Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 3)

deskha February 8, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Satu (Bagian 3)

Gaduh di Jawa

 Bab Satu

(sambungan)

 “Kemegahan dan Kesengsaraan”

 3

Malam pertamaku di “Jakarta”.

Aku tidur tanpa kelambu di beranda Hotel de Galeries. Seorang perwira R.A.F. yang mabuk berbaik hati  menyemprotkan D.D.T. ke tempat-tidur dan ke badanku untuk mengusir nyamuk anofeles. Aku jadi tahu bahw D.D.T. tidak mengakibatkan buta bila kena mata. Untunglah aku segera mendapatkan tempat menginap yang lebih baik, dari mana aku dapat saban-saban mendengarkan tembak-menembak tanpa terlalu takut dengan malaria.

Omong-omong, “Jakarta” adalah nama baru buat Batavia. Suatu nama tempat dalam bahasa Indonesia kuna, nama baru itu diberlakukan dalam masa pendudukan Jepang tatkala Jepang melancarkan propaganda “kemerdekaan”. Dengan tidak terlalu ekstrim, bangsa Indonesia sibuk melenyapkan beberapa bekas tanda-tanda kekuasaan Belanda. Di zaman Belanda, “Susuhunan” misalnya dituliskan “Soesoehoenan”, tapi sekarang harakat Belanda itu sedang sirna. Di masa Indonesia, “Soerakarta” telah jadi “Surakarta”, dan nanti kalau Loebis, temanku yang ramah dan masih muda itu, memesan kartu-nama, di dalamnya akan tertulis “Lubis”.

Hotel Galeries adalah tempat yang rombeng tanpa pelayan untuk merapikan kamar-tidur atau untuk menyajikan makanan yang seadanya itu. Sering tiada air untuk mandi. Kamar-kamar yang dulu pernah mewah ditempati oleh para kuli-tinta, sedang Hotel des Indes yang masyhur di seberang jalan, khusus buat orang Belanda yang malang. Tempat-tidur darurat buru-buru disediakan di ruangan-ruangan megah Hotel des Indes. Banyak bekas tawanan-perang dapat kamar bagus, tapi pelayan-pelayan yang dulu sudah tidak ada, hilang sudah kemegahan dan pesta-pesta. Sepuluh jam larangan ke luar membuat malam-malam santai jadi suntuk. Kecemasan diperparah dengan penyakit, kegoncangan jiwa tersulut dengan masa-depan yang gelap. Gadis-gadis bergaya untuk memikat perwira-perwira Inggris, tapi orang-orang yang lebih tua kebingungan. Mereka tidak bisa menerima bahwa air, gas, listrik, selokan, trem, keretaapi, radio, suratkabar, pembuatan bir dll., semuanya dijalankan oleh orang-orang Indonesia pengkhianat, yang baru-baru ini mulai mereka benci.

Tembak-menembak cukup sering terjadi. Satu ambulans Inggris melarikan seorang Indonesia yang terluka ke rumahsakit Indonesia, dan supirnya ditembak mati saat dia berhenti di pintu masuk. Seorang Indonesia bernama Sukirno diseret dari rumahnya di siang hari bolong dan ditembak dengan tommygun oleh pasukan Belanda sekalian dengan dua anaknya, disaksikan oleh isterinya dan anaknya perempuan. Seorang Belanda-Indo yang berdiri di pojok jalan di siang bolong tiba-tiba menggelesot mati dengan peluru di perutnya.

Satu truk penuh pasukan Belanda campuran memperparah ketegangan dengan menjelajahi seluruh kota dengan karben dan tommygun ditodongkan ke arah para supir dan petangtang-petengteng di pinggir jalan serta lorong-lorong. Serdadu Belanda keturunan Ambon diperlengkapi dengan granat, tommygun, belati, pistol, dan pisau panjang, dan mereka punya kebiasaan cepat marah sambil curiga terhadap orang lewat dan menodongkan tommy gun langsung ke badan orang. Mereka terus-terusan menaruh jari di pemicu senjata, dan mereka dianggap bertanggung jawab atas kericuhan 18, 19, dan 20 November yang begitu gawat sehingga tentara Inggris menyatakan mereka akan disingkirkan ke luar Batavia.

Sementara itu orang Indonesia menyusun-ulang pemerintahan darurat mereka. Kabinet pertama Indonesia dipimpin oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta, tapi kabinet ini tercemar dengan anggapan bekerjasama dengan Jepang dan nyatanya sudah buntu tidak tahu harus berbuat apa. Kabinet itu dibubarkan pada awal November, lalu Sutan Sjahrir menduduki jabatan Perdana Menteri, sedang Sukarno dan Hatta ditendang ke atas pada jabatan kehormatan. Sjahrir dan rekannya Sjarifudin (Menteri Penerangan) menjadi pemimpin dalam kabinet itu, yang anggotanya terdiri dari para pegawai negeri biasa tapi bisa diandalkan dengan tugas memulihkan ketertiban sebisa mungkin di dalam kementerian-kementerian Dalam Negeri dan Luar Negeri, Sosial, Keuangan, Kehakiman, Kesejahteraan, Kesehatan, Pendidikan dan Kebudayaan, Pertahanan, Perhubungan, dan Pekerjaan Umum. Sjahrir dan Sjarifudin adalah pemrakarsa semua kebijakan tertinggi, yang tujuan-gandanya adalah mempersatukan semua orang Indonesia di bawah kekuasaan yang kokoh dan sekaligus memperjuangkan masalah Indonesia agar masuk ke dalam agenda PBB. Untuk beberapa lama mereka mengaku dengan terus-terang bahwa mereka tidak berwenang bicara atas nama seluruh Jawa.

Komando pasukan Inggris sudah tidak sabar untuk menegakkan “conditions of law and order in which conferences between the Indonesians and the Dutch can begin.” Hukum dan ketertiban yang menjadi syarat berlangsungnya perundingan-perundingan antaraIndonesiadan Belanda. Semua tindakan militer Indonesia secara resmi dikatakan sebagai ulah para “extremists”, dan segala penembakan dari udara dan pemboman terhadap pasukan Indonesia dikatakan sebagai serangan terhadap para “extremists”.

Indonesia sama sekali tidak tinggal diam dengan semua ungkapan-ungkapan ini, dan seusai kekisruhan akibat tindakan serdadu Ambon mereka serta-merta menunda rencana yang sudah disepakati untuk berunding dengan Belanda. Hal ini menguntungkan bagi mereka, karena mereka tidak dalam kedudukan yang menentukan, dan Sjahrir dengan jitu mengubah isu tersebut jadi keuntungan dengan cara mengeluarkan komunike resmi: “Mengingat tindakan Belanda yang merusak ketenteraman masyarakat Indonesia, dan selama Belanda melanjutkan sikapnya yang sekarang, Pemerintah RI berpendapat bahwa kami tidak akan bisa ambil bagian dalam segala pertemuan yang dihadiri oleh Belanda. Selain itu kami menegaskan bahwa Pemerintah senantiasa siap-sedia berunding dengan Inggris.”

Sementara itu, pertempuran berlangsung terus di berbagai daerah di Jawa, tapi kupikir keadaannya sering dibesar-besarkan. Masalah Indonesia bersifat kemanusiaan dan politis, bukan militer, dan di Batavia-lah  timbul sepak-terjang yang menentukan dan bakal timbul.■

%d bloggers like this: