HUT Ke-101 Pergerakan Kebangsaan

deskha May 20, 2009 0
HUT Ke-101 Pergerakan Kebangsaan

HUT Ke-101 Pergerakan Kebangsaan Indonesia:

Memetik Beberapa Pelajaran Pokok

 Tentang memetik pelajaran atau mencari jawaban, almarhum Th. Sumartana Ph.D.,  seorang tokoh pemikir Kristen dan salah satu pendiri serta ketua PAN (Partai Amanat Nasional), senang mengulang cerita  tentang pendeta Martin Luther King Jr. ketika pertamakali melawat ke negeri-negeri Amerika Latin. Konon sambutan sangat meriah lengkap dengan ribuan spanduk, tapi isinya hanya satu saja: “Jesus Christ is the Answer!” Ketika tokoh raksasa pejuang HAM itu akhirnya naik ke podium, suara hadirin membahana sambil menyerukan isi spanduk itu berkali-kali. Setelah menarik nafas panjang, dengan suara alto-nya yang mashur itu Martin Luther King langsung berkata: “Sisters and brothers! If Jesus Christ is the Answer, so what is the Question?”

Bisa kita bayangkan betapa kagetnya penyambut yang sangat bersemangat itu, lalu terdiam, malu, dan menyesal karena lupa menyiapkan pertanyaan yang layak. Begitulah kira-kira yang terjadi setiap kali kita menyambut HUT (Hari Ulang Tahun) Pergerakan Kebangsaan kita, termasuk HUT yang ke-100, 20 Mei 2008, sebagaimana sudah kita paparkan sebagian dalam majalah eletronik ini. Sejak HUT yang ke-101 ini, 20 Mei 2009, kita tidak mau lagi seperti itu, bukan karena mau mencegah rasa malu, tapi karena sadar bahwa tidak mungkin bisa belajar tanpa adanya pertanyaan atau persoalan yang membebani pikiran dan hati kita. Semakin nyata dan jelas beban persoalan itu kita rasakan dan rumuskan, semakin berharga hasil pelajaran yang kita dapatkan.

***

Masing-masing kita pastilah punya pertanyaan atau persoalan yang membebani pikiran dan hati kita yang berkaitan dengan kehidupan kita sebagai bangsa. Kita ingin juga dapat memahami, dan kalau bisa mengatasinya, dengan memetik pelajaran dari perjuangan kebangsaan kita sejak dimulai 101 tahun yang lalu. Sayang, pertanyaannya begitu banyak dan begitu ruwet, serta keterangan yang berkaitan pun  demikian juga, sehingga kita biasanya enggan dan akhirnya tidak pernah merumuskannya. Mungkin itulah sebabnya orang bijak bilang, merumuskan pertanyaan jauh lebih sulit daripada menjawabnya. Dengan pertanyaan yang jelas, separo jawaban sudah didapat.

Namun demikian, hal itu tidak perlu membuat kita kecil hati, sebab memang begitulah konon tabiat perkembangan kesadaran, pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan. Konon ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan, tapi samasekali belum ada untuk menemukannya. Kalau didesak terus, para ahli filsafat ilmu pengetahuan pun hanya bisa bilang : “Bold conjectures”, berani sajalah menduga. Nenek-moyang Minangkabau  lebih tegas lagi: “Alam terkembang jadi guru”. Dipikir-pikir, bagus juga demikian, sebab seandainya ada cara mendapatkan persoalan atau pertanyaan, maka semua orang bakal dapat Hadiah Nobel, dan derap ilmu pengetahuan pun akan segera berhenti.

Berikut ini hanyalah suatu dugaan yang berani mengenai masalah kita sebagai bangsa. Besar harapan pembaca Zamrud Katulistiwa mau menanggapinya, baik dengan komentar, kupasan, maupun rumusan persoalan yang samasekali berbeda. Dugaan ini sudah lama dibuat, dan sudah dikemukakan dalam berbagai kesempatan, lisan atau tertulis, tapi baru kali ini disiarkan lewat majalah kita ini. Sifatnya khas persoalan, maksudnya bukan topik, melainkan nyata tapi aneh, tidak cocok, bahkan berlawanan dengan semua yang sudah kita tahu. (Baca: “Tiga Masalah Pokok Kita Sebagai Bangsa”).■ (Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: