Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 4 B : Transkripsi

deskha July 5, 2014 Comments Off on Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 4 B : Transkripsi
Debat I Capres-Cawapres 2014 Dalam 6 Babak Bagian 4 B : Transkripsi

Dari redaksi

Pilih mana pada 9 Juli 2014: Pasangan Nomor Urut 1 atau Nomor Urut 2?
Ragu bersikap dan bingung memilih?
Terlalu negatif kampanye negatif dan terlalu hitam kampanye hitam?
Mari menyimak Debat I Capres-Cawapres 2014 dalam 6 babak dengan membaca rangkaian 4 laporan berikut:

 (1) Pendahuluan;
(2) Yang ringan-ringan;
(3) Kupasan nalar (logical assessment) atas pertarungan debat  berlandaskan Sun Tzu, dua bagian;
 (4)Transkripsi Debat I dalam tiga bagian.

 Siapa tau ada gunanya.

Debat I Capres-Cawapres 2014

Bagian 4 B: Transkripsi

 

Bab Tiga

Moderator (3.1)

Trimakasih Pak Prabowo dan Pak Hatta.

Anda sudah mendengarkan paparan yang lugas, yang jelas, dari para kandidat. Anda sudah dengarkan. Kita …, kita lanjutkan ke sesi berikutnya nanti. Sesi berikutnya itu adalah sesi di mana saya akan memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan tema, masing-masing satu dan masing-masing akan menjawab dengan waktu yg akan ditentukan.

Tentu ini sangat Anda nanti-nantikan. Karenanya jangan ke mana-mana, kita kembali ke debat calon presiden dan wakil calon wakil presiden sesaat lagi.

[…].

Baik, pemirsa…Kembali ke debat calon presiden dan calon wakil presiden Indonesia 2014. Kita memasuki segmen tiga kali ini … Segmen ini … kita akan me- … saya akan melontarkan pertanyaan dalam kaitan dengan tema ini, satu pertanyaan yang akan dijawab oleh berdua secara berurutan, dan satu lagi pertanyaan yang juga dijawab secara berurutan.

E-e- pertama, karena tadi terakhir e-e- Pak Jokowi, maka pertanyaan ini e-e- akan saya sampaikan duluan kepada Pak Prabowo Subianto dan Pak Hatta Rajasa. E-e- mohon di … karena pertanyaannya agak panjang … jadi mohon barangkali bisa disimak … begitu juga dengan Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla, mohon disimak betul.

Pertanyaan pada segmen tiga ini, Anda akan diberi waktu empat menit untuk menjawabnya. Begini: Biaya pelaksanaan demokrasi di Indonesia masih dirasakan sangat mahal. Ini terlihat dari besarnya biaya pengelolaan organisasi politik hingga biaya pencalonan dan pemilihan anggota parlemen. Proses demokrasi yang mahal ini sering kali menjadi penyebab terjadinya perilaku koruptif di kalangan pengurus partai dan anggota parlemen.

Kalau kita baca data global barometer corruption, meyebutkan [sic] bahwa partai politik dan parlemen adalah pelaku tindak korupsi paling utama di begitu banyak negara, jadi bukan hanya sekedar di Indonesia, kasus ini [tak jelas]. Pada saat yang sama, Anda sebagai kandidat calon presiden dan calon wakil presiden disokong oleh partai-partai, yang tentu memiliki potensi mengidap masalah ini, padahal bila Anda kelak menjabat presiden dan wakil presiden, dukungan kuat dari partai-partai politik melalui koalisi di parlemen sangat Anda perlukan agar pemerintahan dapat berjalan secara stabil.

Pertanyaannya: Bila Anda terpilih menjadi presiden dan wakil presiden nanti, apa langkah-langkah nyata yang akan Anda lakukan untuk menjadikan pemerintahan Anda bersih, efektif, serta stabil; pada saat yang sama mampu menghindarkan diri dari kemungkinan rongrongan partai-partai politik yang telah mendukung Anda dengan meminta Anda untuk balas budi dengan memberikan berbagai kemudahan untuk mendapatkan uang.

Begitu pertanyaannya.

Saya persilahkan Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa m-m- empat menit mulai dari sekarang. [59:38].

 

Prabowo Subianto (3.1) [04:00]

Baik … Memang ini adalah inti masalahnya yang kita hadapi sekarang, tapi saya percaya dengan adagium bahwa tidak ada pengikut yang jelek, hanya ada pemimpin-pemimpin yang jelek. Jadi apabila kita, sebagai pemimpin, kita tegas meyakinkan para mitra kita, anggota kita, bahwa kita bergabung dengan syarat kita tidak akan merongrong anggaran negara, APBN, APBD, satu sen pun, ini adalah syarat saya kepada mitra-mitra saya; dan di semua partai banyak kader-kader yang baik, di semua partai banyak patriot-patriot yang ingin bekerja untuk negara dan bangsa.

Nah, inilah yang kita cari untuk bergabung, dan kita sepakat bahwa pada saat kita memimpin pemerintahan, hanya pengabdian kepada rakyat dan bangsa itu jadi motif utama kita. Jadi, kita sudah sepakat, APBN dan APBD tidak boleh kita kurangi satu sen pun.

Naah, bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan demokrasi yang membutuhkan biaya  dan ongkos politik. Saya sangat percaya bahwa ekonomi kita sangat besar; potensi kita sangat besar, kekayaan kita sangat besar. Kita harus mewujudkan suasana masyarakat yang modern; bahwa masyarakartlah yang harus merasa ingin menyumbang kepada partainya. Ini strategi yang harus kita terapkan. Kita harus minta kepada anggota kita untuk berkorban mendukung perjuangan partai. Saya kira itu salah satu strategi yang bisa kita terapkan. [Kasi tanda dengan tangan kanan agar Hatta melanjutkan]. [02:07]. [1:01:39].

 

Moderator (3.2)

Silahkan, Pak Hatta Rajasa.

 

Hatta Rajasa (3.1) [02:05]

Saya ingin menambahkan. Yang pertama, presiden dipilih langsung oleh rakyat. Oleh sebab itu presiden memegang mandat rakyat, bertangjawab kepada rakyat, bukan kepada partai politik. Oleh sebab itu, jangan pernah permissive dan jangan pernah dalam koalisi tunduk kepada apa yang dimaui partai-partai politik yang ada dalam koalisi. Oleh sebab itu tegas di dalam menjalankan pemerintahan, sesuai dengan visi-misi yang dikembangkan, sesuai dengan RPJMN yang dikembangkan, dan sesuai pula dengan pembangunan jangka panjang sebagai guidence kita. [sudah tiga kali “oleh sebab itu”].

Yang kedua, yang paling penting, dan ini sangat mendasar, yaitu kita jangan menempatkan pemilihan SDM, baik menteri mau pun pejabat-pejabat penting, itu didasarkan kepada alokasi kepada partai-partai politik. Ini harus tegas, dan dijadikan budaya, siapa pun presidennya. Oleh sebab itu [lagi-lagi yang keempat], yang terpenting nantinya [sudah 3 x “yang paling penting”] itu adalah memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik dalam; dalam bahasa yang disederhanakan adalah Kabinet Ahli atau Zaken Kabinet. [Prabowo manggut-manggut].

Dan yang ketiga, yang paling penting juga [sudah 2 x “yang paling penting”] adalah, di dalam pembiayaan, tadi dikatakan demorasi kita yang sangat mahal, maka pemerintahan yang akan datang harus melakukan evaluasi kritis terhadap cara kita melaksanakan pemilihan e-e- pilkada, pemilihan a-a- legislatif, yang tadi dikatakan sarat dengan uang. Oleh sebab itu, kami bertekad nanti akan mensempurkan [sic] ini. Demokrasi harus sederhana, murah, dan tidak membebani rakyat; dan demokrasi harus menghasilkan putra-putri terbaik, apakah ia akan ada di legislatif, apakah ia akan menjadi bupati-walikota-gubernur, atau menjadi presiden dan wakil presiden; jadi, demokrasi yang betul-betul dari rakyat, untuk rakyat, dan betul-betul menuju kepada kemakmuran. [00:00 lewat beberapa detik]. [1:03:56].

Moderator (3.3)

Terimakasih! [buru-buru menyambar, bareng dengan tepuk tangan] Pak Hatta Rajasa dan Pak Prabowo.

Baik, terimakasih e-e- hadirin sekalian. Tadi jawaban dari Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa. Waktu empat menit, dengan pertanyaan yang sama, akan kita berikan kepada Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla. Empat menit, kita mulai dari … sekarang.

Joko Widodo (3.1) [04:00]

E terimakasih. Menurut kami, yang paling penting, parpol harus berani merombak; ada pola recruitment politik yang baru di parpol kita sehingga jelas siapa yang terbaik, itulah yang diajukan, seperti yang ada di partai kami. Saya bukan ketua partai, tapi saya dijadikan calon presiden karena ada rekam jejak dan ada, menurut saya, ada prestasi. [Senyum simpatik di wajah seorang perempuan di sebelah kanan Marzuki Ali, jadi pendukung Prabowo-Hatta].

Yang kedua. Sejak awal sudah kami sampaikan, sejak awal sudah kami sampaikan bahwa kami ingin membangun sebuah koalisi, sebuah kerjasama yang ramping, tidak usah banyak parpol yang bergabung banyak-banyak tidak apa-apa, tetapi yang paling penting adalah bahwa nantinya, dalam bekerja kita ingin mengedapankan kepentingan-kepentingan rakyat terlebih dahulu, bukan membagi-bagi menteri di depan, bukan membagi-bagi kursi di depan, bukan membagi-bagi kue di depan, tetapi yang paling penting adalah, sejak awal sudah kita sampaikan, koalisi, kerjasama kita, adalah kerjasama ramping. Ini untuk menghindari agar nantinya yang terjadi tidak hanya bagi-bagi kursi.

Kemudian yang ketiga. Dalam melaksanakan e kampanye, kami juga ingin mendapatkan dukungan rakyat dari sisi pendanaan. Oleh sebab itu kami membuka rekening gotong-royong. Sumbangan dari rakyat, yang nantinya akan diaudit oleh lembaga yang kredibel, sehingga kami tidak bisa ditekan oleh siapa pun, karena biaya kami akan kami buka secara transparan.[Anis Baswedan dan para pendukung di belakangnya tampak gembira]. Kami mempunyai rekam jejak untuk itu.

Silahkan dilanjutkan pak. [02:16]. [1:06:16].

Moderator (3.4)

Silahkan Pak … Pak …

Jusuf Kalla (3.1) [02:13]

Terimakasih [disambar]. Kita menyadari memang bahwa biaya politik kita mahal akibat begitu banyak Pilkada, begitu banyak Pemilu di Tanahair ini. Maka tentu yang harus kita perbaiki adalah sistim itu sendiri. Bagaimana Pilkada disatukan, lebih banyak, sehingga efisiensi, baik partai, baik dan termasuk negara.

Kedua, bagaimana recruitment menjadi hal yang sangat penting, bagaimana caranya tidak lagi seperti tahun lalu, seperti ini. Kedua … ialah, memang adalah filosofi yang berbeda barangkali dari kami. Kami bersyukur, seperti dikatakan Pak Jokowi, partai pendukung kami adalah keikhlasan. Tidak ada janji berapa, tujuh delapan menteri sehingga tidada [ketelan] ikatan, tidada janji siapa menjabat apa, menteri apa lebih tinggi, apalagi [ketelan], kami tidak ada, ini keikhlsan, tidada beban samasekali … ya kan.

Itulah yang menyebabkan kami biaya murah. Kalau biaya murah pasti tidada tekanan. Kalau biaya mahal, ada tekanan, begitu kan? Kemudian, tentu, bahwa pengalaman kita semua, kami bersyukur, ini partai tidak banyak, jadi berarti walau pun semua partai ikhlas, makin kecil aja, tidak banyak, jadi tidak [sambil memberi tanda ke arah Jokowi dengan mengangkat tangan kanan kanan] modal atau apa yang diharapkan bisa disangkakan bahwa kami akan e-e- tertekan, tidak samasekali, karena semua ikhlas. Jadi itulah. Keikhlasanlah, ke- tujuanlah, yang akan membentengi semua akibat negatif apabila akan terjadi dugaan-dugaan itu [ketelan]. Insyaallah, kami akan bebas, kami sampaikan keseluruhannya, kami akan bebas daripada itu, karena memang keikhlasan yang mendasari kita semua. Terimakasih.[Tepuk tangan riuh]. [00:39]. [1:07:59].

Moderator  (3.5)

Pak Joko Widodo … Pak Joko Widodo masih punya waktu tiga puluh tu … tiga puluh satu menit. Silahkan, kalau masih ada yang ditambahkan.

Joko Widodo (3.2) [00:31]

Ya. Tradisi yang baru … tradisi yang baru ini harus kita mulai, bahwa yang menjadi Capres tidak harus ketua umum partai. Seperti saya dan Pak JK bukan ketua umum partai. Ini tradisi baru yang harus kita mulai, dan saya kira dengan cara-cara seperti ini, nanti yang akan maju adalah yang terbaik bukan yang ketua partai. Terimakasih. [00:08]. [1:08:32]. [Tepuk tangan iruh].

Moderator (3.6)

Sekarang tepuk tangan. Bapak-bapak … ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, lagi-lagi ibu-ibu dan bapak-bapak selian, saya mohon untuk tidak tepuk tangan, tidak bergumam, tidak mengungkapkan sesuatu ketika belum saya persilahkan. Lagi-lagi sederhana, karena kita ingin menjaga agar perdebatan itu bisa didengarkan dengan baik. Jadi, mohon Anda untuk [sic] tidak bertepuk tangan sebelum saya mempersilahkan. Lagi-lagi begitu. Say … saya ingatkan sekali lagi ya. Sekian … begitulah tadi e-e- apa … pertanyaan pertama yang kemudian sudah dijawab empat menit oleh pasangan nomor urut satu, dan empat menit oleh pasangan nomor urut dua.

Kita pindah ke pertanyaan nomor dua, tapi sekarang kita balik. Kita akan mempersilahkan dulu Pak Joko … Widodo dan Pak Jusuf Kalla untuk menyimak, dan saya ingatkan barangkali bisa disimak pertanyaannya. Saya bacakan: Negara Indonesia adalah negara yang dibangun dalam kerang kebhinekatunggalikaan. Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa, yang sudah sejak dahulu menjadi bagian dari cita-cita para pendiri bangsa. Sayangnya, saat ini, kenyataan kadang-kadang berkata sebaliknya. Ada pelanggaran hak asasi yang dilakukan kelompok mayoritas atas minoritas, juga ada gejala sukuisme dalam pemerintahan daerah dan berbagai gejala lainnya yang telah nyata-nyata merusak semboyan dan cita-cita menayomi Bhineka Tunggal Ika. Begitu.

Pertanyaannya adalah, mohon disimak: Kerangka hukum apa yang akan Anda bangun … kerangka hukum apa yang akan Anda bangun untuk memperkuat terbangunnya masyarakat yang berpegang pada prinsip Bhineka Tunggal Ika. Yakinkan kepada rakyat Indonesia saat ini … yakinkan kepada rakyat Indonesia bagaimana Anda akan menjaga prinsip Bhineka Tunggal Ika tersebut dari pihak-pihak mana pun yang ingin merusaknya. Yakinkan pada kami bahwa Anda akan tegas tanpa pandang bulu dalam berjuang dan melakukan penegakan prinsip Bhineka Tunggal Ika dalam masyarakat Indonesia. Empat menit Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla … Saya serahkan untuk Anda, kita mulai dari … sekarang. [1:11:17].

Joko Widodo (3.3) [04:00]

Terimakasih. Bhineka Tunggal Ika, keb- keberagaman kita, ini saya kira sudah final ya. Kita tidak , sebetulnya, kami sudah tidak ingin mengungkit-ungkit itu lagi, karena itu sudah final, sehingga  waktu e-e- kita me… ngangkat, saya berikan contoh konkrit, waktu mengangkat Lurah Susan di Lengeng Agung, yang sudah melalui sebuah seleksi dan promosi terbuka, baik kompetensi … manajerialnya, kemudian management leadership, management administrai-nya, sudah dilalui semuanya, kemudian ada yang memprotes, dan demo, agar Lurah itu diganti, karena agama mayoritas yang ada di kelurahan itu adalah berbeda dengan agama yang dianut oleh Lurah itu, saya sampaikan bahwa itu sudah final, dan tidak bisa diganggu-gugat lagi, sehingga sebetulnya saya tidak ingin berbicara mengenai hal itu lagi, karena juga … apa … banyak hal-hal yang contoh-contoh yang mungkin bisa e-e- saya sampaikan mengenai hal itu, tetapi menurut saya itu sudah final, dan sudah tidak perlu dibicarakan. Yang paling penting adalah dilaksanakan, seperti tadi saya concohkan. Mungkin Pak JK, silahkan dilanjutkan. [02:35]. [1:12;45].

Moderator (3.7)

Pak … Jusuk Kalla, silahkan, waktu masih ada tiga menit dua pulu empat … [terpotong oleh JK].

Jusuf Kalla (3.2) [02:33]

Terimakasih. Karena Saudara moderator ingin keyakinan …, keyakinan itu hanya dapat …

Moderator (3.8)

Seluruh rakyat Indonesia Pak yang … [tertimpa suara JK yang melanjutkan].

Jusuf Kalla (3.3) [02:25]

Ya, ya … artinya itu ada keyakinan kalau ada bukti. Kita tidak bisa meyakinkan orang dengan pidato. Jadi apa yang tadi disampaikan Paak … Jokowi, bahwa negeri kita ini yang negara plural, itu sangat meyakinkan. Semua agama, semua suku, menjadi baha [ketelan] … menjadi bahagian yang satu daripada negeri ini: Bhineka Tunggal Ika. Kami percaya dan kami yakin akan melaksanakan itu, tapi untuk lebih menekankan lagi keyakinan seluruh [ketelan] bangsa, kita tidak hanya bicara ide;  kita bicara pelaksanaan. Pada saat banyak bagian negeri ini … yang terjadi pecah-belah, banyak di [ketelan] negeri ini yang tidak meyakini itu; banyak di [ketelan] negeri ini saling membunuh karena perbedaan agama, suku … Alhamdulillah saya menyelesaikan banyak hal di Poso, di Ambon, di Aceh. Saya tidak berbicara tentang harapan; saya berbicara tentang kayakinan. Saya tidak berbicara tentang pidato, tapi saya hanya bicarakan [ketelan] bahwa itu yang sudah kita laksanakan. Mudah-mudahan ini cukup, karena ya … meyakinkan kepada kita semua bahwa kami bukan hanya bicara. Kami datang dari hati kami; kami datang dari pelaksanaan kami; [telapak kanan dua kali menyentuh dada kiri] kami datang kepada kesungguhan, bahwa bangsa ini harus bersatu, bangsa yang berbeda-beda ini harus bersatu, karena hanya … kekuatan negeri ini hanya bisa terjadi dengan persatuan itu. Kami percaya itu, dan kami laksanakan itu. Percayalah bahwa kami tidak pernah bergeser daripada keyakinan itu. Terimakasih! [01:09]. [1:14:19].

Moderator (3.9)

Masih ada satu menit Pak … Masih ada yang mau ditambahkan …Cukup? … Kita beri tepuk tangan. [Tepuk tangan iruh].

Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa …Pertanyaan yang sama, mudah-mudahan Pak … Bapak masih mengingatnya …  masih ini… Bapak diberi waktu empat menit untuk menjawabnya. Saya persilahkan, kita mulai dari sekarang. Silahkan Pak.

Prabowo Subianto (3.2) [04:00]

[Tenang, gaya bercakap]. Baik, terimakasih.Pertanyaan tadi adalah kerangka hukum apa yang akan dibangun untuk menjamin nilai Bhineka Tunggal Ika. Kalau kita bicara itu, sebetulnya piranti hukum ada di [sic] bangsa kita sudah cukup. Undang-Undang Dasar seribu sembilan ratus empat puluh lima sebetulnya sudah sangat jelas, apalagi dalam versi yang asli, tanggal 18 Agustus 1945. Dan e-e- kami juga, saya kira, sudah e-e- jelas dan tegas, ya kami yang mencalonkan orang minoritas menjadi wakil gubernunya Saudara Joko Widodo, Saudara Ahok. Waktu itu e-e- cukup kontroversial, tetapi saya sebagai pimpinan e-e- partai Gerindra, Ketua Dewan Pembina, sayalah yang e-e- keras mempertahankan, waktu ada serangan-serangan bahwa tidak baik atau tidak mungkin orang minoritas menjadi wakil gubernur. Saya kira saya mengambil satu sikap yang e-e- diketahui oleh umum, yaitu komitmen kita terus-menerus; tetapi intinya bukan kerangka hukum; menurut saya intinya adalah pendidikan; intinya adalah contoh; intinya adalah keteladanan daripada semua unsur pimpinan.

Jadi saya menegaskan di sini bahwa kami dalam kegiatan sehari-hari, terus-menerus berusaha memelihara suasana Bhineka Tunggal Ika itu. Dalam recruitment politik, kita benar-benar menjaga Bhineka Tunggal Ika, memberi kesempatan politik juga demikian. Jadi e-e-, kerangka hukumnya sudah bagus, tinggal penegakannya dan keteladanan yang harus diberikan. Dan untuk itu, saya kira, komitmen Partai Gerindra sangat jelas, partai-partai lain di tempat kami juga sangat jelas. A-a- kami tidak main-main dengan masalah Bhineka Tunggal Ini … [sic] Tunggal Ika ini… Pak Hatta … [01:35]. [1:17:22]

Moderator (3.10)

Silahkan, Pak Hatta, masih ada … [tersambar oleh Hatta].

Hatta Rajasa (3.2) [01:34]

Keberagaman, kebhinekaan, adalah rakhmat anugerah Allah subhanahu wataala yang harus kita pelihara dan harus kita jaga dengan baik. Negeri ini dibangun atas dasar keinginan bersama untuk hidup bersama dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia; yang diaduk oleh sentimen kesejarahan dari rasa nasionalisme dan multikulturalisme. Meniadakan satu di antara itu hanya akan merusak  yang satunya. Oleh sebab itu kebhinekaan adalah harga mati bagi kita semua, dan justru kekuatan bangsa kita terletak [pada] keberagaman dan perbedaan itu. Oleh sebab itu, saya, kami berdua, meyakini bahwa keberagaman, kebhinekaan, perbedaan, adalah rakhmat, justru menjadi kekuatan kita; dan kemampuan kita untuk merawat, memelihara, menjaga, saling menghormati, saling melindungi; yang mayoritas melindungi yang minoritas; yang minoritas menghormati yang mayoritas, apa pun latarbelakangnya, adalah kekuatan bangsa ini; dan saya yakin kita akan menjadi besar, bangsa ini menjadi besar manakala kita mampu merawat itu semua, menjada itu semua, dan menejadikannya kekuatan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang unggul di abad-abad ini dan abad mendatang. Terimakasih. [00:10]. [1:18:51].

Moderator (3.11)

Cukup Pak … Silahkan … [Tepuk tangan riuh]. Anda sudah mendengarkan jawaban masing-masing kandidat pasangan nomor urut satu dan nomor urut dua. Kita akan pindah ke segmen ke-empat sesaat lagi; segmen empat ini barangkali akan jauh lebih seru karena segmen empat ini adalah para kandidat akan saling bertanya: Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa akan memberikan pertanyaan kepada Pak Jokowi dan … Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla, begitu juga sebaliknya. Nanti akan diberikan kesempatan. Karenanya jangan ke mana-mana, kita kembali ke debat calon presiden dan wakil presiden sesaat lagi.

 

Bab Empat

 

Moderator (4.1)

Pemirsa dan hadirin sekalian, kita akan lanjutkan … perdebatan ini masuk ke sesi yang ke-empat, sesi yang ke-empat itu seperti yang saya sampaikan tadi, masing-masing pihak akan memberikan pertanyaan kepada pihak yang satunya, tapi dengan aturan kira-kira begini Pak … e-e- Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla, begitu juga Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa. Anda diberikan kesempatan untuk bertanya satu menit [kepada pasangan nomor urut dua], lalu akan dijawab tiga menit [kepada pasangan nomor urut satu], lalu akan diklarifikasi … e-e- akan ditanggapilah [sambil ketawa tertahan] jawaban itu selama tiga menit, dan kami memberikan lagi tiga menit terakhir kepada Anda [kepada pasangan nomor urut dua]. Jadi … dia akan [telapak tangan kanan digerakkan bolak-balik ke arah kedua pasangan] berlempar [sic] satu pertanyaan, tiga menit jawaban, tiga menit tanggapan, lalu tiga menit klarifikasi terakhir. Kira-kira begitu Pak … aturannya …

Nah, kita akan mulai dengan … pertanyaan yang pertama. Saya akan berikan kesempatan, dibalik lagi, saya berikan kesempatan dulu kepada … pasangan nomor urut satu, Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa, untuk bertanya satu menit kepada Pak … Joko Widodo dan Pak JK, lalu saya kembalikan kepada Anda tiga menit, lalu akan kembali ke e-e- mereka … tiga menit. Yah, saya persilahkan … Anda … persilahkan membaca atau menyampaikan pertanyaan dari Anda; pertanyaan apa yang sangat Anda ingin sampaikan kepada kandidat nomor urut dua … saya berikan kesempatan satu menit, dimulai dari sekarang. Silahkan. [1:21:31].

Prabowo Subianto (4.1) [01:00]

Baik, terimakasih … E-e- Saudara Joko Widodo, seandainya … Anda jadi presiden, ada satu hal yang ingin kami tanya, yaitu tentang pemilihan kepala daerah, bupati dan walikota. E-e- setelah dihitung kalau pemilihan langsung, lima ratus bupati, kepala daerah, bupati walikota itu, kurang lebih membutuhkan biaya tiga belas triliun, kalau pemilihan langsung. Kalau pemilihannya lewat DPRD, berarti kita menghemat tiga belas triliun. Bagaimana e-e- sikap Bapak tentang hal itu. Kemudian bagaimana sikap Bapak tentang tuntutan atau harapan banyak daerah ingin terus menambah pemekaran kabupaten-kabupaten dan propinsi-propinsi baru, padahal e-e- beban terhadap anggaran e-e- nasional sudah sangat-sangat berat. [00:00].

Moderator (4.2)

Cukup … e-e- Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa … Pertanyaannya jelas ya. Jadi silahkan, Anda diberi kesempatan untuk menjawab tiga menit pertanyaan tersebut. Saya mulai dari sekarang. Silahkan.

Joko Widodo (4.1) [03:00]

Sebagai bentuk dari kedaulatan rakyat, saya kira e-e pemilihan langsung kepala daerah, baik e-e-bupati, walikota, mau pun gubernur, tetap dilaksanakan seperti sekarang. Hanya caranya, ya,  teknisnya yang harus mungkin e-e- kita perbaiki, dilaksanakan serentak untuk mengurangi biaya, baik di-i-i sebuah propinsi, atau mungkin bisa di dalam sebuah negara; tapi ini mungkin memerlukan transisi yang agak lama. Dan yang kedua mengenai pemekaran. Tempat-tempat yang memang sangat, sangat diperlukan untuk dimekarkan dalam rangka lebih mengembangkan e-e- propinsi atau daerah itu, tidak ada masalah; tapi dengan catatan, apabila nanti sudah dimekarkan dan mereka tidak bisa mandiri, dan mereka hanya membebani, bisa ditarik kembali dan dihapuskan lagi. Pemberiannya diperketat, pemberiannya dicek yang betul; dan yang penting jangan sampai ada lobi-lobi lagi; jangan sampai ada dengan cara menekan-menekan ke e-e- pusat, tapi betul-betul dengan kalkulasi dan perhitungan yang betul-betul cermat, teliti, karena jangan sampai anggaran kita habiskan untuk pemekaran dan tidak menyasar pada pelayanan pada masyarakat, tidak menyasar pada e-e pembangunan di wilayah itu. [Kasi tanda kepada JK untuk melanjutkan]. [01:22]. [1:24:34].

 

Moderator (4.3)

Mau ditambahkan, Pak Jusuf Kalla?

 

Jusuf Kalla (4.1) [01:20]

Ya. Terimakasih. Memang sistim pilkada kita yang begitu banyak, maka Indonesia merupakan negara yang mempunyai pemilu yang terbanyak di dunia ini. Karena itulah maka …, namun demikian, pemilihan kepala daerah dijamin oleh Undang-Undang Dasar dan juga [ketelan] undang-undang bahwa pemilu, pemilihan kepala daerah harus [ketelan] demokratis, namun dalam [ketelan] undang-undang dikatakan pemilihan langsung. Tentu, yang sangat penting di sini, kita tidak hanya sekedar mengembalikannya kepada pilkada, tapi menjamin proses pemilu pilkada, pemilukada itu, berlangsung efisien. Contohnya bisa saya jelaskan, bahwa kalau sekarang ada begitu satu propinsi berbeda-beda, harus disatukan, semuanya ada keseragaman sehingga negeri ini hanya dua kali melaksanakan atau tiga kali melakasanan pemilu secara bersamaan: pemilu nasional, DPR DPA [sic], sekaligus persamaan pilpres dan pemilu legialatif [ketelan] lima tahun yang akan datang. Nanti pemilu kepala daerah secara bersamaan sehingga efisien; kampanyenya efisien, pelaksanaannya efisien, sehingga tidak lagi membebani biaya sebesar itu; karena apabila itu [ketelan] dikembalikan kepada DPR, belum tentu murah juga, karena bisa-bisa di DPR itu terjadi permainan yang lebih hebat lagi daripada masyarakat, sehingga kita harus menjamin sistimnya, menjamin demokratisnya, menjamin kualitas kepada yang dipilih. Itu tujuannya kita melaksanakan [ketelan] pemilu sekaligus begitu [ketelan]. [00:02]. [1:25:29].

Moderator (4.4)

Baik, terimakasih. Sekarang tepuk tangan. [Tepuk tangan riuh. Prabowo tepuk tangan juga, tapi Hatta tidak].

Paak … Parabowo … dan Paak Hatta Rajasa … Sudah me-e- mendengarkan barangkali, dan mencatat, saya lihat tadi … Anda silahkan memberikan tanggapan; catatan kritis juga boleh, terhadap jawaban yang diberikan kepad … dari Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla. Anda punya waktu tiga menit, saya persilahkan dari … sekarang. Silahkan.

 

Prabowo Subianto (4.2) [03:00]

[Tampak bicara dengan Hatta Rajasa agar Hatta Rajasa yang bicara].

 

Hatta Rajasa (4.1) [02:57]

Ya, saya diberi kesempatan Pak Prabowo untuk me-e- menanggapi. Walau pun tadi itu belum dijelaskan seperti apa yang disebut efisien itu, masih kualitatif, belum terukur, tapi memang kita harus e-e- melaksanakan sebuah pemilihan yang lebih sehat, yang lebih terukur, yang tidak terlalu boros dengan biaya. Walau pun Undang-Undang Dasar Empat Pulu Lima kita tidak mewajibkan pemilihan presiden … e-e-m mohon maaf, bupati – walikota – gubernur, secara langsung sebagaimana pemilihan presiden, namun pemilihan demokratis tersebut, saat ini, kalau melalui DPR, memang masih memerlukan transisi waktu yang cukup e-e-e-e kita perlukan. Oleh sebab itu, memang esensinya adalah pemilihan langsung itu, memang itulah yang dikehendaki oleh rakyat saat ini; namun … memang harus kita lakukan dalam kondisi atau keadaan yang betul-betul bisa tidak membebani biaya yang e-e- tinggi. Misalkan, kalau kita ambil … contoh, saat ini sedang digagas untuk pemilihan secara serentak. Saya kira serentak ini akan menghemat biaya yang cukup e-e-m menekan, cukup murah; dan ini e-e- memerlukan waktu yang ke depan ini untuk segera kita persiapkan dengan baik.

Ini pandangan kami terhadap … itu. [01:21]. [1:28:13].

Moderator (4.5)

Masih ada … Pak Prabowo, barangkali?

 

Prabowo Subianto (4.3) [01:18]

Mohon, saya tadi kurang begitu jelas tentang pemekaran. Kriteria apa yang Bapak … daerah mena … kalau satu daerah minta, daerah lain e-e- juta minta, dan tidak dikasi … ini kira-kira bagaimana, e-e- dari segi penghematan anggaran dan dari segi keadilan antara daerah. Ada satu kabupaten sebagai contoh, yang jumlah penduduknya hanya dua puluh ribu, tapi dikasi pemekaran. Jadi di mana … rasa e-e keseimbangan keadilan dengan kabupaten yang, umpamanya, jumlah penduduknya tiga juta, umpanya. Jadi, kami belum … mohon kami e-e ada satu sikap ketegasan, kira-kira kriteria apa mengizinkan pemekaran baru, dan tidak mengizinkan e-e- pemekaran baru. Apakah … jumlah penduduk, apakah luas wilayah, apakah keamanan, atau letak geografis. Kira-kira di mana e-e- yang Bapak kira bisa jadi kriteria untuk mengizinkan penambahan propinsi atau penambahan kabupaten. [00:04]. [1:29:35].

 

Moderator (4.6)

Baik, terimakasih. Silahkan tepuk tangan. Saya … [Tepuk tangan]. Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Ada … kelihatannya ada yang harus Anda e-e ke … klarfikasi lebih lanjut dari pertanyaan Pak Praowo dan Pak Hatta Rajasa. Anda punya waktu tiga menit. Saya persilahkan dari sekarang.

 

Joko Widodo (4.2) [03:00]. [1:29:59]

Tentu saja banyak yang … yang harus dikalkulasi, banyak yang harus dihitung. Yang pertama masalah potensi ekonomi yang ada; apakah bisa menopang daerah itu untuk mandiri. Artinya ada pendapatan asli daerah yang nantinya bisa me-e- menggerakkan pemerintahan yang ada di sana. Kemudian juga yang kedua: apakah dengan dibuka pemre-e- e-e- daerah baru itu, rakyat mendapatkan manfaatnya atau hanya elitnya yang mendapatkan manfaat, karena yang banyak, elitnya saja yang mendapatkan manfaat, tapi rakyatnya tidak mendapatkan manfaat. Tentu saja juga masalah keluasan wilayah itu juga menjadi e-e- perhitungan. Karena apa? Daerah yang luas, kemudian hanya dipegang oleh misalnya satu bupati, sangat …, dalam melayani rakyatnya akan e-e tidak … tidak akan efektif dan tidak akan efisien, sehingga ini juga harus menjadi … menjadi pertimbangan. Jumlah penduduk. Jumlah penduduk juga harus menjadi pertimbangan, apakah penduduk yang hanya sedikit, itu bisa diberikan? Saya kira bisa saja, tetapi dengan catatan bahwa nantinya pemekaran ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk rakyat, untuk masyarakat. Initinya adalah kemanfaatan bagi masyarakat, kemanfaatan bagi rakyat, kemanfaatan bagi warga. Arahnya ke sana, bukan memberikan keuntungan-keuntungan kepada elit-elit politik yang ada, yang meminta pemekaran itu. [01:22]. [1:31:44].

 

Moderator (4.7)

Pak Jusuf Kalla? Ada yang mau ditambahkan? [Kurang jelas karena suara Jusuf Kalla].

 

Jusuf Kalla (4.2) [01:21]. [1:31:45]

Yaa. Pertama terimakasih kepada Hatta [sic], Bapak pun setuju dengan kami. Itu pertama. [Hadirin tertawa riuh]. Jadi kita tidak perlu komentari lagi karena beliau seratus persen setuju. Kedua, menambahkan sedikit tentang pemekaran. Jadi apa yang dikatakan Pak Jokowi tadi, pemekaran itu dilihat tujuannya. Tujuannya ialah setiap daerah baru harus memberikan yang lebih baik; lebih baik kesejahteraannya, lebih baik kemakmurannya, lebih baik prestasinya, lebih baik pengelolaannya, dan juga demokrasinya yang baik. Jadi ukurannya kalau tadi dikatakan [ketelan] luas daerah, luas penduduk [sic], letak wilayah, tapi yang terpenting efektivitasnya, apakah itu memberikan yang [ketelan] lebih baik atau tidak. Begitu memberikan yang [ketelan] lebih baik boleh memberikan [ketelan]. Begitu efeknya jelek, kita harus bertindak [ketelan] lain lagi, kalau perlu kita boleh menentukan kembali. Itu undang-undang menjamin itu, sehingga asas yang pokok asas manfaat, bukan hanya asas geografis, bukan hanya asas penduduk, bukan asas letak, tapi asas manfaat, asas kemakmuran, asas kesejahteraan dan jangkauan daripada pemerintah itu sendiri kepada daerahnya. Terimakasih. [00:20]. [1:32:50]. [Prabowo malah manggut-manggut]

 

Moderator (4.8)

Cukup? Kita tepuk tangan. [Tepuk Tangan. Prabowo juga, dan kemudian Hatta kendati tampak setengah hati].

Pemirsa, pemirsa dan hadirin sekalian. Pertanyaan yang pertama tadi dari pasangan nomor urut satu kepada pasangan nomor dua sudah kita laksanakan, sekarang kitak balik. Jadi, pertanyaan dari nomor urut dua, Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla kepada Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa. Anda punya waktu satu menit … Pak, e-e- saya persilahkan, mulai dari sekarang. [Pasangan nomor urut dua tampak berunding. Jusuf Kalla yang bertanya].

 

Jusuf Kalla (4.3) [01:00]

Terimakasih Pak Jokowi. Tadi, dalam [sic] awal pembicaraan ini, Pak Hatta mengemukakan tentang visi-misi, yang [ketelan] … yang saya kutip: “Melindungi rakyat dari berbagai bentuk diskriminasi, gangguan dan ancaman, serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.” Itu dari Bapak. Kedua, dari Pak Prabowo mengatakan, “tiada pengikut yang salah, hanya pemimpin yang salah”. Sekarang pertanyaannya: Bagaimana Bapak ingin menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia masa lalu dan menjaga agar [ketelan] hak asasi manusia dipertahankan pada masa datang. Itu saja. [00:19]. [1:34:08].

 

Moderator (4.9)

Silakan … Kalau ada yang mau tepuk tangan, silahkan. [Tepuk tangan iruh]. Saya ingatkan bahwa debat ini untuk menggali visi-misi, memberi tanggapan, dan ini adalah hal yang harus di … dijawab. Akan kita beri waktu tiga menit e-e- Prabowo [sic] dan Pak Hatta Rajasa. E-e- kita mulai … dari sekarang. Silahkan Pak.

 

Prabowo Subianto (4.4) [03:00]

Baik. E-e hak azasi [sic] manusia yang paling dasar adalah hak untuk hidup. Kemudian tugas undang-undang dasar yang mem … yang diberikan kepada sebuah pemerintah republik adalah me … lindungi … melindungi segenap tumpah darah … Indonesia. Itu tugas utama pemerintah. Sebuah pemerintah harus melindungi segenap tumpah darah dari segala ancaman, apakah dari luar … negeri atau dari dalam negeri. Jadi … saya … sekian puluh tahun … adalah abdi negara, petugas yang membela kemerdekaan, kedaulatan, dan hak-hak azasi manusia. Mencegah kelompok-kelompok radikal atau pun kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan, mengancam keselamatan hidup orang-orang yang tidak bersalah. Orang-orang yang tidak bersalah! Jadi, manakala kita menghadapi orang-orang yang merakit bom, yang ingin menimbulkan hura-hara, yang mengancam kelangsungan hidup negara dan bangsa, ya, mereka ini ancaman terhadap hak-hak asasi manusia! Karena itu, kewajiban seorang petugas, kewajiban seorang pembela negara dan bangsa, me-lin-dungi segenap tumpah-darah dari ancaman-ancaman tersebut!

Dalam pelaksanaan tugas … [nada suara makin keras] sebagai prajurit, manakala kita melaksanakan tugas … dengan sebaik-baiknya, yang menilai … itu adalah atasan. Jadi … saya mengerti Pak … arah Bapak. [Suara riuh]. Tidak apa-apa … tidak apa-apa … ya … saya tid …  saya tidak apa-apa … tetapi a-a- saya … ada di sini … saya sebagai mantan prajurit … telah melaksanakan tugas … dengan sebaik-baiknya … Selebihnya … atasan yang menilai. Apakah saya … kan arah Bapak kira-kira gitu, bahwa saya … e-e- apa itu … tidak bisa menjaga HAM karena saya pelanggar HAM … kira-kira itu kan Bapak arahnya. Iya kan? Padahal, Bapak tidak mengerti, justru kami-kami ini, di tempat-tempat yang susah, di mana-mana, sering harus ambil tindakan UNTUK [mendadak keras] … untuk keselamatan rakyat Indonesia … yang … yang banyak.

Sebagai contoh. Di negara kita … di Singapur … tetangga kita, MEMEGANG [nada mendadak naik] bom saja itu … HUKUMAN MATI … WAJIB! MEMEGANG saja … tidak melaporkan, apalagi MERAKIT, apalagi MENYEBARKAN. Jadi saudar … e-e- Pak Jusuf Kalla … e-e- saya bertanggungjawab, dan hati nurani saya bersih. Saya pembela hak-hak azasi manusia yang paling keras di Republik ini, SAYA tidak ragu ra … [dipotong oleh moderator]. [00:00]. [1:37:49].

 

Moderator (4.10)

Cukup, Pak Prabowo. Silahkan tepuk tangan. [Tepuk tangan riuh sekali]. [Prabowo coba tersenyum dan mengangguk ke arah moderator]. Terimakasih … dukungan … tolong, tolong … Para … para hadirin … para hadirin sekalian, tolong, para hadirin sekalian, tolong, lagi-lagi kita memberikan dukungan dengan batasan yang telah kita sepakati tadi, dan ini adalah penyampaikan visi dan misi, dikaitkan dengan visi dan misi. Jadi, pertanyaannya juga kira-kira e-e- ke arah yang sana.

Ada waktu, tiga menit dari Pak …  Joko Widodo, dan Pak Jusuf Kalla … untuk memberi cataran terhadap e-e- apa … dukungan … bisa  catatan terhadap apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo. Saya persilahkan, tiga menit dari sekarang.

 

Joko Widodo (4.4) [03:00]

Ya. Tadi yang disampaikan oleh Pak … Prabowo belum … mungkin sangkin semangatnya, belum disampaikankan hal-hal yang konkrit ke depan akan dilakukan apa. Dan yang kedua juga belum dijawab mengenai masalah diskriminasi. Tadi juga ditanyakan oleh Pak Jusuf Kalla juga … belum di … e-e- dijawab karena terlalu semangatnya menjawab masalah hak-hak asasi manusia. Oleh sebab itu kami mohon agar ini lebih di … berikan … apa … e-e- perhatian lagi masalah pertanyaan yang disampaikan oleh Bapak Jusuf Kalla. [02:28]. [1:39:25]. [Jusuf Kalla memberi tanda akan bicara].

 

Moderator (4.11)

Pak Jusuf Kalla, mau ditambahkan?

 

Jusuf Kalla (4.4) [02:25]

Ya. Terimakasih tadi atas beberapa penjelasannya … [dipotong oleh Prabowo]. [02:22]. [1:39:30].

 

Prabowo Subianto (4.5) [02:21]

Maaf Pak, saya tadi … masalah diskriminasi dan … sebelum diskriminasi … [disela oleh moderator]. [02:19]. [1:39:34].

 

Moderator (4.12)

Diskriminasi dan bagaimana e-e- konkritnya … [disela oleh Joko Widodo].

 

Joko Widodo (4.5) [02:13]

Ya, konkritnya. Pelaksanaan konkritnya seperti apa … [disela oleh moderator]. [02:11]. [1:39:41].

 

Moderator (4.13)

Ada dua hal yang di … Pak … Pak Jusuf Kalla … mau menambahkan? Masih ada waktu dua menit …

 

Jusuf Kalla (4.5) [02:06]

Ya … Pak Prabowo, terimakasih atas tadi penjelasannya. E-e- pertanyaan yang diminta [ketelan] dapat penjelasan lagi … Bapak tadi mengatakan bahwa semua pelanggaran itu pakai bom. Apakah tahun sembilan puluh lapan … [disela oleh Prabowo]. [01:54]. [1:40:00].

 

Prabowo Subianto (4.6) [01:53]

Tidak semua! Saya … [dipotong oleh Jusuf Kalla, lalu oleh moderator]. [01:52]. [1:40:01].

 

Jusuf Kalla (4.6) [01:52]

Tidak semua … yang jelas tidak semua pake bom, jadi … [01:51]. [1:40:03]. [Suara Prabowo].

 

Moderator (4.14)

Paak [agak keras] … Paak Prabowo … Stop Pak Prabowo … Oke?

 

Jusuf Kalla (4.7) [01:49]

Jadi tidak semua dilaksanakan [ketelan] dengan alasan bom, begitu Pak ya?  [Disela oleh moderator]. [01:47]. [1:40:08].

 

Moderator (4.15)

Paak … Paak … Pak Jusuf Kalla, mohon pertanyaannya jangan langsung direct, tetapi kepada saya, nanti saya persilahkan; begitu juga Pak Prabowo. Mohon yaa?

Sekarang silahkan … silahkan Pak. Silahkan … silahkan … silahkan dilanjutkan. Masih ada punya waktu  satu menit.

 

Jusuf Kalla (4.8) [01:33]

Ya. Jadi, tidak semua pelanggaran HAM itu karena bom. Jadi, tentu tidak semua hal harus dilakukan [ketelan] dengan kekerasan balik, begitu Pak ya? Kedua, pertanyaannya … Bapak menyatakan tadi, terserah penilaian atasan. Apakah penilaian atasan Bapak waktu itu … minta maaf karena saya tidak menangkap waktu Bapak tadi menjawab seperti itu, sehingga karena yang bered … e-e- yang banyak beredar [ketelan] … suatu penilaian … penilaian lain; apa penilaian atasan Bapak tentang bagaimana menyelesaikan pelanggaran [ketelan] HAM pada masa lalu. [01:07]. [1:40:49].

 

Moderator (4.16)

Cukup?

 

Jusuf Kalla (4.9) [01:06]

Cukup. [1:40:50].

 

Moderator (4.17)

Gitu, ya. Kita berikan tepuk tangan. [Tepuk tangan riuh. Prabowo ikut tepuk tangan]. Saya berikan kesempatan tiga menit kepada … Pak … Prabowo … dan Pak Hatta Rajasa. Bisa memberi klarifikasi, catatan, bahkan mungkin memberikan penjelasan yang lebih konkrit dalam kaitan dengan yang ditanyakan tadi, termasuk dua hal yang sebelumnya ditanyakan.

Ada waktu tiga menit untuk Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa, kita mulai dari sekarang. Silahkan Pak.

 

Prabowo Subianto (4.7) [03:00]

[Bernada tenang]. Jawaban terhadap Pak Joko Widodo … langkah-langkah konkrit. Langkah konkrit, saya kira … adalah … di ujungnya adalah pendidikan. Masalah hak-hak azasi pendidikan ini pendidikan. Pendidikan disemua sektor, pendidikan di semua aparat, pendidikan juga kepada pejabat-pejabat.

Karena apa? Karena sering a-a- petugas diberi perintah, dan kalau ada sesuatu yang nanti dinilai tidak tepat … atau secara politik kurang menguntungkan, akhirnya petugaslah yang dikorbankan dan disalahkan. Jadi, ujungnya adalah pendidikan, dan pendidikan membutuhkan investasi.

Tentang diskriminasi saya kira kita sudah sepakat. Kita harus melawan diskriminasi, tetapi ujungnya kembali … pendidikan. Di seluruh urusan itu pendidikan.

Kepada Pak e-e- Jusuf Kalla, saya sudah jawab tadi. Kita bertanggungjawab kepada atasan kita … Penilaiannya, ya, atasan kita. Kalau Bapak ingin tanya, tanyalah atasan saya waktu itu. [Ada teriakan dari beberapa pendukung, dan Prabowo mengangguk ke arah pasangan nomor urut dua]. [01:46]. [1:42:43].

 

Moderator (4.18)

Ada yang mau disampaikan lagi … Paak Hatta Rajasa barangkali. Masih ada waktu satu …

 

Hatta Rajasa (4.2) [01:41]

Saya kira … tadi yang disampaikan … ditanyakan oleh Pak Jusuf Kalla kepada saya soal diskriminasi … dan Pak Jokowi juga … Memang, salah satu hal yang paling mendasar, menyangkut hak-hak warganegara kita, adalah jangan sampai ada diskrimantif [sic] dalam perlakuan … hukum, karena konteksnya tadi konteks hukum. Istilahnya jangan tumpul ke atas, tajam ke bawah. Itu diskriminatif. Mereka harus sama di muka hukum, siapa pun; dan tidak boleh, apa pun latarbelakangnya, apa pun pendidikannya, apa pun agama yang dianutnya … tidak boleh ada diskriminatif [sic] di negara Pancasila ini.

Itu yang saya ingin sampaikan, e-e- yang terkait dengan diskriminasi. Jadi kita … apabila diberi amanat … oleh rakyat, diberi mandat, maka kami akan mencermati betul hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah diskriminatif di banyak sektor saat ini, apakah akses-akses pada sumber-sumber kemamkuran, apakah akeses-akses pada pendidikan, apakah akses-akses pada sumber-sumber daya alam, penggunaan lahan, dan sebagainya.

Masih banyak terjadi diskriminasi perlakuan terhadap warganegara kita. Oleh sebab itu, ini menjadi perhatian kami yang sangat serius, apabila mendapatkan mandat dari rakyat. Terimakasih. [00:28]. [1:44:05]. [1:21:17 angga.web.id]. [Selisih 00:22:48].■

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: