Bagaimana Masa Depan Bahasa Indonésia?

deskha October 27, 2012 0
Bagaimana Masa Depan Bahasa Indonésia?

Bagaimana Masa Depan Bahasa Indonésia?

Oleh Ajip Rosidi

Pertama-tama perkenanlah saya lebih dahulu menyampaikan terima kasih yang iklas kepada Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Téknologi yang telah memilih saya sebagai penerima Penghargaan Habibie tahun 2009 dalam bidang ilmu kebudayaan, dan kepada Réktor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ganjar Kurnia yang telah mengusulkan saya sebagai calon untuk menerima Penghargaan Habibie dalam bidang ilmu kebudayaan.

Sebagai penerima Penghargaan Habibie saya diminta untuk menyampaikan pidato ilmiah dalam bidang kebudayaan tempat saya berkiprah selama ini. Tetapi apa yang akan saya sampaikan ini mungkin jauh dari ilmiah, karena saya bermaksud hendak menghasut, menohok kesadaran kita sebagai bangsa Indonésia.

Selama ini saya sering disebut sebagai orang yang paling ceréwét brbicara tentang masa depan bahasa ibu (yang biasa disebut bahasa daérah atau bahasa pertama) yang terdapat di seluruh Indonésia, karena masa depan bahasa-bahasa ibu itu tanpa kecuali sangat suram, tergilas oléh bahasa nasional, bahasa Indonésia.

Konon menurut para ahli yang telah menghitungnya, jumlah bahasa ibu yang terdapat di tanah air kita ini paling banyak di seluruh dunia, artinya bahasa ibu yang terdapat di Indonésia jauh lebih banyak daripada yang terdapat di negara-negara lain. Yaitu ada lebih dari 700 macam bahasa. Tetapi keceréwétan saya itu hingga sekarang tidak mendapat perhatian yang patut, nasib bahasa-bahasa ibu itu di Indonésia tidak juga menjadi lebih baik. Sejak 21 tahun yang lalu saya setiap tahun (kemudian melalui Yayasan Kebudayaan Rancagé) memberikan Hadiah Sastera Rancagé kepada para pengarang yang menulis dalam bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Bali (pernah juga untuk bahasa Lampung) dan buat meréka yang berjasa dalam usaha pelestarian bahasa ibunya – terus-menerus tanpa pernah putus, sehingga hadiah itu merupakan hadiah sastera tahunan yang paling panjang umurnya di Indonésia – namun tidap pernah mendapat tanggapan yang wajar. Buku-buku yang mendapat hadiah tidak menjadi “bestseller” dan tidak pernah pula dibeli oléh pemerintah untuk mengisi perpustakaan sekolah atau perpustakaan lainnya. Pemerintah sendiri yang mempunyai Pusat Bahasa berbicara tentang bahasa ibu baru beberapa tahun setelah UNESCO menetapkan tanggal 21 Fébruari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional pada tahun 2001. Sebelumnya Pusat Bahasa hanya menganggap bahasa-bahasa ibu semata-mata sebagai obyék penelitian ilmiah saja.

Tetapi dalam kesempatan ini saya tidak akan meminta (menghasut) minat Saudara terhadap masa depan bahasa-bahasa ibu di Indonésia yang tak punya hari depan, melainkan saya mau meminta perhatian Saudara terhadap nasib bahasa Indonesia, bahasa persatuan kita, bahasa nasional kita, bahasa negara kita. Mengapa? Karena sejak beberapa tahun ini kian  lama kian kentara betapa bangsa kita tidak lagi menghargai bahasa nasionalnya, bahasa negaranya.

Sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonésia merupakan salah satu tali yang mengikat kita menjadi satu Indonésia. Tali yang lain adalah bendéra dan lagu kebangsaan. Tetapi sementara bendéra dan lagu kebangsaan boléh dikatakan berada dalam tempat yang “aman”, tidak demikian halnya dengan bahasa Indonésia – walaupun untuk pertama kali dalam sejarah pada acara memperingati Hari Proklamasi tahun 2009 ini, pada waktu upacara kenegaraan telah terjadi “kelupaan” menyanyikan Indonésia Raya pada waktu pembukaan.

Bahasa Indonésia yang dipilih sebagai bahasa persatuan oléh para Bapak Pendiri Bangsa kita pada waktu Sumpah Pemuda 1928, berasal dari Bahasa Melayu – bahasa ibu yang paling luas tersebar di seluruh kepulauan Nusantara dan telah menjadi lingua franca sejak berabad-abad. Berlainan dengan bahasa Jawa atau Sunda yang meskipun jumlah pemakainya jauh lebih banyak, bahasa Melayu yang égalitér lebih cocok dengan cita-cita hendak mendirikan negara republik yang démokratis. Bahasa Indonésia buat kebanyakan kita bukanlah bahasa ibu, karena itu harus kita pelajari di sekolah atau tempat lain. Patutlah pemerintah berlaku sungguh-sungguh dalam mengajarkan bahasa Indonésia. Dan patutlah setiap warga negara berusaha menguasai bahasa Indonésia dengan baik. Namun kenyataannya tidaklah demikian.

Menjelang akhir tahun 1960-an, tumbuh kesadaran pada sekelompok ahli bahasa bahwa pemakaian bahasa Indonésia dalam masyarakat sangat kacau, maka timbullah gagasan untuk memperbaharui éjaan sebagai usaha pembakuan bahasa. Sejak awal saya tidak setuju akan pembaharuan éjaan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kekacauan bahasa dalam masyarakat. Pada pendapat saya untuk memperbaiki kekacauan berbahasa dalam masyarakat, jalannya hanya satu ialah memperbaiki prakték pembelajaran bahasa dan mendorong kegemaran bangsa kita agar menghargai karya sastera yang telah diciptakan oléh bangsanya sendiri. Tetapi pembaharuan éjaan dipaksakan dalam pidato kenegaraan Presidén Suharto tanggal 17 Agustus 1972, sedangkan pembelajaran bahasa Indonésia di sekolah tidak disentuh-sentuh, dalam arti tidak dilakukan perbaikan yang fundamental dan menyeluruh dalam pembelajaran bahasa Indonésia. Penyediaan perpustakaan yang baik dengan koléksi utamanya berupa karya-karya sastera sebagai salah satu penunjang pelajaran bahasa Indonésia di sekolah, tidak pernah dianggap penting, karena itu tidak dilakukan secara terus-menerus dan sungguh-sungguh, hanya sekadar usaha tambal sulam saja. Dengan demikian anak-anak didik tidak dibiasakan mengenal karya sastera sebagai contoh pemakaian bahasa yang baik. Sementara itu télévisi, radio, dan média massa cétak setiap hari memberikan contoh berbahasa yang populér, dikenal dengan sebutan “bahasa gaul” secara leluasa.

Pemakaian bahasa Indonésia dalam masyarakat kian semerawut. Belakangan nampak gejala bahwa bangsa kita, terutama kaum élit yang sering berbicara melalui télévisi atau radio, menganggap bahasa Indonésia tidak cukup terhormat (atau lebih tepat : tidak cukup géngsi) untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya, karena itu antar sebentar meréka menggunakan kata-kata, ungkapan bahkan kalimat bahasa Inggris. Dan hal itu bukan karena bahasa Indonésia tidak cukup baik dan tidak cukup sempurna untuk menyatakan pikiran dan perasaan meréka, karena bahasa Indonésia sejak tahun 1928, terutama setelah menjadi bahasa negara, berkembang dengan pesat sekali. Kalau pada awal tahun 1950-an kuliah di perguruan tinggi untuk beberapa mata kuliah harus disampaikan dalam bahasa Belanda karena bahasa Indonésia belum cukup mempunyai istilah untuk beberapa bidang ilmu, maka tak sampai sepuluh tahun kemudian semua mata kuliah dapat disampaikan dalam bahasa Indonésia. Sekarang tak ada ilmu yang betapa rumitnya pun yang tak bisa ditulis dalam bahasa Indonésia. Dalam bidang éksprési seni pun karya sastera Indonésia memperlihatkan pencapaian yang maju sekali.

Jadi, kegenitan kaum élit berbicara bahasa Indonésia dengan campuran kata-kata dan kalimat bahasa Inggris itu, bukanlah karena bahasa Indonésia tidak cukup mampu untuk menyatakan perasaan atau pikirannya, dan bukan pula karena dia lebih menguasai bahasa Inggris daripada bahasa Indonésia, melainkan karena dia kuatir tidak dianggap pandai, tidak dianggap termasuk golongan inteléktual kalau tidak memperlihatkan bahwa dia juga tahu berbahasa Inggris. Artinya kebiasaan itu timbul karena adanya rasa rendah diri sehingga menganggp bahasa nasional Indonésia lebih rendah kedudukannya daripada bahasa Inggris. Dengarkan kalau para pejabat dan kaum élit kita berbicara dalam acara télévisi. Berutunya gatal kalau tidak antar sebentar mengucapkan kata atau kalimat bahasa Inggris. Bahkan kata-kata Belanda yang sudah menjadi bahasa Indonésia pun diucapkan secara Inggris.

Dan lebih gawat lagi, karena bahkan Kepala Negara Républik Indonésia sendiri, Presidén SBY, memberi contoh beringgris-ria, termasuk dalam forum resmi. Kalau Kepala Negara sudah berbuat begitu niscaya pejabat-pejabat bawahan dan orang-orang lainnya akan mengikuti.

Padahal tanpa diberi contoh oléh Kepala Negara, masyarakat élit sudah ramai beringgris-ria. Berbahasa campuran dengan kata-kata dan kalimat Inggris dianggap dapat menutupi rasa rendah dirinya berbahasa Indonésia, padahal sebenarnya dengan berbuat begitu dia merendahkan bahasa nasionalnya sendiri. Kebiasaan beringgris-ria seperti itu segera menjadi mode di kalangan élit, karena mengira dengan berbuat begitu meréka akan dianggap sebagai inteléktual, walau isi percakapannya kosong melompong. Kata-kata bahasa Indonésia pun diucapkan secara Inggris dengan menekuk-nekukkan lidah secara dibuat-buat. Nyatalah bahwa beringgris-ria itu hanya untuk bergéngsi, karena tidak ada keperluan yang jelas, tidak ada keharusan sama sekali, dan kata-kata serta kalimat Inggris yang diucapkan secara Amérika itu pun sebenarnya dapat disampaikan dengan mudah dalam bahasa Indonésia.

Yang segera terpengaruh oléh ulah kaum élit beringgris-ria itu adalah kaum pengusaha dan para copywriter iklan. Bertentangan dengan akal séhat karena yang menjadi sasarannya adalah bangsa Indonésia yang lebih pandai berbahasa nasional Indonésia daripada bahasa Inggris, iklan-iklan banyak yang disampaikan dengan bahasa Inggris. Malah di lingkungan bisnis seni rupa, undangan dari galeri-galeri, katalog-katalog paméran dan balai lélang selalu berbahasa Inggris, padahal yang ditujunya koléktor bangsa Indonésia juga. Dan Galeri Nasional satu-satunya galeri milik negara Républik Indonésia juga ikut-ikutan latah berbahasa Inggris. Mungkinkah hal itu disebabkan dunia bisnis umumnya dan bisnis seni rupa khususnya dikuasai oléh orang-orang yang tidak cukup menghargai jangankan mencintai bahasa Indonésia? Bagi meréka bahasa Indonésia agaknya tidak mempunyai ikatan émosional, karena meréka tidak merasa memiliki bahasa Indonesia, sehingga tidak mempunyai rasa bangga terhadap bahasa nasional. Yang penting bagi meréka adalah bisnisnya berjalan baik dan memberikan keuntungan besar.

Pada satu segi kesemerawutan berbahasa dalam masyarakat itu disebabkan karena pembelajaran bahasa Indonésia di sekolah-sekolah dan di luarnya tidak cukup baik. Pada segi yang lain didorong oléh dibiarkan leluasanya penggunaan bahasa gaul dan bahasa seénaknya disiarkan melalui télévisi yang sekarang telah masuk ke pelosok-pelosok yang paling terpencil sekali pun.

Yang menyedihkan ialah karena keadaan itu seperti dibiarkan saja. Tak terdengar ada usaha untuk membendung atau memperbaikinya. Lembaga pemerintah yang paling berwewenang dalam bidang bahasa yaitu Pusat Bahasa, nampaknya merasa cukup hanya dengan mengisi ruangan bahasa di TVRI seminggu sekali selama lebih-kurang satu jam. Tak terdengar ada pendekatannya terhadap stasion-stasion télévisi agar menjaga bahasa nasional yang digunakannya. Stasion télévisi dibiarkan beringgris-inggris menamakan acara-acaranya dengan bahasa Inggris, padahal padanan bahasa Indonésianya akan dengan mudah diperoléh. Apa karena bahasa Indonésia kurang indah? Kalau alasannya begitu, nyatalah bahwa meréka tidak tahu kekayaan dan keindahan bahasa nasionalnya. Alasan yang sebenarnya ialah karena meréka menganggap bahasa Indonésia kurang bergéngsi, artinya meréka tidak punya rasa bangga terhadap bahasa nasionalnya.

Apakah menurunnya rasa bangga terhadap bahasa Indonésia itu ada hubungannya dengan keluhan banyak orang selama beberapa tahun belakangan ini, yang menyatakan bahwa terjadi érosi nasionalisme di kalangan anak-anak muda kita sekarang?

Buat saya jawabnya pasti, ya. Tidak adanya rasa bangga terhadap bahasa nasional, bahasa Indonésia, itu merupakan tanda kian memudarnya nasionalisme bangsa kita dan tidak hanya di kalangan anak-anak muda saja.

Bukan artinya saya anti terhadap masuknya pengaruh bahasa asing terhadap bahasa nasional. Bahasa yang hidup niscaya selalu mendapat pengaruh dari segala penjuru – termasuk dari bahasa-bahasa asing. Terutama konsép- konsép yang sebelumnya tidak terdapat dalam masyarakat kita, sehingga tak ada dalam khazanah bahasa kita, perlu kita terima. Tapi menerima pengaruh bukanlah berarti kita seénaknya saja memasukkan kata-kata Inggris hanya karena kita malas mencari padanannya dalam bahasa kita sendiri, artinya konsép itu sendiri sebenarnya kita sudah punya dalam bahasa nasional kita, jadi tak perlu mengambil dari bahasa asing. Peranan pérs dalam pembentukan dan pembinaan bahasa Indonésia dahulu diakui sangat besar. Tetapi sekarang kita saksikan sendiri bahwa peranan pérs pun sangat besar dalam mendorong pemakaian bahasa Indonésia yang semerawut penuh dengan kata-kata Inggris yang tidak perlu, hanya sekadar untuk bergéngsi atau akibat kemalasan tidak mau melihat kamus belaka, seperti “bakau” diganti dengan “mangrove”, “tongkol” diganti dengan “tuna”, “obral” diganti dengan “sale”, “jilid” diganti dengan “volume”, ditambah dengan kegemaran membuat singkatan tanpa rujukan yang jelas, sehingga hanya menjadi teka-teki belaka.

Sesungguhnyalah keadaan perbahasaan kita sekarang berada dalam situasi yang mencemaskan. Kalau terus dibiarkan tidak mustahil nanti Bahasa Indonésia hanya akan menjadi semacam pidgin English.

Saya bukanlah ahli, karena itu saya tidak tahu bagaimana jalannya agar kita keluar dari kemelut berbahasa yang sedang melanda bangsa kita ini. Meminta perhatian para pejabat pemerintah yang bertalian dengan hal itu – mulai dari Pusat Bahasa sampai dengan para pejabat Depdiknas yang berwewenang menyusun kurikulum serta guru-guru yang melakukan pengajaran kepada para anak didik, juga lembaga-lembaga yang berwewenang mengawasi siaran-siaran télévisi dan radio, begitu juga pérs – adalah perbuatan yang paling mudah dan praktis, tetapi dari pengalaman saya tahu bahwa itu tidak akan ada gunanya karena tidak akan dihiraukan, karena hal sebesar yang dihadapi bahasa Indonésia sekarang, memerlukan keinginan dan keputusan politik dari penguasa yang paling tinggi. Tetapi kalau presidénnya sendiri suka beringgris-ria, apa daya?

Pabélan, 12 Séptémber 2009.

 Diangkat atas izinnya dari buku Ajip Rosidi, Bahasa Indonesia Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? (Jakarta: Pustaka Jaya, Cetakan ke-empat, 2010), hlm. 53-61.
%d bloggers like this: