Gaduh di Jawa Bab Tiga (Bagian 1)

deskha July 27, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Tiga (Bagian 1)

Bab Tiga

Orang, Massa, dan Manifesto

1

Manusia macam apakah gerangan rakyat negeri tetangga dekat Australia itu yang menuntut kemerdekaan dan minta agar kedaulatan Republik Indonesia diakui?

Pertama-tama, secara rasial orang Indonesia itu Melayu. Mereka tahu bahasa Melayu, meski pun bicara bahasa-bahasa lain. Lebih-kurang sembilan dari sepuluh jiwa penduduknya beragama Islam.

Seribu delapan ratus tahun silam, orang-orang Hindu dari India menempati pulau-pulaunya. Pada Abad Pertengahan, Kerajaan Hindu Jawa, Majapahit, mencapai puncak kejayaannya. Pada 1447 Jawa ditaklukkan oleh orang Arab, dan agama Islam diperkenalkan oleh pendatang dari Sumatra dan tempat-tempat lain.

Setelah para saudagar Belanda tiba di Jawa pada 1596, raja-raja pribumi berperang terus melawan mereka tapi raja-raja tersebut belum bisa ditaklukkan sampai 1808. Orang-orang Sumatra melawan sampai 1900, khususnya Aceh, dan kurang daripada tujuh puluh lima tahun lalu Belanda terlibat dalam perang sengit yang makan korban seperempat juta jiwa dan ongkos 50.000.000 pound sterling. Siapa bisa bilang rakyat Indonesia itu tidak gagah-berani?

Mereka punya beragam tradisi seni. Orang Battak dan Menangkabau di Sumatra punya rumah berbentuk khas yang cantiknya bukanmain. Jawa masyhur dengan batiknya, dengan barang kerajinan perak Yogyakarta, dengan musiknya yang rumit, dengan wayang purwanya, dan terlebih lagi dengan seni-tarinya. Konon, Hindu Bali adalah satu-satunya negeri di dunia ini yang seluruh penduduknya hidup untuk Seni. Borneo dan Sulawesi kurang berkembang.

Orang Indonesia itu rajin: tidak bisa lain karena mereka hidup dari tanah. Tabiat mereka tenang: memang ada yang suka minuman keras, tapi minuman seperti itu dilarang oleh agama mereka dan percuma mencarinya di rumah seorang Indonesia. Mereka juga orang yang ceria, hangat, damai, murah hati. Banyak orang Belanda, karena tahu sifat-sifat baik tersebut, mustahil mengerti mengapa pecah revolusi sekarang ini dan sering menyatakan bahwa pastilah Jepang yang merusak sifat-sifat baik bangsa Indonesia itu. Orang Indonesia juga gagah-gagah, pendek tapi kekar, dengan mata dan rambut hitam, serta kulit halus dengan rona sawo matang. Tangan orang Indonesia mulus dan mungil, mereka tampil anggun, dan raut wajah yang sangat menawan biasa tampak di segala lapisan sosial.

Persentuhanku yang teratur dengan orang Indonesia terbatas pada mereka yang berpendidikan Belanda, karena kepemimpinan nasional berada di tangan orang-orang yang demikian, dan dengan mereka itu kita mudah bercakap-cakap. Pendidikan Belanda yang terbaik memang bagus, dan sebagian besar pemimpin dan golongan terpelajar Indonesia  bisa bicara tiga atau empat bahasa, di antaranya bahasa Inggris.

Bahasa Indonesia salah satu bahasa yang paling sederhana, yang terdiri hanya dari kumpulan kata-kata, tapi aku tidak cukup mempelajarinya untuk dapat bicara dengan para buruh dan tani. Bahwa buruh dan tani punya budaya sendiri tentu tak perlu dikatakan lagi – tradisi kerajinan dan tani, pengetahuan tentang tanaman dan cuaca, keterampilan tangan dan ketukangan – tapi mereka butahuruf, tidak tahu-menahu dengan urusan dunia, dan soal kesehatan tidak begitu mereka hiraukan. Tiada rakyat yang lebih cinta dengan negerinya atau tiada negeri yang lebih dicintai oleh rakyatnya, tapi pergaulanku yang sesungguhnya terpaksa terbatas pada sejumlah kecil orang terpelajar mereka dan orang banyak aku hanya bisa amati.

Namun takhyul tidak kecil perannya dalam kehidupan mereka. Takhyul sungguh punya kekuatan dalam revolusi. Tatkala pelayan kami di Batavia sakit kepala, mereka membalut leher mereka dengan bara api karena percaya panasnya bisa mengusir sakit di kepala. Yang lebih terkait dengan revolusi adalah kepercayaan luas di Jawa Timur bahwa para penggerak revolusi dan tokoh-tokoh yang berapi-api punya ilmu siluman guna mengindari musuh.

Takhyul lain berkaitan dengan sepasang meriam kuno, satu di antaranya tersandar di sebatang pohon tepat di luar gerbang Batavia tua. Saya telah melihat laras pejal meriam itu penuh ukiran puspa perlambang nazar. Mirip dengan lingga, meriam itu dijadikan tempat menyampaikan doa, dan pedupaan mungil dijaga agar terus-menerus berasap di pangkal larasnya yang berbentuk kapalan tinju besar. Johnny Florea dari Amerika mengambil foto seorang muda yang berdoa di sana dengan lebih dulu menghangatkan telapak tangan pada asap dupa lalu menangkupkan telapak tangannya itu kuat-kuat pada tinju besi sambil komat-kamit berdoa.

Pasangan meriam Batavia itu konon berada entah di Semarang atau di Banten, dan cerita tua menegaskan, bilamana kedua meriam itu dipertemukan maka semua orang Belanda akan dilemparkan ke laut.

Aku dengar tentang Joyoboyo yang masyhur dari seorang tua, seorang mungil berpikiran tajam, yang pernah jadi menteri dalam kabinet pertama RI, dan yang dengan mengenakan piyama menerima saya pada suatu sore di beranda rumahnya yang juga mungil, yang penuh dengan anak cucunya. Tampaknya Joyoboyo ialah semacam Nostradamus Indonesia. Ratusan tahun silam Joyoboyo meramalkan bahwa akan tiba waktunya suatu ras asing berkulit kuning akan merebut Jawa dan menguasanya sebentar. Setelah itu orang bermuka putih akan berusaha kembali menguasai pulau tersebut, dan perang sengit akan pecah, lalu penduduk Jawa akan berkurang separonya, serta penguasa bermuka putih itu tidak akan bertahan kecuali sepasang.

Tuan-rumah saya itu meyakinkan saya bahwa jutaan orang Indonesia percaya dengan ramalan ini. Saya pikir dia sendiri setengah percaya dengan itu, tapi pemahamannya atas soal-soal dan sepak-terjang politik sangat mutakhir. Dengan bicara Inggris yang cepat dia menguraikan secara sangat mengesankan aneka pertimbangan yang mendorong dia sendiri dan banyak rekannya untuk bekerjasama dengan Jepang, sembari menyatakan bahwa dengan cara itu menjadi mungkinlah mempersatukan rakyat Indonesia sebagai suatu bangsa.

Dia dengan senang menceritakan berbagai kekonyolan Belanda, dan semua olok-olok kehidupan tersirat dalam senyuman kecilnya sambil berkata: “Anda tahu, kami para keluarga Indonesia baik-baik dulu pasrah menerima banyak hal. Dulu Belanda biasanya mengirimkan dari Holland anak-anak keluarga kalangan atas mereka yang sudah gagal dan tak beradab. Kami terpaksa berhadapan dengan banyak tuan-tuan goblok atau cabul, tapi umumnya dapat kami duga bahwa mereka punya latarbelakang tradisi yang baik. Akhir-akhir ini Belanda mengubah kebijakan dengan mulai mengirimkan anak-anak pintar dan sukses dari keluarga-keluarga kaya baru yang berasal dari sini, dari sana, dan dari mana-mana. Mereka lebih hebat daripada para pendahulu mereka, tapi sangatlah menjengkelkan bagi orang-orang Indonesia yang sopan harus merunduk-runduk di hadapan mereka yang tanpa kesopanan dan tradisi.”

Nalar dan takhyul, cita-cita luhur dan kebencian, bergabung jadi daya yang menyatukan bagi rakyat Indonesia dalam mendukung republik mereka dan melawan Belanda. Kepemimpinan negeri nusantara itu berada di tangan segelintir orang terdidik, dan baik pangeran mau pun golongan menengah tidak terpisah dari perjuangan bangsa, tapi tampak bagi saya dalam minggu-minggu kunjungan saya di Jawa bahwa kekuatan sesungguhnya di balik meningkatnya peran para pemimpin tersebut terletak pada pengabdian mereka pada rakyat jelata.

Kembalinya kekuasaan Belanda setiap hari dibikin makin sulit dan sementara itu dasar-dasar baru diletakkan buat aneka perubahan sosial yang lebih mementingkan kesejahteraan rakyat daripada keuntungan orang per orang atau golongan per golongan yang bisa saja berupaya mengangkangi sumberdaya negeri itu demi kepentingan sendiri manakala persatuan dinilai tidak perlu lagi.■

%d bloggers like this: