Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 2: Yang Ringan-ringan

deskha July 5, 2014 Comments Off on Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 2: Yang Ringan-ringan
Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 2: Yang Ringan-ringan

Dari redaksi

Pilih mana pada 9 Juli 2014: Pasangan Nomor Urut 1 atau Nomor Urut 2?
Ragu bersikap dan bingung memilih?
Terlalu negatif kampanye negatif dan terlalu hitam kampanye hitam?
Mari menyimak Debat I Capres-Cawapres 2014 dalam 6 babak dengan membaca rangkaian 4 laporan berikut:

 (1) Pendahuluan;
(2) Yang ringan-ringan;
(3) Kupasan nalar (logical assessment) atas pertarungan debat  berlandaskan Sun Tzu, dua bagian;
 (4)Transkripsi Debat I dalam tiga bagian.

 Siapa tau ada gunanya.

Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak

Bagian 2: Yang ringan-ringan

Begitu peserta debat dan penonton masuk ruangan acara, tampaklah dekorasi panggung yang mirip lambang GAM  (Gerakan Aceh Merdeka) atau salah satu partai lokal di Aceh. Mengapa dekorasi itu yang dipilih, mungkin hanya KPU yang tahu. Ada tiga mimbar di panggung yang berjejer menghadap penonton: untuk moderator (tengah), untuk pasangan nomor urut 1 (sebelah kanan moderator), dan untuk pasangan nomor urut 2 (sebelah kiri moderator).

Sampai moderator naik ke panggung, suasana masih riuh. Baru sejenak kemudian kedua pasangan naik, nyaris tidak disadari oleh moderator. Penampilan kedua pasangan itu cukup mengagetkan. Yang satu tampak gagah dan kotaan (urban), tapi justru berpakaian gaya kuno berupa “seragam revolusi”  mirip Bung Karno dan Bung Hatta pada awal kemerdekaan, lengkap dengan peci hitam. Di bagian dada sebelah kanan tersemat lencana garuda mirip sekali dengan Garuda Lambang Negara, tapi agak miring dan berwarna merah darah (entah boleh atau tidak lencana ini). Sebaliknya, pasangan yang lain tampak bersahaja dan desaan (rural), tapi justru mengenakan setelan modern berupa jas dan dasi, tanpa penutup kepala lagi.

Begitu naik, Capres nomor urut 2 jalan cepat melintasi panggung dari mimbarnya menuju mimbar pasangan nomor urut 1 untuk bersalaman. Langkah Capres nomor urut 2 itu segera diikuti oleh Cawapres-nya. Cara salaman Capres nomor urut 2 tampak resmi saja tapi seksama (correct),  sebagaimana halnya dengan sambutan pasangan nomor urut 1. Sebaliknya, sikap Cawapres nomor urut 2 tampak hangat dan akrab terhadap Cawapres nomor urut 1. Cawapres nomor urut 2 tertawa-tawa menepuk-nepuk punggung lawannya itu.  Lain halnya ketika dia menyalam Capres nomor urut 1: bersikap resmi seperti Capres nomor urut 2. Baru sesudah itu kedua pasangan menyalami moderator. Waktu menunjuk pukul 20:00 WIB.

Tak terhindarkan timbulnya tanda tanya dalam hati, apakah pemandangan awal yang ringan-ringan ini, tapi yang tampak cemplang, bakal menjadi benang merah yang menjelujuri perdebatan, atau akan menguap begitu saja menyusul suasana yang lebih mantap? Benang merah, maksudnya, hal yang akan berulang terus sehingga patut diduga mengandung makna yang terkait dengan lima unsur pokok tetap Sun Tzu yang sudah disinggung di Bagian 1.

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dalam Bagian 3 dan 4 laporan ini. Sekarang mari kita lihat bagaimana moderator memulai acara tanpa lebih dulu menerangkan tata acara perdebatan. Suasana langsung berubah jadi lucu. Habis, moderatornya pintar, santun, ganteng, dan suaranya merdu, bernada tenore robusto, mirip Enrico Caruso, sehingga enak sekali didengar. Sayang susunan kata dan kalimatnya sering kurang rapi, banyak diulang, terkadang malah tersendat-sendat dengan banyak kata  “e-e-“ dan “apa”. Berikut ini sekedar contoh, saat acara dimulai:

Silahkan, bapak-bapak … Hadirin sekalian, e-e-, kita sudah …, masing-masing kandidat, kandidat nomor urut satu sudah berada di tempatnya; kandidat nomor urut dua juga sudah berada di tempatnya. E-e-, kita awali … kita akan mulai … kita awali acara hari ini dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan kita, Lagu Indonesia Raya. [0:45].

Dalam transkripsi, angka dalam kurung siku ditaruh pada nama pembicara mau pun di ujung uraian kedua pasangan. Yang pada nama Capres, angka itu menunjukkan jumlah waktu bicara sesuai ketentuan moderator. Yang di ujung uraian kedua pasangan, dua angka masing-masing menunjukkan sisa waktu bicara dan jumlah waktu debat berlangsung. Jadi dalam kutipan di atas, [0:45] berarti acara debat sudah berlangsung selama 45 detik.

Sesudah itu giliran hadirin menyanyikan “Indonesia Raya”. Timbul sedikit kesangsian jangan-jangan  ada di antara anggota kedua pasangan kurang mahir menyanyikan lagu kebangsaan kita, seperti terkadang tampak dalam upacara resmi. Syukurlah, mereka tampak cukup lancar bernyanyi.

Seuasi “Indonesia Raya” dinyanyikan, saat moderator mempersilakan hadirin duduk kembali, waktu sudah habis dua menit tiga puluh lima detik [2:35]. Tepuk tangan riuh, dan mendadak moderator bilang dengan terbata-bata lagi:

Pemirsa dan hadirin sekalian … kita akan mulai … debat kali ini … saya berharap kita semua tenang karena lagi-lagi jangan sampai kita mengganggu substansi yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pasangan nomor urut satu dan pasangan nomor urut dua. Jadi, saya harapkan penonton harap [sic] tenang dan menjaga e-e- apa e-e- tidak terlalu ribut di ruangan ini.

Lucu memang, tapi agak mengganggu karena penonton belum diberitahu aturan-aturan yang perlu. Baru kemudian hal itu diselipkan sepanjang berjalannya perdebatan. Bagai pun juga, catatan waktu itu menunjukkan bahwa menyanyikan “Indonesia Raya” hanya perlu kurang daripada dua menit; persisnya 1 menit 50 detik. Itu berarti, atau moderator perlu bicara lebih singkat atau tepuk tangan riuh hanya boleh jika sesuai dengan peraturan moderator.

Sayang, aturan itu tidak sejak awal dikemukakan. Juga perlu buru-buru dijelaskan perihal waktu ini. Acara debat itu sendiri hanya makan waktu 1:48:47, tapi berlangsungnya sampai 2 jam 24 menit, dari 20:00 WIB sampai 22:24 WIB. Ke mana larinya waktu yang hampir satu jam lagi? Memang ada waktu istirahat pada setiap pergantian “segmen”, tapi apa perlu 5 x 10 menit? Apa tidak cukup 3 x 5 menit? Dengan kata lain, persiapan yang matang bukan hanya beban kedua pasang Capres-Cawapres, tapi juga beban KPU dan moderator.

***

Ketika perdebatan antar kedua pasangan mulai, tampak pasangan nomor urut 1 tampil lebih percaya diri. Kebetulan mereka dapat giliran pertama untuk bicara. Jelaslah, suara bagus bukan hanya milik moderator, tapi juga milik pasangan nomor urut 1. Dua-duanya bersuara bagus, terhitung jenis suara antara bariton dan tenor nyaring (heldentenor), dengan Capres-nya condong ke bariton, sedang Cawapres-nya condong ke tenor. Pantaslah langgam bicara mereka pidato: Berusaha bicara lancar berirama, bersemangat, tanpa catatan yang dilirik, seperti sadar harus memukau penonton.

Capres-nya mulai dengan uluk salam, yang seratus persen cocok dengan seragam lawas “revolusioner” dulu  itu; maksudnya salam yang mencakup semua warga bangsa Indonesia, apa pun haluan politiknya, sukunya, dan agamanya: “Terimakasih … Bismillah irohman irohim, assalam walaikum warahmtullahi wabarakatuh. [Alaikum salaaam, sahut pendukungnya]. Salam sejahtera bagi kita sekalian. Salom! Om Swastiastu! [Tidak ada sahutan]. Sebaliknya, uluk-salam Capres nomor urut 2 kurang semencakup itu. “Salom” dan “Oom Swastiastu” tidak ada.

Namun sejenak kemudian terdengar hal yang cemplang, tak sepenuhnya serasi dengan penampilan “revolusioner” itu. Mula-mula Capres nomor urut 1 menyapa Capres nomor urut dua dengan “Saudara”, sama dengan semua hadirin lain, tapi Cawapres-nya “Bapak”. Pada gilirannya, Capres nomor urut dua bersikap sebaliknya. Dia tegas menyapa “Bapak” terhadap Capres dan Cawapres nomor urut 1, sedang hadirin disapa “Ibu-Bapak” dan “Saudara-saudaraku sebangsa dan setanahair.”

Tatkala giliran pasangan nomor urut 2 tiba untuk bicara, ternyata suara mereka berdua pun tidak kalah bagusnya; malah suara Capres-nya lebih bagus dari semuanya, termasuk moderator. Suara Capres ini bas mendalam (basso profondo), mirip Ghiaurov, seolah-olah suara itu berbual di perutnya. Suara Cawapres-nya condong ke tenor nyaring, meski sedikit lebih tenor daripada suara Cawapres nomor urut 1.

Bagusnya suara itu tidak berkurang meski pun langgam bicara mereka lebih condong ke gaya bercakap-cakap. Ada untungnya: Bisa lirik catatan. Sayang, belakangan mereka berdua seperti terdorong untuk bergaya pidato juga. Hasilnya, Capresnya sering mati langkah dengan kata-katanya, seolah lidahnya jauh kalah cepat daripada pikirannya; sedang Cawapresnya sering menelan suku kata, bahkan kata-katanya, seolah-olah lidahnya repot memburu pikirannya. [Transkripsi jadi sulit sekali dikerjakan].

Rupanya gaya berpidato pun punya kendala sendiri. Gaya itu butuh stamina untuk mempertahankan kebeningan suara mau pun kejernihan pikiran. Mulai pada bab 4 giliran ketiga (4:3), Capres nomor urut 1 sudah terdengar serak suaranya, dan ungkapan pikiran pun tidak lagi selancar sebelumnya. Mungkin ada juga sebab lain mengapa demikian. Waktu itulah Cawapres nomor urut 2 menyinggung, bahkan mencecar soal HAM (Hak-hak Asasi Manusia).

Cawapres nomor urut 1  juga mengalami hal serupa, mulai pada bab 3 giliran pertama (3.1). Suaranya mulai serak dan pikirannya mulai ribet, khususnya saat merangkai butir-butir argumen. Lupa dengan jumlah implikasi argumen yang telah dirangkai, dia  tenggelam dalam ucapan “oleh sebab itu” yang diulang sampai tiga kali. Lupa dengan deretan butir “agenda” yang sudah disebut sehingga dia tenggelam dalam ucapan “yang paling penting”,  juga diulang dua kali, semua hanya pada satu giliran bicara (3.1).

Sebenarnya dalam hal-hal tersebut barusan, pasangan nomor urut 2 tidak lebih baik. Malah pasangan ini membuat sejumlah kesalahan yang serugam sepanjang perdebatan itu. Walau pun demikian, karena gaya bicara mereka yang condong seperti bercakap-cakap, kesalahan-kesalahan itu tidak terlalu kentara. Masih dalam bab 1 Capres nomor urut 2, misalnya, sudah begitu.

Untuk menyimpulkan hasil sejumlah upaya demokratisnya, misalnya, Capres nomor urut 2 sering  mengulang kata-kata secara mubazir,  lalu menegaskan sesuatu yang sebenarnya lupa disebutkan sebelumnya: “Penyelesaian Tanah Abang, Waduk Pluit juga, kita selesaikan dengan cara dialog. Bermusyawarah, mengundang makan, mengajak musyawarah orang, mengundang mangan, mengajak musyawarah, kemudian menemukan manfaat bagi perpindahan itu. [Sic].” Sic maksudnya ya begitu itu, “Penyelesaian … diselesaikan”; lalu akhirnya “kemudian menemukan manfaat bagi perpindahan itu”. Perpindahan apa? Dia belum pernah bilang.

***

Sebelum mengakhiri tulisan ini, masih ada lima lagi hal ringan yang sayang kalau dilupakan. Pertama,  hal yang cukup menggembirakan, yakni kedua pasangan tidak berbahasa asing ria, beda dengan golongan elit kita sekarang ini yang bersemangat membunuh Bahasa Indonesia setiap harinya. Capres nomor urut 2 memang sempat dua kali menembakkan “e-budgetting, e-procurement, e-projecting, e-catalogue, e-audit”, tapi semua itu istilah teknis, yang tak perlu paksa di-Indonesiakan. Cawapres nomor urut 1 juga sempat berlepotan bahasa asing, seperti

“atau obstacle” (setelah menyebut “hambatan”), “transparan dan akuntabel” (terbuka dan bertanggungjawab), “akuntabilitas” (pertanggungjawaban), “didisain” (dirancang). [5.1]. Tidak apalah, karena jauh kurang parah dibanding dengan “menstres” yang ramai dipakai orang.

Kedua, perdebatan yang agak kaku itu ditutup (6.1) dengan suatu tindakan wiwasa (spontaneous) yang menyentuh dari Cawapres nomor urut 2. Lebih dulu dia mengucapkan terimakasih kepada “seluruh rakyat Indonesia yang telah mendukung sehingga demokrasi bisa berjalan dalam kegembiraan, dan kita harapkan Pilpres juga bisa nantinya berjalan dalam kegembiraan rakyat”. Kemudian dia menyatakan terimakasih kepada isterinya dan anak-anaknya, juga isteri dan anak – anak Cawapres-nya, dengan menyebut nama-nama kedua perempuan itu, dengan nada begitu rupa sehinggi kedua ibu itu berdiri dengan girang dan  bercahaya sembari menangkupkan kedua telapak tangan. Tiga anggota lain kedua pasangan hanya mengucapkan terimakasih, pendek dan resmi. Tentu tak bisa lain ya.

Ketiga, menggembirakan bahwa tidak terdapat satu pun penyakit salah rujuk (attributive fallacy) yang umum menimpa kalangan pejabat 15 tahun terakhir ini. Misalnya kebiasaan menyebut “over kapasitas” (overcapacity) untuk penjara yang kebanyakan narapidana atau over kuota (over quota) untuk subsidi minyak yang lebih kecil jumlahnya daripada kebutuhan. Namun masih terdapat satu penyakit pejabat berupa hitung sesat (illegal count) sejenis “satu contoh-contoh” dalam perdebatan itu. Cawapres nomor urut dua beberapa kali melakukannya: “satu hak-hak politik” (1.1); “Tidak ada satu pun kebijakan-kebijakan” (5.1).

Keempat, tentang kesan umum mengenai kenegarawanan kedua pasangan: Kurang kaya pemikiran, padahal tema debatnya sangat mendasar, padahal  mereka mau memimpin seperempat miliar orang Indonesia.  Kemahiran berbahasa Indonesia yang pas-pasan sehingga kurang gaya bahasa dan ungkapan khas yang mengilhami, padahal ada pasangan yang coba bergaya pidato sembari meniru sosok singa podium, Bung Karno, dan singa ruang kuliah, Bung Hatta. Makanya nyaris tidak ada ungkapan yang melekat di benak, seperti “tanpa pamrih, sarat karya” (sepi ing pamrih rame ing gawe – Bung Karno); “padi tumbuh tak berisik” (onhoorbaar groeit de padie – Bung Hatta); atau “dalam pemerintahan yang buruk orang harus malu hidup mewah, dalam pemerintahan yang baik orang harus malu hidup melarat” (Sultan Hamengkubuwono IX).

Dalam hal ini sedikit lebih baik pasangan yang desaan itu. Simaklah kutipan di bawah ini:

Republik ini adalah milik kita semuanya. Harapan rakyat, ingin hidup lebih baik; ingin lebih sejahtera. Demokrasi menurut kami adalah mendengar suara rakyat, dan melaksanakannya. Oleh sebab itu kenapa setiap hari kami datang ke kampung-kampung; datang ke pasar-pasar; datang ke bantaran sungai; datang ke petani; datang ke tempat pelelangan ikan … karena kami ingin mendengar suara rakyat.

Ungkapannya tentang republik (“adalah milik kita semua”) dan tentang demokrasi (“mendengar suara rakyat”) cukup khas sehingga gampang diingat. Dampaknya juga jelas seandainya pun tidak dikatakan ( “harapan rakyat”; melaksanakan “suara rakyat”). Dampak ini terasa lebih kuat lagi berkat gaya bahasa yang dipakai sesudahnya (enumerasi).

Untung jugalahlah bahwa moderator ada menyebut satu ungkapan bagus yang jarang terdengar, yang kemudian diulang oleh Cawapres nomor urut 1 (4.2):  “… penegakan hukum Indonesia [yang] cenderung dianggap tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.” (2.3). Ada memang ungkapan Capres nomor urut 1 tentang “tidak ada pengikut yang jelek, hanya ada pemimpin-pemimpin yang jelek” (3.1). Namun demikian, ungkapan ini diakuinya sebagai “adagium”, jadi peribahasa saja, bukan rumusan dia pribadi.

Kelima, kekompakan setiap pasangan. Perimbangan jumlah giliran bicara antara Capres dan Cawapres dapat memberi petunjuk mengenai kekompakan itu. Ternyata dalam perdebatan yang enam babak (“enam segmen”) itu, Capres dan Cawapres nomor urut 1 dapat giliran bicara masing-masing 13 kali dan 7 kali; Capres dan Cawapres nomor urut 2 dapat giliran bicara masing-masing 12 kali dan 15 kali. Bisa disimpulkan pasangan nomor urut 2 lebih kompak daripada pasangan nomor urut 1, bahkan Capres nomor urut 2 membiarkan Cawapresnya nyaris sendirian saja menghadapi Capres nomor urut 1, tatkala pada bagian kedua babak 4 masalah HAM (Hak Asasi Manusia) diajukan oleh Cawapres nomor urut 2 kepada Capres nomor urut 1.■ (Bulak Timur, 5 Juli 2014, Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: