Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 1)

deskha December 16, 2011 0
Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 1)

Hubbub in Java

 by

 John Thompson

(Sydney: Currawong Publishing Company Pty. Ltd., 1946)

Gaduh di Jawa

 Diterjemahkan oleh Parakitri T. Simbolon

 Sejak 2 Desember 2011

 

Pengantar Terjemahan

Kawan saya, seorang indonesianis Australia, Anton Lucas, memberikan salinan buku ini kepada saya pada 20 Agustus 2007. Tebalnya tidak sampai 100 halaman, tapi ditulis sangat sasterawi dan enak sekali dibaca. Buku ini bercerita tentang kenyataan lapangan perang kemerdekaan Republik Indonesia (RI), kisah yang karena itu penting bagi bangsa kita, dan juga terhitung langka. Bab pertamanya kebetulan bercerita tentang acara jamuan makan yang diselenggarakan oleh Susuhunan di keraton Surakarta untuk para pemimpin baru Indonesia Merdeka dan para wartawan pada 17 Desember 1945.

Bahan seperti ini semakin penting lagi manakala keadaan sehari-hari bangsa kita karut-marut karena KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) hingga detik ini. Untuk bisa bertahan dengan tabah, kita mesti menggali sukma bangsa kita hingga ke lapisan-lapisan paling dalam, sebagaimana dilakukan oleh sejarawan termasyhur Prancis, Fernand Braudel (1902-1988) saat menghadapi kehancuran Prancis di tangan Jerman. Karena itu ia terpaksa mengabaikan peristiwa sehari-hari yang kacau itu sambil berseru: “À bas les évènements!” Persetan dengan hingar-bingar sehari-hari.

Saya nyaris melupakan buku itu sampai empat tahun kemudian Anton Lucas menanyakan apakah ada yang mau menerjemahkannya ke bahasa Indonesia untuk dapat diterbitkan. Saya sempat memberi saran, tapi sejak itu tidak pernah lagi kedengaran kabar-beritanya. Saya pikir baik juga kalau saya menerjemahkannya untuk diterbitkan bersambung dalam zamrudkatulistiwa.com . Tokh hak-ciptanya sudah jadi milik umum  karena sudah terbit lebih daripada 50 tahun yang lalu. Maksud saya ini segera saya sampaikan kepada Anton Lucas. Dia mendukung rencana itu.

***

John Thompson, 1960

John Thompson, 1960

John Joseph Meagher Thompson (1907-1968) waktu itu bekerja sebagai koresponden perang  radio ABC (Australian Broadcasting Commission), tapi sebenarnya meski penyiar, dia tetaplah seorang penyair. Lahir di Kew, Melbourne, 20 Desember 1907, John sekolah dan kuliah di kota tersebut. Pada 1931, dua tahun setelah menggondol gelar BA dari Universitas Melbourne, kakeknya membantu biaya perjalanannya ke London yang hanya mengandalkan £2 uang kantong seminggu. Namun dengan itu ia berhasil mendapat nama di kota itu sebagai sasterawan. Hidup sebagai petani sempat dijalaninya di Dorset dan baru kembali ke London pada 1937. Setahun kemudian ia kawin dengan Patricia Drakeford Cole, yang bekerja di suatu klub buku aliran kiri. John menambah penghasilan sebagai pemain film ‘asal lewat’ dan model fotografi.

Ketika bahaya perang mulai mengancam, suami-isteri itu bertolak ke Perth awal 1939. John menjadi penyiar radio ABC, dan mereka berdua menjadi anggota Partai Komunis Australia. Akhir 1942 ia masuk Tentara Australia sebagai juru-teknik radio. Pada 2 Agustus 1945 ia menjadi koresponden perang ABC setelah sempat bertugas di dunia pendidikan menjelang keluar dari dinas tentara. John melaporkan penyerahan Jepang di Rabaul sebelum meliput perang kemerdekaan RI yang menghasilkan buku ini.

Tinggi semampai, berkulit putih, bermata biru, dan ganteng, John Thompson orangnya pemurah dan rendah-hati. Suaranya bernada ningrat, hal yang dianggap sangat penting sebagai ciri siaran ABC. Setelah berkiprah sebagai penyiar radio dan sasterawan, John mendirikan Yayasan Paddington pada 1964 untuk melestarikan tradisi Victorian masyarakat daerah pinggiran kota tempat tinggalnya sejak 1951. Bunga-rampai puisinya pun mendapat penghargaan empat tahun sebelum dia pensiun dari ABC pada 1968 dan akhirnya meninggal pada 19 Juli tahun yang sama. Ia meninggalkan isteri dan dua anak laki (seorang di antaranya anak angkat) serta tanda peringatan atas jasanya berupa air-mancur di seberang balaikota Paddington.

Sumber tulisan:  Peter Kirkpatrick, ‘Thompson, John Joseph (1907–1968)’, Australian Dictionary of Biography, National Centre of Biography, Australian National University.

Sumber foto: National Archives of Australia, A1200:L36561

http://adb.anu.edu.au/biography/thompson-john-joseph-11849/text21209, accessed 2 December 2011.■

 

Catatan John Thompson

Pada saat menulis naskah buku ini, kekuasaan “Pemerintah” di Jawa tidak diakui, sedang “Pemerintah” yang diakui tanpa kekuasaan. Karena itu gelar-gelar para pembesar, baik Belanda mau pun Indonesia, mungkin haruslah diberi tanda kutip.

Tentu saja hal ini bakal menjengkelkan pembaca, makanya dalam buku ini tanda kutip tidak ditaruh pada gelar-gelar tersebut.

 

Bab Satu

“Kemegahan dan Kesengsaraan”

1

 Dalam suatu perjamuan makan aku berhadapan-muka dengan lima orang pangeran di suatu keraton bergaya abad pertengahan. Muka mereka melantunkan masa-silam yang lazim terasa ada  pada lukisan-lukisan tua – paras yang menatap lewat kerah tinggi jas-tutup berwarna pastel dengan topi blangkon, yang lipatannya berundak-undak, rapi-jali menutupi jidat.

Udara sejuk, yang semerbak dengan harumnya bunga jeruk, ditingkahi bunyi gamelan dan teriakan-teriakan mengagetkan, sementara beberapa gadis keraton terus memainkan tarian tradisional di tengah taburan bunga kemboja, tepat di tengah ruang perjamuan. Gerakan-gerakan mereka yang halus, cermat, dan anggun berlangsung tak henti-henti, sementara hidangan demi hidangan disajikan di hadapan tiga lusin undangan yang duduk sepanjang deretan meja panjang yang tertata mewah bermandikan cahaya listrik, yang teralingi dengan bilah-bilah kaca dari pepohonan tinggi dan dari sinar rembulan yang memenuhi pekarangan.

Acara hiburan itu ditata cermat dengan tempo terukur. Saat kami masuk, serangkaian gamelan dibunyikan untuk menyambut kami dengan irama selamat datang, dan sehabis acara dengan irama selamat jalan. Tak ada perempuan duduk di meja, tapi selama satu jam lebih, dengan gerakan rampak, seimbang dan cermat, empat orang penari perempuan berpakaian indah mengitari meja mungil berisi secawan kembang, dua gelas piala kecil, sebotol cairan merah-tua dan sebotol lagi cairan hijau. Puncak adegan itu tiba tatkala dua orang penari menuangkan cairan hijau dan merah-tua ke dalam dua gelas-piala di tangan dua penari lain. Sesudah itu adegan yang serupa diulang-balik, lalu para penari pun mengundurkan diri. Muka mereka tampak datar tanpa rasa selama berlangsungnya tarian panjang itu.

Aku duduk di samping seorang wartawan India. Saban-saban dia menggamit aku sambil berbisik, “Kita masih bangun kan?”

Mendadak bunyi gamelan menyentak, lalu semakin lantang dan bernada marah. Lima orang penari laki meluncur pelan di lantai marmar. Adegan tari yang menyusul berasal, seperti tari sebelumnya, dari kebudayaan Hindu, tapi yang ini kocak sekaligus gagah-berani. Semasa pendudukan Jepang, tokoh raksasa, yang biasanya menggambarkan kejahatan, mewakili orang Belanda, dan tokoh gagah-berani, yang biasanya  menggambarkan kebajikan, mewakili orang Indonesia. Topeng si jahat jelek berwarna merah-muda, rahang bawahnya terlalu pendek, bertaring panjang, dan gerak tarinya patah-patah dibarengi ancaman dan ejekan yang dia teriakkan dengan nada tinggi tak berketentuan. Tarian si bajik tampak halus dan anggun, dan sahutannya kepada si jahat nyaring bernada berat, sedang tiga penari lain berbadan hitam dan berpupur putih yang mengenakan pakaian badut, melindungi sang pahlawan serta mengganggu si jahat dengan kocak yang terasa bahkan oleh kami yang tidak mengerti kata-katanya.

Adegan itu menyenangkan bagi para pangeran dan pengikut mereka, juga bagi para pemimpin Republik yang baru itu. Keramah-tamahan Susuhunan Surakarta bukan tidak lazim bagi para penguasa Belanda di Jawa sebelum pecahnya perang Pafisik, tapi tidak ada satu pun orang Belanda pada acara 17 Desember 1945 itu. Sebaliknya tokoh-tokoh baru Indonesialah yang duduk bersantap di meja perjamuan. Sangat menakjubkan melihat Sjahrir, Sjarifudin, dan para pendamping mereka yang mengenakan kemeja modern putih sederhana, dan Sukarno yang juga berkemeja serupa dengan pecinya, juga Hatta dengan kacamatanya, dan Luat yang kekar serta Amir yang gempal dari Sumatera – orang-orang revolusioner, republikan, yang beberapa di antaranya pernah lama dihukum kerja-paksa – duduk santai di mana orang-orang Belanda dulu menguap bosan dalam rasa besar-diri mereka. Para pemimpin baru Indonesia itu riuh bertepuk-tangan  saat penari yang mewakili kebajikan itu menaklukkan musuhnya lalu semua kelima penari mengundurkan diri.

Tidak lama kemudian musik berubah, dan tuan-rumah kami yang berbusana gemerlap bangkit berdiri untuk mengantarkan para pemimpin ke kendaraan mereka. Semua yang lain menyusul, dan begitu tiba di depan keraton dari halaman luas tempat acara dan jalan utama, kami sempat menangkap kelebat Susuhunan yang bergerak cepat menuju kediamannya melewati tiang-tiang besar dengan payung kebesaran warna emas yang dipegang oleh seorang pelayan.

Esok paginya, pangeran muda yang tampan dan berpengaruh ini hadir di setasiun keretaapi untuk mendampingi para pemimpin baru Indonesia itu dalam perjalanan “organisasional” mereka ke Jawa Timur. Ia mengenakan sepatu bot setinggi lutut dan seragam dril bertanda pangkat Letnan-Jenderal TKR. (Akan bersambung ke Bab Satu: 2)■

 

%d bloggers like this: