat jasa penguasa dan para sarjana Belanda yang sengaja mendorong penggunaan bahasa tersebut sebagai bahasa pergaulan resmi di Hindia-Belanda.

***

Pada awal makalahnya, Maier menguraikan peringatan besar-besaran 60 tahun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1988 sebagai contoh politik bahasa pemerintah Indonesia yang mempertahankan mitos tersebut. Besar-besaran karena selain menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia dan mewajibkan berbagai kalangan untuk merayakannya, dicanangkan pula makna Sumpah Pemuda sebagai upaya mengikis warisan penjajah di segala bidang kehidupan bangsa Indonesia.

Namun semua itu hanya lapisan tipis permukaan saja menurut Maier. Yang sesungguhnya terjadi adalah keluhan banyak pihak secara berbisik-bisik mengenai berbagai hal sekitar politik bahasa itu. Orang bertanya-tanya apa benar peristiwa Sumpah Pemuda begitu penting; tentang upaya mengutamakan Bahasa Indonesia yang mematikan bahasa-bahasa daerah; tentang pemerintah yang berkeras membakukan bahasa Indonesia dengan akibat terbunuhnya daya-cipta berbahasa. Pendeknya, pemerintah memerlukan banyak hari peringatan untuk mengokohkan persatuan bangsa.

Lalu Maier mengecam dengan pedas: Atau apakah semua itu untuk mengokohkan persatuan negara? Atau persatuan bangsa dan negara sekaligus?

Selanjutnya, yang kebetulan menyangkut Sumpah Pemuda, lebih baik kita kutip bahasa aslinya:

State or nation, a lot of things were wrong with the Republik Indonesia, and the Pledge was a symptom of everytihing that was wrong. It was made too prominent an element in the indoctrination and propaganda machine of Suharto’s New Order. It had been but a little ripple in the ocean of the Indonesian revolution. And perhaps events such as the communist-inspired rebellions that had taken place some years before the Sumpah Pemuda or the formation of Partai Nasional Indonesia in 1927 by Ir. Sukarno in Bandung were more important fragments in the national order of things and, hence more worthy of commemoration.

Kutipan di atas dapatlah diterjemahkan sbb:

 Entah untuk persatuan negara atau bangsa, banyak yang salah dengan Republik Indonesia, dan peringatan Sumpah Pemuda hanyalah satu gejala yang mencerminkan segala kesalahan itu. Peringatan itu sengaja dilebih-lebihkan demi kepentingan indoktrinasi dan propaganda Orde Baru Suharto. Sumpah Pemuda tidak lebih daripada riak kecil di dalam lautan revolusi Indonesia. Peristiwa-peristiwa seperti serangkaian pemberontakan yang diilhami oleh komunis yang terjadi beberapa tahun sebelum Sumpah Pemuda atau terbentuknya Partai Nasional Indonesia pada 1927 oleh Ir Sukarno di Bandung barangkali lebih penting dalam perjalanan hidup bangsa dan negara Indonesia, sehingga lebih pantas diperingati.■

(Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: