5 Kesalahan Politik Yang Fatal

deskha December 28, 2012 Comments Off on 5 Kesalahan Politik Yang Fatal
5 Kesalahan Politik Yang Fatal

5 Kesalahan Politik Yang Fatal

Oleh

Nono Anwar Makarim

1.Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila, Ideologi Bangsa dan Negara yang termaktub dalam preambul Undang-undang Dasar 1945, adalah identik dengan Jakarta Charter.  Ini anggapan salah pada ketika para pendiri RepublikIndonesia merumuskan undang-undang dasar kita.  Ini anggapan salah pada ketika konsensus nasional terbentuk dan dirumuskan dalam UUD kita pada tahun 2000.

Pada tahun 1945 Jakarta Charter tidak masuk dalam rumusan UUD 45 karena para pendiri Republik Negara Kesatuan RI cemas bila itu dimasukkan, maka Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Utara akan keluar dari ikrar persatuan dan kesatuan.  Pada tahun 2008 kesalahan itu melanggar konsensus nasional yang tertuang dalam UUD kita.  Jaminan dan perlindungan atas kebebasan beragama yang tertuang dalam pasal-pasal hak azasi UUD kita adalah hak azasi yang tidak boleh dikesampingkan dalam keadaan apapun.  Kesatuan danPersatuanRIharus tetap dipelihara.  TNI sadar akan ancaman bahaya terhadap keutuhan ini.  Sudah terlalu banyak jiwa mereka korbankan dalam perang gerilya yang dilancarkan DI dan TII.  Sinyalemen dan keprihatinan ini terungkap dalam pernyataan Jenderal (Purn.) Kiki Syahnakri di Indonesia Timur. Negara hendaknya tidak dijadikan polisi agama.

2.Massa agama yang berdemonstrasi mencerminkan kekuatan politik.  Ini salah sejak dulu, ini salah juga sekarang.  Partai-partai politik yang beraliran agama kian mengecil jumlah pemilihnya.  Pengecilan pengaruh politik diiringi dengan mengerasnya suara.  Yang kehilangan sesuatu selalu lebih keras suaranya ketimbang yang memperoleh sesuatu.  Demo juga belum tentu mencerminkan ideologi mereka yang turut berdemo.  Faktor uang tidak jarang memainkan peranan dalam mobilisasimassa dikalangan orang miskin yang kini semakin miskin.

Polling diseluruh dunia ke-3 menunjukkan bahwa yang menggerakkan hati rakyat sekarang bukan lagi surga NANTI, melainkan hidup yang layak SEKARANG.  Di Amerika Latin hasil polling itu amat mengejutkan:  Mayoritas rela dipimpin Junta Militer lagi asal kehidupan mereka bisa lebih sejahtera.  Ini mengejutkan karena kekejian rezim militer di Amerika Latin mengalahkan kekejaman dan pelanggaran hak azasi rezim-rezim militer diAsiadan Afrika.  Walaupun mengecewakan, namun ia merupakan indikasi kuat bahwa bila harus memilih antara demokrasi dan diktatur, yang mereka akan pilih adalah yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.

3.Bertindak keras terhadap kekerasan massa merupakan pelanggaran hak azasi manusia.  Ini salah.  Yang melanggar hak azasi bukan tindakan keras yang mencegah, melerai dan menghukum mereka yang menggunakan kekerasan.  Yang melanggar hak azasi adalah tindakan keras yang tidak proporsional dibandingkan dengan kekerasan yang ditindak.  Yang melanggar hak azasi adalah penggunaan excessive force, kekerasan yang berlebihan, bukan kekerasan untuk menghentikan kekerasan. Kewajiban utama Negara dan alatnya adalah the duty to protect, kewajiban melindungi.  Yang wajib dilindungi adalah yang lemah, yang haknya diinjak-injak, yang didhalimi, yang minoritas, yang tidak berdaya, yang kebebasan berpendapatnya dan berkeyakinan diancam, dikekang.

4.Mengecam penyimpangan terhadap azas-azas Pancasila berisiko kehilangan dukungan mereka yang dikecam.  Pertama, yang dikecam itu adalah minoritas politik yang bersuara besar.  Kedua, polling dunia yang memonitor denyut jantung pemilih membuktikan bahwa anggapan ini salah.  Pemilih tidak lagi berorientasi pada aliran.  Mereka menuntut bukti peningkatan kesejahteraan.  Sebelum tahun 2004 yang tampak hanya pelarianmassa pemilih dari partai aliran. Pada pemilu tahun 2004 kita menyaksikan pelarian pemilih yang spektakuler keluar dari PDI-P, partai nasionalis tambatan jiwa patriot bangsa dan kaum tertindas.  Ideologi penting.  Akan tetapi kalau musti pilih antara ideologi atau sesuap nasi, rakyat memilih hidup berkecukupan.  Loyalitas pemilih beralih pada yang berjanji lebih nyata.

5.Mengambil sikap “tidak bersikap” adalah bijaksana.  Dari semua kesalahan politik yang fundamental, barangkali inilah kesalahan yang terbesar.  Sesuatu malapetaka terjadi, bila mayoritas berdiam menyaksikan hal-hal yang tidak benar.

Pada tahun-tahun menjelang Oktober 1965 sekelompok suratkabar angkat bicara tentang penyelewengan terhadap doktrin Sukarno dan Pancasila atas desakan PKI.Mereka menggabungkan diri dalam suatu organisasi yang diberi nama Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS).Atas desakan PKI Sukarno membubarkan BPS.  Mayoritas diam.  Manifes Kebudayaan lahir dan berupaya membebaskan ungkapan seni-budaya dari politik sebagai panglima.  Atas desakan PKI Manifes dilarang.  Mayoritas diam.  Masyumi dibubarkan, PSI dibubarkan, Partai Murba dibubarkan, dan mayoritas berdiam.  Lalu peruncingan keadaan melangkah lebih jauh: PKI menuntut dibentuknya Angkatan ke-5, agar buruh dan tani dipersenjatai.  Lalu RRC menawarkan sejumlah besar senjata ringan untuk tujuan itu.  Keberangkatan rahasia D.N. Aidit ke Cina, disusul keberangkatan Sukarno ke Cina dan pembicaraan rahasia dengan Chou En Lai.  Desas-desus Dewan Jenderal dan penemuan bukti oleh Chaerul Saleh bahwa PKI akan merebut kekuasaan. Sukarno jatuh sakit, dan ketidakpastian serta rumor politik beredar mencekam warganegara dalam ketakutan.  Semua itu pengantar ke malam hari tanggal 30 September 1965.  Dalam hanya beberapa jam hampir seluruh general staf  TNI dibantai.  Baru setelah itu, baru setelah darah mengalir, muncullah faktor mahasiswa, kekuatan cadangan bangsa di kota-kota besar seluruhIndonesia.  Diluar kota-kota besar yang terjadi adalah genosida.

Saya yakin bahwa yang mau dicapai kekuatan-kekuatan ekstrim diIndonesiaakan gagal.  Mengubah konstitusi dengan melarang kepercayaan orang, bahkan mengganti konstitusi secara “demokratis” pun akan gagal.  Upaya kesana, baik oleh kekuatan ekstrim secara terbuka atau kekuatan ekstrim yang merahasiakan niatnya, akan kandas. Indonesiaadalah negara minoritas politik.  Tidak bersikap sekarang akan sekadar mematangkan situasi krisis, dan menaikkan harga pemecahannya oleh bangsa.  Yang akan terjadi adalah kemenangan-kemenangan sedikit demi sedikit yang dibiarkan oleh sikap “tidak bersikap”, sampai memuncak dan terjadi sekali lagi pertumpahan darah.  Itu yang membuat hati sanubari bangsa pedih.  Dan untuk apa?  Untuk apa?

Tahun 2006 tulisan Sabam Siagian di Suara Pembaruan mengutip pendapat seorang sarjana yang menyatakan bahwa di negara-negara yang sedang berkembang ada yang berkultur membantu kemajuan, dan ada juga yang berkultur menghambat kemajuan.  Sabam membandingkan Vietnam dan Indonesia.  Pada tahun2 1960-an para sarjana sosial, politik dan ekonomi meratapi perkembangan di Indonesia.  Istilah-istilah yang digunakan adalah Stranded Society (masyarakat yang terdampar), Lost Opportunities (kesempatan yang dibiarkan berlalu), dan Descent into Vagueness (merosot dalam kekaburan).  Detik-detik itu kembali hadir ditengah-tengah kita.  Sekarang.  Di depan mata.  Kepada Masyarakat MadaniIndonesia dianjurkan untuk bersiap-siap untuk merosot lagi, dan lagi, dan lagi, tiada hentinya . . .  Semoga Tuhan Yang Maha Esa kali ini membebaskan kita dari rintangan yang terus-menerus menghambat pertumbuhan nusa dan bangsa.

 

Jakarta, 9 Juni 2008.

 

%d bloggers like this: