Gaduh di Jawa Bab Dua (Bagian 3)

deskha April 28, 2012 0
Gaduh di Jawa Bab Dua (Bagian 3)

 Bab Dua

3

Batavia adalah kota yang menentukan, tapi Batavia pun tidak berarti tanpa dukungan wilayah sekelilingnya, kebudayaan di seluruh pulau Jawa, dan lima puluh juta penduduk yang merupakan ujung tombaknya.

Perjalanan saya yang pertama ke pedalaman terlaksana bersama dengan konvoi pasukan Inggris ke Bandung yang sedang rawan. Bandung sekitar seratus mil [160 km] jauhnya dari Batavia menurut jalan melambung yang kami lalui. Sekitar 65.000 orang Belanda dan Indo, baik laki, perempuan, dan anak-anak yang berada di sana, menanti dipindahkan. Belanda bule telah dipenjarakan oleh Jepang, tapi kebanyakan mereka adalah Indo yang berhasil bebas dengan mengaku 50 persen berdarah Indonesia. Namun seusai perang hampir semuanya mengaku orang Belanda dan memihak Belanda. Orang Indonesia jengkel dengan sikap bunglon ini, dan karena itu orang Indo ditimpa nasib yang menyedihkan.

Barisan truk yang kami tumpangi mengalir ke luar lewat jalanan ibukota yang berpemandangan bagus tapi sudah rusak. Jepang samasekali tidak memelihara jalan-jalan, dan kami merasakan goncangan-goncangan keras sebelum tiba di pedalaman. Kebanyakan orang Indonesia tinggal di rumah yang asri beratap genteng merah, dan bendera merah-putih berkibar di setiap gerbang, warung, dan halaman rumah. Kendaraan juga dihiasi dengan bendera merah-putih itu, dan semboyan-semboyan dituliskan di mana-mana, di pagar, di jembatan, dan di dinding gedung. “Indonesia never again the life-bloof of another nation,” begitu bunyi salah satu semboyan. Indonesia tidak akan pernah lagi jadi sapi perahan bangsa lain. “To hell with the Dutch,” bunyi semboyan lain. Belanda, enyahlah ke neraka. “Government of the people, for the people, by the people,” bunyi semboyan yang lain lagi. Pemerintahan rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Nyaris semua semboyan itu ditulis dalam bahasa Inggris, dan beberapa disertai dengan gambar keris yang berlumuran darah.

Setiap belokan menyuguhkan pemandangan khas dengan ratusan pedagang pikulan yang memenuhi kedua sisi jalan, sado-sado reyot dan gerobak-gerobak yang saban-saban harus minggir untuk memberi kami kesempatan lewat. Jadinya mudah dipahami bahwa Jawa merupakan daerah seukurannya yang paling padat di dunia, karena kami berpapasan dengan ratusan orang setiap mil sampai kami tiba di daerah pegunungan. Tidak seorang pun yang tampak malas-malasan. Kendaraan-kendaraan tersebut tadi sarat bermuatan keranjang dan tikar baru, kayu-bakar, gerabah, dan segala macam buah-buahan dan sayuran. Nyaris setiap orang bergerak dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Tidak tampak tanda-tanda pendudukan Jepang selain dua tampat penahanan yang terpisah jauh di mana penjaga bersenjata menundukkan kepala saat kami lewat. Tidak lama kemudian kami tiba di daerah pertanian dan persawahan yang tak kalah cantiknya dengan tamasya pedesaan mana pun di dunia. Rumah-rumah tinggal di pulau Jawa beratap genteng merah, dan bubungan rumah-rumah desa tampak indah berkelebat di celah-celah rimbunnya pepohonan, di selang-selingi persawahan. Saban-saban kami melewati desa-desa besar di pinggir jalan raya, dan di desa-desa tersebut biasanya terdapat markas para pejuang dengan pemuda-pemuda yang duduk-duduk atau mondar-mandir, mengenakan peci hitam dan menyematkan lencana merah-putih entah di peci atau di lengan baju. Saya tidak sudi percaya adanya niat jahat dalam diri para pemuda yang tampan-tampan ini, dan nurani saya terganggu karena saya menjelajahi negeri mereka dengan pasukan bersenjata yang orang India yang niat baik mereka diragukan oleh para pemuda itu. Serdadu yang orang India, orang-orang yang polos, bukannya mau cari perkara, namun karben dan Stengun mereka siap tembak dan mata mereka siap-siaga. Jalan raya di Bandung telah mengalami berbagai pertarungan bersenjata yang sengit.

Pada pagi yang berkabut kami berpapasan dengan konvoi Indonesia cukup panjang yang bergerak kencang menuju Batavia. Paling depan ada tiga truk penuh dengan pemuda bersenjata yang siap-siaga, lalu menyusul kemudian dua mobil sedan, dan paling belakang dua truk lagi yang lebih sarat dengan pasukan. Pada masing-masing kendaraan berkibar bendera warna merah dan putih, dan belakangan kami tahu bahwa kami telah berpapasan dengan Dr. Sukarno, yang baru pulang dari kawasan Puncak menghadiri acara pernikahan sejawatnya, Dr. Hatta.

Kami istirahat sejanak di Buitenzorg, kota tempat Gubernur-jenderal biasa tinggal dulu. Pasukan India menempati tangsi tentara di pusat kota, dan perwira yang memimpin konvoi kami masuk lewat gerbang besarnya untuk memastikan aman-tidaknya perjalanan. Perwira itu seorang India berpangkat kapten sekaligus bendahara tentara, dan dia tidak berlagak sok yakin dengan keamanan perjalanan itu. Buitenzorg tampak tidak makmur, dan penduduk gelisah. Para serdadu pada turun dari truk untuk membeli buah-buahan dan ketimun dari warung di pinggir jalan serta bercengkerama dengan anak-anak kecil. Akhirnya kapten itu kembali, bilang dengan serangkaian sumpah-serapah bahwa kami harus ambil jalan memutar lewat Sukobumi sebab konon ada penembak-penembak tersembunyi di pegunungan.

Ketika meninggalkan Buitenzorg tampaklah istana megah Gubernur-jenderal berdiri agak jauh dari jalan raya di tengah taman yang khas bergaya Eropa, di mana merumput sejumlah kijang bertotol di bawah naungan pohon-pohon yang terawat baik. Tidak lama kemudian satu truk Indonesia berisi pemuda bersenjata yang siaga membelakangi ruangan supir, mengikuti konvoi kami sejauh satu-dua kilometer sampai tertinggal dan tak kelihatan lagi. Dari jarak sekitar enampuluh meter, para pemuda itu tampak kekar, dan mereka pastilah menghitung-hitung kekuatan konvoi kami serta mungkin saja membicarakan apakah mereka perlu menunjukkan kepada kami kemahiran mereka menembak.

Tidak lama kemudian kami melewati tempat jaga pasukan Jepang di suatu jembatan. Aku mulai merasa dongkol melihat rangkaian bukti kerjasama Jepang-Inggris ini. Hal itu bisa saja menyenangkan bagi para pialang saham di London dan Amsterdam, tapi samasekali tidak demikian bagi orang-orang Tionghoa yang tidak bisa melupakan perampokan Nanking, atau bagi orang-orang Australia yang terkenang dengan para prajurit yang mati dan dimakan di New Guinea, atau bagi orang-orang lain lagi, yang bule, cokelat atau kuning, yang menganggap militerisme Jepang pantas dipermalukan dan direndahkan karena kejahatan mereka selama tigabelas tahun tatkala mereka merampok dan memorak-porandakan Timur mulai dari Manchuria hingga Singapur, dan dari sungai Irawadi hingga teluk Milne. Orang Jepang itu memang hebat, berciri khas dan banyak akal, berbakat, tinggi kesatuannya secara rasial, dan mampu memelihara iman yang kukuh. Seandainya mereka bisa diajak ke jalan damai, mereka bakal menyumbang banyak bagi kemaslahatan dunia, tapi mereka bakal sulit mengubah diri jika terus dibiarkan bebas menembak-nembak.

Perjalanan kami ke Bandung berhasil tanpa hambatan, tapi suasananya agak mencemaskan. Aku dapat kesan bahwa toko-toko sepanjang jalan kekurangan barang yang biasa mereka jajakan, khususnya pakaian. Banyak orang berpakaian compang-camping, sebagian malah terlalu banyak tambal-sulam, dan satu-dua orang, sebagaimana halnya dengan petani Australia Barat semasa zaman Malese yang lalu, terpaksa mengenakan karung goni. Namun tidak tampak tanda-tanda wabah kelaparan. Aku sungguh pasang mata terhadap kemungkinan ini, karena santer berita bahwa sekitar sepuluh persen penduduk Jawa pastilah akan mati kelaparan dalam bulan-bulan mendatang. Ternyata tidak ada yang tampak kelaparan antara Batavia dan Bandung.

Di jalan menuju Sukobumi konvoi kami tancap gas, menggilas mati dua ekor ayam, melintasi kota di mana anak-anak muda konon mabuk kekerasan. Aku melambaikan tangan ke arah mereka yang bergerombol sekitar markas-markas pejuang, dan senyum mereka serta-merta merebak sambil membalas lambaian dengan girang. Kemudian ketika mendekati Sukobumi, kami melewati makin banyak tempat penjagaan tentara Jepang. Terdapat pos besar tentara Jepang di tengah kota, dan kami bertemu dengan sejumlah perwira bersepatu laras lengkap yang sedang santai di beranda rumah kolonial yang megah dan berpekarangan luas. Para serdadu kawal di gerbang menundukkan kepala pada setiap truk kami yang lewat saat jalan mendaki menuju tempat pasukan Inggris tidak jauh di depan. Sementara kami berhenti di sana, satu truk Jepang muncul dari halaman dan terguncang-guncang mencapai jalan menurun.

Lewat Sukobumi tiada lagi tanda-tanda kehadiran tentara Jepang sepanjang beberapa kilometer, kecuali di suatu kota kecil, di mana pernah mereka pasangi pengeras suara di pojok-pojok jalan  tatkala mereka masih penguasa Jawa. Kami pelan-pelan mendaki lewat pedesaan indah berdindingkan gunung-gemunung abu-abu biru, dan mendadak pasukan kawal Jepang banyak terlihat begitu sawah-sawah lereng bukit muncul sekitar Bandung. Di sini seluruh suasana berbau militer. Tentara Gurka bersenjata lengkap siaga di balik timbunan karung pasir pada setiap pojok jalan dan khususnya di luar hotel-hotel yang tampak muram, yang dulu terkenal tapi sekarang penuh sesak dengan orang-orang Belanda gembel, laki, perempuan, dan anak-anak yang semuanya tampak kelelahan, berpakaian seadanya.

Kendati Inggris dan Jepang bersenjata lengkap, orang Indonesialah yang menguasai Bandung. Mereka bahkan menguasai lampu-lampu lalulintas di persimpangan  jalan. Tergantung pada merekalah berfungsinya jaringan listrik, gas, dan air-minum, meski pun air untuk mandi harus diangkut ke kamar-kamar lantai atas Hotel Prianger, tempatku menginap. Tidak ada pelayan, kecuali beberapa orang Jepang yang membersihkan lantai dan menjalankan lift, sedang toko-toko di kota menolak menjual barang kepada orang Belanda, Indo, bahkan orang-orang yang bekerja di Rapwi. “Rapwi” adalah kependekan nama organisasi untuk “recovering allied prisoners of war and internees”, pencarian tentara Sekutu yang ditawan dan orang-orang lain yang dikurung.

Kebanyakan warga Belanda dikurung di tempat-tempat penahanan besar yang dikelilingi dengan kawat berduri, dan timbul perasaan nelangsa saat mengunjungi tampat-tempat penahanan tersebut dan menyaksikan wajah penguasa yang berubah kusam akibat penghinaan dan kehilangan harta selama bertahun-tahun. Khususnya tempat penahanan buat lelaki masih menyisakan suasana penjara, bau penjara, bahkan mentalitas penjara. Ribuan warga Belanda dikucilkan jauh dari pantai, di negeri yang telah bermusuhan terhadap mereka, terpencil di tengah reruntuhan sistem kolonial mereka yang luas, tidak tahu mau ke mana atau buat apa. Rontoknya semangat dan tegangnya saraf mereka tampak nyata, dan memang hanya sedikit yang cukup tabah untuk hidup wajar tanpa perawatan dan istirahat. Anak-anak muda bego gemuk yang cuma tahu sibuk di sekitar dapur tahanan lelaki adalah yang paling beruntung, tapi aku dengar mereka tidak disukai karena memanfaatkan kedudukan mereka untuk dapat makanan lebih banyak daripada orang lain. Diperlihatkan kepadaku satu pesawat radio yang dengan lihai disamarkan di pantat botol air, juga gundukan tanah kuburan tiga orang pria yang berani menentang Jepang.

Ketakutan terhadap orang Indonesia yang dianggap garong, culik, dan pembunuh tersebar luas. Tidak  bisa diragukan bahwa terjadi banyak perampokan dan sejumlah pembunuhan, tapi aku tidak ditanggapi saat coba menanyakan kemudian di Batavia berapa kira-kira orang Belanda yang jadi korban. Di Bandung, peristiwa paling parah dilaporkan terjadi di rumah-rumah terpencil di pinggir kota, di mana keluarga-keluarga yang keras-kepala ngotot tetap tinggal padahal bahaya sudah mengancam.

Seorang perwira Inggris, pada sore aku tiba, berjumpa dengan serombongan orang Belanda yang gempar di tangga suatu hotel besar. Dia tanya ada apa, dan mereka jawab ada seorang anak Belanda baru saja diseret dari dalam truk Inggris di pusat kota dan dicincang oleh orang-orang Indonesia sehingga darahnya berceceran sepanjang jalan.

Perwira tersebut  bertanya apakah sudah ada yang melihat tempat kekerasan itu terjadi, lalu orang-orang yang ditanya tampak kebingungan, ditimpali dengan pernyataan lain bahwa supir truk tersebut kabur dan tidak berhasil ditemukan, bahwa mayat anak itu pun sudah lenyap, dan peristiwa itu terjadi bukan di pusat kota Bandung, tapi di tempat lain.

Setelah diteliti, ternyata tidak ada yang terbunuh, apalagi dicincang, tapi konon seorang anak Belanda telah cekcok dengan seorang anak Indonesia yang menyenggol sepedanya di pinggir jalan, dan konon anak Indonesia itu telah memukul anak Belanda itu hingga jatuh. Ceritera ini pun tidak bisa dipastikan.

Pastilah ada penjahat yang merajalela. Sejumlah koresponden menyaksikan perbuatan jahat dan gerombolan massa yang tak terkendali di beberapa tempat di Jawa sehingga mereka menghitamkan seluruh bangsa Indonesia dan melaporkan hanya peristiwa yang tak berkenan di hati mereka. Aku pikir para koresponden ini cenderung lebih mengutamakan kejadian-kejadian kecil daripada keadaan umum sehingga laporan mereka tidak seimbang. Segera sesudahnya aku mengunjungi sebagian besar apa yang disebut pusat-pusat ekstremis, dan aku belum juga ketemu orang Indonesia yang lebih berbahaya daripada seorang degil yang menghadang aku di Bandung. Lencana merah-putih disematkan di peci orang itu, orang yang tak bersepatu dan berpakaian rada gombal, dan tangannya memainkan kampak kecil berkarat. Ia memperlambat langkahnya saat kami akan berpapasan, pasang masa melotot ke arahku, dan berteriak dalam bahasa Inggris yang baik, “Hullo. Where do you come from?” Hai, Anda dari negara mana?

“Australia.”

“Are you on our side or are you against us?” Kawan apa musuh? Ia menggenggam kampaknya kuat-kuat.

Aku sih tidak berminat memuaskan hatinya, makanya aku bilang saja banyak orang Australia mendukung Indonesia.

Ia senang dengan jawabanku, lalu ia memindahkan kampak itu ke tangan kirinya dan menyodorkan tangan kanannya untuk kusalami.

“Mengapa ya Inggris tolong Belanda. Kami sudah bertekad untuk tidak pernah lagi dijajah oleh Belanda. Mengapa Inggris memanfaatkan jasa Jepang? Kami mau bebas mengatur negeri kami. Anda koresponden perang, kan? Bilang kepada seluruh dunia bahwa kami tidak mau lagi diperintah oleh Belanda, tidak juga oleh Jepang, mau pun oleh Inggris. Hak orang Indonesia kan untuk mengatakan apa yang mereka mau dengan negeri mereka sendiri?”

“Itu betul menurut Atlantic Charter.”

Ia minta salaman lagi.

“Agaknya Anda tidak bawa senjata,” katanya.

“Tidak. Tidak bakal aman jika aku bawa senjata.”

Ternyata dia pernah kerja di kapal dan pernah juga tinggal di Amerika; di sanalah dia berlajar bicara Inggris dengan lancar. Aku berani taruhan dia bakal mampu bertindak nekat bila sampai marah.

Kembali ke hotel, seorang Belanda yang hilang semangat tapi bersifat penolong, bercerita kepadaku tentang suatu malam tatkala pasukan Jepang mempertahankan suatu gedung terhadap serangan pasukan Indonesia dan dengan itu telah mencegah penghuninya ditawan atau mungkin menyelamatkan mereka dari kematian. Dia menghargai kejanggalan bahwa dia sampai berterimakasih kepada Jepang.

Beberapa minggu kemudian, di landasan terbang di Kupang, Timor, aku menyaksikan sejumlah orang Jepang diperlakukan berbeda. Sepasukan Jepang, yang berlari sipat-kuping, mendadak muncul dari balik hutan dan ngos-ngosan menuju hangar bagai dikejar setan. Serta-merta satu mobil sedan berkelebat keluar dari hutan, mengejar mereka, dan memburu mereka sejauh tujuh puluhan meter lagi sembari membunyikan klakson sekeras-kerasnya bagai gonggong anjing gembala. Orang-orang Jepang itu tunggang-langgang melewati kami, dan sedan itu berhenti dekat menara kontrol. Seorang penerbang Australia keluar dari sedan dan masuk ke dalam gedung. Semua ini disaksikan oleh sejumlah orang Belanda yang akan diangkut bersama aku ke Australia. Kami singgah sebentar untuk makan di Kupang, dan pendaratan kami berikutnya adalah Darwin.

Dalam sepuluhan menit orang Jepang yang lari itu muncul kembali, jalan lagi menuju ke hutan, lalu lari ngos-ngosan di tengah terik matahari sampai mereka ketemu truk Jepang. Mereka lantas berhenti, dan tampak memohon-mohon agar diberi tumpangan; tapi mobil sedan itu merangsek lagi ke arah mereka dan mendadak berhenti. Orang Australia itu, yang meraih pistolnya, melompat ke jalan dan berteriak sarat amarah.

“Keep moving, you bastards,” teriaknya. Lari terus, bajingan. Pasukan Jepang itu berloncatan karena kaget dan serta-merta lari menyelamatkan diri sementara penerbang Australia itu menembak-nembak dengan pistolnya ke arah rerumputan untuk memaksa mereka lari terus.

Aku tahu kemudian bahwa orang Australia di Timor biasa bertindak untuk menyusahkan serdadu Jepang pada setiap tiga jam, hanya untuk mengingatkan bahwa mereka bukan bangsa tuan, apalagi keturunan dewa-dewa.

Aku samasekali tidak memujikan tindakan ini sebagai cara mencapai perdamaian dan kerukunan di Pasifik, tapi baru itulah saatnya aku pernah melihat rasa kaget dan bingung yang begitu mencolok tergambar di wajah-wajah warga Belanda.■

%d bloggers like this: