Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 2)

deskha January 18, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 2)

Gaduh di Jawa

 Bab Satu

(sambungan)

 “Kemegahan dan Kesengsaraan”

2

Latarbelakang revolusi Indonesia yang bersifat ekonomi, sosial, dan kolonial adalah tiga setengah abad penjajahan Belanda yang disusul dengan tiga setengah tahun pendudukan Jepang. Bagi kami orang Australia, revolusi ini bukanmain pentingnya.

Organisasi politik Indonesia dibentuk pertamakali pada 1908, tapi meski pun gerakan yang lebih radikal sudah timbul dua tahun kemudian, mencapai kemerdekaan belum juga jadi tujuan hingga 1919. Berkembangnya komunisme disertai dengan rentetan pemogokan selama beberapa tahun sesudahnya, yang menimbulkan perjuangan bersenjata, di Jawa mau pun Sumatera, dari November 1926 sampai dengan Januari 1927. Penguasa Belanda balas melemparkan 4.500 orang komunis Indonesia ke penjara dan mengirim lagi 1.308 orang lain ke pembuangan di tepi sungai Digul, rimba Guinea Baru Belanda. Sekedar penenang, dibentuklah Volksraad, atau Dewan Rakyat, pada 1918, namun dalam badan ini hanya ada 30 orang Indonesia di antara 60 orang anggotanya. Sebanyak 20 dari 60 orang anggotanya itu diangkat oleh pemerintah jajahan, sisanya dipilih secara tidak langsung dengan hak-pilih yang terbatas. Badan tersebut tidak berhak membuat undang-undang, dan Indonesia dikuasai oleh Gubernur-Jenderal melalui kepala-kepala daerah seperti Gubernur, Residen, Bupati, Raja dan para kepala desa.

Sebelum 1942 pergerakan kebangsaan tampil dalam bentuk agitasi yang dilakukan oleh limabelas atau duapuluh ribuan pelajar yang pengaruhnya tampak kecil saja. Banyak di antara mereka masuk penjara, dan pergerakan kebangsaan ditindas begitu rupa sehingga kebanyakan penduduk yang Belanda menganggapnya sepi. Beberapa bulan setelah Jepang menduduki Nusantara, pada 7 Desember 1942 Ratu Wilhelmina menawarkan kepada Indonesia semacam keanggotaan di dalam kerajaan Belanda. Tawaran ini samasekali tidak bisa disamakan dengan gagasan Britania tentang status Dominion, dan memang dipandang rendah oleh para pemimpin Indonesia. Proklamasi kemerdekaan dinyatakan pada 17 Agustus 1945, dua hari setelah Pengumuman Hari Kemenangan (VP Day), dan Indonesia Merdeka pun lahir sudah.

Orang Belanda pendukung kolonialisme terkejut dengan perkembangan ini, tapi Dr Van Mook, Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda, yang bermukim di Australia, sertamerta menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah “buatan Jepang”. Pernyataan miring ini tersiar luas, dan masalah Indonesia segera tampil jadi soal politik luarnegeri paling penting yang pernah langsung dihadapi oleh Australia. Terbentuknya tepat di depan pintunya suatu Negara Buatan Jepang yang berpenduduk tujuhpuluh juta jiwa bakal menjadikan Australia berada dalam keadaan lebih parah daripada yang pernah dibayangkan. Di pihak lain, orang Belanda terbukti tidak mampu mempertahankan Indonesia lebih lama daripada beberapa hari, dan konon banyak di antara mereka tercemar Nazisme. Sebelum perang, Dr Anton Mussert, pemimpin Nazi Belanda, disambut baik dalam kunjungannya ke Indonesia. Pendukungnya sebelum perang di Belanda menimbulkan ketakutan karena jumlahnya yang besar, dan Mussert sendiri dijatuhi hukuman mati karena dituduh berkhianat pada Desember 1945.

Tanpa upaya perang dan industri Australia bakal mustahil Belanda bisa kembali berkuasa di Hindia, dan sikap Australia, yang condong mendukung Indonesia dalam menentukan nasib sendiri, terganggu akibat rencana Belanda mengirim tentara dan mengembalikan dengan paksa kekuasaannya di Indonesia. Orang-orang komunis kami mengharapkan Indonesia akan mempercepat runtuhnya seluruh bangunan imperialisme. Para pekerja pelabuhan kami ogah melayani kapal-kapal Belanda.

Sementara itu tentara Inggeris (kebanyakan orang Punyabi dan Gurka) mendarat di Jawa bersama dengan sejumlah tentara Belanda (kebanyakan orang Ambon dan Indo). Orang Indo begitu tidak disukai oleh penduduk sehingga mereka harus ditempatkan di Batavia saja, tapi tentara Inggeris menyebar ke mana-mana sehingga terlibat perempuran dengan pasukan Indonesia. Pada awal November 1945, mereka saling membunuh di Surabaya, Semarang, Magelang, Ambarawa dan Bandung. Resminya, pasukan Inggeris di Jawa bertugas menyita senjata tentara Jepang dan mengangkut mereka keluar serta mengumpulkan pasukan Sekutu yang jadi tawanan perang atau bekas tawanan perang. Namun tugas ini tidak memerlukan pernyataan Tuan Ernest Bevin pada 23 November untuk meyakinkan orang-orang Indonesia bahwa Inggeris berkewajiban memulihkan kekuasaan Belanda. Tuan Bevin bilang, “The sooner the Indonesian drop the fighting and begin talking to the Dutch Government and us the better it will be for their country.” Makin cepat pihak Indonesia menghentikan perlawanan dan mulai berunding dengan Pemerintah Belanda dan dengan kami, makin baik bagi negeri mereka.

Tampaknya Inggeris dan Belanda tidak perduli dengan kekalutan yang mereka ciptakan di negeri Timur asalkan investasi mereka aman. Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain di Hindia-Belanda merupakan sumber keuntungan luarbiasa. Pulau-pulau itu kaya dengan minyak, karet, bauksit, besi, batubara, timah, kayu, aneka serat, kelapa dan sawit, kapuk, the, kina, gula, kopi, dan rempah-rempah.

Tiga-perempat modal yang ditanamkan di kepulauan itu adalah milik Belanda, dan 32 juta gulden laba bersih mengalir setiap tahun ke negeri Belanda dari kepulauan tersebut. Investasi Inggeris terhitung besar, khususnya di Kalimantan.

Kapal-kapal dagang yang masuk kepulauan itu sebelum perang sebanyak 46,7 persen milik Belanda, 30,7 persen milik Inggeris, dan 9,4 persen milik Jepang. Orang Eropa mencakup hanya 0,5 persen dari seluruh penduduk, tapi mereka meraup 65 persen dari seluruh pendapatan tahunan kepulauan tersebut. Orang Timur Asing memperoleh seperlimanya, tapi orang Indonesia (97,5 persen dari seluruh penduduk) hanya menerima tidak lebih daripada seperdelapannya.

Gembar-gembor Belanda sebagai penjajah paling baik di dunia sudah tidak lagi penting sekarang ini, seandainya pun benar demikian. Kolonialisme itu sendiri, entah baik, buruk, atau tak acuh, sedang menghadapi penghakiman dan bakal dikutuk.

Selama minggu-minggu aku berada di Jawa jelas tampak bahwa Belanda enggan membicarakan kepentingan finansial mereka di Indonesia dan berupaya dapat dukungan dengan berkata berulang-ulang, “You’ve no idea what a wonderful country this was before the war.” Anda tidak tahu betapa mengagumkan keadaan negeri ini sebelum perang. Pada saat yang bersamaan, mereka menghalau dukungan orang Indonesia dengan kisah-kisah kekejaman, dan dengan pernyataan usang, “These people are not yet ready to govern themselves.” Mereka ini belum siap untuk memerintah diri sendiri.

Aku selalu tidak bisa tahan untuk mengatakan, “Do you think, then, that Europe is ready to govern itself?” Emangnya Eropa apa siap memerintah diri sendiri?

“Europe” sahut mereka heran. “What do you mean?” Apa maksudmu?

“Apa kamu pikir suatu benua sanggup memerintah diri sendiri bila benua itu berperilaku seperti Eropa selama lima tahun terakhir ini?”

Aku tidak pernah dapat jawaban untuk pertanyaan sesederhana ini, tapi banyak orang luar yang telah berpendapat bahwa orang Indonesia berhak sepenuhnya memerintah negeri mereka dengan cara mereka sendiri. Di India pada awal November, tigapuluh orang lebih telah terbunuh dalam unjuk rasa mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Di Amerika, buruh pelabuhan menolak untuk melayani kapal-kapal Belanda yang diperkirakan bakal merugikan Indonesia. Dukungan kuat diperlihatkan di Inggeris, sementara di Belanda sendiri serikat buruh menyatakan dukungan juga terhadap Indonesia. Pekerja pelabuhan Selandia Baru bersikap sama dengan rekan-rekan mereka di Australia.

Di suatu dinding di Australia terdapat tulisan: “1938 –  No Scrap-iron for Japs”, tolak besi rongsokan untuk Jepang; “1945 – No Guns for Dutch”, tolak senjata untuk Belanda. Di Brisbane, Sydney, dan Melbourne, kapal-kapal yang mengangkut pasukan Belanda atau dicurigai bermuatan senjata dicegah berlayar ke Indonesia. Para pelaut Indonesia tidak mau bekerja di kapal-kapal Belanda, dan pelaut India juga menolak membawa kapal-kapal Belanda ke India. Para kelasi India meninggalkan kapal “Japara” dan “Generaal Verspyck,” dan diperkirakan bahwa kelasi kapal-kapal lain juga mendapat tekanan ketika kapal-kapal tersebut keluar dari pelabuhan.

Diperkirakan banyak orang Indonesia ditangkap dan ditahan oleh Belanda di Australia, dan timbul sejumlah protes, termasuk anggota R.A.A.F., Angkatan Udara Australia, yang menyatakan bahwa orang-orang Indonesia disergap oleh polisi-militer Belanda di lapangan terbang Bundaberg. Menteri Angkatan Perang Forde memberi jaminan bahwa pasukan Australia tidak akan digunakan untuk menindas nasionalisme Indonesia, dan seorang pejabat pemerintah dikirimkan bersama 1.400 orang Indonesia dengan kapal “Esperance Bay” untuk memastikan keselamatan mereka hingga tiba tanpa halangan di pelabuhan negeri asal mereka.

Joris Ivens, anggota Komisi Film Pemerintah Hindia-Belanda, pembuat film-film dokumenter terkenal sedunia tentang China di masa perang dan Spanyol di masa perang saudara, mengadakan konperensi pers khusus di Sydney dan mengumumkan pengunduran dirinya, dengan kata-kata sbb.: “Sebagai seniman, aku tidak pernah dan tidak akan membuat film apa pun yang bertentangan dengan pendirian dan keyakinanku. Sebagai warga Belanda, aku percaya bahwa tradisi demokratis rakyat kami di Eropa seharusnyalah diberlakukan juga di Timur Jauh, yang memungkinkan tumbuhnya saling pengertian di antara dua bangsa merdeka dan karena itu mendukung kepentingan bangsa Belanda sebagaimana halnya kepentingan bangsa Indonesia. Aku merasa, sikap Pemerintah Hindia-Belanda sekarang ini hanya mengabdi pada kepentingan segelintir orang di negeri Belanda.”■

%d bloggers like this: