Gaduh di Jawa Bab Tiga (Bagian 2)

deskha October 9, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Tiga (Bagian 2)

Bab Tiga

Orang, Massa, dan Manifesto

2

 Tidak sulit bertemu dengan Perdana Menteri Sjahrir.

Satu-satunya yang perlu Anda lakukan adalah berkunjung pagi-pagi ke rumahnya yang sederhana. Dia biasanya berada di emper rumahnya, atau membukakan sendiri pintu rumah, atau seorang di antara pemuda yang bekerja padanya akan memberitahukan kedatangan Anda.

Pengunjung dapat melihat bahwa kaca pintu depan sudah disingkirkan agar dari dalam orang bisa leluasa melihat ada tamu.

Sjahrir orangnya kecil, tingginya hanya kira-kira satu setengah meter, dan pada kesan pertama dia tampak berumur duapuluh tiga tahun. Sesungguhnya, usianya tigapuluh enam. Saya kira pasti berkat rasa humornyalah dia awet muda, kendati hidupnya susah, dan dia menikmati sepuasnya kelucuan yang bersumber pada aneka kesulitan dan pertentangan yang menimpa Belanda dan Inggris gara-gara mereka terlalu bernafsu untuk terlibat. Saya sejak lama mengira bahwa seks dan politik merupakan sumber kenikmatan yang penting, karena tidak ada kegiatan lain yang begitu membuat orang merasa bangga, sedih, marah, rakus, terharu, luarbiasa, mulia, berbahaya, bingung, dan betul-betul bego. Saya sering jahil  terhadap Sjahrir dengan mengatakan kepadanya, “Anda berpolitik bukan untuk tujuan mulia, tapi untuk bisa tertawa.”

Lahir di Sumatra, dia ke Belanda di kala muda dan di tengah masa belajarnya dia kawin dengan seorang perempuan Belanda, seorang anggota Partai Sosialis. Ketika mereka ke Indonesia, penguasa memulangkan istri Sjahrir itu ke Belanda. Tahun berikutnya, 1933, Sjahrir ditangkap karena kegiatan politiknya di Sumatra dan duabelas bulan kemudian dipindahkan ke Sungai Digul. Dia ditahan di sana selama duabelas bulan lagi dan sesudah itu dibuang ke pulau Banda sampai awal 1942, tatkala Belanda menerbangkannya kembali ke Jawa dan dipenjarakan di kantor polisi karena Belanda takut dia membantu Jepang. Sjahrir tidak pernah bertemu dengan putranya yang berumur duabelas tahun.

Jepang membebaskan dia, tapi dua bulan kemudian dia diperintahkan meninggalkan kota, lantas dia pergi menyendiri ke pedalaman dan meneruskan kegiatan bawah tanah di sana. Dengan runtuhnya kekusaan Belanda dan lepasnya Indonesia, siapa duga Belanda akan datang lagi, dan gerakan bawah tanah jadilah gerakan anti-Jepang saja yang menganggap sikap orang Indonesia yang bekerjasama dengan Jepang salah, meski pun bisa dimaklumi.

Dalam pidato-pidato dan tulisannya, Sjahrir selalu menekankan nilai-nilai kemanusiaan. Saya tak pernah melihat dia jengkel, tapi emosinya bisa terasa naik bila dia menyinggung-nyinggung penderitaan rakyat Indonesia. Dia tahu mereka dan percaya pada mereka, dan wajahnya jadi cerah bila seorang koresponden, yang menganggap propaganda tentang “kaum ektremis” Indonesia berlebihan, bilang pada suatu hari, “Saya tidak takut dengan rakyat Anda”.

Tertarik dengan Australia karena berbagai alasan, Sjahrir bilang kepada saya bahwa dia akan sangat senang mendapatkan beberapa karya puisi dan novel kami karena, seperti dia katakan, “Jalan terbaik untuk memahami suatu bangsa adalah lewat karya-karya satra mereka.” Perasaan kemanusiaannya berlaku juga untuk Belanda, dan dia menegaskan bahwa penderitaan Belanda yang dilanda perang dirasakan juga dan bahwa Indonesia merdeka akan rela memberi apa saja yang bisa menolong pembangunan kembali negeri itu.

Sjahrir bisa saja dibunuh, bahkan tatkala saya sedang menulis buku ini atau naskahnya masih di percetakan. Namun semangatnya tidak akan ikut mati. Di seantero Jawa terdapat aktivis muda terpilih berpendidikan yang berjuang dengan dia dalam gerakan bawah tanah dan akan memainkan peran penting di haribaan Indonesia masa depan.

Suatu upaya membunuh Perdana Menteri itu terjadi pada suatu Natal hari kedua, ketika satu truk penuh pasukan Belanda memepet mobilnya dan seorang Indo menembaki dia dengan pistol. Rentetan tembakannya meleset, dan truk itu lantas memalang jalan sehingga mobil Sjahrir terpaksa berhenti. Si Indo meloncat turun  dan menembak dari jarak dekat hingga pistolnya kehabisan peluru, lalu dia merangsek maju dan memukul Sjaharir dengan gagang senjatanya. Pasukan Inggris kebetulan lewat, dan mereka menangkapi sejumlah serdadu Belanda dan mengakhiri kericuhan itu. Saat terakhir saya bertemu Sjahrir, beberapa hari kemudian, dia bersikap santai saja dengan mata memarnya yang pasti masih terasa perih. Jika Sjahrir sampai terbunuh, akan timbul kemunduran bagi bangsa Indonesia, tapi dalam jangka panjang akan lebih merugikan bagi Belanda.

Karena pembuangan dirinya yang lama, Sjahrir nyaris tidak dikenal oleh rakyat ketika dia memangku jabatannya. Dalam rapat-rapat umum di Jawa tengah selama Desember, dia tidak berusaha mencuri perhatian massa dari Dr. Sukarno, yang menikmati perhatian dan merupakan orang setengah dewa bagi rakyat banyak. Namun Sjahrir bicara dalam banyak pertemuan, dan tampaknya kata-katanya dikenang sedang kata-kata tokoh lain dilupakan, karena dia bicara sebagai seorang dari rakyat dan dia menunjukkan kepada mereka apa yang bisa dikerjakan. Dia langsung memasuki serba kesulitan mereka, dia selalu mengajukan program, dan dia menunjukkan apa yang selanjutnya harus dilakukan. Sukarno bisa menggugah semangat ribuan pendengar, tapi kebolehan Sjahrir adalah membuat mereka tenang dan tabah.

Caranya menjadikan dirinya bagian rakyat dan masalah mereka, lalu menunjukkan jalan keluar, tercermin dengan jelas dalam suatu siaran di bulan Desember saat dia mengatakan dalam bahasa Indonesia: “Apa pun yang kita kerjakan dengan tangan kita sekarang ini akan berakibat pada segi kemanusiaan hidup kita. Hal ini berlaku sama buat kita semua. Dia yang mengenakan seragam hijau dan maju bertempur dengan bedil, tombak, atau golok; dia yang mengenakan seragam putih dan duduk di depan meja kantor; dia yang nyaris tak berpakaian mengayunkan cangkul di sawah dan ladang – semua mereka ini termasuk di dalamnya. Setiap masalah yang kita hadapi sekarang ini mengandung segi kemanusiaan … Sebagai manusia, angin topan mendorong kita ke segala arah. Pada suatu saat kita berada dalam kebingungan. Pada saat yang lain dicekam ketakutan. Lalu kembali kita dilanda kemarahan, dan dilanda kebencian yang merobek-robek badan kita sendiri. Namun jika nafsu tidak mengalahkan akalsehat, jika pikiran kita tetap jernih, kita akan mampu memberi arah dan cita-cita kepada dorongan-dorongan hati kita. Asalkan ada kepastian dan keyakinan, kesedihan dan kecurigaan kita akan sirna.

“Kita harus punya keyakinan terhadap kemungkinan-kemungkinan dalam perjuangan seperti yang kita lakukan, kita harus punya kepercayaan pada mereka yang berjuang bahu-membahu dengan kita, kita harus punya kepercayaan pada mereka yang memimpin perjuangan kebangsaan kita. Pemerintah memikul tanggungjawab untuk mengerahkan kekuatan dahsyat yang terkandung dalam diri kita sehingga kekuatan itu bisa disalurkan dan diimpun, sehingga bilamana perlu kekuatan tersebut dapat digembleng, didinginkan, dan diperhalus.

“Setiap orang Indonesia harus merasa wajib mematuhi disiplin yang diharapkan oleh pemerintah … Namun di bidang mana pun kita melaksanakan perjuangan – sebagai petani, sebagai pejabat, sebagai pemimpin – kita masih tetap berada dalam nilai-nilai kemanusiaan. Bahan makanan harus kita punya, dan juga bahan-bahan keperluan hidup kita yang lain. Sawah dan ladang harus digarap, ditanami, dirawat. Pekerjaan-pekerjaan umum harus terus berjalan dan begitu juga dengan perdagangan. Kemampuan rakyat kita harus digalang dan ditingkatkan, sedang pendidikan anak-anak kita tidak boleh diabaikan.”

Sjahrir penting bagi Indonesia karena kepemimpinan itu sendiri punya nilai istimewa di mana terdapat hanya sedikit orang yang melek huruf atau punya kesempatan untuk memperoleh pemikiran modern. Menteri penerangannya, Dr. Sjarifudin, yang juga kelahiran Sumatra, lebih meledak-ledak dan kurang suka berceritera. Dia orangnya cenderung mengatasi soal sampai selesai. Memang banyak soal yang diatasi di Indonesia, walau pun hanya sedikit orang yang tak terbuai dengan hari-hari libur tradisional dan tidur siang.

Sjarifudin dua tahun lebih tua daripada Sjahrir. Pendek, meledak-ledak, dia berkacamata yang bergagang warna kuning, tas tidak pernah lepas, dan sering memakai jas yang menutupi kemeja-putihnya. Di masa mudanya, dia lulusan Universitas Batavia dan tinggal beberapa lama di Belanda. Sekembalinya dia menerbitkan suratkabar kecil yang menyuarakan kepentingan gerakan nasional sayap kiri, tapi dia segera ditangkap dan dipenjarakan selama delapanbelas bulan di Batavia dan kemudian di Bandung. Setelah dibebaskan dia dapat pekerjaan di bawah Dr. Van Mook pada Jawatan Penelitian Departemen Keuangan. Sebelum pecah perang Pafisik dia berusaha menggalang partai anti-Jepang, dan pemerintah memberi dia dana untuk bisa bekeliling Jawa, tapi kegiatan partainya tercium oleh polisi rahasia Jepang kemudian, dan limapuluh empat orang anggotanya ditangkap, serta tiga orang dihukum gantung.

Sjarifudin sendiri ditangkap pada Januari 1943, disiksa, dan dipenjarakan sampai Oktober 1945. Dia seorang ayah dan seorang Kristen, suka menggesek biola – Handel, Beethoven – dan lebih menyukai bacaan filsafat serta politik.

Presiden Sukarno seorang singa podium. Orangnya ganteng dan hangat, senang bertindak dengan gaya, dan suka dicintai. Pemikiran politiknya terlalu luas dan kabur untuk bisa dilaksanakan, sekali pun yang terbaik di antaranya. Kesan saya tentang dia adalah bahwa dia sebenarnya manusia biasa saja kendati cerdas, perasa, dan gampang terpengaruh. Dia seorang singa podium, dengan suara bagus, gerak-gerik yang hidup dan punya kiat menggugah pendengarnya untuk menyambut kata-katanya dengan pekikan dan semboyan, sehingga setiap pidatonya berkembang menjadi semacam pertunjukan rakyat, dan setiap orang menikmatinya. Bergelar insinyur, Sukarno kini berusia empapuluh empat. Dia mulai menggalang gerakan politik pada usia muda dan dipenjarakan dari 1929 sampai 1931. Tahun berikutnya pemerintah melarang rapat-rapat umum partai politik, dan Sukarno menulis buku yang membuat dia dipenjarakan.

Dari 1933 sampai 1938 dia dibuang ke Flores, dan selama empat tahun kemudian, sampai dibebaskan oleh Jepang, dia ditahan di Bengkulu.

Saya tidak yakin apakah dia mengerti sepenuhnya akibat penyerbuan Jepang tatkala dia menganut paham yang disodorkan mentah-mentah oleh penyerbu itu: karena dia sudah tidak cukup mengerti kebutuhan Indonesia sekarang ini untuk bisa menegaskannya kecuali sebelumnya dia dipersiapkan baik-baik untuk itu, dan walau pun nama-besarnya masih tetap penting dalam perjuangan kemerdekaan, dia sudah bukan lagi merupakan pusat kekuatan pemikiran dan dalam hal ini dia akan dilampaui oleh tokoh-tokoh yang lebih paham.

Wakil Presiden Hatta, lagi seorang dari Sumatra, juga telah bergiat dalam politik selama bertahun-tahun. Dari 1936 sampai 1942 dia jadi orang buangan di pulau Banda, bersama dengan Sjahrir. Meski pun sangat berbakat, dia lebih mengambil jarak terhadp rakyat, dan punya kelemahan-kelemahan seorang liberal yang sering terlalu halus dan canggih serta yang siap mengubah pemahamannya bila menghadapi perkembangan-perkembangan baru. Sikap liberal yang demikian itu tetap saja penuh ketenangan karena sikap tersebut senantiasa jujur pada dirinya sendiri meski pun diri sendiri itu bukan tak berubah. Hanya dalam kerangka paham liberal yang senantiasa berubah itulah bisa dikatakan bahwa tidak ada pertentangan sikap dalam pemikiran Hatta, seorang ekonom, meski pun dia pernah memujikan Henry Ford dan kini condong ke arah sosialisme.

Saya membicarakan empat orang pemimpin ini agak rinci karena Hatta dan Sukarno, yang menurut paham kiri bisa dicap pendukung “ideologi borjuis”, berperan menentukan dalam kabinet Indonesia yang pertama, sedangkan Sjahrir dan Sjarifudin, yang berpaham sosialis, dan yang tampak tidak termasuk lapis sosial tertentu, berperan menonjol dalam kabinet kedua dan sedang naik daun salama masa kunjungan saya di Jawa.

Namun samasekali tidak berarti bahwa pemerintah Republik yang baru itu tidak demokratis dalam cita-citanya atau buta terhadap kenyataan bahwa Indonesia hanyalah salah satu bagian dunia yang lebih luas. Pada  1 November, pemerintah tiba pada tahap mampu mencanangkan Manifesto berikut ini, berdasarkan prinsip tersebut yang sampai sekarang tetap dipertahankan: MANIFESTO POLITIK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. [Bersambung].■

%d bloggers like this: