Islam dan Abad XXI, Prospek

deskha March 13, 2010 0

Dalam dua minggu terakhir ini lagi-lagi kita dikejutkan dengan penggerebekan teroris: di desa Lamkabeue, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar; dan di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Karena terorisme ini masih tetap dikaitkan dengan kelompok yang mengatasnamakan agama Islam, pengkajian makna agama Islam di Abad XXI ini tentu masih tetap penting.

Kajian semacam itu pernah dilakukan dalam “Konferensi Internasional tentang Islam dan Abad XXI” di Universitas Leiden 14 tahun yang lalu. Hasil konferensi itu dilaporkan dalam empat tulisan yang pernah dimuat dalam Kompas, 26-27 Juli 1996.

Zamrudkatulistiwa menganggap perlu menyiarkan lagi keempat tulisan itu sekarang. Yang berikut ini Bagian Keempat (Habis).

Selamat membaca.

 

ISLAM DAN ABAD XXI: BEBERAPA PROSPEK

(Bagian Keempat – Habis)

 

Selama 5 hari, sejak 3 sampai dengan 7 Juni 1996, berlangsunglah Konferensi Internasional tentang Islam dan Abad XXI di Universitas Leiden, Nederland. Oleh INIS (Indonesian-Netherlands Cooperation on Islamic Studies), pemrakarsanya, konferensi itu disebut sebagai yang pertama dari tiga yang direncanakan sejak pertengahan tahun lalu untuk membahas perkembangan mutakhir masyarakat Islam dunia dan Eropa.  Peranan Islam diperkirakan makin mengemuka sebagai salah satu penggalang identitas kelompok yang baru, segera setelah berbagai identitas kelompok yang lama runtuh atau makin lemah dilanda percaturan global sejak awal dasawarsa terakhir Abad XX.


Sebanyak 150 peserta terdaftar untuk mengikuti konferensi, sebagian besarnya merupakan sarjana di bidang masalah keislaman dan ilmu-ilmu sosial lain. Mereka berasal dari Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah (termasuk seorang dari Institut Moshe Dayan untuk Kajian Timur Tengah dan Afrika, Israel), Afrika Selatan, dan Asia Tenggara (termasuk 27 dari Indonesia, 13 di antaranya  mahasiswa di Leiden, sisanya dari Depag, IAIN, LIPI, dll.).

Konferensi yang pertama ini berhasil mengajukan sekitar 80 makalah, yang dibahas secara panel dalam tiga kelompok sidang. Sesuai dengan sasaran konferensi, ketiga kelompok sidang tersebut meliputi Islam dan percaturan globalIslam dan pembangunan, serta Islam dan pendidikan. Konferensi dibuka dan ditutup dengan sidang pleno.

Parakitri T. Simbolon, yang mengikuti konferensi itu, melaporkan sbb.:

 

 

Dalam tulisan keempat atau terakhir ini kita akan melihat kemungkinan (prospek) peranan Islam dalam Abad XXI. Jumlah makalah yang membahas soal ini paling kecil (tujuh), tapi dampaknya jauh lebih besar pada harapan umat Islam dan non-Islam di seluruh dunia. Pembahasan disederhanakan dalam tiga pokok. Pertama, kemungkinan timbulnya nilai-nilai universal lewat pertemuan nilai-nilai agama, khususnya Islam dan Kristen. Kedua, garis politik Islam yang akan dominan nanti. Ketiga, kemungkinan peranan masyarakat Islam di dunia.

Pertemuan Islam-Kristen

      Satu-satunya makalah yang khusus membahas kemungkinan timbulnya nilai-nilai universal dari pertemuan Kristen-Islam diajukan oleh Dr Alwi Shihab (“Christian-Muslim Relations into the Twenty-First Century”). Dengan perasaan halus dan seimbang, Alwi Shihab menjelaskan, pertemuan nilai-nilai Kristen-Islam sangat mungkin terjadi, dan mestinya sudah terjadi sejak lama.

Bagi putra Indonesia ini (sementara bekerja di Pusat Studi Agama-agama Universitas Harvard), penyebab belum terjadinya pertemuan tersebut tidak terletak pada Kitab Suci masing-masing, melainkan pada sikap sosial kedua umat. Harus diakui, masa lalu mereka penuh saling curiga, bahkan permusuhan, tetapi kini menjelang Abad XXI saling pengertian makin jelas. Malahan, katanya, yang muncul di kalangan Kristen tidak lagi terbatas pada pemikiran dan sikap positif terhadap Islam, tetapi juga ajakan bekerjasama. Hal itu tercermin dalam keputusan Konsili Vatikan II dan sikap kalangan sarjana Kristen, seperti Massignon, Montgomery Watt, Wilfred Smith, Ivon Haddad, dll.

Alwi Shihab menguraikan berbagai pola penyebab saling curiga dan permusuhan pada masa lalu itu. Yang terutama katanya, sikap menonjolkan diri (exclusivism) dan sikap benar diri (absolutism). Semua ini dilakukan lewat tafsiran ayat-ayat tertentu dalam Kitab Suci masing-masing, sekali pun bertentangan dengan semangatnya dan dengan ayat lain yang berkaitan. Salah satu contoh yang diajukan, Injil Mateus (12:30). Dalam ayat ini Kristus berkata, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan yang tidak berkumpul bersama Aku, cerai-berai”. Dulu, ayat ini ditafsirkan sebagai “di luar Gereja tak ada keselamatan” (extra ecclesiam nulla salus).

Bahwa ayat di atas tidak mesti menimbulkan sikap exclusivism, melainkan merangkul semua (inclusivism), Alwi Shihab mebandingkannya dengan ayat-ayat lain yang sepadan (berkaitan dengan diri Kristus dan kebenaran). Terhadap yang percaya pada Kristus dikatakan dalam Johanes (8:32), “[…] maka kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan membebaskanmu.” Alwi Shihab tampak menyiratkan, Kristus dan kebenaran hanya ditafsirkan sama dengan gereja (ecclesia).

Rujukannya yang lain, Kisah Rasul-Rasul (10:34-35). Ketika diperintahkan oleh Allah menemui rombongan Cornelius yang bukan Yahudi di Cesarea, Petrus yang Yahudi berkata, “Kini saya menyadari bahwa Allah tidak pilih kasih. Setiap orang dari bangsa mana pun tetapi takut akan Dia dan menjalankan kebenaran, berkenan kepadaNya.” Maksudnya, Kristus bukan hanya untuk anggota gereja, tetapi untuk semua orang yang menjalankan kebenaran.

Hal yang serupa terjadi juga di kalangan Islam. Alwi Shihab memberi contoh berbagai ayat Qur’an yang ditafsirkan demi sikap tersebut, seperti Surah 3:19; 3: 85; 5:51; 9: 29; dll. Surah 3:19 dan 85, misalnya, menyatakan “Sungguh, agama pada Allah ialah Islam”, dan “Barang siapa mencari yang selain Islam sebagai agama […] di akhirat ia masuk golongan yang menderita kerugian”.

Menurut Alwi Shihab, dalam ayat-ayat ini umat Islam lupa membedakan dua lapis makna identitas “Islam”, yaitu lapis sosial-budaya (ummah) dan lapis spiritualitas (iman). Katanya, umat Islam mestinya sadar bahwa lapis kedua inilah yang menentukan identitas “Islam” yang sesungguhnya, bukan sebaliknya. “Islam” berarti penyerahan diri secara total kepada Allah, sehingga hanya Allah yang dapat menilai kebenarannya. Itulah sebabnya, ketika Arab Badui (al-a’rab) berkata “kami percaya”, dalam Al-Qur’an tertulis koreksi agar kepada Arab Badui itu dikatakan “kamu belum beriman”, dan agar mereka mengganti ucapan “kami percaya” dengan “kami berserah diri” (Islam). Alwi Shihab berkata, “berserah diri” (Islam) tentu tidak terbatas pada umat Islam.

Rujukannya yang lain lagi, Surah 5:51, Surah 9:29, dan 4:171. Surah 5:51  birisi anjuran agar “orang yang beriman jangan mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai sahabat dan pelindung.” Surah 9:29 berbunyi a.l.,  “Perangilah orang yang tiada beriman kepada Allah dan hari kemudian”, sekali pun mereka “orang yang diberi Al-Kitab” (Yahudi dan Kristen). Surah 4:17 menolak keilahian Yesus, “Hai ahli Al-Kitab! Janganlah berlebihan dalam agamamu, dan janganlah katakan tentang Allah kecuali yang benar. Almasih Isa putra Maryam hanyalah Rasul Allah dan Kalimah-Nya.”.

Alwi Shihab berkata, banyak ayat seperti Surah 5:51 yang terikat oleh tempat dan waktu sehingga tidak mesti berlaku sekarang. Tentang penolakan keilahian Yesus, Shihab menempatkannya dalam pengakuan Islam atas pluralisme agama. Katanya, umat Islam harus tahu, Al-Qur’an menghormati wahyu Allah sebelumnya (5:46-47), menolak absolutisme (34:24-26; 60:8), membela pluralisme agama, dan mengajurkan dialog antaragama (5:82, 16:125, 29:46). Surah 5:82, misalnya, berbunyi, “Dan akan kau dapati yang paling dekat bersahabat dengan orang beriman, ialah mereka yang berkata ‘kami adalah orang Nasrani’”.

Alwi Shihab menyarankan enam jalan agar Islam-Kristen dapat hidup dengan saling pengertian dan saling percaya, bukan hanya saling hormat-menghormati. Pertama, mencegah agama digunakan secara salah, dimanipulasi demi kepentingan politik. Kedua, cita-cita luhur kedua pihak, seperti keterbukaan Konsili Vatikan II terhadap Islam, jangan berhenti di tangan para pemimpin tetapi sampai kepada seluruh lapisan umat. Ketiga, membentuk semacam komisi Islam-Kristen yang mendorong saling pengertian dan kerjasama antarumat pada masa konflik. Keempat, meningkatkan hubungan yang setara untuk mencapai dialog yang sehat, karena nyatanya terlalu banyak umat Islam yang tidak mengetahui agama Kristen, demikian juga sebaliknya. Kelima, kesepakatan kedua pihak mengenai etika pelaksanaan misi dan da’wah, dengan menggeser paradigma dari “meraih pemeluk” (proselytizing) ke “pertobatan kepada Tuhan” (sharing). Keenam, memperkuat keprihatinan bersama Islam-Kristen menghadapi dampak negatif modernisasi.

Prospek kelompok ekstrim

      Ada kekhawatiran di Barat, dalam Abad XXI kelompok ekstrim akan mewakili Islam. Lima makalah yang membahas soal ini menganggap kekhawatiran itu mirip anti Semitisme yang pernah juga merajalela di Barat. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, yang lebih mungkin adalah bahwa kelompok ekstrim tidak akan mewakili Islam pada masa mendatang.

Salah satu faktor yang dibahas adalah peranan Organisasi Konferensi Islam (OKI atau OIC). M.J. den Hartog (Universitas Nijmegen) menekankan, peranan OKI akan semakin penting, sekali pun karena terpaksa. Dalam OKI memang sudah lama timbul tuntutan pembaruan kelembagaan dan kerjasama yang lebih erat dengan PBB. Pembaruan kelembagaan akan berakibat pada makin aktifnya badan-badan khusus OKI, khusus  di bidang sosial dan ekonomi. Jika hal ini terjadi, maka OKI makin memerlukan kerja sama dengan PBB. Kerjasama itu juga makin mendesak dengan semakin besarnya jumlah anggota (masuknya negara-negara bekas UNI Soviet) dan merosotnya peranan KTT Non-Blok. Dengan demikian, peranan kelompok ekstrim dalam Islam akan semakin kecil.

Faktor lain, perkembangan feminisme dan Islam, yang diuraikan oleh Andrée Feillard dari Prancis, dan Azza M. Karam dari Belanda. Feillard mengamati pemimpin wanita Islam di Indonesia, sedang Azza M. Karam wanita sarjana beragama Islam di perguruan tinggi Eropa.

Andrée Feillard menaksir, hampir tidak ada golongan ekstrim di kalangan wanita Islam di Indonesia. Kesimpulan ini berdasarkan sikap 23 pemimpin wanita Islam Indonesia terhadap pemakaian jilbab, kebebasan bergerak, dan poligami. Hanya seorang dari mereka yang tidak toleran terhadap wanita tak berjilbab, kebebasan bekerja dan bergerak, serta anti poligami. Bila Indonesia bersikap demikian, maka Asia Tenggara juga demikian. Jika Asia Tenggara demikian, maka dunia pun demikian, mengigat peranan Islam Asia Tenggara yang semakin penting di dunia di samping Timur Tengah. Di Timur Tengah sendiri semakin kuat  upaya untuk menegaskan Islam sebagai agama yang berdasarkan toleransi, sebagaimana tercermin dalam makalah Belgacem Alioui dari Tunisia.

Olivier Carre dari Prancis membahas faktor keragaman dalam Islam. Dia yang menegaskan miripnya kekhawatiran Barat terhadap kelompok ekstrim Islam dengan sikap anti Semitisme terhadap Yahudi. Kalau pun terorisme ada, katanya, sasarannya kebanyakan di dalam masyarakat Islam sendiri. Menurut dia, hal ini dapat terjadi karena sesungguhnya sikap masyarakat Islam sangat beragam.

Keragaman itu dilihat oleh Carre dalam kerangka modernisasi dan fundamentalisme Islam (Totalisme Islam). Golongan Sekularisme Radikal (SR), misalnya,  sangat mementingkan modernisasi, tapi hampir mengabaikan kaidah Islam. Islamisme Radikal (IR) sangat mementingkan kaidah Islam namun tidak kalah hebatnya mengejar modernisasi. Di antara keduanya terdapat golongan Sekularisme Moderat (SM) dan Modernist (M). Ada dua golongan yang anti modernisasi, tetapi sekaligus tidak lebih Islami daripada SR dan SM. Keduanya disebut tradisionalis, baik yang akomodasionis terhadap pemerintah (TA), mau pun yang menolak (rejeksionis) pemerintah (TR). Ada dua golongan lagi yang tradisionalis dengan ungkapan modern atau Neo Tradisionalis. Golongan ini ada yang bersikap akomodasionis (NTA), ada pula yang  menolak pemerintah (NTR).

Apa yang dianggap kelompok ekstrim (fundamentalis) di Barat menurut Carre terdiri dari tiga saja, yaitu TR, NTR, dan IR. Jumlahnya sangat kecil, dan pengaruhnya pun kecil saja. Kebanyakan mereka berada di Timur Tengah. Dengan makin besarnya peranan Islam Asia Tenggara, maka semakin kecil pula dampak ketiga kelompok fundamentalis ini di masa depan.

Perimbangan peradaban?

      Perkiraan yang lebih umum mengenai prospek Islam, yaitu perimbangan peradaban, diajukan oleh Martin Kramer (“The Balance of Civilizations: Scenarios for Islam”). Ia mungkin satu-satunya orang Yahudi dalam konferensi dan yang bekerja pada Institut Moshe Dayan di Tel Aviv, Israel. Barangkali itulah sebabnya ia sengaja menyebut prospek yang akan diajukannya sebagai spekulasi tak langsung (oblique future speculation). Maksudnya, Kramer tidak langsung mengajukan perkiraan sendiri, tetapi berbelok dulu lewat beberapa fakta dan pendapat.

Belokan pertama adalah kesejajaran berbagai faktor perkembangan Islam dalam dua peralihan Abad XIX-XX dan Abad XX-XXI. Konon, pada 1901, suatu jurnal terkemuka Prancis, Questions diplomatiques et coloniales, meminta selusin ahli Islam masa itu untuk meramalkan pengaruh Islam dalam Abad XX. Dilihat kembali, ramalan itu ternyata akurat: gelombang Pan-Islamisme akan surut; gelombang nasionalisme akan pasang; kerajaan Ottoman Turki runtuh; beberapa negara Arab merdeka; gelombang modernisasi juga pasang dan akan menghimbau dunia Islam; cuma saja kemenangan nasionalisme atas kolonialisme tidak disebut-sebut.

Kramer menegaskan, faktor-faktor yang ada sekarang pada peralihan Abad XX-XXI  sejajar dengan faktor-faktor yang terdapat pada peralihan Abad XIX-XX dulu, yang mendasari ramalan selusin ahli Islam tersebut di atas. Berikut ini hanya sebagian di antaranya.

Pertama, terdapat suatu sistem internasional di mana status quo Timur Tengah dijamin oleh kekuasaan luar. Dulu Inggris negara adikuasa di Eropa yang damai dan stabil. Demi kepentingannya di India, Inggris harus menjamin kestabilan Timur Tengah (Pax Britannica). Ketika nasionalisme Mesir mengganggu kestabilan itu, Inggris mendudukinya. Sekarang pun, demikian halnya. AS muncul sebagai adikuasa di Barat yang damai dan stabil setelah Perang Dingin. Demi menjaga kepentingan akan minyak, AS harus menjamin kestabilan Timur Tengah (Pax Americana). Ketika Irak mengganggu kestabilan itu dengan menyerang Kuwait, AS memerangi Irak.

Kedua,  rejim-rejim di Timur Tengah tidak hanya stabil, tapi juga beku, karena dikuasai oleh tokoh yang sama dalam waktu yang lama. Mungkin keadaan itu merupakan pertanda gagalnya membentuk mekanisme perubahan yang sehat. Dulu, Sultan Abdul Hamid II memerintah selama 32 tahun (1876-1908) di Turki; Nasir al-Din Shah, wangsa Qajar  memerintah selama 48 tahun (1846-1896) di Iran. Raja Husein sudah memerintah selama 42 tahun di Yordania.  Raja Hasan selama 35 tahun di Maroko. Presiden Asad, Kadhafi, dan Arafat selama 25 tahun di Syria, Libya, dan PLO. Emir Kwait sudah memerintah 18 tahun, sedang Saddam Husein dan Mubarak 15 tahun.

Ketiga, gelombang kebangkitan Islam. Dulu muncul gelombang Pan Islamisme, bahkan revolusi Islam di Sudan. Gelombang itu mengancam kekuasaan Inggris dan status quo, lalu Inggris menahannya (Gordon di Khartoum), sehingga pengaruhnya segera susut. Sekarang pun ada gelombang kebangkitan Islam, bahkan revolusi Islam di Iran.  Gelombang itu mengancam kekuasaan AS dan status quo, lalu AS menahannya (Keduataan AS di Teheran), lantas gelombang kebangkitan Islam itu tampak mulai susut juga.

Keempat, terdapat kekuasaan non-Muslim yang memainkan peranan di Timur Tengah lebih daripada proporsinya sehingga membuat masyarakat Muslim dongkol.  Dulu kekuasaan itu berada di tangan minoritas Eropa dan Levant. Sekarang kekuasaan yang serupa di tangan Israel.

“Saya masih dapat mengajukan kesejajaran lain,” kata Martin Kramer, “ tetapi intinya adalah bahwa dilema Muslim, khususnya di Timur Tengah, tampak sama saja, dan sama jauhnya dari penyelesaian yang memuaskan.”. Kawasan Timur Tengah tetap dikendalikan oleh kekuasaan luar, secara politis beku, dan mekanisme perubahan damai masih harus ditemukan.

Belokan lain, pendapat beberapa pakar. Kramer lalu merujuk perkiraan Fouad Ajami, seorang Islam Shi’ah yang mengajar di Universitas Johns Hopkins. Konon, Ajami berpendapat, kendati Muslim menghendaki kebangkitan,  pada aras gagasan, Islam belum tampil sebagai tandingan bagi demokrasi liberal. Islam katanya sudah tidak utuh lagi sebagai peradaban, karena di antara aliran dalam Islam sudah berkecamuk perselisihan telak. Menurut Ajami, sesungguhnya sudah kebanyakan Muslim yang memeluk modernitas dan sekularisme, sehingga yang disebut sebagai kebangkitan Islam lebih merupakan rasa bersalah, kaget, bingung, dan panik melihat batas peradaban itu dilanggar.

Kramer masih menyebut Fukuyama yang memperkuat Ajami. Sesudah itu ia beralih pada beberapa tokoh yang melihat peranan Islam akan meningkat. Ali Mazrui, misalnya, seorang Muslim asal Kenya dan mengajar di Universitas New York, mengatakan Islam akan bangkit sebagai pengubah sejarah. Jumlah mereka akan terus meningkat, tapi lebih dari itu gagasan mereka akan makin matang seiring dengan makin susutnya kekuatan kapitalisme karena kontradiksinya sendiri.

Samuel P. Huntington dikatakan sebagai berpendapat bahwa Islam akan makin berperanan dengan menjadi peradaban yang melawan peradaban Barat. Abad mendatang akan ditandai dengan “bentrok peradaban” (clash of civilizations), antara lain antara Barat dan Islam. Perbatasan dunia Islam sudah sarat dengan bentrokan itu, di Bosnia, Azerbaijan, Sudan, Kashmir. Dengan makin luasnya penyebaran senjata non-konvensional, dunia Islam semakin menjadi ancaman bagi Barat.

Tiba giliran perkiraan Martin Kramer sendiri. Dengan hati-hati ia mengatakan, politik susah diramalkan, makanya ia merasa lebih aman merujuk kenyataan hidup di Timur Tengah khususnya dan dunia Islam umumnya sebagai dasar perkiraan. Jika kenyataan itu tidak segera diubah, peranan Muslim Abad XXI bisa tetap sama dengan Muslim Abad XX.

Kenyataan itu mencakup kependudukan, produksi, dan pendidikan. Penduduk Muslim Timur Tengah sedang mengalami pemiskinan karena tingginya pertambahan penduduk tetapi rendahnya pertumbuhan ekonomi. Dalam 15 tahun katanya, penduduk Arab naik 48 persen, sedang GDP hanya 15 persen. Akibatnya, GDP per kapita setahun turun dari US$2,600 menjadi US$2,000. Produksi yang merosot membuat Arab makin tergantung pada dunia. Konon, bahan untuk ihram harus diimpor dari Jepang, sedang sajadah dari Cina. Dulu Arab mampu swasembada pangan, sekarang sudah harus mengimpor senilai puluhan milyar dolar setahun. Jika peranan minyak bumi melorot terus, krisis utang akan terjadi, dan Muslim Arab akan tertinggal jauh di belakang.

Dunia Islam umumnya juga dilanda krisis pendidikan. Memang cukup banyak kemajuan yang dicapai selama Abad XX, tetapi jumlah yang butahuruf masih 51 persen untuk penduduk di atas 15 tahun. Untuk penduduk berusia enam sampai 11 tahun, hanya 45 persen yang bersekolah. Di masyarakat Barat, terdapat 2.600 peneliti dalam setiap sejuta penduduk, tetapi di masyarakat Muslim hanya 100 orang peneliti per sejuta penduduk. Hal ini boleh jadi berarti, Barat dan Islam bakal tidak bentrok, semata-mata karena kekuatan begitu tak berimbang. Sebaliknya, sedikitnya untuk beberapa dasawarsa mendatang, Islam masih tetap akan bergantung pada Barat.■

%d bloggers like this: