Bagaimana Persatuan Bisa Dicapai

deskha February 16, 2009 0

Bagaimana Persatuan Bisa Dicapai?

 Pergerakan kebangsaan kita telah memberi pelajaran bahwa persatuan bangsa tidak bisa dicapai dengan hegemoni kelompok, apa pun dasar pengelompokannya. Begitu saja menghimpun “bagian-bagian” di bawah kekuatan atau wibawa satu-dua “bagian”, betapa hebat pun kekuatan atau wibawa itu, hanya akan menghasilkan “persatean”.

Para ahli pikir pastilah tertarik mengkaji mengapa persatuan tidak bisa dicapai dengan mengumpulkan “bagian-bagian”. Salah satu penyebabnya yang mungkin mereka duga adalah apa yang dikenal dalam filsafat sebagai infinite regress. Maksudnya, yang terdiri dari “bagian-bagian” bukan hanya “kumpulan bagian”, tapi setiap “bagian” pun terdiri juga dari “bagian-bagian”-nya sendiri. Pada setiap tahap tanpa akhir “kumpulan bagian” pada dasarnya rapuh, takkan pernah menjadi persatuan kecuali himpunannya terdiri dari “unsur-unsur”.

Biarlah kajian semacam itu jadi beban para pemikir. Yang jelas, pergerakan kebangsaan juga telah menunjuk arah untuk menghindari “persatean”, dan mencapai persatuan. Secara wawasan, arah menuju persatuan itu pertamakali dicanangkan dalam asas organisasinya (beginsel verklaring) oleh organisasi pelajar Indonesia (Indonesische Vereeniging) di Nederland pada 3 Maret 1923. Bila diterjemahkan dari bahasa Belanda, bunyinya kira-kira begini:

Masa depan bangsa Indonesia (het volk van Indonesië) sepenuhnya tergantung pada susunan pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat […] Untuk mencapainya setiap orang Indonesia harus berjuang sesuai kemampuan dan bakatnya (vermogen en aanleg), dengan tenaga dan kekuatan sendiri (eigen kracht en eigen kunnen) […]. Setiap upaya memecah kekuatan bangsa Indonesia […] harus ditolak dengan tegas,  karena hanya pertalian kukuh antara putra-putri Indonesia itulah yang dapat mencapai tujuan-tujuan bersama.

Kemampuan, bakat, tenaga, dan kekuatan sendiri, yang dikembangkan dalam pertalian kukuh antara putra-putri Indonesia, jadi orang per orang, bukan antara kelompok atau perkumpulan mereka, itulah jalan mencapai Indonesia Merdeka yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Wawasan ini benar-benar menukik pada prasyarat negera demokratis yang modern, yaitu yang berdasarkan kewarganegaraan orang per orang, bukan berdasarkan pengelompokan dalam bentuk apa pun.

Secara budaya, inilah yang diwujudkan dalam peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Upaya menuju persatuan berdasarkan kumpulan atau organisasi pemuda berkali-kali gagal, dan baru berhasil ketika siswa-siswa belia itu berkongres dengan kapasitas pribadi, putra-putri Indonesia.

Secara politik, ini pula yang terjadi dengan Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan itu bukan oleh organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan, bahkan bukan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), melainkan oleh pribadi Sukarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia.

Bagaimana tenaga dan kekuatan orang per orang itu dikembangkan sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing sudah merupakan tugas para pendidik. Lalu bagaimana kekuatan itu dipersatukan sehingga menjadi kesatuan kekuatan yang siap-sedia dikerahkan kapan pun dan kemana pun, pastilah merupakan rahasia para pemimpin dan negarawan.

Namun demikian, apa pun rahasianya, satu hal sudah pasti, yakni bahwa kekuatan persatuan itu bukan sekedar kumpulan kekuatan orang per orang, bahkan tidak sama dengan jumlah kekuatan orang per orang itu, melainkan harus melebihinya. Belakangan kekuatan yang timbul dari persatuan semacam itu lebih terkenal sebagai synergy. Agaknya synergy bukan lagi terutama hasil kecanggihan teknologi, melainkan buah kreativiti, dayacipta!

Tidak mudah memaparkan seluk-beluk dayacipta, termasuk dayacipta politik. Juga tulisan ini bukan tempatnya memaparkan hal itu. Namun sangatlah membantu bila kita dapat melihat contoh yang bisa dianggap sebagai hasil dayacipta politik, khususnya dalam upaya mewujudkan persatuan.

         Dalam kesempatan ini baiklah diberikan satu contoh hasil dayacipta yang terkenal  mengenai masalah persatuan bangsa Indonesia. Selain terkenal, contoh ini sangat menggembirakan justru karena keluar dari pemikiran Presiden Sukarno. Tidak jelas apakah pemikirannya ini buah pelajaran yang dipetik dari pengalaman selama pergerakan. Yang pasti rumusan Presiden Sukarno ini luar biasa bening dalam menerangkan seluk-beluk persatuan yang berintikan synergy sebagaimana disinggung di atas.■ (Parakitri T. Simbolon, 16 Februari 2009).
%d bloggers like this: