Universitas Indonesia, suatu siang di

admin December 13, 2010 0
Universitas Indonesia, suatu siang di
Share if you care

Pengantar:

Ditulis 4 Desember 1994, artikel ini merekam pengalaman penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa.

Semoga sekarang keadaannya lebih baik.     

 

SUATU SIANG DI BALAIRUNG UNIVERSITAS INDONESIA

 

Sabtu, 3 Desember 1994, antara jam 10.00 dan 14.30, di balairung Universitas Indonesia, Depok, berlangsung wisuda 14 akademi kesehatan se-DKI Jakarta. Siang itu, 528 lulusan akademi dan sekitar 1.000 pengunjung (panitia, keluarga lulusan, juru foto, dan penjaja makanan) memadati bangunan bergaya joglo yang anggun itu atau meramaikan pekarangannya yang hijau asri.

Selain resmi diundang, sebagian pengunjung, seperti halnya penulis, datang karena rasa hormat yang besar terhadap profesi paramedik. Rasa hormat itu bahkan mungkin lebih besar daripada terhadap dokter. Jujur saja. Yang pernah dirawat di rumahsakit pasti merasakannya. Memang dokter yang menentukan arah perawatan, tapi perawatlah yang paling lama mengurus kepentingan si sakit. Keterlibatannya lama dan padat, dari hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit. Sekali lagi, jujur saja. Untuk semua itu, perawat umumnya dilupakan begitu pasien meninggalkan rumahsakit, sedang dokter tidak. Sebagai individu, perawat larut bagai seraut wajah dalam kerumunan belaka.

Mungkin itulah sebabnya mengapa perawat, sebagai profesi, tampil sekukuh kehidupan itu sendiri, dan sekaligus semurni nurani manusia yang lebih sering terlupakan itu. Bila teringat, kekukuhan dan kemurnian itu menuntut pengakuan, terkadang tidak tanpa rasa bersalah. Saat itulah, seperti halnya dengan wisuda ini, sayup-sayup kita rasakan bahwa jika dokter telah memperoleh imbalan yang pantas untuk pekerjaannya, perawat tidak.

Sejarah pun menjaga kekukuhan hidup dan kemurnian nurani itu. Tak ada dokter yang mengukir kasih perawatan sedalam Henry Dunant, Florence Nightingale, atau Ibu Theresa. Kalau pun ada, pastilah karena si dokter telah mengabdi sebagai perawat, seperti halnya Albert Schweitzer. Jadilah profesi perawat sebagai wujud paling nyata kemuliaan hati manusia, kemuliaan yang mengatasi segala perbedaan berdasarkan jenis kelamin, tingkat sosial, suku, ras, bangsa, bahkan agama. Sebagai profesi, perawat menjadikan semua itu sumpah setianya.

***

Semua itu langsung terasa begitu masuk kawasan balairung. Maklumah, kawasan itu hijau teduh. Calon paramedik datang dengan bus carteran, beda dari lulusan universitas yang datang ke wisuda dengan sedan pribadi. Banyak keluarga tiba dengan bus kota. Yang datang dengan mobil pribadi, maka mobil itu kebanyakan jenis minibus yang murah. Citra pengabdian yang tulus dalam profesi paramedik memang menonjol, tapi pendukungnya barulah mereka yang kehidupan sosial-ekonominya pas-pasan. Profesi itu belum menarik bagi kalangan atas di negeri kita, sangat berbeda dari teladan Henry Dunant yang konglomerat, atau Florence Nightingale yang putri seorang hartawan London.

Khas hajatan rakyat kecil, citra pengabdian yang tulus itu tidak kaku tapi gemerencing dengan keriangan yang bebas. Ketika calon paramedik turun dari bus dan kumpul di setiap pintu masuk balairung, riuh-rendah senda-gurau di antara mereka, ditimpali teriakan kaget campur rindu anggota keluarga. Jauh segala sikap sopan yang kaku demi menjaga gengsi.

Sikap bebas dan riang itu makin menonjol justru karena calon paramedik kita itu kebanyakan perempuan, boleh jadi delapan untuk setiap dua pria. Hampir semuanya berpakaian putih metah, termasuk penutup kepala untuk gadis, entah topi kecil atau jilbab. Yang membedakan hanyalah paduan selempang warna kuning atau hijau atau biru atau lembayung dan motif mungil di atasnya. Selempang itu tersandang di leher dan menjurai ke dada, menyulap pemakainya jadi puisi. Ada memang segelintir yang berpakaian tradisional warna-warni, dan seorang berpangkat bintara dengan seragam hijau, tapi mereka lebih merupakan selingan yang lucu daripada mengganggu.

Terbagi dalam 14 kelompok menurut akademi, para lulusan memasuki balairung. Ruangan bersegi empat itu mirip stadion dengan jejeran kursi bertingkat-tingkat. Sisi selatan kosong kursi. Di bagian itu meraja panggung besar. Di depan panggung, jadi persis ditengah balairung, adalah ruangan yang lebih besar lagi,  berisi 537 kursi yang disusun sangat rapi dan belum diduduki.

Di sisi utara dan timur para lulusan duduk menanti upacara dimulai. Di sisi barat duduk para undangan dari kalangan akademi. Di panggung besar itu terdapat 15 kursi dan meja untuk Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Kesehatan DKI Jakarta Raya dan 14 direktur akademi. Di sebelah kiri mereka agak ke belakang duduk rohaniwan dan rombongannya. Di sudut antara sisi timur dan panggung besar itu sibuk tim pembawa acara. Di atasnya, di jejeran kursi berjenjang adalah para keluarga dan koor Rs. St. Carolus beranggota 50 orang.                                                                       

***

Sampai sedemikian jauh, citra profesi paramedik yang sudah digambarkan di atas masih bening tanpa gangguan. Lambat-laun citra itu mirip bayangan di permukaan air beriak atau cermin benggala. Ambil misalnya acara yang terlambat. Dalam undangan tertulis permintaan hadir 30 menit sebelum acara dimulai, yakni jam 09.00, tapi di sudut kiri bawahnya tertulis ralat, jam 10.30. Nyatanya, acara baru mulai jam 11.15. Tak apa, keluarga tampaknya memaafkan jam karet itu, kendati panitia lupa meminta maaf.

Orang baru mulai menggerutu ketika ruangan makin lama makin panas. Heran, ruangan seluas dengan atap setinggi itu bisa panas, di bulan Desember lagi. Mestinya seluruh tingkap kaca gedung megah itu tak boleh dibiarkan tertutup, agar angin bebas masuk. Di lubuk hati, gangguan kecil itu sudah cukup menimbulkan kesan ketakacuhan pengundang, kesan yang sangat bertentangan dengan citra paramedik.

Untunglah alunan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, yang dituntun oleh koor mahasiswa Akademi Perawat Rs. St. Carolus, mengusir gerutu itu. Irama dan lirik lagu itu menimbulkan keharuan. Sugestinya,  wisuda itu hanya mungkin berkat “Indonesia Raya, merdeka, merdeka”.

 ***

Sesudah itu kegelisahan menular di antara keluarga. Orang ramai berbisik setelah ijasah dibagikan kepada setiap lulusan. Lebih dulu mereka dipanggil ke atas panggung per akademi, baru kemudian per orang untuk setiap akademi. Yang bersangkutan maju menerima ijasah dari direktur akademi, didampingi oleh Kakanwil. Sesudah itu penerima turun ke ruangan besar, memilih salah satu dari 537 kursi. Saat itulah bisikan ramai. Orang bertanya, mengapa para lulusan menempati kursi-kursi tidak secara berurut, tetapi  terlompat-lompat. Lompatan itu jauh-jauh lagi, bisa duaratus sampai limaratus kursi. Apa gerangan alasannya?

Ikut penasaran, penulis pun coba cari jawaban. Ada memang empat plang di depan kelompok kursi kosong itu, tapi tak mungkin terbaca oleh kami, hanya oleh mereka yang duduk di panggung. Seandainya ingin membacanya, kami yang duduk di atas harus ke panggung. Untuk itu kami harus turun dan keluar gedung dulu, lalu mengetuk pintu yang sudah tertutup. Itu pun kalau diijinkan. Jadi, yang dapat penulis lakukan hanya menduga-duga berdasarkan pengamatan dan catatan.

Tercatat, misalnya, enam akademi yang lulusannya lebih dulu dipanggil merupakan milik Departemen Kesehatan: Akademi Perawat (AKPER), Akademi Gizi (AKZI), PAMPERNES (Pendidikan Ahli Madia Keperawatan Anestesi), Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL), Akademi Teknik Elektro Medik (ATEM), dan Akademi Teknik Radiologi (ATRO). Semula penulis memperkirakan, lulusan keenam akademi itu akan menempati kursi secara berurutan. Ternyata tidak demikian. Ada yang duduk di sisi paling barat, tapi ada juga yang di tengah dan jauh  di sisi timur.

 

Makin banyak kursi terisi, pola duduk itu makin jelas. Tampaknya semua lulusan yang berjilbab mengelompok di sisi barat, kendati banyak juga yang tak berjilbab duduk bersama mereka. Hampir semua yang bermarga tampak mengambil kursi agak ke arah sisi timur, dan setiap orang dengan nama berawal Ketut atau Made selalu menempati kursi paling pinggir di sisi timur.

Penulis cemas jangan-jangan agama, bukan akademi, yang menentukan tempat duduk. Kecemasan penulis itu sebagian karena sentimen pribadi, sebagian lagi karena hakikat upacara itu sendiri. Menurut sentimen pribadi penulis, kebangsaan semestinyalah tidak memperlakukan anggotanya berbeda berdasarkan suku, ras, dan agama. Menurut hakikat upacara,  adalah sumpah profesi paramedik untuk mengatasi perbedaan tersebut.

Ketika tiba giliran kelompok ketujuh hingga ke sembilan (AKPER Rs. St. Carolus, Rs. Islam, dan Rs. Cikini), pola duduk itu pasti sudah. Kebanyakan lulusan St. Carolus duduk di sisi timur. Semua lulusan Rs. Islam duduk di sisi barat. Semua lulusan Rs. Cikini duduk di antara keduanya.

Pola duduk itu tidak berubah ketika lima akademi yang terakhir membagikan ijasah kepada lulusan masing-masing. Tepuk tangan ramai ketika lulusan Akademi Fisioterapi (AKFIS) Universitas Kristen Indonesia hanya empat orang saja, di antaranya seorang gadis dengan jilbab yang bagus. Yang tiga masuk ke arah sisi timur, yang berjilbab tentu ke arah sisi barat.

Ketika semua lulusan sudah duduk di tempatnya, ruang tengah dengan kursi yang berjumlah 537 itu sekonyong-konyong berubah jadi grafik hidup, apalagi dilihat dari atas. Grafik itu terdiri dari empat kelompok. Kelompok di sebelah barat paling besar dan panjang, mencakup empat lajur dengan 361 lulusan. Kelompok agak di tengah ke sisi timur terdiri dari dua lajur dengan 93 lulusan. Kelompok lebih ke timur lagi terdiri dari satu setengah lajur dengan 66 lulusan. Dan di sisi paling timur hanya ada satu baris pendek dengan delapan lulusan!

***

Dalam kawasan temaram balairung Universitas Indonesia, dan kemuliaan profesi paramedik, apa yang terjadi seterusnya terasa seperti antiklimaks. Para lulusan mengucapkan sumpah profesi, pertama didampingi oleh pejabat negara (Kakanwil), dan kedua oleh rohaniwan masing-masing. Sumpah profesi itu mengatasi segala perbedaan, termasuk agama, tapi setiap kelompok mengucapkan lagi sumpah sesuai dengan perbedaan itu. Sungguh suatu kontradiksi yang mengecutkan hati.

Ada orang berbisik, “nggak duga begini banyak yang Islam jadi perawat.” Mendengar itu, penulis melirik catatan. Dari 528 lulusan yang hadir itu, 361 orang (68 persen) mengangkat sumpah secara agama Islam, 159 orang (31 persen) secara agama Kristen (93 Protestan atau 18 persen, 66 Katolik atau 13 persen), dan 8 orang (satu persen) secara Hindu.

Banyakkah itu, atau tidak? Jika yang berbisik itu iri terhadap Islam, maka ia mungkin akan terhibur mengetahui bahwa 361 dari 528 (68 persen) samasekali tidak banyak. Tingkat 68 persen itu masih 22 persen di bawah yang sewajarnya, kalau umat Islam di Indonesia diperkirakan 90 persen. Jika yang berbisik itu bangga dengan Islam, ia tentu akan kembali murung dengan angka tersebut. Itu baru menyangkut persentase dalam keseluruhan. Jika diteruskan dengan persentase per akademi, maka orang yang berbisik itu bisa marah, berang, puas, sedih, tergantung pada motifnya. Alasannya, angka demi angka dipakai bukan untuk memahami persoalan, melainkan untuk membanggakan kelompok sendiri dan meremehkan kelompok lain.

Penulis tidak berusaha tahu, orang macam apa yang berbisik itu. Hanya saja penulis yakin, seorang warga bangsa Indonesia yang senang dengan kemajuan saudara-saudaranya, takkan berbisik seperti itu. Betapa tidak. Ia tak memerlukan upacara semacam itu untuk memahami nasib saudara-saudaranya. Mungkin ia akan memilih membaca sejarah bangsanya. Ia mungkin akan meneliti profesi paramedik Indonesia untuk memeriksa partisipasi kelompok warga di sana. Jika untuk itu ia memerlukan pembedaan menurut agama, wajar saja. Namun, dalam peristiwa wisuda ini, apa sih makna penggolongan itu?■ (Parakitri T. Simbolon).