Ilham Habibie dan Yanuar Nugroho

admin July 27, 2011 0
Ilham Habibie dan Yanuar Nugroho
Share if you care

Suatu Malam dengan Dr Ing Ilham Habibie MBA dan Yanuar Nugroho Ph.D.
di Gedung Sinar Harapan, Jakarta

Oleh Parakitri T. Simbolon

 

“Suatu malam” ini sudah hampir dua bulan yang lalu. Sebenarnya begitu acara selesai, laporannya sudah mulai ditulis, tapi mendadak timbul halangan yang tak teratasi untuk melanjutkannya. Menuliskannya lagi sekarang setelah begitu lama tertunda menunjukkan bahwa acara malam itu sungguh penting bagi kita sebagai bangsa. Apa betul demikian, semoga tulisan ini dapat bantu menjelaskan.

Jumat malam, 3 Juni 2011, pukul 18.00 s/d 21.30, di Lantai IV, Gedung Sinar Harapan, Cikini, Jakarta. Se-100-an undangan hadir untuk acara “Seminar” yang bertajuk “Inovasi Teknologi dan Perubahan Sosial” dengan tiga orang pemakalah kunci: Prof Dr Arief Rahman MPd (69), Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA (48), dan Dr Yanuar Nugroho (39). Kebanyakan yang hadir datang atas undangan Presidum Pusat ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) yang merayakan hari-jadinya yang ke-53, sedang sebagian kecil seperti Dr Firman Lubis dan saya sendiri, atas undangan tuan rumah, Daud Sinjal.

Tuan rumah mengakui, jumlah peserta lebih banyak daripada yang diperkirakan. Memang, ruang pertemuan, yang muat paling banter 100 orang, tampak penuh sesak. Hal itu katanya kemungkinan besar lebih karena daya-tarik ketiga pembicara, khususnya Ilham Habibie dan Yanuar Nugroho, daripada karena topik seminar. Saya pikir dugaannya itu hanya sebagian betul, sekurang-kurangnya sejauh menyangkut diri saya. Terus-terang saya hadir karena dua-duanya sama menarik: ingin menyaksikan penampilan kedua pembicara terakhir yang boleh dikata masih muda dan sedang naik-daun, dan pokok kupasan mereka yang sebenarnya sudah usang itu kebetulan sedang naik-daun juga di seluruh dunia sehingga tidak mustahil ditampilkan secara baru, yah, inovatif.

Betapa tidak. Ilham Habibie kabarnya seorang anak yang tidak kalah dengan ayahnya, jika tidak malah “menaikkan” martabat sang ayah, yaitu bekas Presiden RI ke-3, Dr Ing B.J. Habibie. Seperti ayahnya, Ilham menggondol gelar Dr Ing di Jerman dengan predikat summa cum laude. Namun lebih daripada ayahnya, Ilham juga pengusaha dan telah menggondol gelar MBA. Ayahnya pernah kerja pada perusahaan pembuat pesawat terbang Jerman, lalu pada pemerintah RI, kemudian jadi Presiden RI, namun Ilham memiliki sejumlah perusahaan sendiri sekarang dan akhir tahun lalu terpilih dengan suara mayoritas mutlak jadi presiden (Ketua Umum) ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Yanuar Nugroho tidak kalah hebatnya, kalau tidak lebih. Setelah mendapatkan gelar Ir teknologi industri di ITB, ia menggondol gelar Ph.D. di Universitas Manchester, Inggris (2007), kampus yang terkenal sebagai sarang pembaruan. Ia pun jadi dosen di Manchester Business School bagian Strategi dan peneliti di Manchester Institute of Innovation (MIoIR). Sebanyak 17 penelitian tentang inovasi teknologi dan perubahan sosial telah dilakukannya di 15 negara, termasuk Indonesia belakangan ini, yang ditaja oleh organisasi Uni Eropa dan Bank Dunia. Pada 2009 ia dinobatkan sebagai tenaga akademik terbaik di antara 200-an dosen di kampusnya. Pada 2010 ia juga mendapatkan Hallsworth Fellowhip Reward untuk bidang ekonomi politik, penghargaan yang begitu bergengsi sehingga konon dialah orang Asia pertama yang pernah mendapatkannya.

Topik seminar itu pun, “Inovasi Teknologi dan Peruhaban Sosial”, meski sudah usang, bisa saja dikupas dengan sudut-pandang baru berkat serangkaian perkembangan mutakhir. Seorang pelajar sosiologi pembangunan yang sudah cukup tua seperti saya pun (disertasi di Vrije Universiteit, Amsterdam, awal 1991) sudah lama tahu bahwa rumusan topik tersebut berat-sebelah. Susunan rumusan itu masih memantulkan keangkuhan lama teknologi, dan juga sains, yakni keutamaan (primacy) dua faktor ini dalam perubahan sosial, yang dianggap cuma dampak. Yang sebaliknya, yaitu keutamaan perubahan sosial dalam inovasi teknololgi nyaris tidak pernah dikemukakan, meski pun banyak peristiwa sejarah mendukungnya, utamanya kemajuan ekonomi Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia, serta runtuhnya kekuasaan komunisme di Eropa Timur, akhir 1980-an.

***

Prof Dr Arief Rahman MPd, yang didaulat sebagai pembicara kunci, langsung memaparkan konsep-konsep KIN (Komite Inovasi Nasional), lembaga yang dibentuk nyaris tanpa gema pertengahan 2010, sekitar rumusan yang berat-sebelah itu. Meski pun Arief Rahman membawakan diri dengan mahir, santun dan kocak, paparannya itu tetaplah dengan kental mengemukakan rumusan yang berat-sebelah itu. Kekentalan itu makin terasa karena konsep-konsepnya ditampilkan secara “teknologis” berupa gambar-gambar, disusul dengan banyak skema liner (panah searah) yang sejak zaman Orde Baru disangka sakti itu.

Bayangkan saja. Deretan gambar dan skema itu diberi judul (bahasa asing lagi) “Stages of Innovation”, tahap-tahap inovasi, yang berbau teknokratis. Di bagian atas berderet dua baris penjelasannya, masing-masing dengan empat potong gambar: proses yang mulai dengan “Scientific Findings”, lalu “Laboratory Feasibility”, “Operating Prototype”, “Commercial Introduction”, “Widespread Adoption”, Diffusion to Other Areas”, dan “Social & Economic Impact”. Di bawahnya diberikan skema dasar keutamaan sains dan teknologi itu sbb.:

Lalu menyusul tujuh skema lagi, lengkap dengan panah-panah yang arahnya seolah-olah pasti. Saya hanya menyebut dua skema saja, karena dua-duanya sangat menegaskan pola-pikir di belakang SINAS, yaitu sifat liner dan terkesan sederhana. Itulah dua skema yang sebenarnya super rumit, ciri yang khas dalam proses sosial, berjudul “Peningkatan Produktivitas Menuju Keunggulan Kompetitif” dan “Penguatan Ekosistem Inovasi”.

Sejauh yang bisa saya duga makna kedua skema tersebut, peningkatan produktivitas akan terjadi bila negara berubah dari mengandalkan “Sumber Daya Alam” ke “Capital and Technology”, dan dari mengandalkan “Labor Intensive” ke “Skilled Labor Intensive”. Dengan demikian perekonomian akan bergeser dari “Ekonomi Berbasis SDA” ke “Ekonomi Berbasis Industri”, dan baru sesudah itu tercapai “Ekonomi Berbasis Inovasi”. Namun ditegaskan bahwa “Ekosistem Inovasi” di negara kita “lemah” (baik kebijakan, pendanaan, kepemimpinan, budaya, mau pun pendidikan). Untuk itu jalan keluar yang disarankan adalah “mencari TITIK TEMU antara pendekatan Top-Down dan Bottom-Up”. Sungguh sangat déjà-vú!

Tak terhindarkan perasaan ganjil menyaksikan Arief Rahman begitu bersemangat memaparkan keutamaan sains dan teknologi dalam perubahan sosial, karena setahu umum ia bukan teknolog tapi guru. Ia malah mengaku sendiri sebagai “linguist”. Walau pun paparannya itu tampaknya disampaikan ex cathedra (ia anggota KIN), hal itu tetaplah menunjukkan kuatnya cengkeraman anggapan berat-sebelah berupa keutamaan sains dan teknologi dalam perubahan sosial itu di kalangan cendekiawan Indonesia.

***

Lalu tibalah giliran pembicara yang saya tunggu-tunggu: Ilham Habibie dan Yanuar Nugroho. Sungguh sangat menyenangkan memandang kedua pembicara itu: masih terbilang muda, bersemangat, pandai, dan samasekali bukan jago kandang. Ilham Habibie tampil ningrat tapi bersahaja di sebelah kanan moderator yang sebaliknya tampil kawula tapi kuasa. Kemeja Ilham putih berlengan panjang digulung sekenanya seperti orang yang siap cuci piring atau memungut sampah saja. Kepalanya bagian depan mulai botak sehingga jidatnya tampak semakin lebar dan licin. Kuat kesan, berbeda dengan ayahandanya, Ilham sangat tenang dan pendiam.

Yanuar Nugroho tampil sama bersahajanya. Badannya besar-tinggi, berkemeja batik lengan panjang, tapi gerak-geriknya lincah seperti orang Eropa. Saya sudah melihat dia di ruangan beberapa lama sebelum acara dimulai, bahkan beberapa kali berpapasan, tapi saya tidak tahu bahwa dia Yanuar Nugroho karena tak seorang pun memperkenalkan. Lagipula, ia tampak tidak butuh menarik perhatian.

Paparan Ilham tidak sulit diduga. Maklum ia tampil sebagai teknolog par excellence. Ia bicara tentang dua hal: inovasi teknologi dan ekonomi serta inovasi tekonologi dan pemberdayaan “akar rumput”. Langgamnya mirip guru, yang langsung menyederhanakan pengertian inovasi teknologi itu: harga mobil Toyota Kijang dan Mercedes jauh berbeda, tapi akan sama saja bila keduanya berupa besi rongsokan akibat tabrakan berat. Inovasi teknologilah yang membedakan harga keduanya. Jadi inovasi teknologi meningkatkan nilai tambah produk. Dengan cara yang serupa, inovasi teknologi dapat diarahkan untuk meningkatkan perekonomian, pendidikan, dan kesehatan masyarakat kebanyakan. Pokoknya: teknologi itu utama; keadaan sosial itu dampaknya.

Mungkin karena ia juga anggota KIN, Ilham merasa perlu menegaskan lemahnya “Ekosistem Inovasi” teknologi di Indonesia. Anggaran untuk riset dan pengembangan (R & D) di Indonesia katanya tidak sampai setengah persen (0,07%) PDB (Produk Domestik Bruto), jauh di bawah China (1,5%), Korea Selatan (3%), Jepang (4%), dan Israel (5%). Selain itu,katanya, 80% anggaran yang 0,07% PDB tadi itu berasal dari pemerintah, bukan swasta, itu pun pemakaiananya tidak terarah. Jadi selain sangat kecil dan tidak terarah, kaitan dengan swasta sangat lemah, padahal kaitan itu sangat menentukan bagi berkembangnya inovasi teknologi.

***

Akhirnya tibalah giliran Yanuar Nugroho. Mula-mula terasa paparannya tidak tegas berbeda daripada dua paparan terdahulu. Soalnya dia mulai dengan inovasi teknologi seperti judul besar topik pertemuan, bukan dengan inovasi sosial. Hanya saja kemudian ia mengatakan bahwa penggunaan inovasi teknologi itu tidak mesti langsung tekan tombol (black box) tapi melalui penyebaran dalam masyarakat (diffusion). Dalam proses penyebaran itu, ada kemungkinan masyarakat menggunakannya secara strategis (strategic use) sehingga yang menentukan adalah peran pelaku (agency), bukan teknologi itu sendiri.

Ia lantas menegaskan, penggunaan yang strategis itu adalah hasil penyesuaian teknologi terhadap tuntutan sosial (process of sociotechnical alignment). Proses ini samasekali berada di luar bidang teknologi. Inilah katanya yang terjadi misalnya di Indonesia akhir-akhir ini ketika inovasi teknologi informasi (internet dan media sosial) digunakan secara luas dalam gerakan masyarakat madani. Dukungan luas terhadap Prita dalam perkaranya dengan suatu rumahsakit, dan sukes pengumpulan bantuan masyarakat untuk korban letusan Gunung Merapi, merupakan sebagian contoh yang diberikan.

Hal ini bukan berarti bahwa inovasi teknologi kebal terhadap pemakaian sekenanya, yang sering hanya demi gengsi, seperti yang sedang terjadi juga di Indonesia. Makanya Yanuar menegaskan inovasi teknologi tidak melulu memberikan berkat, tapi juga kutukan; tidak hanya manfaat, tapi juga mudarat. Banyak kenyataan konyol yang menggambarkan hal itu dikemukakan oleh Yanuar di sela-sela pemaparannya. Ada hutan jati yang sampai punah di Wonosari katanya karena penduduk menggundulinya demi membeli motor dan telepon genggam (HP) yang dianggap lambang kemajuan dan gengsi. Tidak lama kemudian tukang becak pun lenyap. Maklum, begitu turun dari bus, penduduk Wonosari langsung menelepon tukang ojek untuk membawanya ke rumah. Tukang becak tidak diperlukan lagi.

Tidak hanya itu. BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang sebesar Rp300.000 itu di sana diplesetkan jadi Bantuan Langsung Telas (Habis). Memang, Bantuan Langsung itu habis dipakai membeli HP. Kebutuhan utama pun bergeser ke pembelian pulsa, padahal pendapatan hanya pas-pasan untuk bertahan hidup. Keponakannya (dua tahun) merengek-rengek minta makanan McDonald’s. Anak merengek minta makanan itu wajar katanya, tapi minta McDonald’s, samasekali tidak wajar karena urusannya sudah merupakan ‘ideologi’, maksudnya ‘merek’.

Bukanmain, ujar Yanuar, anak dua tahun sudah sadar merek. Ia pastilah satu di antara jutaan korban hajaran iklan televisi. Konon, sampai pada umur 12, anak-anak kita sudah menonton TV sebanyak 20.000 jam (2,3 tahun), jadi hampir sepertiga masa sekolahnya, dan tigaperlima masa bangunnya sebagai anak sekolah! Pendeknya, hasil inovasi teknologi dipakai di Indonesia tapi pemakaian itu tercerabut dari peri kehidupan masyarakat penggunanya. Yanuar mengutip ejekan seorang temannya tentang pengguna teknologi di sini: “Handphone di tangan, tapi perilaku kenthongan”.

***

Yanuar mengungkapkan, ketercerabutan itu tidak hanya menimpa masyarakat biasa, tapi juga seluruh masyarakat kita sebagai bangsa. Ambil kebijakan energi, misalnya. Kebetulan Eropa katanya sedang berusaha agar pada 2030 mereka bisa mengandalkan sumber energi terbarukan sembari mengurangi ketergantungan pada energi nuklir. Salah satu upayanya adalah mendorong pemakaian energi surya, meski sinar matahari jatuh pada sudut 27 derajat. Untuk itu rumah-rumah yang memakai panel surya diberi insentif mulai dari potongan pajak hingga pinjaman bebas bunga. Pemerintah juga investasi dalam inovasi teknologi energi surya, misalnya pegembangan teknologi fotovoltaik.

Di Indonesia matahari malah jatuh pada sudut tegak-lurus (90 derajat), tapi jangankan insentif, anjuran memakai energi surya pun tidak ada. Biofuel dihasilkan, bahkan diekspor, tapi mobil berbahan-bakar hibrid dianggap barang mewah sehingga pajaknya tinggi. Eropa baru memasuki tahap teknologi komunikasi nirkabel setelah seluruh negeri lengkap dengan sarana teknologi kabel. Mereka sadar bahwa corak masyarakat yang baik dilayani dengan dua macam teknologi tadi memang berbeda.

Di Indoneia sarana kabel baru 30%, sekarang sudah loncat ke teknologi nirkabel. Orang ramai bangun menara-menara BTS (Base Transceiver Station), lahan dibebaskan, pemerintah daerah dapat duit. Siapa yang untung, masyarakat produktif atau konsumtif, rakyat atau penguasa cum kapitalis? Bukankah masyarakat produktif lebih memerlukan teknologi kumunikasi yang broadband dengan kabel-kabel serat optik? Masalahnya tidak beda dengan heboh tanaman transgenik dulu ketika kapas transgenik dibakar oleh rakyat karena memang pemerintah tidak lebih dulu meminta pendapat mereka.

Yanuar menegaskan: Pertama, inovasi teknologi secanggih apa pun yang diterapkan di Indonesia tidak akan membuat masyarakat kita maju jika teknologi itu tercerabut dari peri kehidupan masyarakat. Paling banter selera masyarakat kita dihomogenkan oleh kapitalis agar bisa jadi pasar murah bagi mereka. Kedua, bersikaplah realistis bahwa masyarakat kita masih agraris, dan karena itu harus dilayani dengan teknologi yang tepat. Bisa saja kita meloncat ke teknologi yang canggih-canggih seperti teknologi nano, namun perilaku sosial kita tetap tidak akan tersambung. Ketiga, teknologi bukan urusan para teknisi, tapi urusan warga masyarakat seluruhnya. Untuk itu perlu integrasi inovasi dengan politik, ekonomi, budaya, jadi tidak cukup dengan utak-atik pencitraan.

***

Sungguh menyegarkan uraian Dr Yanuar Nugroho itu, sehingga pantas banyak yang mengacungkan tangan untuk mengajukan pertanyaan atau komentar. Saya, termasuk yang pertama mengacungkan tangan, dan kebetulan termasuk yang terdepan duduknya. Selama mendengar uraian, sambil lalu saya memastikan tiga pertanyaan untuk saya ajukan:

Pertama, kita tahu, model-model liner keutamaan sains dan teknologi dalam perubahan sosial serta teori-teori ekonomi neo-klasik yang berjaya selama empat dasawarsa setelah PD II sudah gagal menjelaskan ketimpangan pembangunan di negara-negara maju dan suksesnya perekonomian Jepang serta beberapa negara lain di Asia Timur. Lantas seberapa kompleks sebenarnya soal inovasi itu diakui oleh pra praktisi dan akademisi sejak OECD mencanangkan program NIS (National Innovation System) pada 1995, sehingga layaklah kita sekarang mengakui keutamaan proses sosial dalam inovasi teknologi?

Kedua, kita tahu Universitas Manchester terkenal sebagai kampiun inovasi berpikir. Begitu luasnya cara berpikir di sana sampai konsep pelopor tentang keutamaan proses sosial, yakni gagasan Ivan Illich pada pertengahan 1970-an tentang CONVIVIALITY dalam TECHNOLOGY, dikaji ulang dengan tekunnya. Seberapa benar hal ini dalam pengalaman Dr Yanuar?

Ketiga, kompleksnya inovasi paling sedikit harus dimulai dengan membedakan “basic innovations” dan “adaptive innovations”. Mana di antara keduanya yang lebih tepat ditekuni oleh bangsa kita agar dapat berperan lebih layak dalam pergaulan bangsa-bangsa?

Sayang sekali entah kenapa moderator selalu melewatkan saya sampai waktu sudah hampir habis. Sementara itu saya berharap penanya lain akan mengajukan pertanyaan atau komentar yang sedikit-banyak dapat mewakili saya, tapi saya pikir harapan saya tidak terpenuhi. Ketika ada teman yang protes bahwa saya tidak diberi kesempatan padahal sudah unjuk tangan sejak awal, moderator itu bilang tidak melihat saya unjuk tangan. Mustahil saya pikir. Entah kenapa akhirnya ia menawarkan satu menit buat saya untuk bertanya. Jelas itu tak mungkin.

Saya pun hanya bisa menghibur diri dengan pikiran bahwa percuma mengharapkan kucing bertanduk. Jangankan yang bersikap seperti Pak Ogah yang biasa kita lihat di jalan-jalan kalut Jakarta, moderator yang bertindak seperti polisi lalulintas pun akan sulit membangkitkan tukar-pikiran yang optimal di antara peserta suatu diskusi. Saya mengalami betapa sulitnya memilih moderator yang pantas karena saya pernah jadi ketua Panel Ahli Suratkabar Kompas yang menghimpun para akademisi dan pengusaha papan atas dalam seminar dua kali setahun. Tidak mudah memang, tapi saya yakin lain kali ISKA bisa memilih moderator yang baik untuk acara dengan topik sepenting yang dibicarakan malam itu. (Jakarta, 26 Juli 2011).