Apa Makna Seorang Muslim Memasuki Abad XXI

deskha March 10, 2010 0

Dalam dua minggu terakhir ini lagi-lagi kita dikejutkan dengan penggerebekan teroris: di desa Lamkabeue, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar; dan di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Karena terorisme ini masih tetap dikaitkan dengan kelompok yang mengatasnamakan agama Islam, pengkajian makna agama Islam di Abad XXI ini tentu masih tetap penting.

Kajian semacam itu pernah dilakukan dalam “Konferensi Internasional tentang Islam dan Abad XXI” di Universitas Leiden 14 tahun yang lalu. Hasil konferensi itu dilaporkan dalam empat tulisan yang pernah dimuat dalam Kompas, 26-27 Juli 1996.

Zamrudkatulistiwa menganggap perlu menyiarkan lagi keempat tulisan itu sekarang. Yang berikut ini Bagian Pertama.

Selamat membaca.

APA MAKNA SEORANG MUSLIM MEMASUKI ABAD XXI?

(Bagian Pertama)

       Selama 5 hari, sejak 3 sampai dengan 7 Juni 1996, berlangsunglah Konferensi Internasional tentang Islam dan Abad XXI di Universitas Leiden, Nederland. Oleh INIS (Indonesian-Netherlands Cooperation on Islamic Studies), pemrakarsanya, konferensi itu disebut sebagai yang pertama dari tiga yang direncanakan sejak pertengahan tahun lalu untuk membahas perkembangan mutakhir masyarakat Islam dunia dan Eropa.  Peranan Islam diperkirakan makin mengemuka sebagai salah satu penggalang identitas kelompok yang baru, segera setelah berbagai identitas kelompok yang lama runtuh atau makin lemah dilanda percaturan global sejak awal dasawarsa terakhir Abad XX.


Sebanyak 150 peserta terdaftar untuk mengikuti konferensi, sebagian besarnya merupakan sarjana di bidang masalah keislaman dan ilmu-ilmu sosial lain. Mereka berasal dari Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah (termasuk seorang dari Institut Moshe Dayan, Israel, untuk kajian Timur Tengah dan Afrika), Afrika Selatan, dan Asia Tenggara (termasuk 27 dari Indonesia, 13 di antaranya  mahasiswa di Leiden, lainnya dari Depag, IAIN, LIPI, dll.).

Konferensi yang pertama ini berhasil mengajukan sekitar 80 makalah, yang dibahas secara panel dalam tiga kelompok sidang. Sesuai dengan sasaran konferensi, ketiga kelompok sidang tersebut meliputi Islam dan percaturan globalIslam dan pembangunan, serta Islam dan pendidikan. Sebelum sidang kelompok dimulai, diadakan sidang pleno pembukaan. Demikian juga setelah sidang kelompok selesai, konferensi diakhiri dengan sidang pleno penutup.

Parakitri T. Simbolon, yang mengikuti konferensi itu, melaporkan sbb.:

 

Sejak sidang pleno pembukaan sudah terasa betapa pentingnya konferensi itu. Sidang berlangsung di balairung tua (Academie Gebouw) milik Universitas Leiden, sehingga suasana khidmat sangat terasa. Rektor Universitas Leiden, Prof. L. Leertouwer, memimpin sidang pleno itu. Dari  mimbar atas, Leertouwer menegaskan bahwa jawaban yang akan diberikan oleh konferensi terhadap makna seorang Islam boleh jadi akan ikut menentukan nasib masyarakat Islam pada Abad XXI mendatang. Di mimbar bawah berturut-turut muncul Menteri Agama RI, dr Tarmizi Taher; Menteri Wakaf dan Urusan Islam Marocco, Abdel Kabir Alaoui Mdaghri; serta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Dr P.A.J. Tindemans. Dengan cara masing-masing dalam pidato pengantarnya  ketiga pejabat tersebut memperkuat penegasan Leertouwer.

Muslim Abad XXI

       Sidang pleno pembukaan itu dimahkotai dengan ceramah kunci (key speech) dari Prof. Dr Riffat Hassan, wanita asal Pakistan yang mengajar di Universitas Louisville, Kentucky, A.S. Sering tampil di berbagai forum, seperti Konferensi PBB tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo, September 1994, KTT Pembangunan Sosial (UN-CSD) di Kopenhagen, Maret 1995,  dan Konferensi Sedunia IV tentang Perempuan (FWCW) di Beijing, September 1995,  Riffat Hassan dipandang sebagai salah satu wanita pemikir Islam terkemuka dewasa ini. Ceramahnya itu, yang berjudul “Apa makna seorang Muslim memasuki Abad XXI?” (What does it mean to be a Muslim on the eve of the 21st century?), melansir jurang dalam yang memisahkan semangat atau kaidah Al Qur’an dari praktek masyarakat Islam. Isi ceramah tersebut, beserta debat seru yang timbul akibat diberinya waktu untuk diskusi oleh Leertouwer, berhasil menjadi semacam benang merah dalam pembahasan selama konferensi.

“Seorang Muslim,” kata Riffat Hassan, “pertama-tama berarti percaya kepada Allah pencipta dan pengasih manusia serta alam semesta (Rab al-’alamin). Menurut Qur’an, yang bagi saya merupakan sumber utama ajaran Islam, ciptaan Allah itu adalah demi ‘tujuan yang benar’ (15:85), samasekali bukan untuk ‘permainan yang sia-sia’ (21:16). Manusia, yang dibentuk ‘menurut acuan yang terbaik’ (95:4), diciptakan untuk ‘menyembah Allah’ (51:56).”

Dengan demikian, Riffat Hassan menyimpulkan, bagi seorang Muslim (percaya kepada Allah), menyembah Allah (Haquq Allah) tak bisa dipisahkan dari mengabdi kepada kemanusiaan (Haquq al-’ibad). Menunaikan tugas kepada Allah dan kemanusiaan adalah batu sendi kebajikan seperti dirumuskan dalam Al-Baqarah (2:177). Iman dan amal, salat dan zakat, tak mungkin dipisahkan. Itulah yang disebut “berjalan di jalan Allah” (jihad fi sabil Allah).

Lantas, Riffat Hassan bertanya, jika rumusan Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW begitu jernih dan sederhana, mengapa keduanya bisa terpisah dari kehidupan nyata masyarakat (ummah) Islam hingga sekarang? Mengapa banyak pemimpin Islam, seperti halnya Sayid Husein Nasr, menegaskan bahwa seorang menjadi Muslim hanya bila mematuhi Syari’ah, hukum yang juga dianggap bersifat abadi dan ilahi, tidak kenal perubahan? Bukankah tidak seluruhnya Syari’ah bersumber pada Qur’an, tapi juga pada upaya manusia seperti Hadis dan Sunnah Nabi, mufakat (ijma), dan tafsir (qiyas) umat? Tidakkah banyak dalam Syari’ah bersumber dari sejarah dan tradisi umat? Bukankah percaya kepada wahyu Allah dan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti termaktub dalam Qur’an, tidak sama dengan hanya mematuhi hukum-hukum Syari’ah? Bukankah banyak hal dalam Syari’ah sejak lama telah menjadi bahan perbedaan pendapat? Bukankah Muslim yang sejati itu tidaklah dia yang percaya kepada Islam, khususnya Islam yang terwujud dalam sejarah, malainkan dia yang percaya kepada Allah dan wahyuNya yang disampaikan lewat NabiNya?

Jawaban Riffat Hassan, semua yang barusan disebut terjadi karena umat Islam lebih suka mematuhi para penguasa mereka, kendati keliru, daripada ber-jihad fi sabil Allah! Oleh karena itu, seorang Muslim menjelang Abad XXI berarti dia yang berani menentang mereka yang menyamakan Muslim dengan kepatuhan buta terhadap aturan berdasarkan sejarah dan tradisi umat. Dialah yang berani berdiri sesuai fitrahnya sebagai kalifah Allah di dunia, berani menguji segala aturan tersebut dengan kritik akal budinya. Dialah yang berani memahami bahwa Qur’an merupakan “Magna Carta” bagi kebebasan manusia dari kungkungan tradisionalisme, segala bentuk otoritarianisme (agama, politik, ekonomi), kesukuan, dan rasisme. Dialah yang menyadari bahwa batas kebebasan itu hanyalah “kembali kepada Allah” (53:42). Dialah yang menyadari bahwa Allah menganugerahi manusia keaneka-ragaman (49:13), sehingga seorang Muslim menjelang Abad XXI harus mampu menerima saudaranya yang tidak memeluk Islam, bahkan yang mecurigai dan memusuhinya, dengan penuh rasa persaudaraan berdasarkan dialog serta niat baik!

 

Debat seru

      Rupanya, Riffat Hassan sangat menyadari bahwa akan muncul sanggahan keras dari beberapa peserta bila saja diberi kesempatan untuk diskusi. Kesadarannya itu tercermin dalam pengatar ceramahnya. Dengan suara bening dan bahasa Inggrisnya yang jernih, Riffat Hassan  bilang, bahwa dia diundang sebagai pembicara kunci dalam sidang pleno pembukaan konferensi hanya dapat terjadi di Nederland, dan juga hanya di Universitas Leiden dengan tradisi keterbukaannya yang sudah berusia ratusan tahun.

Entah karena pujian itu atau tidak, Leertouwer betul-betul membuka kesempatan bagi peserta mengemukaan pendapat, hal yang tak lazim bagi sebagian peserta. Segera bangkit beberapa dari peserta, kebetulan semuanya berasal dari wilayah Timur Tengah. Yang pertama bicara adalah duta besar Mesir untuk Belanda. Ia mengharapkan agar dibedakan dengan jelas antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai masyarakat (ummah). Ayat-ayat Qur’an memang jelas tanpa keraguan, tapi umat Islam menafsirkannya secara berbeda-beda. Untuk menghindari perselisihan tafsir, mungkin perlu disusun “dasar-dasar prosedur penafsiran” (rules of interpretation).

Dengan tangkas Riffat Hassan menjawab. Ia setuju bahwa “dasar prosedur penafsiran” memang harus ada, tapi tidak setuju bila “dasar” tersebut dianggap tidak bisa diubah. Menurutnya, “dasar prosedur penafsiran”pun harus bisa diubah. Salah satu rule of interpretation yang perlu, katanya, adalah menunjukkan sumber sejelas mungkin bila seorang membuat interpretasi. Janganlah orang suka berlaku, katanya, seperti yang terjadi di konferensi FWCW di Beijing. Di sana, utusan yang beragama Islam  selalu bilang ini-itu berdasarkan Islam, tapi tidak menunjukkan sumbernya. Lebih dari itu, bila Qur’an dipercaya merupakan sabda Allah, maka setiap penafsiran atas ayatnya haruslah mencerminkan “keadilan Allah”.

Mungkin karena merasa susah mendebat wanita yang tampak sangat tenang, matang, dan cerdas ini, penanya berikut berkutat terus dengan soal perlunya rules of interpretation. Seorang dari penanya selanjutnya menuntut agar Riffat Hassan mengakui bahwa kemampuan menafsirkan tergantung pada tingkat pengetahuan seseorang. Itulah sebabnya rules of interpretation yang bersifat tetap betul-betul sangat diperlukan.

Dengan tenang tapi tajam, Riffat Hassan menjawab. Ia mengakui tuntutan penanya bahwa kemampuan orang memahami agamanya tidaklah sama. Ia mengatakan, itulah sebabnya dia tidak yakin bahwa semua Muslim akan melakukan ijtihad. Walaupun demikian Islam tetap harus membela hak setiap orang untuk melakukannya, termasuk mempersoalkan suatu rule of interpretation. Lalu ditegaskannya, “hanya dengan demikian Islam dapat diharapkan bisa bertahan pada Abad XXI.”

Akhirnya seorang peserta dari Tunisia mengakui bahwa soal yang diajukan oleh rekan-rekannya tidak bisa diselesaikan dalam kesempatan itu. Ia mengusulkan agar soal tersebut dibahas secara mendalam pada sidang kelompok nanti. Sejauh mana hal itu dilakukan, akan kita tinjau secukupnya dalam tulisan-tulisan berikut.■

%d bloggers like this: