About Us

Saudaraku Sebangsa dan Setanahair

ZAMRUD KATULISTIWA sengaja kita pilih sebagai nama situs ini, yang merupakan tahap awal menuju suatu majalah khusus mengenai masalah-masalah kebangsaan Indonesia dalam perspektif sejarahnya. Mengapa kita memilih nama ini akan dijelaskan lebih rinci dalam tulisan tersendiri. Sekarang cukup kiranya menyebutkan bahwa nama ini mengandung sedikit-dikitnya dua pengertian pokok kebangsaan: keutamaan Ibu Pertiwi terhadap kebinekaan sosial, ekonomi, dan budaya; dan harapan yang tak kunjung putus menghadapi palu-godam kesulitan. Dua-duanya membuat keberagaman lebih sebagai cermin kekuatan asali yang mempersatukan daripada sebagai sumber perpecahan yang melumpuhkan. Inilah sebenarnya inti semboyan yang tercantum pada lambang negara kita: Bhinneka Tunggal Ika.

Zamrud Katulistiwa merupakan terjemahan bebas “slingert om de evenaar, als een gordel van smaragd”, julukan yang diberikan oleh Multatuli bagi Tanahair kita yang kemudian menjadi Indonesia. Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker (1820-1887) dalam karyanya yang termashur, Max Havelaar, of de Koffij-veilingen der nederlandsche Handelmaatschappij (Max Havelaar, atau lelang kopi Maskape Dagang Belanda), yang terbit pertamakali awal 1860 di Nederland. Meski berbentuk karya sastera, buku tersebut merupakan pelopor dalam menggugat kerajaan Belanda perihal penyalahgunaan kekuasaannya di negeri kita, sekaligus membuka jalan ke arah kebangsaan kita.

Setelah menyingkap berbagai kejahatan kekuasaan itu, Multatuli menutup bukunya sbb.:

Buku ini baru merupakan awal…
Aku bakal makin keras dan senjataku bakal makin tajam, bila perlu.
Semoga saja tidak perlu!…
Tidak, hal itu tidak akan perlu! Karena kepadaMu-lah aku mengajukan bukuku ini, wahai Willem Ketiga, raja, priyagung, pangeran, … yang lebih kuasa daripada pangeran, priyagung dan raja …sang KAISAR negeri INSULINDE yang cantik, yang melilit di sepanjang katulistiwa, bagai seuntai zamrud!…
KepadaMu aku bertanya dengan ikhlas apakah atas kemauanmu sebagai kaisar:
bahwa para HAVELAAR difitnah oleh para SLIJMERING dan DROOGSTOPPEL; –
dan nun jauh di sana Tigapuluh juta lebih rakyatmu disiksa dan ditindas atas namaMu?

Maksud menerbitkan majalah elektronik ini sudah lama ada, tapi tekat untuk melaksanakan maksud tersebut baru timbul setelah menyaksikan betapa ramainya media massa di Indonesia menyambut 100 tahun pergerakan kebangsaan kita, 20 Mei 2008. Sambutan yang ramai itu menunjukkan besarnya semangat kebangsaan kita setelah dikira nyaris padam selama demokratisasi yang sarat kemelut 10 tahun ini. Sayang, semangat yang besar itu tidak disertai dengansajian-sajian yang sepadan.

Keterbatasan waktu dan ruang pastilah penyebabnya yang utama. Penyebab ini tentu tidak akan berlaku bagi suatu majalah khusus, apalagi yang elektronik. Yang terlebih penting lagi, segenap bangsa Indonesia menyelenggarakan majalah ini bersama-sama.

 

(Parakitri T. Simbolon).