Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 1: Pendahuluan

deskha July 5, 2014 Comments Off on Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 1: Pendahuluan
Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 1: Pendahuluan

Dari redaksi

Pilih mana pada 9 Juli 2014: Pasangan Nomor Urut 1 atau Nomor Urut 2?
Ragu bersikap dan bingung memilih?
Terlalu negatif kampanye negatif dan terlalu hitam kampanye hitam?
Mari menyimak Debat I Capres-Cawapres 2014 dalam 6 babak dengan membaca rangkaian 4 laporan berikut:

 (1) Pendahuluan;
(2) Yang ringan-ringan;
(3) Kupasan nalar (logical assessment) atas pertarungan debat  berlandaskan Sun Tzu, dua bagian;
 (4)Transkripsi Debat I dalam tiga bagian.

 Siapa tau ada gunanya.

 

Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak

Bagian 1: Pendahuluan

Debat putaran pertama enam babak antara dua pasangan Capres-Wapres 2014, Prabowo Subianto- Hatta Rajasa (nomor urut 1) dan Joko Widodo – Jusuf Kalla (nomor urut 2), diadakan di Gedung Sarbini, Jakarta, Senin, 9 Juni, pukul 20:00 – 22:24  WIB. Acara itu disiarkan langsung oleh beberapa setasiun televisi, antara lain Berita Satu yang jadi sumber audio-visual utama tulisan ini. Sumber lain, khusus untuk mengerjakan transkripsi, adalah video di tiga situs internet,  yaitu pemilu.com., iberita.com., dan angga.web.id. .

Debat pertama ini dipandu oleh seorang moderator, Dr Zainal Arifin Mochtar, direktur PUKAT (Pusat Kajian Anti Korupsi), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dia sendirian saja, tanpa panel ahli, khususnya pemeriksa kebenaran (truth verifier), yang biasa ada dalam debat sejenis di negara demokrasi yang lebih maju. Selebihnya adalah para hadirin, yang merupakan kelompok pendukung masing-masing pasangan.

Debat ini, sebagaimana dengan empat debat lanjutan sampai menjelang pemungutan suara pada 9 Juli 2014, ditaja oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) berdasarkan Peraturan KPU No. 16 / 2014. Menurut peraturan itu, tema setiap debat dan tata pelaksanaannya diajukan oleh KPU, tapi harus disetujui oleh kedua pasangan. Debat kedua dan ketiga, hanya untuk Capres, akan diadakan pada 15 dan 22 Juni; debat keempat, khusus untuk Cawapres pada 29 Juni; dan debat kelima, yang terakhir, kembali untuk Capres-Cawapres, pada 5 Juli.

Perhatian umum besar sekali terhadap debat ini, dan makin memuncak menjelang debat diadakan, 9 Juni 2014. Paling tidak ada tiga alasan mengapa demikian. Pertama, perselisihan pendapat umum mengenai kedua pasangan yang akan berdebat sudah ramai jauh sebelum pemilihan umum 2014, antara lain menyangkut layak – tidaknya masing-masing pasangan jadi Presiden dan Wakil Presiden mendatang. Kedua, perbedaan mencolok antara hasil jajak pendapat umum mengenai kepopuleran masing-masing pasangan dan kesan umum tentang kemampuan mereka berdebat. Pasangan yang lebih rendah kepopulerannya dianggap lebih mahir berdebat, sedang pasangan yang satu lagi sebaliknya.  Ketiga, menjelang perdebatan, kampanye negatif, dan bahkan kampanye hitam, yang sebagian besar ditujukan ke satu pasangan saja, meruncing.

Namun lebih daripada itu, debat pertama ini diberi tema yang sangat mendasar: “Pembangungn Demokrasi; Pemerintahan yang Bersih; dan Negara Hukum”. Lain halnya dengan debat-debat selanjutnya yang lebih merupakan pengejawantahannya.  Debat kedua, hanya untuk Capres: “Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”. Debat ketiga, juga hanya untuk Capres: “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional”. Debat keempat, khusus untuk Cawapres: “Sumber Daya Manusia dan IPTEK”. Dan debat kelima, kembali untuk Capres-Cawapres: “Pangan, Energi, dan Lingkungan”.

Jadi, tidak berlebihan jika penonton membayangkan bahwa debat pertama ini akan merupakan pertarungan sengit, yang bukan tak mirip dengan perang. Sebagai tontonan, pertarungan sengit tentu akan sangat menarik. Barang sejenak penonton boleh lupa bahwa pertarungan sengit itu, yang di luar ditopang dengan kampanye hitam, bisa berubah jadi perang betulan, seperti antara Pandawa lawan Kurawa. Akibatnya nanti bisa parah terhadap perkembangan demokrasi kita,  yang juga sedang kalut akhir-akhir ini.

***

Suasana umum menjelang perdebatan itu, bayangan penonton tentang bakal sengitnya pertarungan kedua pasangan, dan dampaknya bagi nasib demokrasi kita, mengilhami penulisan kita untuk melihat debat pertama ini bukan tidak mirip dengan perang. Cara melihat ini, bahasa kerennya approach ini, tetap manjur, sekali pun debat itu kemudian ternyata jauh di bawah perkiraan penonton, bahkan sekali pun cuma sabur-limbur kata-kata yang membosankan.

Mengapa demikian? Jawabnya, karena sekali dimulai, pertarungan adalah pertarungan untuk mencapai keunggulan berdasarkan lima unsur pokok tetap, yang menurut Sūnzĭ Bīngfă (Seni Perang Sun Tzu) selalu terkandung dalam setiap pertarungan. Lima unsur pokok tetap Sun Tzu itu selalu menentukan keunggulan dalam setiap pertarungan, bagaimana pun para petarung melakukannya, secara sadar atau tidak, dengan bermutu atau tidak. “Seni bertarung” begitu kata Sun Tzu, “tunduk pada lima unsur tetap sehingga harus diperhitungkan dalam setiap perencanaan, saat berusaha memastikan serba syarat nyata yang terdapat di medan laga.”

Lima unsur pokok tetap itu menurut Sun Tzu adalah: Watak (moral); semangat zaman seperti masa Reformasi menggantikan otoriterisme Orde Baru (langit); kenyataan medan seperti kenyataan hidup Indonesia (bumi); pemimpin  dari segala lapisan (panglima); dan cara hidup pemimpin dan seluruh rakyat (disiplin). Dalam Debat I Capres-Cawapres 2014 ini pun, sebagaimana halnya pertarungan, lima unsur pokok tetap ini sama menentukan sifatnya. Kelimanya terkandung tidak hanya dalam hujah atau argumen perdebatan, tapi juga dalam nalarnya, cara merumuskannya, susunan kata dan kalimatnya, gaya bahasanya, nada suaranya, bahkan dalam raut muka dan bahasa tubuh semua peserta debat.

Perlu kiranya diterangkan sedikit lebih jauh tentang lima unsur perang Sun Tzu ini agar kita dapat lebih jelas membayangkannya. Sun Tzu sendiri menjelaskan: Moral, adalah yang membuat rakyat sepenuhnya setuju dengan pemimpin, sehingga mereka setia mengikutinya; Semangat zaman, ibarat musim, adalah arah perubahan sejarah; Kenyataan medan, ibarat bumi, adalah syarat nyata di lapangan, yang menunjang mau pun yang menghambat; Pemimpin, adalah yang menjunjung kebajikan atau keculasan, kebenaran atau dusta, belas kasih atau dengki, kesatriaan atau kepengecutan, ketegasan atau kesembarangan; Cara kerja, mengerahkan tenaga atau menebar prasangka, menata kerja atau berbuat semaunya, mengawasi atau membiarkan.

Rangkaian tulisan ini hendak mengungkapkan seberapa jauh kedua pasangan dalam debat pertama ini unggul dalam kelima unsur pokok tetap tersebut, dengan harapan semoga dapat membantu pembaca menentukan pilihan pada 9 Juli ini. Untuk itu pemeriksaan kita akan mengikuti secara teliti jalannya debat, sesuai dengan tahap-tahap atau bab-babnya. Jalannya debat dipandu oleh moderator melalui “enam segmen”: (1) Penyampaian visi dan misi; (2) Pendalaman misi dan misi tsb.; (3) Menjawab pertanyaan moderator sekitar tema; (4) Tanaya-jawab antarkandidat; (5) Menjawab pertanyaan terakhir moderator sekitar tema; dan (6) Pernyataan penutup masing-masing pasangan.

Pengungkapan lima unsur pokok tetap ini mustahil tanpa adanya transkripsi perdebatan. Makanya mengerjakan transkripsi  itu menuntut paling banyak waktu dan tenaga. Transkripsi ini juga sangat penting bagi pembaca, tatkala mereka, demi obyektivitas, merasa perlu memastikan obyektif tidaknya pengungkapan yang hasilnya dilaporkan dalam rangkaian tulisan ini.

Demikianlah laporan hasil pengungkapan isi debat pertama ini akan kita sajikan dalam empat bagian: (1) Pendahuluan; (2) Yang ringan-ringan dari Debat I; (3) Kupasan nalar (logical assessment) atas hujah atau argumen peserta debat, dengan harapan lima unsur pokok tetap Sun Tzu akan tertangkap oleh pembaca, dalam dua sajian; (4) Transkripsi Debat I dalam tiga sajian, masing-masing berisi dua “segmen”.■ (Bulak Timur, 5 Juli 2014, Parakitri T. Simbolon).

%d bloggers like this: