Gaduh di Jawa Bab Dua (Bagian 1 & 2)

deskha March 1, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Dua (Bagian 1 & 2)

Gaduh di Jawa

Bab Dua

Siapa teriak Banzai?

 1

 Aku pikir mungkin akulah satu-satunya koresponden perang yang belum pernah menyaksikan satu tembakan pun yang dilepaskan dengan amarah dan hanya melihat satu orang yang mati.

Orang mati itu terapung tanpa pakaian di air kali cokelat Batavia yang terpilin daun-daun pisang bercampur sampah, dan aku tidak bisa memastikan apakah dia bule atau Indonesia. Agak ke sebelah hulu seseorang sedang menggunakan terusan itu sebagai jamban. Tujuhpuluh meteran ke arah hilir, segerombolan anak-anak sedang mandi di air yang mengalir lamban dan sarat rerumputan pada kedalaman hingga ke pinggang.

Sebenarnya aku jadi seorang koresponden perang baru setelah tiba di Jawa. Masa dinasku dalam tentara Australia tidaklah di garis depan, dan aku keluar dari dinas tersebut hanya tiga hari sebelum bom atom yang pertama dijatuhkan. Pada saat aku memulai tugasku yang baru, secara resmi perang sudah berakhir. Aku ke Rabaul untuk meliput peristiwa penyerahan kembali daerah itu kepada tentara Australia. Angkatan Laut Kerajaan meminjamkan satu kapal induk untuk keperluan acara penyerahan itu, tapi mereka begitu tak percaya dengan pihak Jepang sehingga kapal tersebut tidak mau lego jangkar lebih dekat daripada 100 kilometer ke Rabaul. Seusai acara, kapal induk itu kembali melaut menuju Sydney, dengan meninggalkan tiga ribu prajurit Australia yang mendarat nyaris tanpa perlindungan udara atau laut empat hari kemudian, di hadapan seratus ribu serdadu Jepang dengan persenjataan berat. Pembokongan mungkin saja terjadi, karena waktu itu tidak disadari bakal seberapa rela tentara Jepang yang gagah-perkasa itu mematuhi perintah Kaisar Hirohito agar menyerah. Memang tidak terjadi pembokongan. Penyerahan terlaksana dengan segala keresahan tapi tanpa pertumpahan darah.

Sebelum meninggalkan Australia aku telah menyatakan keinginan agar ditugaskan ke Jawa, dan kesempatan itu timbul setelah aku kembali dari Rabaul.■

 

2

 

Kami orang Australia, dengan negeri kami yang luas, penduduk sedikit, dan industri sedang-sedang saja, tentu jauh lebih berkepentingan daripada orang kulitputih lain untuk menjaga kawasan Pasifik agar tetap damai. Kami tidak bisa yakin Jepang tidak akan pernah datang lagi.

Itulah sebabnya kami tidak dapat menganggap penyelesaian masalah Indonesia kurang daripada soal hidup-mati bagi negeri kami. Tentara kamilah yang duluan memukul mundur tentara Jepang, dan di antara semua bangsa-bangsa kulitputih kamilah yang paling terancam dengan gerak maju Jepang ke arah selatan. Kami tidak bisa memandang Jepang sebagai musuh yang satria, dan kami tidak bisa menutup mata terhadap apa saja yang membuat mereka tetap mempertahankan kebanggaan militer mereka. Seandainya pun Jepang yang militeristik tidak akan pernah bangkit kembali, kami tidak boleh mengabaikan kemungkinan bahwa pemerintahan zalim yang baru dan haus kekuasaan bisa muncul lagi pada suatu hari di kawasan Pasifik bila Timur masih tetap rawan.

Jelas bahwa jika Kemerdekaan Indonesia betul diilhami oleh Jepang demi tujuan-tujuan berbahaya, maka perang belum usai dan tanggungjawab orang Australialah untuk bertindak sejauh mungkin guna menghancurkan republik boneka yang demikian.

Selama bulan-bulan pertama pendudukan mereka atas Hindia Timur Belanda (khususnya Jawa), Jepang mengobarkan gerakan Nasionalisme. Mereka heboh dengan semboyan “Kemakmuran Bersama” dan “Asia untuk bangsa-basa Asia”. Menampilkan diri sebagai pembebas, Jepang mendorong orang Indonesia mengadakan rapat-rapat akbar dan menaikkan bendera Merah-Putih. Di Kalimantan, konon di mana pihak Nasionalis berjuang melawan penyerbuan Jepang, banyak pemimpin yang mati dipancung. Namun secara keseluruhan, orang-orang Indonesia belum pernah begitu merdeka.

Larangan menyanyikan lagu kebangsaan, “Indonesia Raya”, serta-merta ditiadakan. Suratkabar pada terbit, sekolah-sekolah kebangsaan diperluas. Pembatasan yang dikenakan oleh Belanda atas pertunjukan Pencak, seni bela-diri Indonesia, lenyap ditiup angin. Orang Belanda putih lambat-laun ditangkapi dan ditahan, dan berbagai dorongan diberikan kepada para pemimpin Indonesia agar tampil dan memikul tanggungjawab. Banyak di antara pemimpin itu senang bekerjasama dengan pihak Jepang, sebagian karena polos, sebagian lagi demi mempertahankan keadaan yang menguntungkan buat organisasi kebangsaan, dan sebagian lagi, tentu saja, karena keuntungan buat diri sendiri.

Beberapa bulan sempat berlangsung sebelum Jepang menunjukkan belangnya. Lalu toko, bioskop, hotel tertentu dan banyak macam barang serta pangan hanya untuk Jepang. Mereka menyikat segala alat angkut dari seluruh Jawa dan melego semuanya ke luarnegeri, menelantarkan perkebunan-perkebunan, mereka melahap ribuan ternak, merusak ekonomi desa dengan mengalihkan sawah-sawah jadi ladang jagung, bertindak semakin kejam, dan menimbulkan rasa amat tertekan dengan tiadanya impor sandang dan pangan. Mereka membuat diri mereka ditakuti dan dibenci. Sementara itu mereka menjadikan orang-orang Indonesia jadi pasukan pembantu, tapi segera merasa bahwa pasukan ini mungkin tidak bisa benar-benar diandalkan, makanya mereka memecahnya jadi pasukan-pasukan daerah dan mencekoki otak golongan perwiranya dengan teori-teori pertahanan wilayah. Teori yang keliru ini, di samping cara-cara pelatihan ala Jepang, kemudian mulai diubah.

Agaknya bisa diduga bahwa seorang Jepang berpangkat tinggi telah memasok senjata kepada orang Indonesia untuk tujuan-tujuan pengacauan sesudah Jepang menyerah dan Republik Indonesia terbentuk. Aku tidak pernah dengar ada usaha lain yang serupa. Orang Indonesia terus-terusan mengatakan bahwa di banyak tempat mereka harus bertarung melawan Jepang untuk mendapatkan senjata, dan TKR atau  Pasukan Pemelihara Perdamaian (yang sebetulnya Tentara Indonesia) jelas diperlengkapi dengan senjata dan seragam Jepang.

Aku tidak menemukan bukti yang mendukung ceritera yang beredar luas bahwa tentara Jepang membantu orang Indonesia dalam pertempuran di Surabaya. Keseluruhan ceritera ini terbantah pada 19 November, ketika jurubicara Tentara Britania mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada bukti tentang keterlibatan Jepang atau peranan mereka di belakang layar. Yang ada hanya ditemukannya tiga orang serdadu Jepang yang sudah jadi mayat di suatu lubang perlindungan dekat Surabaya, dan jurubicara tersebut tidak tahu apakah ketiga orang itu menyandang senjata atau tidak. Dia menambahkan bahwa penggunaan artileri oleh Jepang tidak mesti berarti Jepang terlibat.

Fakta yang aku bisa dapat, menunjukkan arah yang berlawanan. Setelah tercapai kemenangan, Britania mengeluarkan perintah terselubung kepada pasukan-pasukan Jepang agar menjaga “law and order”, aturan dan ketertiban, di seluruh Indonesia sampai pasukan Sekutu tiba. Sesudah itu para panglima tentara Britania tidak ragu memanfaatkan tentara Jepang untuk menghadapi orang Indonesia. Tidak terdapat kecurigaan terhadap Jepang seperti di Rabaul, dan pihak Jepang pun tidak mungkin lebih patuh lagi dalam memikul beban mereka itu. Mereka langsung bertindak di banyak tempat atas nama Britania dan Belanda, dan di Bandung mereka menggunakan artileri serta menyerang pihak Indonesia dengan tank. Pada 27 November, waktu menyingkirkan pejuang Indonesia dari suatu kota dekat Semarang, pihak Jepang mengirimkan pujian ke kapal H.M.S. Sussex terkait dengan sangat jitunya bidikan-bidikan mereka. Pada 10 Desember, di Sumatra mereka minta izin hadir dalam acara pemakaman seorang mayor Britania dan seorang perempuan petugas Palang Merah yang mati ditembak oleh pihak Indonesia.

Tidak bisa diragukan lagi bahwa sekiranya Jepang menang perang, mereka tentunya akan terus mendapatkan kerjasama dari sementara kalangan Indonesia. Namun nasib yang akan menimpa rakyat banyak bakal mengerikan, perlawanan bakal merebak, dan polisi rahasia Jepang tentu akan sama ganasnya dengan rekan-rekan mereka di Korea atau di Jepang sendiri. Mereka bakal berupaya keras memusnahkan semua orang terpelajar dan demokrat yang terkait dengan pemimpin seperti Syahrir.

Untunglah hal yang demikian tidak terjadi. Jepang telah kalah telak, dan golongan imperialis mereka, yang bertujuan mengangkangi seluruh dunia Timur, pastilah mengamati perkembangan pasca-perang di Indonesia dengan kekecewaan yang mendalam. Kekuasaan cenderung berlepasan dari tangan para pemimpin Indonesia yang pernah bekerjasama dengan Jepang. Yang tampak paling mungkin memimpin jalannya revolusi dalam tahun-tahun mendatang adalah para pejuang bawah-tanah selama pendudukan Jepang. Syahrir telah diundang langsung untuk bekerjasama dengan Jepang, tapi dia mengabaikan tawaran itu. Tampaknya dia menghilang ke daerah pegunungan untuk bertani nanas, tapi dia mengolah berbagai hal selain nanas, dan kiprah kelompok pengikutnya menimbulkan kecurigaan polisi rahasia Jepang. Banyak di antara mereka yang ditangkap dan dipenjarakan. Cakar kekuasaan polisi rahasia itu sudah hampir mencengkeram leher Syahrir tatkala perang mendadak berakhir. Sekarang dia tertawa mengenang bahwa dia sebenarnya sudah nyaris tertangkap.

Harga-diri militer Jepang sudah jatuh serendah-rendahnya ketika Britania merendahkan harga-diri mereka sendiri juga ke tingkat yang sama tatkala mereka memanfaatkan tentara Jepang untuk menghadapi pihak Indonesia. Pemanfaatan ini mungkin saja telah membuat semua soal kolaborasi dan non-kolaborasi menjadi omong-kosong, tapi bagi kami yang berada di kawasan Pasifik hal itu bukan soal sepele. Yang penting bagi kami adalah bahwa di dalam haribaan bangsa Indonesia tidak ada itu yang namanya perbedaan kelas yang tajam seperti yang terdapat antara kelas Samurai dan rakyat Jepang selebihnya. Tiada tanda-tanda, atau keadaan samasekali tidak cocok dengan, timbulnya dinasti-dinasti semacam Mitsui dan Mitsubishi. Jepang memulai industrialisasinya dalam masa ekspansi imperialis, lalu mereka ikut arus sejarah, dan mau-tidak-mau berakhir jadi negara imperialis. Meski pun pemerintah timbul dan lenyap, sekurang-kurangnya sebagian pemimpin Indonesia paham bahwa Republik mereka, dengan tercapainya kemerdekaan dalam masa ekspansi demokrasi, mestilah ikut arus sejarah seperti halnya Jepang, dan karena itu mesti berkembang sebagai suatu bangsa yang demokratis, gandrung kerjasama, dan cinta damai.■

%d bloggers like this: